Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 41 - kembalinya Meyta


__ADS_3

Sejak mengetahui jika kedua anaknya dirawat oleh madunya, Meyta benar-benar berusaha untuk cepat pulih dan bisa kembali ke kediamannya. Meyta tak mau jika kedua anaknya memiliki kedekatan dengan Anna.


Meyta makan dengan lahap, meminum obatnya dengan teratur. Wanita itu bahkan selalu menyempatkan diri untuk berjemur di taman rumah sakit.


Semua dilakukannya agar kondisi kesehatannya segera pulih.


Dan benar saja, selain kakinya yang masih belum bisa digunakan secara maksimal, kondisi tubuh wanita itu sepenuhnya sudah pulih.


Sepuluh hari sudah Meyta tak bertemu kedua anaknya. Wanita itu hanya menyapa anak-anaknya melalui panggilan video, setiap malam.


“Besok aku sudah bisa pulang, Wir. Aku harap Anna sudah pergi dari rumah saat aku kembali,” tegas Meyta saat dirinya baru saja selesai melakukan panggilan video dengan anaknya.


“Mey ... Sepertinya anak-anak masih sangat membutuhkan Anna. Coba lihat kondisi kamu. Kamu belum sepenuhnya pulih. Kamu belum bisa menghandle anak-anak sendirian,” jawab Wirra.


Meyta mendengus kesal mendengarnya. “Kenapa? Apa karena aku belum bisa berjalan?!” ketus Meyta. “Kakiku seperti ini hanya sementara, Wir. Dalam beberapa Minggu dia akan kembali normal.”


“Maka dari itu, biarkan Anna membantu mengurus Rara dan Arka sampai kamu benar-benar pulih. Biar kamu fokus selama masa pemulihan.”


Meyta merasa begitu kesal mendengar ucapan Wirra. Jika Anna terus berada di kediamannya, bagaimana mungkin dia bisa kembali merebut perhatian Wirra. Bagaimana mungkin dia bisa membuat pria itu melupakan Anna?


Atau memang seperti ini rencana Wirra? Anna tetap tinggal, agar mereka bisa bertemu setiap saat?


Meyta menatap Wirra sambil tersenyum sinis. Meyta tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


“Masih ada ibu yang bisa membantuku. Atau, kamu bisa menyewa seorang pengasuh untuk membantuku menjaga Arka. Pokoknya aku tidak mau dia tinggal di sana!”


“Baiklah. Aku akan mengantarkan Anna pulang ke rumahnya, setelah kita tiba di rumah, besok,” jawab Wirra. Pria itu benar-benar tak mau terlalu lama berdebat dengan Meyta. Rasa bersalahnya membuat Wirra mengalah pada sang istri kedua.


“Kenapa harus kamu yang mengantarnya pulang? Apa dia tidak bisa kembali ke rumahnya sendirian? Aku membutuhkan kamu di rumah, Wir. Aku lebih membutuhkan kamu dibanding dia, Wir!” ketus Meyta.


Wirra mengembuskan napas kasar. Entah mengapa, beberapa bulan belakangan, Wirra seolah tak mengenali Meyta. Wanita itu benar-benar berubah. Keegoisan istri keduanya itu semakin menjadi-jadi.


“Mey, sudah seharusnya aku mengantarkan dia kembali ke rumahnya karena aku yang meminta dia untuk tinggal sementara di rumah kamu. Aku yang meminta bantuannya untuk menjaga Rara dan Arka,” jelas Wirra.


“Harusnya kamu berterima kasih kepada Anna. Karena berkat dia, anak-anak ada yang mengurusi. Anna bahkan mengurusi Rara dan Arka dengan sangat baik.”

__ADS_1


Meyta memalingkan wajahnya. Wanita itu tak mau menatap Wirra. Meyta kesal. Wanita itu tak bisa menerima kenyataan bahwa Wirra kini membagi cinta pada Anna.


Malam itu Meyta terlelap dengan perasaan penuh amarah. Bahkan, amarah itu masih terus bersemayam di hatinya hingga fajar menyingsing.


Begitu pun ketika dirinya tengah dalam perjalanan pulang bersama Wirra. Rasa rindu pada kedua anaknya, terkalahkan oleh kebenciannya karena sang suami telah berbagi cinta.


Dan, saat dirinya tiba di rumah, Meyta langsung meminta Anna untuk menyerahkan Arkana.


“Kesinikan Arka!” ketusnya.


Dengan penuh senyuman Anna pun memberikan Arkana ke pangkuan Meyta yang masih duduk di atas kursi rodanya. Arkana pun terlihat begitu nyaman dalam dekapan ibu kandungnya.


“Arka pasti sangat merindukan kamu, Mey,” ucap Anna.


Meyta tak mengucapkan sepatah katapun untuk membalas ucapan Anna. Wanita itu hanya melirik sekilas pada Anna, lalu mengarahkan pandangannya ke arah rumah.


“Rara ... Mama pulang, Nak. Kamu tidak mau menyambut mama? Kamu tidak merindukan mama?” seru Meyta, sembari meminta sang suami mendorong kursi roda yang dinaikinya agar masuk ke dalam rumah.


“Rara belum pulang sekolah, Mey,” ucap Anna.


“Aku lupa mengatakannya pada Anna, Mey,” dalih Wirra.


Kali ini Meyta beralih menatap Wirra.


“Kamu tidak usah membela dia, Wir!” ketus Meyta.


“Aku tidak membela Anna. Aku memang lupa memberitahukan pesanmu pada Anna. Maaf ya.”


Meyta mendengus kesal. Sejak kecelakaan yang dia alami, Meyta tak lagi memercayai ucapan sang suami. Menurut Meyta, Wirra pasti sengaja mengatakan hal itu hanya untuk membela Anna.


“Sudahlah, Mey. Kamu ini baru pulang dari rumah sakit. Jangan marah-marah terus. Ayo istirahat,” ucap sang ibunda menengahi. Meyta pun terpaksa menutup rapat bibirnya.


“Ayo bawa Mey ke kamar, Wir,” ucap wanita lanjut usia itu. Wirra pun menuruti perintah sang mertua. Pria itu kembali mendorong kursi roda hingga ke dalam kamar, mengambil Arkana dari pangkuan Meyta dan meletakkan bayi itu di atas kasur, lalu menggendong Meyta agar wanita itu bisa menggapai ranjang.


Setelah membereskan seluruh barang bawaan Meyta dari rumah sakit, Wirra pun berpamitan.

__ADS_1


“Aku antar Anna sebentar, ya.”


“Yakin, cuma sebentar?!” ketus Meyta.


“Begitu sampai di rumah Anna, aku akan langsung pulang, Mey.”


“Mudah-mudahan saja kali ini kamu tidak berbohong!” balas wanita itu. Wirra yang tak mau memperpanjang masalah, segera beranjak dari sana dan menghampiri Anna.


“Aku berpamitan dulu, Mas.”


“Mey lagi istirahat,” jawab Wirra.


Pria itu sengaja berbohong. Dia tak mau Anna bertemu Meyta. Dia tak mau Anna merasa sedih karena melihat tatapan penuh kebencian dari mata Meyta.


“Aku tidak akan menggangu waktu istirahat Meyta, aku hanya ingin berpamitan dengan Arka, Mas. Boleh ya,” lirih Anna. Terpaksa Wirra menganggukkan kepalanya. Pria itu pun memutuskan untuk menemani Anna ke kamar tidur. Dia ingin memastikan jika Meyta tak berucap kasar pada istri pertamanya.


“Kamu bawa saja tas Anna ke mobil. Biar ibu yang menemani Anna ke kamar.”


Wirra mengembuskan napas panjang. Akhirnya Wirra merasa lega.


Pria itu pun menuruti perintah sang mertua. Jika Anna ditemani oleh sang mertua, Meyta pasti tak akan berani untuk berkata kasar pada Anna.


Dan benar saja, Meyta hanya diam saat Anna mencium lembut kedua pipi Arkana. Air mata Anna bahkan menetes. Sebenarnya Anna tak ingin berpisah dari Arkana. dia sudah sangat menyayangi bayi lelaki itu. Namun, pesan yang dikirimkan oleh Wirra, malam tadi, membuat Anna terpaksa kembali ke kediamannya dan meninggalkan Mutiara dan Arkana.


“Aku pamit ya, Mey. Kalau kamu butuh bantuanku, bilang saja. Dengan senang hati aku akan datang.”


Meyta hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya dengan malas.


“Terima kasih ya, Anna. Terima kasih sudah mau membantu Meyta untuk mengasuh Rara dan Arka.”


Meyta menatap ibu kandungnya dengan kesal. Dan Meyta semakin bertambah kesal saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Anna.


“Justru Anna ya berterima kasih, Bu. Rara dan Arka adalah anak Mas Wirra. Itu artinya mereka juga anaknya Anna. Anna sangat menyayangi Rara dan Arka.”


“Maaf An. Aku harus istirahat. Nanti, katakan pada Wirra agar langsung pulang ya. Aku membutuhkannya di rumah. Jadi, jangan tahan Wirra di rumahmu!”

__ADS_1


Anna tersenyum kecil dan mengangguk kepalanya. Sementara ibu kandung Meyta, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya itu.


__ADS_2