
Aziz_PoV
*
" Assalamulaikum.." Ucapku pelan sembari mengetuk pintu depan, khawatir jika para tetangga merasa terganggu, sebab malam sudah larut.
Namun sebelum itu aku tadi sempat mengetuk jendela samping kamar Anni, mudah-mudahan ia mendengarnya. Dan segera membukakan pintu untukku, namun hingga sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda seseorang yang mau membukanya.
Aku kembali ke samping rumah dan mengetuk jendela kamar itu lagi, berharap kali ini istriku mendengarnya, hingga dua kali ketukan barulah ada sahutan dari dalam, pasti istriku baru saja tertidur sehabis menyusui Zefa.
Dan benar saja, tak lama setelah itu pintu depan pun di buka olehnya. " Assalamualaikum sayang, maaf ya sudah mengganggu tidur nyenyakmu." Ucapku lirih, memberikan senyuman untuknya, walau di balas dengan wajah bantal karena masih mengantuk.
" Wa'alaikum salam,." Berkali-kali ia terlihat menguap, pasti ngantuk banget dia.
Setelah masuk ke dalam rumah, aku berjalan ke kamar mandi lebih dulu, bersih-bersih sebab dari luar. Kita tidak tahu banyak barang begituan yang menempel, apalagi ini hampir tengah malam.
" Sayang maaf ya Abi baru bisa pulang malam ini. Aku tahu kamu pasti masih marah sama aku atas kejadian_
" Sudahlah Bang, aku capek, aku ngantuk, mau tidur lagi." Potongnya sembari membaringkan kembali tubuhnya di atas ranjang.
Aku hanya bisa menghela napas penjang, aku sadar aku sala telah menyembunyikan sesuatu tentang kehamilan Nikmah padanya. Namun saat itu aku tengah panik dengan kelahiran Zefa, mana mungkin aku memikirkan hal lainnya.
Ku lirik di atas meja sudah ada segelas air garam hangat, kusesap seperempat sebelum naik ke atas ranjang menyusul istriku yang sudah terlelap. Ku kecupi dahi anak-anakku yang ada di ranjang sebelah, lalu berbaring di samping istriku, ku kecup juga kening sampingnya juga puncak kepalanya, dia hanya mengeliat pelan.
" Maafkan Abi sayang, tapi sungguh waktu itu bukan kemauan Abi sendiri melakukannya. Maaf." Lirihku di dekat telinganya. Entah ia mendengarnya atau tidak, aku tidak tahu.
Namun baru saja akan memejam, aku seperti mendengar seseorang menggeram di depan pintu kamar. Aku pun bangkit dan berniat keluar kamar untuk mengecek siapa gerangan malam-malam masih ada di ruang tamu, mungkin Bapak
__ADS_1
" Astagfirullah.." Pekikku pelan, baru saja keluar aku sudah di buat terkejut, dengan sosok yang ada di hadapanku saat ini.
" Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Pak Sarojan? Anda—
" Mas Aziz, kok baru pulang. Maaf ya Bapak mengejutkanmu, Bapak kesini sebenarnya ingin berpitan padamu, maaf juga kalau selama ini Bapak punya salah kepada Mas Aziz. Tolong di maafkan ya.." Selanya lirih dalam hati, bahkan bibirnya masih terkatup rapat.
" Sama-sama Pak Jan, maafkan Aziz juga kalau ada salah. Memangnya Bapak sakit apa sebelumnya, maaf saya terlalu sibuk di kota, sehingga tidak mendengar berita tentang Bapak, semoga khusnul kotimah ya Pak, sudah berapa hari Pak?" Sahutku seraya mengajaknya duduk di kursi ruang tamu.
" Tidak apa-apa Mas Aziz, Bapak paham kesibukan seorang suami menafkahi kelarganya. Bapak memang sudah tua, penyakitan, sudah waktunya. Sebenarnya malam ini tiganya Bapak, kalau Bapak boleh berpesan, tolong sampaikan pesan Bapak kepada istri juga keempat anak Bapak. Tolong jangan sampai rumahnya di jual, untuk melunasi hutangnya Ali, Bapak punya tabungan di koperasi, suruh mereka ambil, buku tabungannya Bapak simpan di bawah lantai yang ada di kolong tempat tidur, suruh bongkar saja yang ada lubangnya, saya bingung harus menyampaikannya bagaimana kepada mereka. Mungkin pihak koperasinya lupa atau bagaimana, Bapak tidak tahu. Memang sih tidak banyak, tapi yang jelas tabungan itu bisa menutupi separuh hutang putra sulung Bapak, sisanya buat pegangan istri saya. Tolong sangat ya Mas Aziz." lirihnya sebelum bayangan beliau menhilang di kegelapan malam.
Aku masih termenung sesaat sebelum kembali masuk ke dalam kamar, ini adalah wasiat dari orang yang sudah meninggal dan harus segera menyampaikannya besok kepada rumah depan. Ya Allah aku belum percaya kalau Pak Sarojan sudah lebih dulu berpulang, usianya tidak berbeda jauh denganku, mungkin hanya lima atau tujuh tahun. Mungkin beliau yang tidak tahu umurku yang sebenarnya, karena memang wajahku kelihatan awet muda, bukannya sombong, namun kenyataannya seperti itu, banyak juga yang bilang kok.. Astagfurullah.. ngomong apa aku ini.
*
Keesokan harinya, aku kembali dari rumah depan setelah menyamaikan wasiat dari Pak Sarojan kepada keluarganya. Awalnya mereka tidak percaya, tapi setelah membongkar di bawah ranjang dan menemukan buku tabungan yang di bungkus kotak besi, mereka akhirnya percaya dan berterima kasih.
Sebenarnya kasihan sekali masih kecil ke sekolah jalan kaki, dengan jarak yang lumayan jauh dari rumah. Ya walau bersama Nenek tetap saja aku merasa kasihan. Nenek juga tidak ingin di antar sedari dulu, katanya agar badannya tetap sehat selalu, walau kenyataannya tubuhnya sudah rentan dan juga lemah, namun jiwanya tetap masih muda, semangat terus.
Aku sedikit merasa malu kepada beliau, kadang aku masih mengeluh jika harus berjalan kaki yang jaraknya cukup dekat. Namun kembai lagi, semua fisik seseorang berbeda-beda.
" Abi, Ami, Zia berangkat sekolah dulu ya." Pamit putriku seraya memberi salam bergantian kepada kami.
" Iya sayang. Hati-hati ya, Nek titip Zia." Pinta Anni seraya membantu meletakkan tas ransel Zia di pungung kecilnya, tanpa melihat ke Nenek.
" Iya, kamu tenang saja. Zefa mana masih tidur?" Tanya Nenek. Saat ini memang masih pagi, baru pukul setengah tujuh.
" Sama Bapak di belakang Nek. Zia ingat selalu kata Ami, nggak boleh bertengkar sama temannya ya, kalau Zia punya kue, atau jajan bagi sedikit ke temannnya, okay." Ujar Anni memberi nasehat pada putri kami.
__ADS_1
" Baik Ami. Assalamualikum.."
" Iya wa'alaikumsalam, yang pintar ya sekolahnya, sayangnya Abi." Ku kecup keningnya sebelum melenggang pergi bersama Nenek.
Kami berdua pun kembali masuk ke dalam rumah, ingin sekali aku bicara berdua dengannya, namun ia seolah berusaha menghindariku dan alhamdulillahnya itu berlangsung hanya dua hari saja setelah terus berjuang meminta maaf. Plus malamnya aku mendapatkan bonus jatahku, maklum sudah seminggu lebih tidak di keluarkan.
Setelah itu, Anni sudah bersikap normal kembali, entah ia berpura-pura atau memang ia sudah memaafkanku. Sudah hampir semingguan di rumah, aku pun terpaksa harus pamit untuk kembali ke kota, karena temanku Roni mengabari sudah ada pekerjaan disana. Awalnya mungkin aku tidak kembali kota, namun aku belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. Nanti saja baru di pikirkan.
" Maaf sayang Abi harus kembali ke kota, doakan selalu rezeki Abi lancar, di beri kesehatan untuk mengais rezeki untuk keluarga kita." Ujarku, saat ini kami ada di dalam kamar, anak-anak tengah bermain di belakang bersama Kakek dan Neneknya, jadi hanya ada kita berdua.
" Iya Aamiin,, hati-hati Bi. Jaga diri dan kesehatan." Sahutnya terlihat tulus. Namun sebelum pergi, aku merapatkan tubuh kami hingga saling menempel. " A-abi mau apa?
" Sayang boleh, Abi sangat ingin sebelum pergi, kita kilat saja." Bisikku seraya memberikan stimulasi padanya. Akhirnya ia pun pasrah dalam kendaliku, dan sore itu kami melakukannya dengan sangat cepat, takut anak-anak datang di waktu tidak tepat.
Setelah sama-sama puas, aku bergegas mandi bertepatan dengan adzan ashar. Setelah beribadah aku pun berangkat ke kota. Namun sepulang bekerja, sore harinya aku pulang ke kotaku tujuanku langsung ke ponpes milik Cak Arga yang sekarang akulah pengurus sementara bersama dengan Zayyan. Walau ia masih kecil, namun ilmunya sudah banyak yang ia dapat. Terlebih terus mendapatkan ilmu dari Abinya yang memang lulusan luar negeri.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1