Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Kelahiran Putri Ketiga.


__ADS_3

Aziz_PoV


*


" Ayo Bu dorong yang kuat ya, itu kepalanya sudah kelihatan." Ujar sang Bidan memberi aba-aba kepada istriku Anni.


Dan setelahnya Anni pun mengejan sekuat tenaga hingga sesuatu kekuar dari jakan lahir bersamaan dengan suara tangisan bayi yang memekkan telinga kami.


" Oeekkk...Oeekk.."


" Alhamdillah anak ketiga kita sudah lahir ke dunia sayang, terima kasih." Ucapku lirih seraya memberikan kecupan di kening istriku yang sudah berjuang melahirkan anak kami kembali.


Anni hanya tersenyum lega dengan kedua matanya terpejam, wajahnya basah oleh bulir keringat yang segera kuusap kembali dengan telapak tangan. Pasti dia kelelahan setelah berjuang bersama putri kami.


" Alhamdulillah, selamat ya Ibu dan Bapak anaknya perempuan, normal semua dan sangat sehat." Seru sang Bidan menunjukkan bayi merah kami sekilas lalu setelahnya di berikan kepada perawat untuk di bersihkan dari noda merah yang menempel di seluruh tubuhnya.


" Putri ketiga kita juga sangat cantik sama seperti Aminya, doamu kembali di kabulkan sayang, kita telah memiliki tiga putri sekarang. Yakin tidak mau nambah anak laki-laki?" Tanyaku sengaja menggodanya, siapa tahu itu bisa membuatnya semangat kembali pasca melahirkan.


" Tidak! Tiga anak sudah cukup, setelah ini aku mau memasang kb." Tolaknya dengan tegas. Mendengar itu aku hanya tersenyum. " Aku ini habis melahirlan lho Bi, masa sudah mau di ajak membuat lagi." Bisiknya pelan karena malu jika sampai di dengar oleh Bu Bidan dan perawatnya yang memang masih berada di ruangan yang sama dengan kami.


" Saya jahit dulu ya Bu bawahnya, biar kembali baru seperti gadis lagi, hehe." Celetuk sang Bidan terkekeh sebelum memulai aksinya.


Aku yang melihatnya merasakan sedikit ngilu di area bawah, ingatanku kembali ke masa remaja saat di khitan. Duh rasanya lemas dan juga sakitnya minta ampun.


Aku sangat salut dan bangga terhadap seorang wanita, walaupun di jahit berkali-kali mereka tetap kuat dan tegar. Seperti istriku yang di jahit kembali untuk yang ketiga kalinya. Sama seperti Nikmah dulu, bahkan dia empat kali.


Membicarakan Nikmah aku jadi teringat kejadian kemarin lusa saat di kota. Tentu aku sangat bahagia saat ini kembali merasakan kehadiran buah hatiku. Namun entah aku harus senang atau bagaimana saat Nikmah juga mengatakan jika dirinya tengah berbadan dua, ya wanita itu kembali mengandung calon anak kami yang ke lima.

__ADS_1


Aku tahu anak adalah rezeki dan anugrah yang Allah berikan kepada kami, yang seharus aku bahagia mendengar kabar tersebut, namun aku justru merasa ada hal yang lain, terlebih saat membuatnya pun aku tidak sadar.


Aku sadar banyak pasangan di luar sana yang menanti terus menanti hingga mungkin detik ini masih belum di percayai untuk memiliki momongan, sedangkan aku hampir delapan orang anak, dan aku sangat bersyukur.


Terlebih Putriku Mus sudah dewasa dan sudah mempunyai calon pendamping yang waktu itu sempat silahturahmi ke rumah dan di kenalkan kepada kami semua. Pria itu kelihatan pria baik-baik, mereka adalah teman satu kerja, dan bukannya aku tidak merestui hubungan keduanya, yang aku sayangkan hanya satu si pria ini usianya selisih lima tahun, yang itu artinya dia lebih muda dari putriku.


Aku tahu jodoh tidak memandang usia atau bahkan apapun, jadi yang bisa aku lakukan hanyalah mendoakan yang terbaik untuk mereka jika memang mereka berjodoh. Untungnya Mus adalah putriku yang sangat penurut, walau aku tahu dia sangat tertekan akibat aku belum memberikan restu.


" Permisi, Bapak ini anaknya, mohon minta waktunya sebentar, saya akan membantu membersihkan tubuh Ibunya dulu. Nanti kalau sudah saya akan memanggil anda kembali untuk memindahkan Ibunya ke ruang perawatan." Seru sang perawat seraya menyerahkan bayi kami kepadaku.


Aku menggangguk paham, dan menatap bayi mungil yang terpejam. Duh lucu dan menggemaskan sekali, putriku yang ketiga ini memiliki kulit agak coklat , berbeda dengan Kakak pertamanya yang mempunyai kulit putih sama sepertiku sedangkan Zaheera juga memiliki kulit coklat sama seperti Aminya.


" Sayang aku keluar dulu ya."


Begitu sudah di luar Nenek yang menyambutku. " Mana sini cicit Nenek. Ya Allah kok mirip sekali dengan Nenek waktu kecil, sepertinya dia titisanku." Celetuknya horor.


Aku menatap beliau dengan pandangan yang sulit di artikan. Apa maksud dengan titisanku itu?


Aku menatap sejenak ke arah bayiku yang sudah berpindah ke dalam gendongan Nenek, sementara Ibu sedang menggendong Erika sedangkan Zaheera tertidur pulas di ranjang dalam di temani Kakeknya yang sedang memangku Zia. Padahal aku sudah melarang mereka semua untuk datang kemari tadi, tapi ya sudahlah mungkin mereka semua juga sama khawatirnya denganku.


Sebab hari ini sebenarnya bukan tanggal predeksi putri kami lahir, seharusnya seminggu lagi. Dan juga air ketubannya sudah lebih dulu pecah di rumah selepas subuh tadi pagi. Tapi tidak masalah itu berarti dia sudah tidak sabar ingin keluar untuk menikmati keindahan dunia yang fana ini.


" Alhamdullah semua baik-baik saja kok Bu, Anni sedang di jahit di dalam dan sekalian di bersihkan tubuhnya. Untung tadi cepat kesini, sebab air ketubannya sudah hampir habis." Jawabku menjelaskan.


" Syukurlah."


Semua terlihat begitu lega, hingga tak lama aku kembali masuk untuk menggendong dan memindahkan Anni ke ruangan sebelah. Di dalam sudah ada Nenek yang masih setia menggendong cicitnya. Sementara Ibu dan Bapak pamit pulang sekalian mengajak anak-anak, kasihan kalau mereka terlalu lama berada disini.

__ADS_1


Malam pun tiba, tadi aku sempat pulang sebentar ke rumah bersama dengan Nenek untuk menguburkan ari-ari, beribadah dan juga membawa pakaian kotor sekalian mengajak Zaheera kemari, kasihan jika kedua mertua harus menjaga dan mengurus tiga orang anak sekaligus, mereka pasti kewalahan.


Kini tinggallah aku, istriku dan dua putri kami Zaheera dan si bungsu, Zaheera sudah terlelap sedari tadi di ranjang sebelah, sebab di ruangan ini ada dua ranjang yang di sediakan. Mumpung tidak ada orang yang juga melahirkan, jadi bisa kutempati untuk istirahat." Bi, Abi sudah menyiapkan nama untuk putri kita?" Tanya Anni seraya memberikan asi kepada si kecil.


" Sudah dong sayang, jadi namanya adalah Zefanya Indah Urifa, gimana kamu suka nggak? Atau mau nama lainnya?" Tanyaku setelah menyebutkan sebuah nama yang cantik untuk putri ketiga kami.


" Hmm, bagus kok. Nama yang cantik, ada indahnya lagi. Hay Zefa sayang.. ini Ami dan Abi, semoga kelak kamu menjadi anak yang sholehah, taat beribadah serta menghormati kedua orangtuamu, Aamiin.." Ujarnya seraya memanjatkan doa untuk putri kami.


" Aamiin, Allâhummaj'alhu bârran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islâmi nabâtan hasanan. Ya Allah, jadikanlah putri-putri kami orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah mereka ke dalam islam dengan pertumbuhan yang baik, Aamiin." Timpalku yang juga mendoakan ketiga putri kami.


" Aamiin."


" Istirahatlah sayang, sini biar Zefa aku letakkan ke dalam ranjangnya. Kamu mau minum?" Tanyaku sembari meraih Zefa yang sudah terlelap.


" Nggak Bi, aku mau ke kamar mandi, sudah nahan sedari tadi."


" Lho sayang jangan di tahan tahan kalau mau pipis, nggak baik. Ya sudah ayo Abi bantu kesana." Aku segera menopang tubuhnya berjalan pelan menuju kamar mandi yang ada di luar ruangan.


Tak lama kami sudah kembali, setelah memastikan Anni aman, aku pun berbaring di sebelah Zaheera, memeluknya agar nyaman. Ya walau sebenarnya senyaman nyaman tempat tidur, tetap nyaman tempat tidur kita sendiri.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2