Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tegang..


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Astagfirullah.. sungguh aku sangat terkejut saat tidak sengaja aku melihat sesosok jin yang berada di samping wanita yang katanya sedang berpacaran dengan Mas Anton iparku. Aku segera memejamkan kedua mataku tak ingin melihatnya.


Bukan karena aku takut, melainkan sungguh bukan hanya wajahnya saja yang seram, tetapi sekujur tubuhnya berwarna merah menyala, ku dengar Anni yang berbisik padaku, hingga tak lama aku membuka mata, berharap sosok itu hilang dari pandangan, namun ternyata tidak, justru ia tengah tersenyum licik ke arahku, sembari l*dahnya menjilat sebelah pipi wanita yang bernama Najwa tersebut yang sedang menunduk.


Sepertinya sosok ini bukan berasal dari sini, terlihat banyak penghuni disini menatap tidak suka padanya, seolah takut area kekuasaannya akan di kuasai oleh sesosok baru tersebut. Aku juga merasa auranya sangat tinggi di bandingkan dengan makhluk-makhluk di sekitar sini.


Aku masih diam saja terus menatapnya dari tempatku berada, seolah menantangku lalu dia berbisik padaku, untuk tidak ikut campur ke dalam urusannya. Aku mencoba mengusirnya, akan tetapi dia justru terus menantangku.


" Jadi siapa yang akan bercerita pada Bapak?" Tanya Bapak mertuaku yang pada akhirnya membuka obrolan, sebab sedari tadi cuma saling diam-diaman.


" Maaf Pak, sebenarnya kami berempat berteman saat di kota, aku dan Kolil teman sepekerjaan, begitupun dengan Najwa dan Anna. Hingga kami memutuskan untuk menjalin hubungan ke jenjang serius, Maaf kalau Anton belum sempat cerita ke Bapak, mengenai hubungan kami." Terang Mas Anton menjelaskan kepada Bapak dan Ibunya, sementara kami semua hanya diam mendengarkan saja.


" Jadi hubungan kalian berdua sudah sampai mana? Bapak tidak melarangmu untuk pacaran Ton. Kamu sudah besar, usiamu juga tidak muda lagi, Bapak mau tanya dulu, pacarmu ini orang mana?" Tanya Bapak lagi menatap serius pada putra dan juga tamunya.


" Dekat sini Pak, daerah NK. Anton sangat serius kali ini Pak, tolong restui hubungan kami, karena Najwa adalah sosok wanita yang kucari selama ini, yang terbaik untuk mendidik anak-anakku kelak, dia lulusan dari ponpes besar di kota NK Pak. Dan sebenarnya Anton sudah datang ke rumahnya minggu kemarin, dengan niat ingin meminangnya Pak. Alhamdulillah kedua orangtua langsung setuju, jadi kita sekeluarga tinggal datang kesana dengan tujuan melamar Najwa Pak." Sahut Mas Anton yang terlihat begitu semangatnya.

__ADS_1


" Orang Nk ya? Ya sudah kalau itu sudah jadi keputusanmu. Bapak serahkan padamu saja Ton, kamu sudah bisa menilai sendiri baik buruknya. Bapak dan Ibu hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan kalian berdua, jika kamu dan Nak Najwa sudah yakin dan mantap, ya sudah tidak perlu di tunda-tunda lagi, tinggal kita cari hari baik untuk datang melamar ke rumahnya." Balas Bapak yang langsung menerima pernyataan dari putranya tersebut, sedangkan Ibu mertuaku hanya diam tak ingin menimpali atau memberi saran apapun.


Aku sedikit heran saja melihat Ibu mertuaku, memang beliau baru saja bergabung bersama kami, namun anehnya Ibu yang biasa cerewet, dan banyak bicara, sekarang cenderung terdiam, kulihat juga hanya menundukkan kepalanya. Ini semakin membuatku heran saja.


" Lalu bagaimana bisa Nak Najwa datang kemari sendirian?" Tanya Bapak kembali.


" Bukan sendiri Pak, mereka datang berdua dari kota. Bermaksud ingin menghadiri acara Aqiqahnya Zia, sekalian bersilahturahmi pada anggota keluarga kita. Kedatangan mereka berdua, sungguh tidak di rencanakan, kami benar-benar tidak tahu sama sekali." Sahut Mas Anton yang menjawabnya.


" Jadi datangnya tadi bersama Nak Kolil? An, bukannya Bapak sudah bilang sebelumnya, apa kamu sudah mengatakannya?" Tanya Bapak yang kali bertanya pada Anna Adik iparku.


Bukannya langsung menjawab Anna justru menunduk bingung, sebenarnya Anni sudah meceritakan semuanya padaku, terkait masalah Anna dengan pria bernama Kolil ini, juga kisah mereka berempat. Namun aku menduga Bapak tidak sejutu Anna dengan Kolil sebab asal usulnya, orang PK memang terkenal dengan kesadisannya dan juga kekasarannya. Tak memandang bulu, baik itu istri, keluarga, atau pun orang lain jika sudah marah dan kesal nyawapun bisa melayang, jika aku yang di posisi Bapak pun sudah pasti akan melakukan hal yang sama, tidak akan memberikan restu jika ada orang daetah sana berniat melamar salah satu putriku.


" Baiklah Bapak tanya, Nak Kolil berapa jumlah wetonnya, bisa beritahu Bapak. Ini demi masa depan putri Bapak!" Desis Bapak yang kini terlihat begitu tegas.


" Kenapa Bapak tidak adil pada Anna, Mas Anton yang akan menikahi Najwa saja langsung Bapak memberikan restunya. Kenapa dengan Anna berbeda? Apa karena hanya Bang Kolil berasal dari kota PK, sehingga Bapak tidak setuju? Memangnya apa masalahnya? Anna dan Bang Kolil saling mencintai Pak!" Desis Anna yang kali ini dengan nada sedikit meninggi dan terkesan membentak Bapaknya.


" Jangan kurang ajar kamu sama Bapak Anna. Apa ini yang di ajari oleh laki-laki ini? Kamu jadi anak yang durhaka sama Bapak. Ya sudah terserah jika kalian mau menikah, menikah saja. Datangkan kedua orangtuamu akhir minggu ini." Tatap Bapak pada Kolil dengab tatapan tegas." Bapak akan menikahkan kalian, dan kamu Anton tolong kamu yang sudah dewasa mengalah pada Adikmu satu kali lagi, kamu ikhlas 'kan di langkahi Adikmu untuk kedua kalinya?" Tanya Bapak yang kali ini terlihat sangat serius.


Sementara aku dan Anna jadi tidak hati sendiri mendengarnya. Secara tidak langsung Bapak sedikit menyindir kami berdua. Ya walau tidak secara langsung, tapi aku sadar diri juga. Aku pikir semua ini sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Lalu kami harus berbuat apa, jika bukan menerima TakdirNya.

__ADS_1


Tak ingin terlalu lama mendengarkan perdebatan di antara mereka semua. Aku langsung berdiri sembari menggendong Zia dalam pelukanku. Dan membantu Anni berdiri. Akan mengajaknya masuk ke adam kamar, tak baik juga jika Zia yang masih bayi ikut mendengarkan perdebatan dalam keluarganya sendiri.


" Pak, Bu, semua kami permisi ke kamar dulu." Tanpa ingin mendengar jawaban dari mereka semua. Segera kami bertiga masuk ke dalam kamar, Anni langsung menutup kedua telinga Zia yang sedang terlelap, Alhamdulillahnya putriku tidak terbangun dan menangis saat mendengar keributan di luar.


Hingga hampir pukul delapan mlam, ternyata perdebatan itu masih berlanjut. Entah apalagi yang menjadi bahan perdebatan mereka, yang padahal aku lihat di luar tadi saat aku pergi ke Mushola, Anna dan Najwa tidak ada, sepertinya sudah masuk ke dalam kamar begitupun dengan Ibu.


Dan tinggallah para pria yang ada di luar sana. Astagfirullah, padahal maunya buka puasa, terpaksa harus menundanya lagi, tidak mungkin 'kan kita yang lagi enak-enak di dalam kamar sementara di luar lagi pada tegang. Ya walau di bawah sini juga sudah sama tegangnya.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2