
Anniyah_PoV
*
Kami sekeluarga memutuskan untuk takziah ke rumah mendiang Cak Arga Iparku, setelah semuanya aku beri kabar, tentu saja mereka sangat terkejut dan mengusulkan pergi kesana. Karena sudah minggu berlalu, kata Ibu tidak apa aku mengajak Zaheera yang masih kecil kesana, jadi Zefa yang aku tinggal, kutitipkan Ibu dan Nenek.
Aku sedikit lupa jalan rumah ke rumah Cak Arga, tapi kalau ke rumah Abah mertua aku sangat hafal sebab ruamhnya tepat di belakang pasar, dan di depannya ada musholanya, itu yang membuat semua orang cepat hafalnya, tidak terkecuali aku yang memang buta arah ke luar kota.
Hanya tahunya jalan ke kebun dan alas saja untuk mencari rumput kambing. Tapi itu tidak masalah asal jangan tidak pulang ke rumah saja, itu bahaya ada tiga putri yang harus di urus sekarang. mana masih kecil-kecil lagi. Aku sendiri juga masih kecil, belum genap usia dua puluh lima tahun anaknya sudah tiga, hebat bukan, tapi Alhamduillah namanya juga rezeki dari sang pangeran.
Pagi ini kami menyewa mobil milik Pak RT, yang langsung di supiri oleh Pak RT sekalian juga mau ziarah, beliau cukup dekat dengan Bang Aziz akhir-akhir ini saat beberapa kali berkunjung ke rumah karena istrinya Alhamdulillah sudah mulai sembuh dari sakitnya.
Pasti semuanya pada bingung apa hubungannya suamiku dengan sakit istrinya Pak RT?
Jadi begini sebenarnya suamiku itu mempunyai kelebihan lain selain mata batinnya terbuka. Yaitu ilmu kanurangan yang mungkin dulu ia pelajari saat ia di dalam pondok atau sudah keluar aku tidak tahu pasti, tapi yang jelas beliau mempunyai itu atau ilmu sejenisnyalah. Sakit yang tidak terlihat maupun terlihat suamiku bisa sedikit mengerti. Ya walau tidak sepintar Para ulama, namun Alhamdulillah ada beberapa orang yang bisa sembuh setelah di obati dan di bacakan doa-doa oleh suamiku. Di tambah suamiku itu bisa memijat urat juga, ya hanya urat saja.
" Ini kemana lagi Yah?" Tanya Pak RT setelah melewati jalur kereta api, dan sudah memasuki jalan raya besar.
" Nanti tidak jauh dari sini ada gapura sebelah kanan kita masuk ke jalan sana ya Pak, setelah itu tidak jauh lagi kok rumahnya, soalnya Anniyah lupa jalan ke rumah Cacak." Ujarku menjelaskan, karena saat ini aku pun tengah duduk di bangku samping kemudi sebagai petunjuk jalan.
" Siap."
Setelah masuk gapura, lalu belok ke kiri jalan tak begitu lama sudah kelihatan atap Musholanya dari jauh, aku langsung menyuruh beliau berhenti di pinggir jalan agak jauh, sebab aku melihat banyak sekali orang yang lalu lalang di depan Mushola, bahkan banyak kendaraan mobil juga yang berhenti di depan sana.
__ADS_1
" Apa masih banyak pelayat yang datang ya, padahal 'kan ini sudah dua minggu berlalu." Gumamku pelan, namun ternyata semua orang yang ada di dalam mobil ikut mendengarnya.
" Mungkin kerabat mertuamu yang jauh Yah baru bisa datang. Ayo semua kita lekas turun." Sahut Mas Anton seraya mengajak kami keluar dari mobil.
Setelah kami semua sudah turun dan siap melangkah, entah mengapa perasaanku tidak tenang, terus gelisah. Bawaannya pengen menangis terus, padahal saat di beri kabar bahwa semua keluarga suamiku mengalami kecelakaan aku sudah terisak, di tambah kabar berpulangnya Cak Arga iparku.
Ada apa ini? Semoga semua baik-baik saja, Aamiin..
Aku mengikuti langkah keluargaku yang sudah lebih dulu berjalan di depan, begitu hampir sampai di depan Mushola aku tercengang saat melihat banyak orang laki-laki dan perempuan duduk di pelataran Mushola dan juga teras rumah, aku lihat di dalam Mushola juga tengah di adakan sholat jenazah.
Siapa lagi yang meninggal? " Innalillahi wainnailaihi roni'un." Lirihku yang entah sejak kapan sudah berlinang air mata.
Bisa kulihat yang mengimami sholat adalah Bang Aziz suamiku, walau punggungnya saja yang kelihatan, namun yang namanya istri pasti mengenali bentuk tubuh dan cara berdiri suaminya sendiri. Ya Allah perasaanku semakin deg-deg an, siapa kira kira yang telah terbujur kaku di dalam keranda hijau tersebut?
" Assalamaulaikum, Maaf permisi apa benar ini kediamannya orangtua Aziz, kami saudaranya yang baru datang dari luar kota, lalu yang di dalam Mushola itu siapa ya yang meninggal?" Samar-samar kudengar Mas Anton yang bertanya kepada salah satu tetangga disini yang memang sebagian tengah duduk di tangga Mushola ini.
" Walaikumsalam. Oh belum mendapatkan kabar ya. Jadi pagi ini Pak Abdullah berpulang saat masih berada di rumah sakit, setelah putranya lebih dulu di panggil pasca kecelakaan dua minggu yang lalu. Kalau boleh saya tahu Mas dan rombongannya ini sauadara jauhkah, mari sekalian saya antar masuk ke dalam rumah saja." Sahut Bapak-bapak tersebut yang langsung membimbing kami masuk.
Mendengar hal itu tentu saja aku sangat terkejut, Ya Allah ternyata Abah mertua yang meninggal menyusul Cak Arga. Tentu aku merasakan sangat kehilangan orang-orang baik seperti mereka. Orang baik kenapa cepat sekali di panggil?
Terlebih Abah yang kelihatan sangat sayang padaku melebihi sayangnya pada Neng Atin. Ya walau aku tahu Ning Atin bukanlah putri kandungnya.
Entah bagaimana perasaan suamiku saat ini, pasti sangat hancur kehilangan dua anggota keluarga sekaligus dalam waktu yang sangat dekat. Terlebih dua orang tersebut adalah orang tersayang setelah Uminya yang sudah lebih dulu di panggil olehNya.
__ADS_1
Kami semua kini sudah duduk di ruang tamu yang beralaskan tikar, tak kulihat keberadaan Neng Atin, tadi yang menyambut kami adalah Maduku, ya Mbak Nikmah sudah ada disini. Sejak kapan? Apa karena ini Bang Aziz melarangku datang kesini? Karena sudah ada istrinya yang lain, sedikit sakit hati ini, namun aku menahannya. Ya sudah resiko yang harus aku tanggung, karena memilih bertahan demi anak-anak.
Samar-samar aku mendengar ada beberapa suara orang menangis dari dalam, karena memang aku tengah duduk di dekat pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah sembari menggendong Zefa yang masih bayi.
Katanya tidak boleh membawa anak kecil bertakjiah jika di kampung, tapi inikan Kakung kandungnya sendiri pasti tidak apa-apa 'kan ya? Mereka semua juga tidak ada yang menegurku. Mereka semua ikut larut dalam suasana berkabung seraya ikut membacakan doa dengan yang lainnya.
Tadinya ingin aku tinggal saja Zaheera bersama Ibu di rumah, tapi pasti keduanya kewalahan jika harus mengurus tiga bocil, mengurus Erika satu anak saja rasanya Ibu sudah tidak sanggup, namun ia tahan. Sebab katanya Anna akan mengirim uang setiap bulannya, begitu katanya saat kami saling menghubungi. Apalagi di tambah Zefa yang mungkin banyak rewelnya karena masih bayi.
Beberapa saat kemudian kulihat semua para laki-laki berdiri bersiap untuk mengantarkan jenazah Abah ke peristirahatan terakhirnya. Sepertinya suamiku belum menyadari kehadiran kami, atau mungkin pikirannya sedang fokus semuanya ke Abahnya saja.
Baiklah aku bisa memahami dan memaklumi, aku akan menunggunya disini hingga ia kembali pulang, kulihat Mas Anton dan Pak RT juga ikut keluar rumah seperti yang lainnya, mungkin akan ikut mengantar jenasah Abah mertua juga sekalian menemani suamiku ke TPU. Sepertinya Aidan dan juga Zikri ikut serta.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1