Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Berpamitan.


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Aku sangat terkejut juga ketakutan saat di bentak dan di tuduh seperti itu oleh Neng Atin iparku. Awalnya aku enggan kemari lagi juga karena nggak ingin bertemu denhan beliau.


Tadi sedikit lega saat di depan sebab tidak bertemu dan di sambut langsung olehnya. Namun begitu Bang Aziz mengajakku masuk, yang ku takutkan pun terjadi. Tanpa mengatakan apapun aku berbalik dan kembali ke depan bersamaan Zaheera yang menangis kencang, mungkin sama takutnya seperti yang aku rasakan.


Terlebih setelah mendengar Budhenya yang terlihat seperti singa betina. Astagfirullah... Bukan maksud hati ingin menjelekkan iparku sendiri, namun memang seperti itulah kenyataannya, sejak awal aku datang ke rumah ini.


Sekarang sudah tidak ada lagi yang ingin aku kunjungi disini, kedua mertua semua juga sudah berpulang. Terakhir berkunjung kemari saat lebaran tahun kemarin, dan kemungkinan lebarin ini aku menolak untuk di ajak, biar saja suamiku yang datang sendiri, aku lebih baik ke rumah Bulek, rumahnya yang dulu aku tempati tidak jauh dari sini.


" Sayang tunggu!" Ku dengar Bang Aziz memanggilku, namun tidak aku hiraukan.


" Nah lihat! Seperti itulah kelakuan istri nakalmu itu, tidak sopan sekali! Tinggalkan saja dia, toch sudah ada Nikmah yang kini sedang mengandung calon anak kalian!" Kembali terdengar suara pedas dari iparku.


Degh!!


Langkahku terhenti sejenak saat mendengar perkataan Neng Atin barusan. Apa dia bilang, maduku tengah hamil? Wuuaah.. Bahkan Bang Aziz tidak mengatakan apapun padaku. Ouh, bukan itu. Memang siapa aku, wanita yang awalnya sudah merusak rumah tangga mereka berdua. Toch bukankah wajar seorang istri hamil, karena memang mempunyai suami?


Ya Allah.. Ku usap kasar bulir bening yang entah sejak kapan sudah jatuh, lalu kemudian melanjutkan kembali langkahku dengan lebar. Kecewa? Tentu saja, namun kita sama-sama mempunyai Hak atas Bang Aziz, dan tidak seharusnya aku seperti ini, yapi kenapa radmsanya sangat sakit??


" Neng sudah cukup! Kalau Neng—


Ku dengar suara suamiku yang berusaha membalas, namun tidak sampai selesai aku sudah keluar dari pintu penghubung. Begitu sampai di depan aku berjalan mendekati Mas Anton.


" Mas sebaiknya kita segera pamit saja, aku terus kepikiran Zefa di rumah." Ajakku, dan semoga dia mau menuruti keinginanku yang ingin pergi dari rumah ini segera.

__ADS_1


Ku lihat Mas Anton mengernyit bingung sejenak, namun tak lama itu ia pun setuju dengan usulku. Alhamdulillah.. maaf sayang Ami menjadikanmu sebagai alasan agar segera pulang.


" Ya sudah dimana suamimu dan keluarganya? Biar Mas yang pamitan." Ia pun beranjak bangun ingin berjalan ke dalam rumah. Dan bersamaan itu Bang Aziz pun keluar dan langsung berhadapan dengan Mas Anton.


" Eh, Mas mau ke mana?" Tanyanya dengan heran.


" Oh kebetulan Zia, baru saja aku mau memanggilmu, maaf ya karena hari hampir siang kami mau pamit undur diri dulu, sekali lagi kami sekeluarga mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya, srmoga kamu beserta keluarga di beri kesabaran, ketabahan dan keikhlasan, salam buat kekuargamu yang lain. " Ujar Mas Anton berpamitan.


Memang selama ini Mas Anton memanggil suamiku dengan sebutan Zua putri pertama kita. Entahlah terserahnya saja..


" Wa'alaikumsakam, nanti saya sampaikan. Terima kasih banyak Mas, Ya Allah maaf sudah merepotkan datang kemari, sekali lagi terima kasih. Aku minta tolong titip Anni dan anak-anak ya Mas, mungkin setelah tujuh harinya Abah baru aku bisa pulang." Sahut suamiku yang terus-menerus melirikku.


" Iya, kamu tenang saja. Aku paham kok dengan keadaanmu sekarang, ya sudah kami langsung saja ya, Anniyah juga sepertinya kepikiran terus dengan putri kecil kalian yang di titipkan Nenek, Assalamualaikum." Seru Mas Anton setelah menyalami Bang Aziz dan juga Pamannya. Begitu pun dengan Bapak dan Pak RT, aku dan Mbak Najwa hanya menyalami Bibi dan beberapa wanita yang mungkin masih kerabat mereka.


" Iya Wa'alaikumsalam Mas."


" Apa Abi tidak ikut pulang?" Tanya Zia dengan polosnya.


" Belum bisa sayang. Nanti ya. Sekarang Zia pulang dulu sama Adek dan Ami." Sahut Abinya.


Terlihat Zia langsung mengangguk patuh. " Baiklah Abi, Zia dan Zaheer pulang dulu ya. Abi juga cepat pulang ya.." Celotehnya lagi.


" Sayang—


" Maaf Bi, nanti saja kita bicarakan lagi di rumah ya. Kasihan Zefa yang mungkin rewel saat ini." Selaku memotong ucapannya, aku tahu ini salah dan juga pasti dia tidak terima. Namun sebaiknya begini saja daripada kami sekeluarga terus berada disini lama-lama. Dan memang aku tidak sepenuhnya berbohong, aku memang memikirkan Zefa yang mungkin kehausan, tadi hanya menyiapkan susu Asi dua bungkus saja di panci nasi yang sebelumnya sudah aku hangatkan airnya.


" Terima kasih banyak atas doa dari Pak RT, Bapak yang juga sudah berkenan datang, hati-hati di jalan." Ujar suamiku, saat Pak RT juga mengucapkan bela sungkawanya.

__ADS_1


Setelah semuanya berpamitan, segeralah kami berjalan menuju mobil milik Pak RT yang ada di depan jalan sana. Aku melihat ke belakang dari kaca spion yang ada di samping kiriku. Terlihat Bang Aziz berdiri di depan Mushola dengan terus menatap ke arah mobil kami.


Pasti sebenarnya ada yang ingin ia sampaikan padaku, entah sekedar minta maaf atau yang lainnya. Namun melihatku yang sudah terlanjur kecewa setelah mendengar lontara-lontaran pedas dari Kakaknya itu, membuatnya bingung sendiri, terlebih setelah akuntahu bahwa istrinya yang lain sedang mengandung calon anak mereka.


Sampai mobil melaju tidak ada satu pun orang yang bertanya padaku, aku sedikit lega. Sungguh perkataan panas Neng Atin tadi masih terus saja terngiang di telingaku.


Sampai sekarang aku tidak tahu, kenapa Neng Atin segitu marah dan bencinya padaku. Apa karena aku yang sudah merusak rumah tangga Adiknya sebelum itu? Tapi aku sendiri juga tidak minta di nikahi, semunya terjadi begitu saja, apa aku terlihat sebagai seorang wanita nakal yang suka merayu semua laki-laki?


" Ami menangis?" Celetuk Zia tiba-tiba, yang langsung membuatku tersadar, dan segera mengusap kasar wajah sembabku yang entah sejak kapan bulir bening itu kembali meluncur.


" Hmm, nggak apa-apa sayang. Ami hanya kelilipan saja ini lho." Dustaku berharap putriku tidak lagi bertanya. Jika tidak pasti bulir ini akan kembali mengalir dengan derasnya.


Ingin curhat dan bercerita dengan orang lain, namun kepada siapa. Aku tidak terlalu dekat dengan Mbak Najwa istrinya Mas Anton. Kepada Anna, dianya yang juga jauh disana, yang mungkin saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Aku merasa di dalam mobil ini terlalu hening, hanya suara celoteh anak-anak saja yang terdengar. Untungnya tadi aku bawa bekal cemilan untuk ketiga anak kecil ini, supaya tidak rewel. Tapi ada yang janggal, apa mungkin mereka semua ikut mendengar ucapan yang Neng Atin lontarkan padaku? Yang memang suaranya sedikit keras tadi yang terakhir kalinya.


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2