Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 39 - Tak sadarkan diri


__ADS_3

Meyta begitu kesal melihat Wirra yang memedulikan ucapannya. Pria itu bahkan tak bereaksi saat dia menyatakan akan mengakhiri hubungan mereka. Meyta berlari dengan kencang. Wanita itu sudah memutuskan akan menggugat Wirra ke pengadilan agama. Dia akan menunjukkan pada sang suami jika kata-kata yang dirinya lontarkan bukanlah sebuah bualan. Dia akan meninggalkan pria itu. Meyta bahkan tidak akan membiarkan Wirra bertemu dengan anak kandungnya.


Dengan penuh amarah, Meyta terus berlari. Meyta berlari menuju sebuah mobil yang terparkir di sebrang kediaman Anna. Wanita itu berlari tanpa melihat kiro dan kanan. Wanita itu hanya berfokus menatap sebuah mobil berwarna silver. Tempat di mana anak dan ibunya berada.


Yang Meyta inginkan hanyalah ingin beranjak secepatnya dari sana. Dia muak melihat Wirra yang selalu mengabaikan ucapannya. Dia muak terus menerus merasa cemburu karena Wirra tak kunjung menceraikan Anna.


Meyta akan memutus setiap rasa sakit yang dia rasakan selama ini. Menggugat pria itu ke pengadilan agama adalah hal pertama yang harus dia lakukan.


Keputusan Meyta sudah bulat. Dia tak butuh pria yang membagi cintanya pada wanita lain.


Namun, tampaknya apa yang sudah direncanakan oleh Meyta tak dapat terwujud. Sepertinya, wanita itu tak bisa pergi ke pengadilan agama siang ini.


Sebuah sepeda motor yang melaju kencang di jalurnya, tanpa sengaja menubruk tubuh Meyta hingga wanita itu terpental ke bahu jalan, dan kepalanya terbentur cukup keras. Tanpa bisa dicegah, darah segar mengucur dari kepala Meyta.


Wirra dan Anna yang tengah dalam adegan romansa, tiba-tiba terkejut karena mendengar suara teriakan seorang wanita


Suara teriakan dan minta tolong, membuat Wirra dan Anna gegas berlari kencang ke asal suara dengan tangan yang masih saling menggenggam.


Betapa terkejutnya Wirra saat mengetahui jika wanita yang berteriak kencang itu adalah ibu mertuanya yang tak lain adalah ibu kandung Meyta.


Dan betapa paniknya Wirra saat mengetahui Meyta sudah bersimbah darah.


Wirra menghempaskan jemari Anna yang tadi digenggamnya kemudian berlari begitu kencang menghampiri Meyta.


Tubuh Wirra lemas saat menyaksikan sang istri kedua tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengucur dari kepala wanita itu.

__ADS_1


“Mey ... Sadar Mey. Ayo sadar sayang!” teriak Wirra.


Tak hanya Wirra yang berteriak di sana. Sang anak lelaki yang baru berusia satu bulan pun turut menangis histeris, seolah mengetahui hal yang terjadi pada ibu kandungnya.


“Ayo Pak, kita bawa ke rumah sakit!” teriak pria yang disewa Meyta untuk menjadi sopirnya.


Wirra pun mengangkat Meyta dan membawa wanita itu ke dalam mobil. Dan Anna hanya bisa memandangi mobil yang membawa sang suami perlahan menjauh darinya.


“Semoga kamu baik-baik saja, Mey,” lirih Anna.


Tak ada sedikitpun rasa iri ataupun cemburu di diri Anna saat melihat Wirra menggendong Meyta dan meninggalkan dirinya begitu saja. Wanita itu malah berharap agar tak terjadi hal buruk menimpa adik madunya itu. Anna mengerti akan posisi Wirra. Jika itu terjadi padanya, Wirra pun pasti akan melakukan hal yang sama.


Anna kembali ke kediamannya. Namun, tiba-tiba dia teringat akan sosok seorang gadis kecil yang sudah sangat dia sayangi.


Ya, Anna teringat akan putri pertama Meyta— Mutiara. Gadis kecil itu pasti akan sangat bersedih saat mengetahui sang ibu mengalami kecelakaan. Terlebih ayah dan neneknya tengah menemani Meyta ke rumah sakit.


“Rara pasti kebingungan kalau tau tak ada seorang pun di rumahnya,” ucap Anna bermonolog.


Wanita itu bersiap. Kediaman Meyta adalah tujuannya. Dengan mengendarai mobil milik Wirra, Anna menuju kediaman Meyta.


Walau tak ada siapapun saat Anna tiba di sana, tapi wanita itu tetap menunggu di depan rumah Meyta. Namun, Anna tak tinggal diam. Wanita itu juga mengirimkan pesan kepada Wirra. Anna memberi kabar jika dirinya berada di kediaman Meyta. Istri pertama Wirra Pramudya itu juga menanyakan di mana Mutiara menempuh pendidikannya. Anna ingin menjemput dan menemani anak tirinya itu.


Sementara itu, begitu tiba di rumah sakit, Meyta langsung dibawa ke ruangan gawat darurat. Wanita itu langsung mendapatkan pengobatan.


Sembari menggendong sang buah hati yang terus menangis tanpa henti, Wirra berjalan mondar-mandir di depan ruang pengobatan.

__ADS_1


“Wir ... Kamu tenangkan diri. Arka semakin tidak tenang jika kamu gelisah seperti itu,” ucap sang mertua.


“Wirra tidak bisa tenang sebelum tau kondisi Mey baik-baik saja, Bu. Padahal dia masih pemulihan pasca melahirkan, tapi dia harus mengalami hal ini. Ini semua salah Wirra, Bu,” gumam pria itu. Wirra bahkan tak dapat membendung air matanya. Wanita yang pernah begitu dicintainya itu terbaring lemah dan tak sadarkan diri karena ulahnya.


Andai saja dia mengikuti keinginan Meyta untuk tak bertemu Anna sebelum masa nifas istri keduanya itu selesai, Meyta pasti tak akan mengalami kecelakaan itu. Wirra mengutuk dirinya sendiri.


Hampir satu jam Wirra menunggu di depan ruang gawat darurat, namun tampaknya pemeriksaan terhadap Meyta belum juga selesai.


“Wir ... Sudah siang, sebentar lagi Rara pasti pulang sekolah. Ibu dan Arka pulang lebih dulu ya,” ucap sang mertua.


Wirra yang sejak tadi sibuk menimang Arkana sembari menyalahkan dirinya sendiri itu, tiba-tiba tersadar, jika ada satu makhluk kecil lagi yang pasti akan sama sedihnya seperti Arkana. Dialah Mutiara.


Wirra memandangi anak yang masih berada dalam dekapannya itu. Siapa yang akan mengurus kedua anaknya saat Meyta tengah tak sadarkan diri seperti ini? Dirinya tentu saja akan selalu berada di sisi Meyta sampai istri keduanya itu tersadar. Dia juga tak mungkin mengajak kedua anaknya untuk tinggal bersamanya di rumah sakit.


Namun, harus ada seseorang yang mengurusi Arkana. Anak nya itu masih terlalu kecil. Usianya belum 40 hari. Harus ada orang yang rela membuatkan susu untuk anaknya itu setiap dua jam. Siapa yang bisa melakukannya? Dia tak tega jika harus meminta sang mertua yang sudah lanjut usia untuk melakukannya. Terlebih Arkana kerap tak tidur dengan lelap saat malam hari.


Siapa juga yang akan membantu Mutiara mengerjakan tugas sekolahnya? Sang mertua juga tak begitu paham dengan pelajaran sekolah.


Dan, di tengah kebingungan yang melanda dirinya, Wirra teringat akan sosok seorang wanita berhati cantik se cantik wajahnya. Dialah Anna. Wanita bak bidadari itu pasti mau membantunya untuk mengurusi kedua anaknya.


Wirra pun menyerahkan Arkana kepada sang mertua. Dirinya ingin menghubungi Anna dan memohon pada wanita itu untuk membantunya.


Namun, saat Wirra hendak menghubungi sang istri pertama, sudah ada pesan dari wanita itu. Pesan yang mengabarkan jika Anna sudah berada di kediaman Meyta dan ingin menjemput Mutiara.


Wirra tersenyum lembut. Anna memang selalu tau apa yang dia butuhkan.

__ADS_1


__ADS_2