
Kholil_PoV
*
Jarum jam panjang baru menunjukkan di angka enam, namun aku sudah beranjak bangun dari kursi dan bersiap akan pulang bekerja, walau waktu pulang masih setengah jam lagi. Namun aku sudah membereskan pekerjaanku sejam yang lalu, demi apa lagi jika bukan ingin segera bertemu dengan istri cantikku yang tadi pagi kembali aku bentak, bahkan hampir saja aku melakukan hal gil4 itu lagi.
Menyesal? Tentu saja aku sangat menyesal telah menyakitinya. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan emosiku jika berhubungan dengan seorang bayi. Padahal dulu aku sudah pernah berobat ke salah psikiater di kota ini, walau sudah di nyatakan sembuh kenapa harus kambuh lagi.
" Lho Lil, kamu sudah mau pulang, ini masih ada waktu setengah jam lagi lho. Wah pasti sudah nggak sabar ketemu istri cantikmu ya.." Celetuk teman sekerjaku yang masih dalam satu ruangan denganku namanya Tio.
Walau usianya dua tahun lebih tua dariku, namun kami terlihat seumuran. Entah mukanya yang awet muda atau mukaku yang boros, tentu saja aku tidak peduli. Dan fakta lainnya dari si Tio ini adalah, dia masih sepupuan dengan seseorang di masa laluku, ya siapa lagi jika bukan Fera. Ya walau sepupuan jauh, tetap saja mereka masih bersaudara.
" Aku pulang duluan ya, ada hal mendesak yang harus aku lakukan, ini penting sekali." Ujarku berdusta, walau tidak sepenuhnya, sebab memang ini penting bagiku mengingat istriku sedang marah saat aku pergi meninggalkannya tadi.
Sepanjang mengerjakan pekerjaan aku tentu saja terus gelisah, cemas memikirkannya, takut terjadi apa-apa dengannya juga putriku di saat aku tidak bersama mereka. Jika bukan karena urusan penting di gudang, tentunya aku akan lebih memilih ijin tidak masuk bekerja.
Suami mana yang tidak memikirkan istrinya yang sedang marah besar, terlebih amarahnya terpicu gara-gara ulahku. Aku yang sudah membuatnya ketakutan seperti itu, sehingga ia menyuruhku pergi bekerja demi menghindariku.
" Hal mendesak apa? Bukan karena ingin meminta jatah 'kan? Ingat Bro masih sore, nanti baru olah malamnya." Celetuknya kembali.
Jika aku menanggapi ucapannya pasti emosiku kembali meledak juga ini nanti tidak akan ujungnya, lebih baik aku bairkan saja dia mengoceh tanpa ingin menimpali sindirannya itu.
" Adalah, ya sudah aku pergi dulu. Jika nanti Roy mencariku, katakan saja aku pulang cepat." Sahutku acuh, dan setelahnya aku melenggang pergi tanpa ingin mendengar ucapan balasan darinya yang pasti selalu berbuntut panjang.
Mobil ku lajukan dengan sedikit kencang agar cepat sampai rumah, semoga istri dan anakku baik-baik saja itu harapan utamaku. Aku berjanji akan berusaha lebih mengkontrol emosiku jangan sampai kembali menyakiti wanita yang telah melahirkan putri cantikku.
Beberapa saat kemudian aku telah sampai dan memasuki gerbang yang telah terbuka, terlihat ada sebuah mobil yang terparkir di garasi. Dan itu adalah mobil milik Ayah, itu berarti Ayah dan Ibu sudah pulang, mobil kuhentikan di carport, dan segera turun.
" Assalamualaikum,, Ibu sama Ayah baru pulang?" Tanyaku berjalan mendekati keduanya, menyalami bergantian.
__ADS_1
" Waalaikumsalam. Lho kamu juga baru pulang, tumben pulang lebih cepat. " Ujar Ibu sembari menyodorkan uang ongkos kepada sang supir taksi. sebelum ia pergi.
Kami bertiga pun masuk ke dalam rumah beriringan, " Iya Kholil sengaja pulang cepat, ya sudah Kholil ke kamar dulu Yah, Bu mau bersih-bersih." Pamitku yang sebenarnya sudah tidak sabar melihat keadaan istri dan putriku, mungkin saha mereka ada di dalam kamar, mengingat di luar sepi.
" Ya pergilah, kami juga mau bersih-bersih. Tapi ngomong-ngomong dimana istrimu, rumah kok sepi ya?" Tanya Ibu yang juga menyadarinya. Jangan sampai Ayah dan Ibu tahu pagi tadi kami bertengkar hebat.
" Mungkin menantu cantikmu ada di kamar Bu dengan cucu kita. Sudah lebih kita juga harus bersih-bersih keburu malam." Timpal Ayah memberi Ibu mengertian.
Akhirnya kedua orangtuaku pun berjalan menuju ke kamar mereka, sementara aku juga bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera menemui anak dan istriku.
Ceklek..
" Assalamualaikum,, sayang kok gelap, kamu dimana?!" Seruku sedikit panik saat memasuki kamar dalam keadaan gelap gulita.
Seketika perasaanku menjadi cemas, takut terjadi sesuatu kepada kedua wanita yang aku cintai. Aku pun menyalakan lampu ruangan, dan kamar ini terlihat kosong, sepi tidak ada siapapun, bahkan gorden jendela pyn belum di tutup.
Aku berjalan ke arah kamar mandi, di dalam ternyata kosong, lantainya juga kering, aku pun mulai membuka semua lemari pakaian siapa tahu istriku sedang bersembunyi di dalam sana bersama Erika, mungkin saja saat mereka mendengar aku sudah pulang. Namun bukan dua wanita yang aku temukan di dalam lemari, melainkan aku melihat beberapa pakaian Anna banyak berkurang dari tempatnya, aku pun beralih memeriksa lemari pakaian Erika yang ada di samping lemari kami, dan benar saja banyak pakaian kecilnya yang hilang.
Aku berlari keluar kamar mencari di setiap sudut rumah tanpa terkecuali. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Anna dan putriku. Aku pun memanggil Mbak Sum di kamarnya.
" Ada apa Mas Kholil?" Tanyanya dengan heran.
" Mbak tahu Anna dan Erika tidak? Mereka berdua tidak ada di dalam rumah lho?!" Tanyaku seakan mengintrograsinya.
" Lho Mbak Anna tidak ada toch Mas! Waah,, saya juga kurang tahu. Tadi pagi sebelum mencuci pakaian saya melihat Mbak Anna di kamarnya sepertinya sedang memandikan Erika, lalu menyuapinya di ruang makan, setelah itu keduanya masuk kembali ke dalam kamar, dan tidak terlihat keluar lagi." Jelasnya yang terlihat jujur tanpa ada yang di tutupinya.
Beruntungnya tadi pagi saat kami bertengkar Mbak Sum tidak ada, sehingga ia tidak mendengar pertengkaran kami. Dan saat aku akan berangkat bekerja, di depan aku berpapasan dengan Mbak Sum yang baru pulang dari pasar membeli sayur.
Seketika aku mundur beberapa langkah, dan berjalan tak tentu arah. Tubuhku juga terasa lemas tak bertenaga, kemana istriku? Emosiku pun peelahan mulai menguak tak terkendali.
__ADS_1
" ANNA,,ERIKA,, KALIAN DIMANA SAAYAAANGG...!!" Teriakku histeris, dan tak lama membuat Ayah dan Ibuku pun keluar dari kamar, mungkin karena panik setelah mendengar teriakanku.
" Kholil ada apa Nak?" Tanya Ibuku yang terlihat begitu panik.
" Iya ada apa ini? Kenapa teriak-teriak memangil anak dan istrimu? Lalu dimana mereka?" Tanya Ayah yang tak kalah paniknya sama seperti Ibu, terlihat hanya memakai kaos dalam dan celana yang beliau gunakan tadi sebelum masuk ke kamarnya.
" MEREKA TIDAK ADA DI RUMAH IBU, AYAH, KEMANA MEREKA BERDUA??!!" Teriakku kembali histeris yang entah sudah terlihat seperti apa wajahku di depan mereka semua.
" APA?!!! Bagaimana bisa mereka berdua tidak ada!" Kejut Ayah dan Ibu secara bersamaan.
" Kamu sudah cek di dalam kamar, di dalam kamar mandi? Di belakang rumah apa juga sudah?" Tanya Ayah terlihat begitu khawatirnya terhadap menantu juga cucu perempuannya.
" Mereka tidak ada dimanapun Ayah." Sahutku yang mulai melemah, pandanganku bahkan kosong, Ya kini aku menyesali perbuatanku tadi pagi kepada Anna, dia pasti sangat ketakutan pada suami iblisnya ini.
" Ada apa ini Kholil! Jelaskan pada Ibu!? Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami bukan, katakan dengan jujur!?" Desak Ibu dengan nada tunggi yang sepertinya mulai curiga padaku.
Degh!!..
.
.
.
tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1