
Aziz_PoV
*
Aku dan Anni tentu saja sangat terkejut mendengar cerita dari Ibu mertua, tidak menyangka saja Mbak Najwa akan bersikap demikian terhadap Ibu mertuanya sendiri. Seharusnya jika memang putranya tidak boleh di beri makan pisang, ya hanya tinggal bilang saja dan beri nasehati Ibu dengan baik-baik, pasti Ibu akan mendengarkan dan tidak akan tersinggung seperti sekarang ini.
" Ya Allah kok Mbak Najwa sampai segitunya sih Bu? Ya sudah gini saja Bu, kalau Mbak Najwa minta tolong jagain putranya, ya tinggal jagain saja tidak perlu kasih sesuatu atau apapun itu, biar Mbak Najwa sendiri saja yang mengurus putranya. Bukan apa, takutnya kejadian seperti tadi pagi terulang kembali. Ibu juga ada-ada saja kenapa tidak bertanya dulu dengannya, boleh tidak putranya itu di suapi pisang?" Sahut Anni yang terlihat prihatin dengan apa yang sudah terjadi.
" Ya memang apa bedanya? Zia dan Zaheera juga Ibu kasih pisang, mereka juga tidak kenapa-kenapa 'kan justru lebih gendutan badannya." Elak Ibu yang sepertinya masih belum terima.
" Setiap bayi itu berbeda-beda Bu, jangan di samakan dengan Zia dan Zaheera, apalagi si Nino ini 'kan tidak minum asi hanya minum formula saja, mungkin itu yang membuat Mbak Najwa marah sama Ibu." Terang Anni kepada Ibunya.
Sementara aku hanya menyimak dan mendengarkan saja, tidak ingin ikut campur karena itu masalah wanita. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, bahkan seseorang yang pernah masuk ponpes saja seperti aku masih banyak kekurangannya, hanya saja keuntungan utamanya masuk ponpes sebenarnya adalah lebih mendalami ilmu agama, apalagi bisa menghafalkan kitab suci sebagai pedoman hidup kita di masa depan. Dan juga bisa mendapatkan akhlak yang lebih baik lagi, namun semua kembali lagi, setiap orang memiliki akhlak berbeda-beda.
Beberapa saat kemudian Ibu mertua pun berpamit akan pulang karena hari memang sudah semakin malam. Beliau juga sudah puas bermain dengan kedua cucunya. Aku ikut senang melihat wajah Ibu mertuaku yang kembali ceria, walau hitungan menit yang akan datang pasti kembali kesal dan sedih saat nanti pulang ke rumahnya.
" Biar Aziz antar pulang Bu, mari." Tawarku yang akan berjalan ke arah kamar untuk mengambil kunci motor.
" Eh tidak usah Nak Aziz, Ibu bisa pulang sendiri kok." Tolaknya yang sepertinya merasa tidak enak hati.
" Jangan dong Bu, jalannya gelap lho. apalagi jalan tikus di belakang sana, biar di antar Bang Aziz saja." Timpal Anni yang ikutan memberi saran.
Namun Ibu justru sudah lebih dulu berjalan ke arah depan, " Sudah kalian berdua di rumah saja. Bu, Titik pulang dulu ya, Assalamualaikum.." Pamit Ibu tak lupa menyalami Nenek yang tengah berada di warung depan.
" Kok buru-buru pulang Tik? Nggak nginep disini?" Tawar Nenek yang justru meminta Ibu menginap di rumahnya, lalu bagaimana dengan Bapak mertua, masa harus tidur sendirian malam ini?
__ADS_1
" La terus putra Ibu nanti gimana kalau Titik menginap? Ibu ini ada-ada saja." Sahutnya sebelum melangkah keluar.
" Buruan Bi anterin Ibu, ambil kunci motornya." Ujar istriku, aku pun segera masuk ke dalam kamar kemudian melangkah keluar untuk mengatar Ibu.
Beberapa saat kemudian aku sudah pulang kembali ke rumah setelah mengantar Ibu mertua. Aku juga langsung memasukan motorku dan menutup pintu depan tak lupa menguncinya. Setelahnya aku pun masuk ke dalam kamar menyusul istriku.
" Tadi ketemu Ibu sudah sampai mana Bi?" Tanyanya setengah berbisik seraya menyusui si kecil Zaheera.
" Sudah hampir sampai Mushola Ibu, aku sampai tidak percaya Mi, cepat sekali Ibu jalannya lho." Takjubku yang memang benar adanya.
" Ya seperti itulah Ibu, tidak hanya jalannya yang cepat, tapi dalam bekerja pun cepat juga. Sayangnya Bapak menyuruh berhenti saat aku masih sekolah, padahal waktu itu Ibu sudah jadi mandor lho." Jelasnya seraya beringsut duduk, dan terlihat si kecil juga sudah terlelap.
" Gitu ya, berarti Ibu itu orangnya rajin dan juga cekatan sayang. Tapi kenapa Bapak meminta Ibu berhenti dari pekerjaannya? Bukankah untuk menjadi seorang mandor itu sedikit sulit ya mendapatkannya? Terlebih setelah menjadi Mandor juga tidak gampang beban yang harus di pikul." Jelasku yang sedikit mengetahui hal ini, sebab aku dulu pun sempat menjabat sebagai mandor walaupun itu hanya sebentar, tapi itu sudah cukup memberikan pengalaman tersendiri untukku.
Namun aku justru berjalan ke arah gantungan pakaian. " Oh ya sayang, apa kamu ada ambil uang Abi yang ada di kantong celana ini?" Tanyaku saat tengah mengecek uang yang lupa aku simpan ke dalam dompet.
" Uang? Uang apa Bi, jangan asal nuduh! Aku nggak merasa ambil uang kamu lho, demi Allah!" Sahutnya, yang sepertinya istriku ini salah paham dengan ucapanku barusan.
" Aduh maaf sayang, aku hanya bertanya saja tadi, bukan maksud menuduh kamu. Kalau memang kamu yang mengambilnya ya sudah tidak apa-apa, soalnya Abi lupa memasukkan ke dompet. Dan seingat Abi juga, kemarin malam Abi masukin ke dalam kantong celana ini kok, tetapi kok nggak ada ya?"
Jelasku yang masih mencari uang tersebut walau kenyataannya tetap tidak ada di kantong manapun, ya walau isinya hanya ada satu lembar lima puluh ribuan dan selembar sepuluh ribuan, tapi tetap saja berharga bagi kami. " Ya sudah lupakan saja sayang, mungkin Abi yang lupa jika sudah memakainya." Lanjutku yang tidak ingin istriku semakin salah paham kepadaku. Aku juga tidak ingin malam-malam begini harus berdebat denhan istriku apalagi anak-anak juga baru saja tertidur.
" Ya nggak bisa gitu dong, memangnya berapa uang yang hilang? Di kamar ini hanya ada kita berdua lho Bi!"
" Tadinya ada enam puluh ribu di kantong celana, tapi yang pecahan sepuluh ribuannya ada, lima puluh ribuannya yang nggak ada, sudahlah sebaiknya kita istirahat sayang, besok saja Abi cari lagi." Putusku yang memilih merebahkan diri di atas ranjang dipan.
__ADS_1
" Astagfirullah,, lima puluh ribu yang hilang Bi? Itu nominal yang cukup besar lho Bi untuk kita, perlu bekerja dua hari di ladang untuk mendapatkan uang sebesar itu. Ayo aku bantu cari kalau begitu, siapa tahu sedang terselip di tempat lain bukannya di dalam saku." Ucapnya yang terdengar masih kekeuh meluruskan hal ini.
" Ya maafkan Abi, lain kali—
" Tunggu dulu Bi, jangan-jangan uang kamu itu juga jadi korbannya?" Pungkas istriku yang membuatku mengernyit bingung.
" Korban? Maksudnya apa sayang?" Tanyaku yang semakin heran dengan ucapannya itu.
" Jadi begini Bi, sudah hampir semingguan ini hampir seluruh warga kampung sini pada heboh karena muncul berita tentang adanya tuyul pesugihan, banyak warga yang kehilangan uangnya, apa jangan-jangan uang kamu juga di ambil oleh tuyul itu Bi?" Jelasnya, yang tentunya membuatku sedikit terkejut mendengar hal itu.
" Kapan mengambilnya sayang? Harusnya Abi bisa melihatnya jika tadi masuk ke dalam rumah."
" Entahlah,, apa mungkin saat Abi mengantar Ibu pulang tadi?"
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1