Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Selamat Jalan..


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Alhamdulillah acara mengebumikan jenazah Cak Arga berjalan lancar, semua pelayat sudah mulai berpamitan untuk pulang setelah menyampaikan bela sungkawanya. Setelah semuanya pulang, aku kembali duduk terdiam di depan tanah gundukan yang masih basah penuh dengan bunga.


Begitu pun dengan Zayyan di sampingku yang sedari tadi mengelus gundukan tersebut. Aku sangat mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Untuk itulah aku akan menemaninya hingga ia sudah merasa lelah, kami semua merasa sangat kehilangan.


Aku juga sudah mengabari Anni, jika pasca pulang dari rumah semalam keluargaku mengalami kecelakaan. Awalnya Anni ingin datang kesini. namun aku melarangnya, apalagi putri kita masih kecil. Walau sebenarnya tidak apa-apa juga, ia bisa menunggu di rumah. Namun aku mengatakan lebih baik di rumah saja jaga anak-anak.


Aku yakin putramu akan menjadi anak yang sholeh Cak, anak yang patuh dan membanggakan untukmu disana. Cacak tenang saja, Insya Allah Aziz akan menjaga dan melindungi anak-anak Cacak, yang sudah aku anggap seperti anak sendiri.


Barcanda gurau, dan tertawa terbahak-bahak adalah bahagia terindah yang pernah aku rasakan ketika bersamamu Cak. Kasih sayangmu akan terus abadi dan aku kenang selamanya.


Beberapa saat kemudian Zayyan sudah mau di ajak pulang, setelah mendoakan Abinya kembali. Kami berdua pulang sejenak ke rumah untuk bersih-bersih dan berganti pakaian. Lalu kembali keluar menuju rumah sakit.


Sebenarnya masih nanyak orang yang melayat ke rumah, namun aku tidak tenang jika meninggalkan para wanita sendiri di rumah sakit, Zayyan belum cukup umur untuk bisa mengatasi di sana.


Sehingga aku pasrahkan semuanya kepada Bibi dan Paman, Kakak sepupu Abah yang rumahnya tepat di samping rumah kami agar mereka menerima para tamu yang datang dan menghandle keadaan di rumah juga masak- memasak untuk acara tahlilan nanti malam, aku berpesan kepada Bibi jika nanti sore aku akan pulang saat acara tahlilan akan berlangsung.


" Assalamualaikum.." Sapa kami begitu masuk ke dalam kamar perawatan Neng Delisha dan juga si kecil Zac.


" Wa'alaikumsalam." Sahut mereka semua dengan wajah sendu.


" Sudah selesai Ziz?" Tanya Neng Atin dengan suara seraknya.


Pasti keduanya habis menangis lagi, aku pun memilih diam tidak ingin bertanya apapun kepada dua wanita yang sedang hancur perasaannya, pasti sangat sensitif. Kulihat Zac juga sudah siuman dan tengah di ajak bercanda oleh Kakaknya Salsa, kelihatannya mereka tertawa senang, namun wajah keduanya terlihat sama-sama sendu, kasihan sekali melihat mereka berdua.

__ADS_1


" Alhamdulillah, semuanya lancar Neng. " Sahutku menjelaskan acaranya walau Nengku tidak bertanya. " Apakah Neng berdua sudah makan, ini Aziz sudah belikan makanan di kantin bawah. " Kuletakkan sekantong kresek putih bersisi lima bungkus nasi campur.


" Banyak sekali ini, siapa yang mau makan. Kamu sendiri sudah sarapan?" Tanyanya lagi seraya membujuk Nrng Delisha agar mau makan.


" Aku makan nanti saja, Neng Delisha harus makan, nanti siapa yang mengurus anak-anak." Ujarku yang juga mencoba membujuknya.


Neng Delisha tetap diam saja tidak mau menyahut walau sepatah katapun, jangannya menjawab menatapku saja seakan enggan. Aku sadar diri dan kembali diam, berdiri tak jauh dari Neng Atin.


Setelahnya ku tinggalkan mereka sejenak untuk melihat perkembangan Abah, dan Alhamdulillahnya pagi ini keadaan Abah belum bisa di katakan membaik, sebab masih belum sadarkan diri pasca operasi tadi malam, dan saat ini di tempatkan di ruang ICU, banyak alat-alat yang terpasang hampir di seluruh tubuhnya, juga memakai alat bantu untuk bernafas.


Ya Allah rasanya sesak sekali melihat orangtua kita tidak berdaya di ruangan yang tertutup ini, dan tengah berjuang antara hidup dan mati. Aku hanya bisa menatapnya dari jarak jauh tepatnya dari jendela kaca yang menjadi pemisahnya.


" Lho Aziz kamu sudah datang." Seru seseorang dari arah samping, sehingga membuat atensiku pun teralihkan. Kulihat sosok Pamanku yang datang, Adik kandung Abah.


" Assalamualaikum Paman, apa kabar? Kapan datang?" Sapaku sembari menyalami beliau.


" Waalaikumsalam, Pukul enam tadi pagi Paman langsung kesini di antarin Arifin, tapi Paman langsung suruh dia pulang sebab dia harus sekolah. Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, Paman sehat. Yang sabar ya, Paman tahu ini sangat berat untukmu dan juga kedua Nengmu. Perasaan Paman tidak enak sejak semalam itu terus kepikiran Abahmu, lalu selepas ibadah tadi pagi Paman meminta Alvin untuk menghubungi nomor Cacakmu Arga, namun yang mengangkat justru Nengmu Atin, sungguh ini kabar yang sangat mengejutkan untuk kami. Kenapa kamu tidak menghubungi Paman sejak tadi malam Ziz?" Protesnya.


" Ya sudah ya sudah, Paman maklumi karena kamu hanya sendirian mengurus semua anggota keluargamu. Sekarang kita serahkan kepadaNya, dan juga terus mendoakan agar keadaan Abah cepat membaik dan cepat sadar, Aamiin."


" Aamiin Paman. Terima kasih doa juga dukungan Paman, maaf sudah merepotkan Paman harus kemari." Sesalku merasa tidak enak hati.


" Kamu ini bicara apa, kita ini satu keluarga, sudah seharusnya saling membantu juga saling mendukung di saat salah satu dari kita mendapatkan cobaan. " Tegurnya menasehatiku.


🥀


Tidak terasa dua minggu telah berlalu, keadaan Abah masih tetap sama seperti terakhir kalinya, belum ada kemajuan sama sekali. Paman datang seminggu tiga kali untuk menjenguk kami. Neng Delisha juga Zac juga sudah di perbolehkan pulang untuk rawat jalan oleh Dokter lima hari yang lalu, dengan cacatan harus terus meminum obatnya agar cepat pulih kembali.

__ADS_1


Sedangkan aku harus bolak-balik ke rumah lalu kembali lagi ke rumah sakit, agar tidak ketinggalan kabar perkembangan dari Abah. Bahkan aku belum pulang sama sekali ke rumah istriku, mana mungkin aku tega meninggalkan mereka semua yang masih berkabung juga terpuruk, begitupun denganku namun aku berusaha tetap tegar, sebab jika bukan aku siapa lagi yang akan mengurus semuanya.


Aku yakin Anni mengerti dengan kondisi juga keadaanku saat ini. Dia juga terus menanyakan keadaan Abah. Aku berharap Abah segera siuman, agar bisa berkumpul kembali ke rumah bersama anak dan cucunya.


Pagi ini aku baru sampai di pelataran rumah sakit saat mendengar ponsel milikku berdering. Aku pun merogoh dan langsung mengangkatnya, saat melihat deretan angka nomor telepon area kota sini.


" Assalamulaikum," Sapaku.


" Wa'alaikumsalam, dengan Bapak Aziz saya berbicara?" Tanya suara seorang wanita.


" Ya saya sendiri."


" Di mohon Bapak segera datang ke rumah sakit, ini tentang kondisi Bapak Abdullah." Ujarnya kembali.


" Ada apa dengan Abah saya? Ini saya sudah di depan, saya kesana sekarang." Setelah mengucapkan sakam, kututup teleponnya lalu berjalan tergesa menuju dimana ruangan Abah berada.


Tak lama aku sampai dan melihat para suster keluar masuk dari ruangan dimana Abah ada di dalam. Pikiranku seketika takut juga gelisah, takut ada apa-apa dengan Abah, semoga beliau baik-baik saja, Aamiin.


Aku tidak bisa melihat ke dalam apa yang tengah para Dokter itu lakukan lantaran kacanya tertutup, ingin bertanya kepada salah satu dari mereka, namun mereka terlihat tergesa-gesa tidak bisa di ganggu hanya kesekedar menjawab. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah terus berdoa untuk keselamatan Abah.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2