Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tidak Sadar Bermain.


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Allahu akbar.. Allahu akbar..


Samar-samar terdengar suara adzan berkumandang dari Masjid, pun aku memaksakan diri untuk beringsut duduk dengan kepalaku yang terasa berdenyut nyeri. Apa aku terserang migrain pagi-pagi?


Dengan pandangan yang masih buram, aku berniat turun dari sofa, namun baru aku sadari jika yang aku duduki ini bukanlah sofa melainkan di ranjang tempat tidur, tunggu dulu kenapa aku bisa tidur disini, bukanlah seharusnya aku tidur di sofa?


Aku memejam mencoba memikirkan kembali apa yang sudah terjadi tadi malam dengan menahan rasa sakit yang luar biasa di kepala. Seingatku aku duduk di sofa tak jauh dari Nikmah semalam, kami hanya mengobrol sebentar, lalu dia membuatkanku wedang jahe anget karena perutku merasa sedikit kembung.


Lalu setelah itu aku melihat Anniyah istri kecilku lalu kami,, aku menunduk memperhatikan pakaian yang aku kenakan, sesaat aku terbelalak saat menyadari hanya memakai dalaman saja, pantas saja kulitku terasa dingin sebab tidak memakai pakaian tidur, lalu kemana pakaianku tadi malam?


Apa tadi malam aku dan Anniyah bermain?? Spontan aku menoleh ke samping, tepatnya di sisi ranjang,


Degh!..


Jantungku langsung berdegup kencang saat tidak sengaja melihat tubuh bagian atas Nikmah yang polos, jangan-jangan di balik selimut itu ia juga tidak memakai apapun, sama halnya sepertiku.


" Astagfirullahal-azdim..."


Teriakku sedikit menyentak, tidak menyangka ternyata itu membuat Nikmah terkejut dan terjaga dari tidurnya. " Kenapa Bi? Ada apa, kenapa kamu berteriak?" Tanyanya yang langsung beringsut duduk bersandar dan sedikit linglung karena terbangun secara tiba-tiba.


" Apa yang sudah kita lakukan?! Ini tidak_


" Tidak apa? Kamu mengelaknya Bi! Tidak ada yang salah kita melakukannya, toh kita ini sepasang suami istri, dan sudah sewajarnya kewajiban kamu sebagai seorang suami memberikan hakku selaku istri kamu. Lalu dimana salahnya..?" Desis Nikmah yang mulai mendrama seraya menitikkan air matanya.


Aku menghela nafas panjang seraya memilih duduk di sofa setelah memungut pakaianku di lantai, juga ingin mendengar apa yang akan ia katakan lagi. Dulu saat melakukan pertama kalinya bersama Anniyah tidak seperti ini, lalu kenapa bersama Nikmah aku seakan tidak...


" Sekarang aku tanya, kamu sebenarnya menganggap aku sebagai istri atau bukan sih! Aku tahu kamu menikahiku kembali itu karena terpaksa. Salahkah jika aku meminta hakku sebagai istri!" Ujarnya kembali.


" Iya aku tahu itu tidak salah, hanya saja cara kamu yang salah. Kamu memberikanku minuman apa tadi malam? Membuatku tidak sadar, itukah yang kamu berikan?!" Desakku yang ingin tahu kebenarannya.

__ADS_1


Kulihat Nikmah mengangguk lemah, sudah kuduga. Aku menghela napas dalam, pantas saja aku merasa tubuhku terasa ringan ternyata di sebabkan oleh sesuatu yang sudah tersalurkan walaupun aku dalam keadaan tidak sadar.


" Maaf jika—


" Sudahlah, percuma di bahas kalau semuanya sudah terjadi." Sela-ku yang segera bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera bersih-bersih dan menunaikan ibadah, daripada membuang-buang waktu hanya untuk berdebat.


Setelah menunaikan ibadah aku langsung bersiap untuk pulang ke kampung halaman Anniyah setelah berpamitan kepada Nikmah saat ia sedang berada di kamar mandi. Tanpa mendengar jawaban darinya, aku sudah melenggang pergi.


Secara bersamaan kulihat Mbak yang membantu pekerjaan rumah Nikmah sedang menyapu halaman depan, aku pun pamit dengannya. Tiba-tiba perutku berbunyi, pertanda minta di isi, rasanya tidak mungkin aku masuk ke rumah kembali hanya karena ingin mengisi perut.


Sebuas apa aku semalam, sampai-sampai tenagaku terkuras habis hingga kelaparan begini. Karena ini masih terlalu pagi lebih baik aku ke taman kota saja untuk mencari penjual nasi kuning, biasanya pagi-pagi begini Amangnya sudah berjualan disana.


Pun aku segera melajukan motorku menuju ke taman, tak begitu lama aku sudah sampai dan benar saja ada penjual nasi kuningnya dan terlihat sangat ramai pembelinya, mungkin karena hari minggu sehingga banyak orang yang datang ke taman. Ada yang sedang berolah raga, ada pula yang menikmati hari minggu mereka bersama keluarganya.


Aku memarkirkan motorku tak jauh dari rombong si penjual nasi kuning tersebut. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pembelinya mulai berkurang dan aku segera memesan seporsi nasi kuning plus ikan lauknya.


Sembari menunggu di buatkan aku mencari tempat duduk di alas tikar bawah yang sudah di sediakan. Pikiranku kembali mengingat kejadian semalam saat aku dan Nikmah bermain, dan sepertinya yang aku ingat aku tengah bermain dengan Anniyah.


" Terima kasih Mang." Ujarku yang segera menyantap sarapanku.


Disaat tengah menikmati sarapan pagiku, sebuah tepukan di pundakku mengagetkanku spontan aku menoleh ke samping untuk melihat siapa gerangan yang menganggu waktuku.


" Ternyata benar kamu Cak, lagi sarapan ya? Maaf kalau sudah mengganggu waktu Cacak." Seru seorang pria yang tidak lain adalah Kholil mantan suami dari Anna, yang itu berarti mantan Adik iparku.


" Eh kamu Lil, mau di pesankan nasi kuning juga?" Sahutku seraya menggeser tubuhku agar ia bisa duduk.


" Oh tidak Cak, terima kasih aku sudah sarapan tadi di rumah. Tumben kita bisa ketemu disini. Cacak dari rumah atau mau pergi?" Tanyanya yang kepo.


Apa istilahnya kalau bukan kepo, penasaran ya sama saja. Ya Allah karena sering berinteraksi drngan Anna omonganku jadi kayak anak muda sekarang.


" Setelah ini mau pulang ke kota Anniyah-lah. Sepertinya kamu baru saja selesai berolahraga ya, sendirian aja?" Tanyaku balik dengan menyoroti penampilannya yang memang memakai pakaian olah raga.


" Ya sendirilah, memangnya mau datang dengan siapa lagi Cak. Oh iya aku baru ingat jika minggu lalu aku sempat melihat Anna di terminal, dia ke tempat Cacak ya, sebab bawa koper gitu." Tanyanya.

__ADS_1


Mendengar itu membuat dahiku mengernyit, sepertinya dia tidak tahu bahwa Anna ke kota untuk mencari pekerjaan. Atau bahkan sebentar lagi akan pergi merantau ke luar pulau, tergantung ia mendapat majikan dimana nantinya.


" Oh itu. Nggak kok, dia 'kan kesini mau bekerja dan kemarin baru masuk yayasan."


" Yayasan? Yayasan apa Cak? Anna mau bekerja?" Tanyanya yang terlihat sangat terkejut.


" Ya iyalah. Dia 'kan punya anak yang harus di biayai. Eh kamu kok kurusan gitu?" Tanyaku yang terus menyorotinya.


" Perasaan Cacak aja. Eh, tapi 'kan setiap bulannya aku sudah mengiriminya uang Cak buat Erika." Elaknya yang sepertinya belum mengerti.


" Ya uang dari kamu 'kan untuk biaya Erika. Memangnya Anna tidak membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, sudah paham sekarang." Terangku yang seketika membuatnya menunduk sedih, aku tahu gimana perasaanya saat ini, sebab aku pernah di posisinya dulu saat perpisah dengan Nikmah.


Ya Allah menyebut namanya membuatku mengingat kejadian tadi malam, walaupun samar-samar namun aku masih sedikit sadar jika terus menerus menyebut nama Anniyah di sela kegiatanku. Tidak kebayang gimana wajah Nikmah menaham amarah semalam. Ya sudahlah yang penting dia sudah senang dengan keinginannya itu, toh memang itu juga haknya yang baru aku berikan walau dalam keadaan tidak sadar sekalipun.


" Ya sudah aku berangkat dulu ya, sebelum hari semakin panas." Pamitku yang ingin segera melanjutkan perjalanan.


Setelah membayar makananku ke Amang si penjual, aku berjalan ke arah Motor yang langsung bersiap memakai kembali helmku, sejenak aku merogoh ponsel untuk melihat jam, ternyata sudah setengah tujuh, lebih baik segera pergi saja.


" Hati-hati di jalan Cak." Teriak Kholil yang ku balas dengan membunyikan klakson motor dan setelah itu benar-benar pergi meninggalkannya yang masih dalam keadaan merasa bersalah kepada Anna.


Semoga kalian berdua secepatnya segera menemukan pendamping yang tepat dan bisa merasakan kebahagiaan dengan pasangan kalian masing-masing, Aamiin..


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2