
Malam ini, Wirra menghabiskan waktu bersama Anna. Sepasang manusia itu memadu kasih sepanjang malam. Tak hanya saling memberikan kepuasan kepada satu sama lain, Anna dan Wirra juga saling bertukar cerita. Membahas masa lalu yang telah mereka lewati, masa kini yang tengah mereka jalani, dan masa depan yang akan mereka hadapi. Sepasang suami istri itu berikrar untuk selalu bersama hingga maut memisahkan.
Wirra bahkan mengungkapkan penyesalannya karena dia berulang kali menyakiti Anna.
“Tidak ada yang perlu di sesalkan, Mas. Semua ini terjadi karena kehendak Tuhan. Lagian, karena semua kejadian ini, sebentar lagi Mas akan memiliki seorang putra. Apa Mas tidak bahagia karenanya?”
“Tentu saja aku bahagia, An. Aku sangat bahagia karena sebentar lagi aku akan memiliki darah dagingku sendiri,” jawab Wirra.
“Makanya, Mas tidak perlu merasa menyesal atas apa yang sudah terjadi. Ini semua sudah kehendak Tuhan. Yang penting, Mas harus selalu berusaha untuk adil, dan aku akan berusaha untuk bisa selalu mengerti kondisi, Mas.”
Keikhlasan dan kebaikan hati Anna, berhasil mencuri cinta dan kasih Wirra secara diam-diam.
Jika dulu posisi Meyta tak pernah tergoyahkan di hati pria itu, kini sepertinya Meyta harus membagi sebagian tahta itu untuk Anna. Karena kini, nama Anna pun mulai tersemat di hari Wirra.
...****************...
Seperti janji Wirra, saat akhir pekan tiba, pria itu membawa Anna ke kediaman Meyta dan mereka melakukan perjalanan bersama. Wirra memutuskan untuk membawa kedua istri dan anaknya untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah villa yang berada di daerah Puncak, Bogor.
Anna sudah menyiapkan beberapa bahan masakan untuk kebutuhan mereka selama menginap dua hari di villa. Anna bahkan sudah menyiapkan makanan untuk santap makan siang mereka ketika tiba di villa.
Dan seperti yang Wirra duga, selama berada di villa, Meyta selalu bergelayut manja padanya. Meyta tak membiarkan satu detik pun bagi Wirra jauh dari jangkauannya. Meyta bahkan selalu meminta Wirra untuk menyuapi dirinya saat makan.
Wirra merasa sangat tak enak hati pada Anna. Dia tak ingin jika Anna merasa cemburu pada Meyta. Wirra juga ingin berada di dekat Anna sesekali. Namun, tentu saja Meyta tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Dengan alasan selalu merasa mual jika berjauhan dari sang suami, Meyta bisa dengan mudahnya menjajah Wirra.
Wirra terus memandang Anna dengan perasaan iba. Rasanya pria itu ingin memeluk Anna dan meredakan kecemburuan di hati istri pertamanya itu. Wirra pikir, Anna pasti merasa sangat sedih karena dirinya dan Meyta.
__ADS_1
Namun, perkiraan Wirra salah. Walau Anna merasa cemburu melihat sang suami yang terus berada dalam dekapan adik madunya, tapi Anna sama sekali tak merasa sedih. Wanita itu bahkan merasa bahagia. Karena kini, berkat liburan keluarga kecil itu, Anna akhirnya bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu.
Meyta yang hanya berfokus pada Wirra, begitupun sebaliknya, membuat tak ada seorang pun yang memperhatikan Mutiara. Anna lah yang menemani gadis kecil itu selama di villa. Anna bahkan mengajak Mutiara untuk menyiapkan masakan bersama.
Memiliki seorang anak perempuan dan memasak bersama adalah impian Anna sejak masa remaja. Mendapatkan Mutiara selama dua hari, adalah hal yang begitu membahagiakan bagi Anna. Terlebih Mutiara adalah anak yang baik dan penuh pengertian. Gadis kecil itu bahkan memiliki pikiran yang dewasa. Anna sangat menyukai Mutiara.
Rupanya tak hanya Wirra yang berpikir Anna akan merasa iri, sakit hati, sedih dan kecewa. Meyta pun berpikir hal yang sama. Bahkan, liburan ini, memang sengaja direncanakan oleh Meyta untuk membuat Anna merasa iri padanya.
Meyta pikir Anna akan terlihat bersedih selama waktu liburan. Dia pikir, Anna akan terus menatapnya dengan sorot mata penuh kesedihan karena merasa iri dengan kehamilannya dan kemesraan antara dirinya dan Wirra.
Tapi apa yang di lihat oleh Meyta berbanding terbalik dengan apa yang sudah dia rencanakan.
Tak ada sorot kesedihan di mata wanita itu. Anna bahkan terlihat lebih berbinar dari biasanya. Senyum sumringah selalu menghiasi wajah cantik wanita itu.
Jangan-jangan Wirra menyelinap dan bertemu dengan Anna kalau aku sudah tidur?
Dan hari terakhir mereka berada di villa, Meyta hanya menekuk wajahnya. Wanita itu merasa sangat kesal karena rencana yang sudah dia rancang, gagal total!
Dan Meyta semakin bertambah kesal saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Wirra, Anna dan Mutiara terlihat bagai keluarga kecil yang bahagia. Ketiga orang di dalam mobil itu saling bercanda dan tertawa bersama tanpa melibatkan dirinya.
“Ra, mama itu lagi pusing, lagi mual, bisa tolong pelan kan suara tertawa kamu?!”
Tidak hanya Mutiara, Wirra dan Anna pun seketika menghentikan tawa mereka.
“Apa kamu mau kita berhenti sebentar dan kamu bisa menghirup udara segar, agar mual kamu berkurang?” tanya Wirra. “Atau kamu mau minum atau makan camilan?”
__ADS_1
“Tidak perlu. Aku hanya ingin kalian biarkan aku beristirahat,” ungkap Meyta.
Wirra, Anna dan Mutiara tentu saja menuruti keinginan wanita yang tengah hamil besar itu. Mereka pun tak mengeluarkan suara selama perjalanan. Kendaraan itu pun terasa begitu sepi hingga tiba di kediaman Anna.
“Terima kasih buat liburannya ya, Mey, Mas. Aku sangat bahagia bisa berlibur bersama kalian. Aku akan menantikan liburan keluarga kita selanjutnya,” ucap Anna saat mereka baru saja tiba di kediaman wanita itu.
Wirra tersenyum sembari mengembuskan napas lega. Apa yang ditakutinya tak terjadi. Wajah bahagia dan senyum sumringah Anna membuat pria itu tak kalah bahagia.
“Syukurlah kalau kamu senang. Nanti kita atur jadwal liburan lainnya. Mungkin kita bisa berlibur bersama ke Bali. Bagaimana menurut kamu, Ra?”
“Boleh, Pa. Bagaimana kalau nanti, pas liburan sekolah Rara!” ucap Mutiara antusias.
Gadis kecil itu rupanya juga tak sabar untuk kembali memasak bersama Anna. Mutiara yang kehilangan sosok ibu saat Meyta memutuskan kembali bekerja, membuat gadis kecil itu merindukan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu. Dan selama masa liburan, Mutiara mendapatkan hal itu dari Anna.
Anna yang begitu lembut dan hangat benar-benar membuat Mutiara merasa nyaman pada ibu tirinya itu. Dengan cepat, Mutiara dapat menyayangi Anna.
“Bu Anna mau kan?”
Belum sempat Anna menjawab pertanyaan Mutiara, Meyta sudah memotong pembicaraan itu.
“Saat liburan sekolah, sepertinya adik kamu akan lahir. Jadi kita tidak bisa berlibur bersama lagi!” ketus Meyta.
Mutiara terlihat kecewa mendengar ucapan sang ibunda. Begitupun dengan Anna.
“Tidak apa, nanti kita bisa rencanakan kembali setelah adik bayi lahir. Jadi, kita tidak hanya pergi berlibur berempat, tapi berlima! Bagaimana?” seru Wirra.
Dengan senyum sumringah, Anna dan Mutiara menganggukkan kepalanya. Hanya Meyta yang merasa sangat kesal dengan ucapan Wirra. Meyta bahkan tak membalas salam dari Anna saat madunya itu berpamitan.
__ADS_1