Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 31 - Kejutan dari Meyta


__ADS_3

Meyta sengaja pulang kerja lebih awal. Wanita itu sudah mendaftarkan diri di poli kandungan salah satu rumah sakit ibu dan anak yang tak jauh dari tempat kerjanya.


Seperti yang sudah dia rencanakan, Meyta akan memulai program kehamilan. Melepaskan alat kontrasepsi yang sudah terpasang di tubuhnya adalah langkah awal dari pelaksanaan rencana itu.


Dan setelahnya, Meyta kembali ke kediamannya dengan wajah sumringah. Membayangkan jika Wirra akan lebih memperhatikan dirinya dibandingkan Anna, membuat senyum sumringah itu tak pernah lepas dari wajah Meyta.


Wanita itu bahkan terus bersenandung ketika berada di taksi dalam perjalanan pulang. Hatinya dipenuhi oleh banyak kegembiraan.


Meyta bahkan berulang kali mengabaikan panggilan telepon dari Wirra. Wanita itu juga tak membalas satu pun pesan yang dikirimkan oleh sang suami tercinta.


“Kamu dari mana sih?” tanya Wirra kesal. Pria itu bahkan sedari tadi menunggu Meyta di teras rumah. Meyta memeluk sang suami namun tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Wirra.


“Aku mandi dulu ya. Rasanya badanku lelah sekali,” ucap Meyta. Wanita itu bahkan meninggalkan Wirra yang masih menatapnya dengan kesal.


Namun, Meyta tak peduli dengan wajah kesal pria itu. Karena Meyta tau kalau Wirra tidak mungkin bisa marah padanya. Pria itu pasti akan dengan mudahnya memaafkan dirinya. Terlebih jika pria itu mengetahui apa yang dia lakukan.


Masih sambil bersenandung, Meyta melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kamar tidurnya, setelah wanita itu mendekap erat Mutiara.


Meyta cukup lama berada di dalam sana hingga membuat Wirra bertambah kesal. Dan tanpa rasa bersalah, Meyta yang baru saja membersihkan seluruh tubuhnya, langsung bergelayut manja pada Wirra yang tengah duduk di pinggir ranjang.


“Kamu sudah makan belum? Aku lapar sekali,” rengek Meyta.


Wirra kembali memberikan tatapan tajam pada wanita itu. “Kamu belum menjawab pertanyaan tadi. Kamu dari mana saja. Padahal aku sengaja pulang lebih awal agar bisa menjemput kamu di kantor. Saat tiba di sana, kata Indri kamu sudah pulang sejak pukul tiga. Tapi, begitu aku sampai di rumah, ternyata kamu tidak ada. Ke mana saja kamu?! Aku telepon, aku kirim pesan, tidak ada satu pun yang mendapat tanggapan!” ujar Wirra kesal.


Meyta menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bergelayut pada lengan sang suami. Kembali wanita itu memberikan senyum sumringah. Melihat Wirra yang mengkhawatirkan dirinya, tentu saja membuat Meyta merasa senang. Setidaknya Meyta tau, jika sang suami masih sangat mencintai dirinya. Dan dia akan menjaga cinta itu. Dia tak akan membiarkan cinta Wirra terbagi pada wanita manapun. Dia akan melakukan segala macam cara agar Wirra hanya mencintai dirinya saja.


Dia sudah rela menjadi istri kedua. Dia pun rela berbagi suami. Tapi dirinya tidak akan rela berbagi cinta Wirra pada wanita lain. Cinta pria itu hanya miliknya seorang.


“Kamu sekarang galak sekali,” cebik Meyta.


“Aku sedang tidak bercanda, Mey! Kamu dari mana?!”


Meyta mengembuskan napas kasar. Wanita itu beranjak, mengambil tas selempang yang tadi dia pakai bekerja. Meyta terlihat mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas itu.


“Nih!” ucap Meyta kesal, sembari menyerahkan amplop itu pada Wirra.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Wirra heran. Terlebih di amplop itu tertulis nam sebuah rumah sakit ibu dan anak.


“Aku tadi ke rumah sakit itu,” jawab Meyta yang kini berdiri di hadapan Wirra.


“Kamu sakit? Kenapa tidak memberitahu aku? Harusnya kamu memberi kabar, Sayang. Kamu sakit apa?” tanya Wirra panik.


Meyta tersenyum. Wanita itu naik ke atas pangkuan Wirra dan mengalungkan lengannya pada leher pria itu.


“Kamu buka saja amplopnya. Terus kamu baca deh surat keterangan yang ada di amplop itu.”


Dengan Meyta yang berada di atas pangkuannya, Wirra pun membaca isi surat itu.


“Aku masih tidak mengerti isi surat ini, Sayang. Ada apa sebenarnya?”


Meyta mengembuskan napas kasar.


“Aku melepas alat kontrasepsi, tadi,” jawab wanita itu.


“Melepas alat kontrasepsi?”


Mata Wirra membulat sempurna. “Kamu hamil?!” tanya Wirra. Pria itu bahkan menanyakannya dengan suara yang sangat kencang.


Meyta yang begitu terkejut mendengar suara Wirra yang menggelegar, memukul lengan pria itu.


“Belum!” ketus Meyta. “Aku baru saja melepaskan alat kontrasepsi. Setelah itu aku akan menjalankan program kehamilan. Tentu saja kita akan menjalani program itu bersama-sama,” terangnya.


Wirra hanya menatap Meyta dengan pandangan tak percaya. Sejak awal, wanita itu sudah menolak untuk kembali memiliki anak. Tidak mungkin secara tiba-tiba wanita itu ingin mengikuti program kehamilan.


“Waktu itu aku masih ragu. Aku takut hanya dijadikan sebagai alat pencetak anak. Tapi, sekarang aku sudah yakin!” ucap Meyta antusias.


Sementara Wirra, pria itu masih menatap Meyta dengan tatapan yang sama. Meyta pun merasa kesal pada sang suami.


“Kamu tidak suka jika aku mengandung anakmu? Kamu tidak mau kalau aku hamil?!”


“Kamu serius?” tanya Wirra. Terus terang, pria itu masih meragukan ucapan Meyta padanya.

__ADS_1


Meyta mengembuskan napas kasar. “Yasudah. Sepertinya ini memang tidak berarti untuk kamu. Padahal aku sudah sangat ingin mengandung buah cinta kita. Tapi, sepertinya hanya aku saja yang bersemangat. Kalau begitu, Minggu depan aku akan kembali memasang alat kontrasepsi itu!”


Meyta meninggalkan pria itu begitu saja. Wanita itu pun melangkahkan kakinya menjauh dari Wirra. Ruang makan adalah tujuannya. Perutnya sudah terasa sangat lapar sejak tadi. Jika Wirra memang tak menginginkan seorang anak, itu tak masalah bagi Meyta. Dia akan mencari jalan lain agar pria itu kembali menjadikan dirinya sebagai prioritas.


Mungkin dia akan berpura-pura sakit seperti Anna. Asal pria itu terus berada di sampingnya, Meyta tak akan masalah dengan hal itu. Yang wanita itu butuhkan saat ini adalah asupan makanan. Sejak siang tadi, tak ada makanan yang mengisi lambungnya. Meyta terlalu antusias hingga tak ingat untuk makan.


Namun, saat Meyta baru saja membuka pintu kamar, Wirra menutup pintu itu kembali dan menarik tubuh Meyta ke dalam kamar.


“Sayang ... Apa yang kamu ucapkan itu benar? Kamu benar-benar ingin mengandung anakku? Kenapa? Bukannya kamu tidak mau punya anak lagi? Apa ada yang memaksa kamu untuk melakukannya?”


Meyta kembali menghela napas kasar. Wanita itu menatap tajam sang suami.


“Menurut kamu?”


“Tolong jawab pertanyaan aku, Sayang,” pinta Wirra.


“Menurut kamu, apa ada orang yang bisa memaksakan kehendaknya padaku?!” ketus wanita itu.


Ya, Meyta memang bukan wanita penurut. Tidak ada di dunia ini yang bisa mendikte seorang Meyta. Wanita itu melakukan segala hal sesuai dengan kehendaknya sendiri.


“Berarti kamu benar-benar menginginkan hal itu kan? Kamu benar-benar ingin mengandung anakku kan?”


“Kalau kamu tidak ada pertanyaan lain, hentikan saja. Aku sangat lapar sekarang. Aku ingin makan!”


“Sayang ... Aku senang sekali kalau kamu mau mengandung benihku. Sejak dulu aku menginginkannya. Tapi, aku tidak akan memaksakan hal itu jika kamu tidak menyukainya,” jelas Wirra.


“Aku tidak pernah melakukan satu hal di hidupku secara terpaksa. Semuanya pasti sudah aku pikirkan dengan matang, Wir. Aku mau kembali hamil dan melahirkan seorang anak untukmu. Itu semua karena aku sangat mencintaimu!” tegas Meyta.


Bibir Wirra melengkung sempurna. Pria itu begitu bahagia mendengar ucapan sang istri kedua. Wirra pun menarik Meyta dalam dekapannya.


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak. Kapan kita akan memulai program kehamilan itu?”


“Nanti saja kita bahas hal itu, aku sudah sangat lapar. Siang tadi aku tidak makan karena begitu antusias ingin segera mengandung anak kamu,” rengek wanita itu.


Wirra tersenyum dan menatap wanita itu dengan haru.

__ADS_1


__ADS_2