Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Melihat Ipar..


__ADS_3

Anniyah_PoV


*Beberapa bulan berlalu.


Tidak terasa hari cepat berlalu, dan hari ini tepat satu tahun usia putriku Zia, hari-hariku semakin penuh warna dengan kehadiran buat hati kami. Keluarga kami juga semakin harmonis, ya walau terkadang Bang Aziz suamiku mengajak serta putra-putrinya untuk datang ke rumah, bagiku itu tidak masalah di bandingkan jika ia harus sering pergi berkunjung ke rumah mantan istrinya, bukankah itu yang tidak baik.


" Mi, Abi berangkat ke bengkel dulu ya. Nanti kalau mau belanja tunggu Abi pulang, sebelum Dzuhur Abi akan sempatkan untuk segera pulang." Pamit suamiku sembari menggoda Zia yang sedang aku gendong.


" Iya Bi, Ami akan tunggu Abi. Ya sudah hati-hati di jalan Bi." Aku segera menyalimi juga mencium punggung tangannya.


" Abi berangkat ya sayang, jadi anak yang baik ya, nggak boleh rewel, kasihan Ami nanti." Bang Aziz juga mencium sayang pipi gembul Zia, tak lupa ia juga mencium keningku sekilas, sebelum melangkah keluar rumah.


Setelah kepergian suamiku, aku pun kembali masuk ke dalam rumah tak lupa mengunci pintu depan supaya tidak ada orang yang sembarang masuk, walau kemungkinan itu sangatlah kecil, sebab di depan sana ada pos penjaganya saat masuk dan keluar di perumahan elit ini.


Namun kita tetaplah harus waspada, sebab kita tidak pernah tahu, bisa saja kejadian yang tak di inginkan terjadi di saat kita lengah. Bukankah itu yang di tunggu-tunggu oleh penjahat. Na'udzubillah...


" Zia sayang kita makan dulu ya? Zia harus banyak makan supaya cepat besar, dan semakin gendut." Celetukku pada putri kecilku, mengajaknya untuk bicara.


" Mam mam mam.." Sahut Zia yang seolah mengerti dengan apa yang aku katakan tadi, membuatku gemas saja.


" Hmmm,, kamu lucu sekali sih sayaangg..." Ucapku sembari mrnciumnya gemas.


Setelah selesai sarapan dan juga menyuapi Zia, kami pun bermain di ruang tengah yang sudah ada banyak mainannya si kecil, walau rumah menjadi berantakan karena mainan Zia yang ada di mana-mana itu tidak masalah bagiku, yang penting putriku diam dan tidak rewel.


Hingga pukul sebelas siang, akhirnya Zia sudah mulai mengantuk, mungkin karena kelelahan bermain juga. Setelah bersih-bersih dan mengganti pakaiannya, tak lama Zia pun terlelap. Aku segera beringsut turun dan berkalan ke belakanh untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk dua hari.


Baru saja selesai menyalahkan mesin cuci, terdengar suara deringan dari ponsel milikku, aku pun segera berjalan ke arah depan mengambil ponselku yang aku letakkan di atas meja ruang tengah.


" Anna?" Beo ku saat melihat nama si pemanggil yang ternyata adalah Adikku sendiri, aku pun segera menggeser icon berwarna hijau.

__ADS_1


" Assalamualaikum, iya An ada apa?" Sapaku begitu panggilan sudah tersambung.


" Waalaikumsalam. Mbak sekarang ada di mana? Ini kebetulan aku lagi di luar, bolehkah aku main ke rumah sebentar lagi?" Tanya Anna tiba-tiba yang langsung membuatku bingung.


Aku merasa Anna tidak seperti biasanya, kemarin-kemarin setiap ia datang ke rumah tidak pernah meminta ijin dulu, pasti sudah langsung datang, lalu sekarang ada apa ya? Apa tengah ada masalah dengan suaminya, atau ada hal lain.


" Ya datang saja ke rumah, Mbak sekarang ada di rumah kok. Memangnya kamu lagi dimana ini?" Tanyaku yang ingin memastikan. Sebenarnya aku ingin bertanya langsung, namun sebaiknya nanti saja kalau kami sudah bertemu.


" Oke nanti Anna mampir ke rumah ya. Sekarang Anna lagi jalan sama teman ni Mbak, udah dulu ya Mbak, nanti aku hubungi lagi jika sudah akan jalan ke rumah, Assalamualaikum." Pamitnya, dan setelah aku membalas salamnya, panggilan pun berakhir.


Sedikit lega saat mendengar dia sedang bersama temannya, itu berarti dia dalam keadaan baik-baik saja. Syukurlah..


**


Beberapa saat terdengar suara bel pintu dari luar, aku segera bergegas untuk membukakannya, dan pasti itu suamiku yang pulang, sebab tadi ia sudah berjanji akan pulang siang. Dan benar saja, suamiku sudah berdiri di hadapanku begitu pintu tekah kubuka.


" Assalamualaikum..sudah siap Mi?" Sapanya sembari menyodorkan tangan kanannya yang segera aku raih dan mengecup punggung tangan itu.


" Abi mau beribadah dulu, baru setelah itu makan, Ami sudah sholat?" Aku menggeleng sebagai jawaban." Ayo sholat bersama.


Setelah menunaikan ibadah, kami pun segera bergegas keluar rumah dan tujuannya hanya satu ke supermarket mau berbelanja kebutuhan bulanan rumah yang stoknya memang sudah habis. Kami mengendarai mobil sebab pasti nanti akan bawa banyak barang, pasti repot, belum lagi membawa keretanya Zia.


" Oh iya Bi, katanya Anna mau datang ke rumah siang ini." Ujarku memberitahu suamiku. Saat ini kami sudah berada di dalam mobil, dengan Zia yang aku pangku.


" Anna mau main ke rumah? Ya nggak apa-apa dong sayang, pasti dia mau jenguk keponakan cantiknya ini lho, ya nggak Zia." Sahut Bang Aziz seraya mencubit gemas pipi bakpau putrinya.


" Ya memang nggak apa-apa Bi. masalahnya Anna tadi seperti meminta ijin dulu gitu ke aku, tidak seperti biasanya." Keluhku yang masih bingung dan juga penasaran ada apa dengan Anna Adikku.


" Memangnya biasanya gimana? Ya mungkin mikirnya kamu lagi nggak di rumah atau lagi nggak menerima tamu gitu, 'kan bisa saja, lalu dia meminta ijin dulu, supaya tidak membuatmu repot atas kedatangan mereka." Terang Bang Aziz menjelaskan padaku, alan tetapi tetap saja aku menaruh curiga pada Anna.

__ADS_1


" Ya nggak mungkinlah Bi kalau aku nggak mau menerima kedatangannya secara dia adalah Adik kandungku sendiri, masa iya aku usir. Tapi tadi dia nggak bilang mau datang berdua dengan si Kholil kok. Ah, nggak tahulah, kok jadi kita yang berdebat." Sewotku, yang entah mengapa aku jadi kesal sendiri saat ini memikirkan Adikku.


" Iya baiklah. Kamu sudah kirim pesan ke Anna, kalau kita lagi keluar sekarang, takutnya nanti mereka sudah sampai di rumah, kitanya yang nggak ada, 'kan kasihan kalau mereka harus menunggu lama di depan." Ujar Bang Aziz yang begitu perhatian pada Anna. Bahkan pada semua anggota keluargaku juga demikian.


" Sudah kok, tapi belum di balas sama dia. Mungkin dia masih jalan-jalan sama teman-temannya." Jawabku yang menduga-duga, sementara Bang Aziz juga hanya mengangguk tanpa menjawab lagi.


Tak lama kami pun sampai ke salah satu supermarket besar di kota ini, mobil yang kami tumpangi pun sudah terparkir sempurna di parkiran khusus roda empat. Kami berdua berjalan masuk seraya Bang Aziz yang mendorong keretanya Zia, dan aku berjalan di sampingnya.


Setelah berputar-putar dan berkeliling mencari barang-barang yang akan kami beli, akhirnya kami pun berjalan ke arah kasir, keranjang belanja yang saat ini di dorong oleh suamiku pun juga hampir penuh.


" Sudah ini cukup? Banyak sekali ternyata yang di beli." Celetuk Bang Aziz seraya menoleh ke arahku yang berdiri di belakangnya dengan tersenyum, namun tak lama senyumnya pun memudar dan terlihat dahinya juga berkerut bingung, juga menatap ke arah lain.


" Ada apa Bi?" Tanyaku menatapnya heran.


" Eh, bukannya itu suaminya Anna ya? Berarti mereka ada disini sayang? Lalu dimana si Annanya?" Tunjuk Bang Aziz seraya celingukan. Mambuatku ikut menoleh ke belakang.


" Ya benar itu Kholil Bi, dimana si Anna?" Gumamku lalu melihat ke kanan juga kekiri melihat sekelilingnya mencari keberadaan Adikku.


Dimana Adikku?


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2