
Kholil_PoV
*
Pagi ini aku sudah rapi, menggendong tas ransel di punggungku sembari melangkah keluar kamar dan hanya tinggal pergi saja, namun langkahku terhadang oleh teriakan dari Ibuku. Padahal aku sudah mengendap-ngendap agar beliau tidak melihatku, namun ternyata Ibuku sudah lebih dulu mempergoki.
" Kamu mau kemana kok rapi sekali!" Tudingnya menatap curiga padaku.
" Oh, Kholil mau ke luar kota Bu. Mumpung libur panjang, teman-temanku sekolah pada mengajak reunian dan kemungkinan aku menginap beberapa hari disana." Sahutku dnegan cepat agar segera pergi dari hadapannya.
" Keluar kota, kemana? Sama Fera jugakah?" Tanyanya yang tiba-tiba menyebut nama wanita masa laluku.
" Fera? Oh, iya sepertinya dia juga ikut." Balasku berdusta.
" Oh ya sudah tapi sarapan dulu baru pergi, Ibu tadi masak kesukaanmu lho." Pintanya.
Jika aku menolak ini bakalan panjang urusannya, dan pada akhirnya aku pun mengangguk dan berjalan mengikuti Ibuku dari belakang.
" Ayah kemana?" Tanyaku seraya menikmati sarapanku.
" Sepertinya masih di kamar mandi, sakit perut katanya. Sudah kamu sarapan saja dulu, mau Ibu bungkusin makanan juga untuk bekal?" Tanyanya seraya meletakkan lauk ke atas piringku.
" Nggk-lah, sudah kayak orang mau rekreasi saja. Kholil juga malu-lah keluar bawa-bawa makanan gitu." Keluhku sembari mempercepat mengunyah makanan agar segera pergi.
" Bawa makanan kok malu. Kemapa sih mesti buru-buru gitu, toch teman-teman kamu juga nggak bakalan ninggalin kamu!" Protesnya yang sama srkali tidak aku gubris.
Teman-temanku sudah pasti tidak akan meninggalkanku-lah, orang memang aku hanya akan bepergian seorang diri. Tapi itu tidak mungkin aku katakan pada Ibu, bisa batal rencanaku bertemu dengan Erika putriku.
Ibu dan Ayah memang sengaja melarangku pergi ke rumah mantan mertuaku dengan alasan yang aku tahu pasti sebenarnya baik untukku, agar aku tidak lagi merasa terus-terusan terpuruk akibat perceraianku dan Anna.
Pasti semua orang tua akan bersikap sama dengan apa yang kedua orangtuaku lakukan padaku. Hanya saja mereka tidak bisa melarangku untuk bertemu kembali dengan Erika putri kandungku.
__ADS_1
Ya setelah bertemu dengan Cak Aziz mantan iparku waktu itu di taman, pikiranku terus memikirkan kondisi putriku Erika dan juga Anna. Bohong jika aku tidak lagi memikirkan wanita yang telah melahirkan putriku, bahkan hingga detik aku masih sangat mencintainya, hanya saja dia yang sudah terlanjur kecewa padaku.
Walau Ayah dan Ibu terus mendesakku untuk segera menikah kembali, namun aku belum siap menikah lagi, toch siapa yang mau denganku yang hanya seorang duda beranak satu ini. Yang pasti wanita-wanita di luar sana yang masih lajang ataupun berstatus janda, pasi juga lebih memilih perjaka di luaran sana.
Sulit menemukan wanita yang tulus, yang benar-benar menerima kekurangan kita. Andai pun ada besar kemungkinan aku akan menikahinya segera. Tapi dimana aku bisa menemukannya?
Sebenarnya tadi setelah beribadah aku sudah meminum kopi yang kubuat sendiri dan juga sepotong kue sisa semalam. Namun Ibu terus memaksaku untuk memakan masakannya, mau tidak mau aku pun menurutinya.
" Lil, gimana?" Tanya Ibuku yang membuatku terkejut. Ya Allah ngomong apa Ibu barusan?
" Gimana apanya maksud Ibu?" Tanyaku balik dengan bingung.
" Ya Allah.. kamu nggak dengar Ibu ngomong apa dari tadi! Mikirin apa kamu ini!?" Bentak Ibu. " Ibu tadi bicara tentang Fera, gimana kalau kamu menikah dengannya saja, kemarin siang dia kesini ngobrol panjang dengan Ibu. Kalau Fera sih Ibu sangat setuju, apalagi Ibu dan Ayah juga sangat mengenal Keluarga besarnya. Kenapa dulu kamu tidak menikah dengannya saja!" Keluh Ibu, yang tiba-tiba membahas Fera mantanku.
" Huh Ibu jangan aneh-aneh deh! Maksudnya kemarin dia ke rumah. Ngapain?" Tanyaku heran, padahal sejak hari itu, aku dan mantanku itu sudah tidak lagi bertemu bahkan berkomunikasi.
" Ya nganterin titipan Ibu-lah. Ibu 'kan nitip tas sama Mamanya Fera yang kemarin lusa baru kembali dari luar negeri. Sudah sama Fera saja, coba nanti Ibu dan Ayah datang meminangnya ya buat kamu. Nungguin kamu bisa-bisa Ibu kelamaan menimang cucu lagi, sudah cucu pertama Ibu di bawa Ibunya, apa kamu nggak kasihan sama Ibu Kholil!" Adunya sedikit mengiba.
Tapi aku takut Anna marah dan yang lebih parah lagi aku tidak di perbolehkan melihat putriku lagi, itulah aku memilih amannya saja dari pada harus ada pertingkaian kembali.
" Nanti saja di bahas lagi ya Bu. Kholil sudah benar-benar terlambat ini." Jawabku segera menyudahi sesi obrolan.
Aku segera beranjak setelah menghabiskan makananku di piring, bersiap akan segera pergi. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera melihat Erika, pasti dia sudah besar sekarang, terakhir kali berkunjung kesana saat dia berusia satu tahun setengah dan itupun pulangnya aku berulah, teriak-teriak di dalam kamar karena merasa hidupku tidak adil. Itu juga yang membuat kedua orangtuaku melarangku kesana.
" Lho kok sudah selesai, cepat sekali!" Prores Ibu yang seakan menahanku.
" Kholil sudah kenyang Bu Ya sudah Kholil pergi dulu Bu salam buat Ayah, Assalamualaikum.." Pamitku melenggang pergi setelah mencium tangan Ibuku.
" Waalaikumsalam, iya hati-hati di jalan, nggak usah ngebut-ngebut nyetirnya!" Teriak Ibu mengingatkan, yang hanya kubalas dengan mengacungkan Ibu jariku dan setelahnya masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil pun bergerak keluar gerbang dan mulai memasuki jalanan yang begitu padat, mungkin karena tanggal merah jadi banyak warga yang berbondong-bondong keluar rumah hanya sekedar menghirup udara segar atau sedang berlibur bersama keluarga juga para teman-teman mereka.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam-an akhirnya aku telah sampai di kampung halaman mantan istriku Anna. Setelah memakirkan mobilku di halaman depan aku melihat sekitarnya sepi saat turun dari mobil bersamaan dengan adzan bedhuk berkumandang.
Aku pun berniat pergi ke Mushola lebih dulu untuk beribadah. Dan setelah selesai aku kembali ke rumah mantan mertuaku. Saat baru akan mengucap salam, terlihat Bapak yang keluar dari rumah dan melihatku.
" Eh ada Nak Kholil." Sambutnya yang tersenyum padaku.
" Assalamualaikum." Aku segera menyalami belaiu.
" Waalaikumsalam, sendirian saja Nak? Ayo masuk-masuk." Ujarnya seraya menagajakku masuk dan duduk di kursi ruang tamu yang segera aku ikuti.
" Iya Pak, Bapak gimana kabarnya? Juga kabar Ibu dan yang lainnya juga, semoga sehat semua." Ujarku.
" Alhamdulillah sehat semua Nak. Tunggu sebentar biar Bapak panggilakn Ibu dulu ya." Pamitnya yang berjalan ke belakang.
Tak lama terdengar suara tangis anak kecil dan sepertinya aku mengenal suara ini, siapa lagi kalau bukan tangisan putriku Erika. Ternyata Erika memang suka menangis, atau memang anak kecil sukanya menangis ya.
Aku jadi teringat kejadian waktu itu, tangisan Erika-lah yang sudah memancing emosiku. Tapi juga bukan salah Erika yang tidak tahu apa-apa. Nasi juga telah menjadi bubur, menyesalpun tidak ada gunanya.
" Tuh lihat Ayahmu datang.."
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1