Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Ancaman Apa..??


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Malam ini aku bersiap akan kembali pulang ke rumah Ibu, ya aku sudah memutuskannya kemarin sore waktu Mas Anton ke rumah. Awalnya aku sendiri juga bingung, namun kembali lagi semua aku lakukan demi keutuhan keluargaku.


Ya tidak masalah toch hanya tempat tinggal, yang terpenting keluargaku tidak lagi ada yang bertengkar dan mudah-mudahan suatu hari nanti aku bisa membeli atau menyewa rumah sendiri untuk keluarga kecilku, Aamiin.


" Ini barangnya sudah semua sayang?" Tanya suamiku seraya menatap tiga tas besar berisi pakaian kami berempat.


" Ya memang hanya itu saja Bi, kita 'kan hanya membawa pakaian saja ke rumah ini, barang-barang yang kita pakai itu semuanya milik Nenek. Abi antar saja tas-tas ini dulu ke rumah, habis itu langsung kemari lagi, kata Nenek sebelum pulang kita makan malam dulu disini, karena Nenek masak banyak sore ini." Ujarku memberitahunya agar secepatnya kembali kesini.


" Ya baiklah."


Setelah suamiku pergi aku berniat membantu Nenek yang sedang menyiapkan peralatan makan di dapur. " Nek sini biar Anni bantu bawa ke depan." Tawarku, tanpa mendengar jawaban dari Nenek aku sudah lebih dulu membawa empat piring kosong dan juga toples berisi kerupuk berbentuk bintang, krupuk ini memang andalan Nenek, tidak di sekolah di warung depannya juga menjual krupuk ini yang sudah di goreng lalu di masukkan ke dalam plastik bening.


Setelah selesai meletakkan makanan itu di atas karpet, aku pun mengajak Zia dan juga Zaheera duduk disana, aku letakkan Zaheera di kasur kecil di sampingku, sembari menunggu Nenek yang sedang mengambil sambel tomat yang baru saja matang dan di uleg.


" Suamimu belum kembali?" Tanya Nenek seraya duduk di depanku dan meletakkan mangkok kecil berisi sambal.


" Belum Nek, mungkin sebentar lagi. Nenek makan saja dulu, Anni akan menunggu Bang Aziz pulang." Ujarku pada Nenek sementara aku juga tengah menyuapi Zia agar nanti saat Bang Aziz datang, hanya tinggal kami saja yang makan jadi tidak akan lama.


Hingga tak lama terdengar suara dua motor pasti itu suamiku, namun ternyata tak hanya suamiku saja yang datang, melainkan juga ada Mas Anton dan juga Mbak Najwa yang membawa motor Bapak.


" Asslamualaikum.." Sapa semuanya seraya masuk ke dalam rumah.


" Wa'alaikum salam."

__ADS_1


" Oh kalian sudah pada datang juga, ayo kita semua makan malam dulu, ini kebetulan kami baru saja mulai." Ajak Nenek kepada ketiganya.


" Hmm, nikmat sekali sepertinya, ayo sayang kita makan saja dulu." Seru Mas Anton terlihat bersemangat.


Setelah meletakkan tas bawaannya Mas Anton mengajak istrinya duduk di sampingku. Sementara Bang Aziz duduk di samping Zia, yang telah selesai makan dan kini tengah bermain bonekanya.


" Siapa ini yang masak, Pasti Nenek?" Tanya Mas Anton seraya menikmati hidangan malamnya.


" Ya memang siapa lagi kalau bukan Nenek."


" Ya mana mungkin kamu bisa membuat sambal seenak ini? Ya pasti Neneklah, ya nggak Nek?" Sindirnya dengan sengaja, selalu saja suka sekali menjanjahili Adiknya, heran sekali.


" Kata siapa! Aku juga bisa kok, hanya membuat sambal mah kecil bagiku, Mas Anton saja yang tidak pernah makan masakanku, apalagi sambal buatanku yang pasti juga mantap lah, nggak kalah sama sambal buatan Nenek ini!" Sahutku yang tidak mau kalah darinya.


" Ekhemm! Makan ya makan dulu, nanti ngobrolnya!" Tegur suamiku berkata lirih, namun aku yakin semua mendengar ucapannya.


Beberapa saat kemudian kami semua sudah selesai makan, dan aku langsung berpamitan kepada Nenek, memeluknya erat seraya mengucapkan maaf karena tidak bisa tinggal dan menemaninya lagi di rumah ini. Mudah-mudahan Mbak Najwa nanti bisa memperlakukan Nenek layaknya Neneknya sendiri.


" Mbak aku titip Nenek ya, jaga dan perhatikan Nenek seperti Nenek Mbak sendiri, mungkin aku juga tidak bisa setiap hari datang kesini." Pamitku kepada iparku yang sedang menggendong putranya.


" Iya, kamu tenang saja. Aku pasti akan menjaga juga memperhatikan beliau. An makasih banyak ya, kamu mau bertukar tempat tinggal dengan kami hanya demi Ibu." Ucapnya yang terlihat begitu sendu.


" Sama-sama Mbak, aku melakukan hal itu bukan semata-mata untuk Ibu, tapi untuk semuanya. Aku sangat paham posisi Mbak di rumah sana, maafkan Ibu yang pikirannya masih kolot, walau sebenarnya niatnya baik hanya saja beliau lupa meminta ijin lebih dulu padamu." Sahutku memberinya pengertian atas sikap Ibu, berharap ia pun juga sudah meminta maaf kepada Ibuku atas sikap kurang sopannya waktu itu.


" Iya syukurlah kalau kamu ngerti posisiku An, sungguh aku serba canggung jika harus berlama-lama tinggal disana. Dan asal kamu tahu, aku juga sudah meminta maaf dan menyesal atas sikapku yang sudah membentak beliau.


" Iya Mbak, ya sudah aku pulang dulu ya, semoga Mbak dan Mas Anton betah tinggal disini ya."

__ADS_1


Aku bergantian memeluk Nenekku saat ini, kupeluk tubuh rentanya dengan erat, sedikit menyesal memang karena harus jauh lagi dengan Nenek. Padahal aku sangat betah tinggal disini.


" Hati-hati Nduk, kalau ada waktu sering-sering jenguk Nenek ya kapanpun itu." Ingatnya sebelum Bang Aziz melajukan motornya.


" Iya Nek, Assalamualaikum.." Pamitku bersamaan dengan suamiku. Ternyata Mas Antin mengikuti kami, mungkin akan mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di rumah Ibu.


Yak begitu lama kami semua pun telah sampai di rumah orangtuaku. Kami langsung di sambut oleh Ibuku di teras depan, pasti juga ingin menggedong cucunya ini. " Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam, akhirnya cucu Nenek kembali tinggal dirumah ini, ayo semuanya masuk dulu." Ajaknya seraya meraih Zaheera dari gendonganku. Semenatar Zia di gendong oleh Abinya.


Benar bukan, seperti dugaanku tadi. Aku sendiri lebih memilih berjalan ke arah kamar mandi untuk bersih-bersih lalu masuk ke dalam kamarku yang aku tempat dulu. Karena sudah beberapa bulan tidak ada satupun orang yang menempatinta, sehingga banyak sekali debu juga ada sedikit sarang laba-laba di sudut-sudut ruangan.


Setelah kamarnya bersih barulah aku meminta Bang Aziz memasukkan tas-tas yang kami bawa ke dalam kamar, tadinya tas itu di letakkan di atas ranjang depan ruang tamu. Aku juga sudah menggendong Zagmheera yang juga sudah terlelap di ayunkan Ibu tadi.


" An, kamu tidak maeah dengan Ibu 'kan? Ibu hanya nasih sedikit kesal dengan istrinya Masmu itu, entah tadi itu ia mengucakan kata maaf ikhlas atau tidak, hanya Ia dan Tuhan yang tahu, selebihnya terserah dialah Ibu sudah tidak mau ambil pusing lagi. Terlalu banyak juga Ibu memikirkan apalagi jika mengingat ancamannya itu membuat Ibu kemarin drop.


" Apa? Ibu sampai drop!! Ancaman apa Bu!!"


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2