
Anniyah_PoV
*
Keluargaku kini terlihat begitu ramai dan bahagia, terlebih Bapak dan Ibu sudah mempunyai tiga orang cucu perempuan dariku dan Anna. Hanya tinggal Mas Anton yang hingga kini belum mendengar kabar tentang kehamilan istrinya.
Mudah-mudahan segera mendapatkan kepercayaan mendapatakan momongan mereka berdua, Aamiin. Sudah dua hari ini juga suamiku berada di rumah dan kami baru saja pulang dari rumah Ibu hanya untuk sekedar suamiku mengajak mengobrol suaminya Anna.
" Besok mereka jadi balik ke kota?" Tanya Bang Aziz ketika kami sudah berada di dalam kamar.
" Katanya tadi begitu Bi, mungkin setelah subuh mereka berangkatnya. Erika juga sudah agak besar jika harus melakukan perjalanan jauh kurasa tidak apa-apa terlebih mereka juga naik mobil sendiri." Sahutku sembari merebahkan tubuh di atas ranjang dengan hati-hati sebab Zaheera sudah terlelap dengan antengnya.
Sedangkan Zia yang besar sedang di ayun-ayun oleh suamiku dalam gendongannya yang sebentar lagi mungkin juga sudah terlelap. Tak lama suamiku meletakkan Zia di sisi ranjang yang kosong, satu ranjang dengan Adiknya, lalu menyusul berbaring di sisiku yang kosong.
" Tidurlah." Aku menoleh sekilas ke arah suamiku lalu kembali tidur menyamping membelakanginya.
Namun suamiku bergeser merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan memeluk dari belakang, " Sayang kamu capek ya?" Bisiknya tepat di dekat telingaku.
Aku memejamkan mata dan hanya berdehem pelan menjawab pertanyaannya, aku memang sangat lelah hari ini, ingin segera tertidur. Supaya besok bisa ikut membantu Anna yang ajan pulang ke kota.
Walau rindu suasana kota, namun aku sama sekali tidak ingin kembali kesana, sudah cukup penderitaan di kota dulu. Justru aku berharap di kampung ini aku mendapatkan pekerjaan yang bisa aku kerjakan sembari menjaga anak-anak.
Uang sisa tabungan yang aku miliki selama di kota sudah aku belikan dua ekor kambing sehingga kini aku ikut ternak kambing dengan Bapakku, setiap hari aku ikut Bapak mencari rumput anak-anak aku titipkan krpada Ibu dan Nenek.
Lelah memang yang aku jalani, namun semuanya demi anak-anak supaya menjadi tabungan mereka kelak di kemudian hari. Semoga ternak kami menjadi banyak beranak pinak, Aamiin. Memang susah mencari pekerjaan di kampung ini selain menjadi tukang buruh tani.
" Kenapa Bi?" Tanyaku balik masih dengan kedua mata terpejam.
" Abi ingin sayang,,?" Bisiknya seraya mengecup cuping telingaku, yang tentunya membuat tubuhku merinding di buatnya.
" Bukannya semalam sudah ya." Tolakku dengan halus.
" Ya itukan semalam sayang, Abi pijitin dululah, kamu nanti diam saja biar Abi yang bekerja." Setelah mengucapkan itu, suamiku mulai memijatku mulai dari kedua kaki bergantian lalu merambat naik ke kedua pahaku dan semakin naik lagi.
__ADS_1
" Ini pasti sakit ya? Kok badannya meliuk gitu?" Tanya suamiku seraya memelintir urat nadiku tepat di balik lutut kiriku yang memang rasanya sangat sakit.
" Ya Allah Bi, itu sakit sekali,," Rintihku berusaha melepaskan tangan kekarnya yang terus saja memelintir.
" Ini pembuluh darahnya nggak jalan sayang, itu yang membuat kakimu sakit, bentar biar Abi urut dulu agar peradarannya lancar." Ujarnya mantap
Aku hanya bisa meringis juga menahan kesakitan yang teramat sangat, takut jika aku menjerit akan membangunkan anak-anak yang terlelap di ranjang sebelah sampingku ini. Ya dua ranjang memang sengaja di satukan agar sekalian bisa melihat juga menjangkau mereka berdua jika tidurnya ada yang terganggu.
" Pelan-pelan Bi." Keluhku pelan, namun tetap saja tangan suamiku terus bergerak hingga membuatku merapatkan kedua bibirku kuat-kuat.
Tak lama suamiku menyudahi acara melintirnya, dan mulai memijit bagian tubuhku yang lain. " Dasternya di lepas saja ya sayang agar tidak menghalangi." Ujarnya menyarankan, belum juga menjawab dasterku sudah lebih dulu di tarik ke atas olehnya, dasar memang!
" Nah kalau begini 'kan jadi leluasa." Ucapnya lirih.
Ya leluasa melihat seluruh tubuhku yang hanya tertutup dalam*n ini saja." Bi kamu itu anak kiyai lho kok bisa- bisanya mes*m begitu!" Protesku yang tidak habis pikir olehnya.
" Anak kiyai ini juga manusia sayang, toch Abi mes*m juga kepada istriku sendiri, bukan wanita lain." Sahutnya yang selalu saja aku kalah di buatnya.
" Itu tidak boleh sayang, dosa menggoda wanita yang bukan muhrimnya." Jawabnya yang kali ini aku benarkan. " Abi mulai ya sayang, lihat ini. dia sudah tidak sabar lagi." Ujarnya seraya menyentuh salah satu tanganku untuk di sentuhkan ke arah barang seorang pria.
Kalau sudah begini aku bisa apa selain pasrah dan menerimanya." Bismillah..." Ucapnya sebelum memulai mengajakku beribadah malam di atas peraduan kami.
Suamiku mulai mencumbu juga melakukan pemanasan hingga tubuh kami mulai menyatu, melebur menjadi satu dan sudah beberapa menit tubuh kami bermandikan keringat, namun rasa gelora panas ini masih terus berlanjut hingga kami sama-sama mencapai puncak secara bersamaan.
" Terima kasih sayang, kamu memang istri yang sangat pintar menyenangkan suaminya." Ujar suamiku saat kami masih sama-sama menikmati kepuasan.
" Sama-sama Bi," Jawabku pelan dengan menahan rasa kantuk yang luar biasa.
" Kamu tidur saja sayang, biar Abi yang membersihkannya." Setelahnya Bang Aziz beranjak bangun, sedangkan aku sudah tidak merespon lagi karena sudah benar-benar mengantuk.
***
Sesudah beribadah aku dan Bang Aziz naik motor menuju ke rumah Ibu dan Bapak, begitu sampai di halaman rumah, mereka semua ternyata sedang bersiap-siap memasukkan barang-barang ke dalam mobi, kami segera membantu.
__ADS_1
" Sudah semua ini?" Tanya Bang Aziz pada Kholil suami Anna.
" Sepertinya sudah semua Cak, tinggal menunggu Anna dan putri kami." Jawabnya seraya menutup pintu bagasi mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah untuk menjemput istri dan anaknya.
" Bu, Anna balik dulu. Maaf kalau selama disini sudah merepotkan Bapak dan Ibu." Ujar Anna berpamitan kepada kedua orangtua kami.
" Iya, kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut Lil, jalannya pelan-pelan saja, ingat bayimu masih sangat kecil." Pesan Ibu mengingatkan menantu prianya itu.
" Iya Bu, terima kasih banyak, akan Kholil ingat pesannya."
" Nak Kholil Bapak titip putri Bapak ya, kalau salah nasehatilah istrimu, bimbing dia yang masih labil itu ya. jaga putri dan cucu Bapak baik-baik disana kamulah yang di ikuti dan kamulah tempat mereka berlindung." Kini Bapak yang perpesan pada suami Anna.
" Iya insya Allah Pak, akan selalu Kholil ingat pesan Bapak, kalau begitu kami jalan dulu mumpung masih pagi, jalanan belum terlalu ramai." Pamitnya menyalami semua orang dan terakhir menyalami Nenek yang baru keluar dari dalam rumah.
Ya semalam Nenek memang menginap di rumah Ibu untuk menemani cicitnya sebelum kembali ke kota. Dan kini rumah kembali sepi, Anna sudah pulang ke rumah suaminta, dan mungkin nanti saat lebaran barulah ramai kembali dengan suara celoteh dari anak-anak kami.
Kami semua mengantar hingga ke depan pelataran, hingga mobil milik Kholil sudah tidak terlihat lagi. Aku berbalik badan juga ingin segera pulang, sebab Zia sendirian di rumah.
" Bu Pak, kalau begitu kami juga akan kembali pulang, kasihan Zia sendirian." Ujarku karena kepikiran sama Zia yang masih terlelap di dalam kamar.
" Kalian nggak sarapan dulu, ya sudah kalian hati-hati." Sahut Ibuku, dan Bang Aziz segera menjalankan motornya menuju ke rumah Nenek.
.
.
.
.tbc.
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1