
Sudah lebih satu bulan, Wirra tak melampiaskan hasratnya. Pria itu benar-benar tak punya waktu memikirkan kesenangan dirinya. Dia sibuk mengurusi pekerjaannya di kantor, juga sibuk mengurusi Meyta yang semakin hari semakin terasa seperti mayat hidup.
Wirra merasa sedikit frustasi. Terlebih saat Anna memutuskan untuk kembali ke kediamannya, satu minggu setelah Meyta kembali ke rumah pasca amputasi.
Saat Mutiara mengatakan dirinya libur sekolah selama tiga hari, Wirra pun meminta izin kepada anak dan mertuanya untuk menginap satu malam di kediaman Anna.
“Pergilah, Wir. Kamu juga harus pasti jenuh dan lelah.”
“Iya, Pa. Papa menginap saja selama tiga malam. Rara bisa menjaga adik dan mama.”
Memiliki anak dan mertua yang sangat mengerti kondisinya, Wirra merasa benar-benar beruntung.
“Papa hanya akan menginap satu malam. Sabtu sore, papa akan kembali lagi ke sini bersama Bu Anna,” ucap Wirra. Mutiara seketika berbinar mendengar ibu tiri kesayangannya akan datang dan menginap.
“Papa dan Bu Anna sudah menyusun rencana liburan keluarga. Kita akan ke kebun raya Cibodas. Bunga sakura di sana sedang mekar, katanya. Mama kan suka bunga sakura. Mama pasti senang.”
Mutiara seketika menghambur ke dalam pelukan sang ayah tiri. “Terima kasih ya, Pa. Terima kasih karena papa selalu mengingat janji papa untuk membahagiakan mama, walaupun mama tidak lagi bisa membahagiakan papa,” ucap gadis kecil itu sembari menangis sesenggukan.
Rencana berlibur sudah dijadwalkan. Wirra pun sudah memberitahukan perihal liburan itu pada Meyta.
Dalam hati, Meyta mengucapkan rasa syukur. Dia pikir sang suami tak lagi mau memikirkan kebahagiaannya. Tapi ternyata Wirra sudah merencanakan liburan keluarga untuk membuat dirinya bahagia. Hampir saja sebuah senyuman tipis tercetak di wajah wanita itu. Namun ucapan Wirra kemudian, menghalanginya.
“Malam ini aku akan menginap di rumah Anna. Dia akan membantuku menyiapkan liburan keluarga kita. Anna akan menyiapkan bekal untuk liburan kita selama satu malam. Jadi, ibu dan Rara tidak perlu lagi menyiapkan semuanya. Mereka hanya tinggal membawa pakaian untuk menginap saja,” jelas Wirra.
Dengan hati-hati Wirra menjelaskannya pada Meyta. Namun, pria itu hanya mendapati ekspresi datar sang istri. Wirra hanya bisa mengembuskan napas panjang. Melihat Meyta yang tak pernah lagi menampakkan ekspresi apapun, membuat Wirra merasa jenuh dan tertekan.
Wirra justru merasa senang jika Meyta menunjukkan amarahnya. Wirra pasti akan menuruti keinginan Meyta andai wanita itu melarangnya.
Namun, Wirra tak mendapatkan ekspresi apapun di wajah Meyta. Itu artinya sang istri masih tak memiliki semangat untuk sembuh. Dan Wirra tak tau berapa lama dia bisa bertahan dengan kondisi Meyta yang seperti itu.
Setelah mencium lembut dahi wanita itu, Wirra pun berpamitan untuk pergi bekerja.
__ADS_1
......................
Rasa jenuh menghadapi wajah datar Meyta, yang semakin bertumpuk dari hari ke hari, membuat Wirra merasa tercekik. Terlebih tidak ada lagi orang yang memperhatikannya dengan baik. Semakin lama dia berada di sisi Meyta, semakin dia merindukan kehangatan dan perhatian seorang Anna.
Wirra pun memutuskan untuk pulang bekerja lebih awal, tanpa memberitahukan pada Anna. Untung saja saat Wirra tiba, Anna sudah menyelesaikan makanan untuk santap makan malam mereka.
Anna yang baru saja selesai mandi, langsung berlari saat melihat Wirra membuka lebar pintu pagar rumah mereka.
“Mas ... Kok sudah pulang,” ucap Anna sembari berlari riang menghampiri Wirra yang tengah menutup kembali pintu pagar itu.
Wirra tak melanjutkan untuk menutup pintu pagar saat melihat Anna berlari-lari kecil menghampirinya. Hasrat pria itu seketika memuncak. Wirra berjalan cepat menghampiri Anna yang berlari ke arah dirinya.
Pria itu langsung melahap bibir sang istri dengan rakus hingga membuat Anna terkejut sekaligus kelabakan dengan tindakan sang suami.
Saat itu juga, Wirra menumpahkan segala kerinduannya pada Anna. Tak peduli jika pintu pagar masih belum sepenuhnya tertutup, Wirra terus menghujam Anna tanpa ampun. Dan Anna pun meraung-raung tanpa bisa ditahannya.
Wirra tak membiarkan Anna berbusana. Dia ingin bersenang-senang sampai pagi. Pria itu ingin menghilangkan semua beban pikiran yang sudah menumpuk. Pria itu bahkan ingin mematikan daya ponselnya, agar tak ada yang mengganggu kesenangannya bersama Anna.
“Jangan Mas, bagaimana kalau terjadi sesuatu di rumah Mey? Rara dan ibu pasti kebingungan karena tidak ada mas di sana.”
“Malam ini akan aku biarkan ponsel ini menyala. Tapi, subuh nanti, aku tidak akan mengaktifkannya hingga sore dan kita bersiap ke sana.”
“Tapi, Mas,” bantah Anna.
“Kalau sudah pagi, mereka pasti bisa minta bantuan ke tetangga.”
Anna hanya bisa mengangguk pasrah. Walaupun merasa khawatir dengan Mutiara di sana, Anna tak menentang usul Wirra.
Seperti yang sudah dia rencanakan, Wirra bersenang-senang dengan Anna hingga matahari hampir terbit. Dan Wirra langsung menonaktifkan ponselnya setelah pergumulan terakhirnya dengan Anna.
Sembari berpelukan, sepasang suami istri yang sudah berminggu-minggu tak memadu kasih itu, akhirnya tertidur pulas. Tubuh mereka yang kelelahan, membuat Wirra dan Anna tidur dengan sangat lelap.
__ADS_1
Bahkan, saat Mutiara menghubungi, Anna tak dapat mendengar panggilan telepon itu. Terlebih ponsel itu berada di dalam laci yang ada di meja rias. Dering ponsel yang begitu samar, ditambah rasa kantuk dan lelah luar biasa, membuat panggilan telepon dari Mutiara terabaikan.
Sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta itu, tak tau jika ada seorang gadis kecil yang tengah menangisi nasib sang ibunda.
......................
Tepat pukul 11:00 WIB, Anna pun terbangun. Bibir wanita itu melengkung sempurna saat mendapati bahwa dirinya sedari tadi tertidur dal dekapan sang suami. Pantas saja rasanya begitu nyaman, pikir Anna.
“Ah, aku harus menyiapkan makan siang dan juga bahan makanan yang akan dibawa besok,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Saat Anna hendak beranjak dari kamar, entah mengapa wanita itu teringat akan sosok Mutiara. Beberapa minggu lalu, setiap hari dia memasak bersama anak tiri suaminya itu. Membayangkan jika nanti sore mereka akan bertemu dah melakukan perjalanan wisata, membuat Anna merasa antusias.
Anna pun berencana untuk menanyakan makanan apa yang mau gadis kecil itu makan, malam nanti di villa.
Anna yang tadi sudah berada di depan pintu kamar, kini memutar langkahnya. Wanita itu berbalik arah dan berjalan menuju sebuah laci dan mengambil ponselnya.
Anna terkejut saat menatap layar ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor ponsel neneknya Mutiara.
Bahkan ada beberapa pesan yang dikirimkan oleh Mutiara.
Ayo angkat teleponnya, Bu.
Tolong jawab panggilan telepon dari Rara, Bu.
Jantung Anna seketika berdetak kencang. Anna meras sangat khawatir.
Kenapa gadis kecil itu berulangkali menghubungi dirinya?
Apa terjadi sesuatu di rumahnya?
Apa Meyta kembali mengamuk karena Wirra menginap di sini?
__ADS_1
Anna pun langsung menghubungi Mutiara. Dan yang pertama kali terdengar olehnya adalah suara Isak tangis Mutiara.
“Bu .... Rara takut, Bu...”