
Seperti yang sudah dia rencanakan, pagi ini Wirra berangkat ke rumah Anna. Pria itu bahkan dengan gegas melajukan kendaraannya. Dia tak sabar untuk bertemu Anna, memeluk erat wanita itu dan melampiaskan seluruh hasrat yang sudah dia pendam berhari-hari.
Wirra bahkan langsung menubruk tubuh Anna begitu bertemu sang istri. Memojokkan tubuh wanita itu hingga menempel pada tembok, tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Anna, Wirra melucuti pakaian yang wanita itu kenakan.
Hujan begitu lebat mengguyur ibu kota. Pintu rumah itu bahkan terbuka lebar. Angin dingin pun menerobos masuk dan menghantam tubuh Anna dan Wirra yang kini tak berbalut busana.
Namun, walau hujan mengguyur dengan lebatnya di luar sana, walau angin kencang menerpa tubuh mereka, Anna dan Wirra tetap merasa hangat. Bulir-bulir keringat bahkan tercetak jelas di dahi Wirra.
Bagaimana tidak, pria itu kini tengah menunggangi Anna dengan begitu laju hingga Anna tak berhenti berteriak.
Untung saja derasnya air hujan pagi itu dapat menyamarkan teriakan sepasang suami istri yang sedang bergumul dengan begitu hebatnya. Jika tidak, suara erangan Anna dan Wirra yang saling sahut menyahut itu, dapat terdengar oleh setiap orang yang melintasi rumah mereka.
Wirra menghujam Anna tanpa ampun seharian penuh. Mereka bahkan melewatkan makan siang dan terus bersenang-senang tanpa henti.
Anna bahkan merasakan perih di daerah sensitifnya karena Wirra terus bereksplorasi di bawah sana.
Dan ketika sore hari, Wirra pun bergegas kembali ke kediaman Meyta.
“Tumben jam segini sudah ada di rumah!” ketus Meyta saat Wirra tiba di rumah. “Biasanya pulang larut. Alasannya lembur, banyak kerjaan, taunya sibuk ****** sama yang satu lagi!”
Wirra hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu berusaha untuk selalu sabar dalam menghadapi Meyta yang semakin hari semakin ketus padanya.
“Kalau kamu tidak suka melihat aku pulang lebih awal, besok aku akan pulang seperti biasa. Atau kamu ingin aku lembur?” tanya Wirra.
Meyta pun mendengus kesal. Dirinya tak menyangka jika Wirra bisa pulang lebih awal dan membantunya mengurusi Arkana. Pria itu bahkan membantu dirinya untuk membersihkan diri. Wirra bahkan dengan telaten membersihkan setiap sudut tubuh Meyta, hingga membuat wanita itu meremang.
Meyta yang duduk pada sebuah kursi yang memang disiapkan khusus untuk dirinya mandi, tiba-tiba menarik wajah Wirra yang tengah membersihkan pangkal paha Meyta, hingga wajah pria itu terbenam di sana.
“Ayo, Wir,” rengek Meyta.
Wirra yang seharian sudah bergumul dengan Anna, tentu saja merasa lelah. Pria itu bahkan tak lagi bergairah walau Meyta membuka lebar kakinya. Tubuhnya sudah remuk redam meladeni Anna, dia tak kuat lagi untuk melanjutkannya bersama Meyta.
__ADS_1
Wirra berusaha lepas dari cengkeraman Meyta dan menjauh dari wanita itu. “Aku tidak berani, Mey. Kaki kamu belum pulih total, bagaimana kalau terjadi sesuatu. Misalnya aku tak sengaja menindih kaki kamu, atau menekannya? Kamu tau sendiri kan bagaimana kalau aku sudah lepas gairah?”
Meyta berdecak kesal. Padahal dirinya sudah begitu bergairah saat Wirra membersihkan tubuhnya, hingga kepalanya terasa mau meledak. Tapi, sang suami malah menolak keinginannya. Meyta sangat kesal. Terlebih ini adalah kali pertama Wirra menolaknya.
“Kita akan bersenang-senang setelah kamu pulih total, ya,” bujuk Wirra yang kini kembali mengguyur pangkal paha wanita itu hingga seluruh tubuh Meyta bersih dari sabun.
Tubuh Meyta pun kembali meremang. Meyta tak tau mengapa, tapi dirinya selalu bergairah setiap kali Wirra menyentuhnya. Meyta pun merengek meminta Wirra untuk memuaskannya saat itu juga.
Wirra pun akhirnya terpaksa menuruti keinginan Meyta. Pria itu pun kini berlutut dan membenamkan wajahnya di bawah sana.
Suara erangan Meyta menggema tanpa bisa ditahannya, saat jemari Wirra mulai turut andil di bawah sana. Wirra pun kembali membersihkan sekitaran pangkal paha Meyta setelah wanita itu sudah mencapai puncaknya.
Meyta pun tersenyum sumringah saat melihat Wirra kembali membersihkan tubuhnya. Senyum wanita itu pun semakin sumringah saat melihat celana Wirra terlihat menggembung.
Wanita itu pun menawarkan untuk memuaskan Wirra, namun, tentu saja pria itu menolaknya. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Wirra hanya berencana untuk membiarkan bagian bawah tubuhnya kembali normal dengan sendirinya.
...----------------...
“Rara yang minta tolong padaku. Dia merindukan Anna. Hubungan mereka sudah sangat dekat saat kamu dirawat, kemarin lalu,” jelas Wirra.
Meyta tentu saja tak mau terima dengan alasan yang diucapkan oleh Wirra. Mutiara adalah anak kandungnya. Dia sudah mengurusi Mutiara selama bertahun-tahun. Tak mungkin anaknya merindukan seorang wanita yang hanya merawat anaknya itu selama sepuluh hari. Itu pasti hanya karangan Wirra.
Terlebih pria itu pergi cukup lama sejak pagi dan baru kembali siang hari bersama Anna.
Awalnya Meyta merasa khawatir karena pagi-pagi sekali Wirra sudah menghilang tanpa membawa ponselnya. Dan pria itu belum kembali saat jam makan siang hampir tiba.
Kemana pria itu pergi? Apa Wirra pergi untuk membeli sarapan dan terjadi sesuatu dengan sang suami?
Namun, saat melihat Wirra datang bersama Anna, yakinlah Meyta bahwa sang suami pasti habis bergumul dengan wanita itu.
Meyta pun merasa jika rasa rindu Mutiara pada Anna hanyalah bualan sang suami. Nyatanya, pria itu hanya ingin bertemu dan bercinta dengan istri pertamanya.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya pada Rara. Ibu juga tau hal itu, kok. Aku bahkan sudah membicarakan hal ini lebih dulu pada ibu, sebelum membawa Anna ke sini,” ujar Wirra.
“Tapi, kenapa kamu tidak bertanya padaku?! Ini rumahku, Wir!”
“Karena aku tau, kalau kamu pasti akan menentangnya. Coba kamu dengan suara tawa bahagia Rara. Dia begitu merindukan Anna.”
“Alasan! Bilang saja kalau kamu memang mau bertemu dan Anna dan bersenang-senang dengannya. Iya kan?!” ketus Anna.
Wirra menghela napas panjang. “Mey ... Apa kamu tidak mendengar suara tawa Rara. Dia begitu senang saat melihat Anna. Bisakah kamu menghilangkan sikap egois kamu satu minggu sekali dan memikirkan anak kita?”
“Satu kali dalam satu Minggu?!” tanya Meyta tak percaya. Wirra pun menganggukkan kepalanya.
“Rara ingin bertemu Anna setiap akhir pekan,” jawab Wirra. Meyta terkejut. Bagaimana mungkin anaknya bisa begitu akrab dengan Anna hanya dengan waktu beberapa hari? Apa yang dilakukan madunya itu pada sang anak? Apa Anna sengaja mempengaruhi Mutiara agar menjadi dekat dengan wanita itu dan menjauhkan dirinya dari sang anak?
“Apa kalian sengaja melakukannya?” tuduh Meyta.
Wirra menatap sang istri kedua dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Iya. Kalian sengaja membuat anak-anakku menyayangi Anna dan perlahan menjauh dari aku. Karena Anna tak bisa memiliki anak, kalian sengaja ingin mengambil kedua anakku?!”
Wirra menggelengkan kepalanya. Pria itu sama sekali tak mengerti dengan prasangka Meyta pada dirinya dan Anna.
“Mey ... Kami hanya tidak mau Rara kehilangan perhatian seorang ibu karena kamu sedang dalam masa pemulihan. Nanti, saat kamu sudah sembuh total, kamu bisa kembali menemani Rara belajar. Berlibur dengan Rara dan Arka. Dan Anna tidak perlu lagi berkunjung ke sini.
“Jadi, daripada kamu berpikiran yang aneh-aneh seperti tadi, lebih baik kamu fokus pada kesembuhan kamu. Agar kamu bisa secepatnya menemani anak-anak kita dengan maksimal,” jelas Wirra.
Meyta ingin sekali membalas ucapan Wirra. Wanita itu ingin sekali meneriakkan jika dirinya tak setuju dengan rencana pria itu. Tapi, suara ketukan pintu menghalanginya. Suara Mutiara pun terdengar dari balik pintu.
“Ma ... Pa ... Ayo makan siang bersama. Rara dan Bu Anna sudah menyiapkan makanan di meja makan!”
Meyta tersadar. Suara anak perempuannya itu penuh keceriaan. Haruskah dia mengalah dan menahan rasa cemburunya demi Mutiara?
__ADS_1