
Aziz_PoV
*
Semua orang punya cara yang berbeda untuk mengenang seseorang yang pernah begitu dekat di hati. Tak sedikit yang memilih cara tertentu untuk mengingat mantannya. Misalnya memfokuskan diri pada hal-hal negatif demi melunturkan perasaan yang masih tersisa. Tentu saja tak sedikit pula yang lebih memilih menjadikan mantan sebagai bagian dari memori terindah atau terburuk.
Apalagi melupakan mantan istri yang sudah menemani kita sepuluh tahun lebih hingga mempunyai empat orang anak. Mungkin kita bisa melupakan orangnya, akan tetapi kita tidak bisa melupakan kenangan indah yang pernah terukir di dalam benak kita.
Aku dan Anni memang tidak ingin mengatakan kebenaran statusku kepada kedua orangtuanya. Terlebih hubunganku dengan mantan istriku Nikmah sudah berakhir jadi tidak ada lagi yang perlu di bahas. Namun kami justru keceplosan bicara pagi ini, saat kami—Aku dan Anni sedang duduk di teras dan membahas kedatangan Nikmah, suami barunya beserta anak-anak ke rumah Abah. Kami di kejutkan dengan kehadiran Ibu mertuaku yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu utama.
Terkejut? Tentu saja. Kami tak menduga dengan kedatangan beliau, sebab aku kira masih di dapur atau di belakang rumah. Kalau sudah seperti ini, aku harus bagaimana lagi jika bukanengatakan yang sejujur-jujurnya pada Ibu mertuaku.
Dan disinilah kami sekarang duduk di ruang tamu berempat. Aku, Bapak mertua dan Ibu mertua duduk di kursi, sedangkan Anni duduk di dipan dengan kedua kakinya berselonjor di atas, di sampingnya ada Zia yang sudah kembali terlelap.
Pada akhirnya aku pun menceritakan segalanya, asal mula aku bertemu dengan Anni, perlakuan Budhenya kepada Anni, hingga aku membantunya mencarikan tempat tinggal. Dan berakhir di paksa menikah Anni dengan statusku yang sudah memiliki seorang istri dan mempunyai empat orang anak. Hingga Rumah tanggaku dengan istri pertamaku hancur, dan berakhir dengan perceraian. Aku sangat membenci perselingkuhan, itu adalah cara yang paling menjijikkan seumur hidupku.
Kulihat raut wajah Bapak dan Ibu mertuaku yang shock. Tentu saja, siapa yang tidak shock setelah mendengar kisah awal kami yang berakhir seperti ini. Dan sekarang tinggal aku dengar jawaban dari mereka berdua sekarang, bagaimana menanggapinya setelah ini.
" Jadi, kamu yang yang telah merusak rumah tangga orang lain benar itu Niyah?" Tanya Ibu mertusku pada Anni, dengan tatapan kecewa, sebab aku langsung menatapnya begitu terdengar ucapannya yang menuduh putrinya sendiri.
" Maafkan Aziz yang lancang Bu. Tetapi bukan Anni yang merusak rumah tangga Aziz, karena mantan istri Aziz sendirilah yang telah merusaknya. Ini tidak ada hubungannya dengan Anni." Ujarku berusaha membela istriku yang terdiam.
__ADS_1
" Terlepas itu perbuatan mantan istriku atau bukan. Namun tetap saja Niyah yang pada awalnya merusak hubungan rumah tangga kalian." Sahut Ibu, lalu pandangannya beralih menatap Anni istriku. " Ibu tidak oernah mengajarkan hal seperti itu Niyah, apa salah Ibu?" Lirihnya yang entah sejak kaoan wajah tuanya sudah sembab oleh air mata.
Aku jadi serba salah sekarang. Aku makin tidak tega saat Anni hanya bisa terdiam menunduk. Saat kami bertiga pada larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja suara Bapak mertuaku mengintrupsi, membuat kami semua menatapnya.
" Sudahlah Bu. Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir untuk putrimu. Kita harus legowo." Ujar Bapak mertua yang mencoba menenangkan hati istrinya.
" Legowo-legowo. Ini semua juga salah Bapak! Ini karma buat Bapak! Yang suka gonta-ganti perempuan, Bapak tanggung sendiri akibatnya!" Teriak Ibu menggelegar, setelahnya bangkit berdiri dan berjalan ke arah belakang rumah.
Sementara Aku di buatnya sangat terkejut, juga tidak percaya. Aku yakin suara kencang Ibu mertuaku tadi sampai terdengar hingga ke jalan besar sana sangking kerasnya. Dan apa maksudnya Bapak yang gonta-ganti perempuan? Apakah mungkin—
" Maaf Nak Aziz atas perkataan istriku tadi mungkin membuatmu terkejut juga malu. Jujur Bapak juga malu mendengarnya. Tapi ya sudahlah, namanya juga orang pasti punya masa lalu yang kelam. Sebaiknya kalian berdua sarapan, sudah siang. Bapak tinggal ke belakang dulu ya." Pamitnya yang kemudian berjalan ke belakang, mungkin menyusul istrinya.
" Adek ambilkan makan dulu ya Bang." Tanpa mendengar jawabanku, Anni sudah berjalan pelan ke arah dapur menyiapkan dua piring nasi beserta lauk pauknya untuk kami berdua, aku hanya memgangguk.
Tak lama ia kembali dengan dua piring di kedua tangannya, lalu satu piring ia sodorkan padaku, yang langsung aku terima dan tak lupa mengucapkan terima kasih padanya. Kami makan sambil terdiam dengan pikiran mading-masing.
***
Begitu terlihat matahari mulai bersinar naik, aku mengajak Zia untuk berjemur di halaman rumah depan yang memang rumah mertuaku menghadap ke arah timur, sehingga tidak perlu repot mencari tempat yang terkena sinar matahari.
Di rumah hanya tinggal kami berdua, Bapak mertua ke kebon mencari rumput untuk ternaknya. Sementara Ibu mertua pergi bekerja ke kebun pabrik, yang kata Anni istriku, Ibu adalah seorang mandor disana, wah hebat sekali kataku pada Anni pada saat itu.
__ADS_1
" Bang, pasti Abang masih kepikiran perkataan Ibu tadi ya?" Tebak Anni yang sudah duduk di sampingku, aku hanya menolehnya sekilas, lalu kembali menatap Zia yang mulai mengeliat karena terkena sinar matahari.
" Sebenarnya Adek tidak tahu secara detail bagaimana kisah kedua orangtuaku. Namun Ibu pernah cerita jika Bapakku pernah menikah tiga kali sebelum terakhir menikah dengan Ibu untuk yang ke empat kalinya." Ujar Anni yang mulai bercerita.
Tentu saja aku di buat terkejut olehnya." Empat kali menikah? Yang benar saja? Lalu?" Aku pun mulai penasaran dengan kisah kedua mertuaku.
" Istri pertama rumahnya tidak jauh dari sini, nanti kapan-kapan Adek ajak kesana. Bapak mempunyai satu anak laki-laki di pernikahan pertamanya, yaitu bernama Mas Armand. Yang kini tengah bekerja merantau bersama Pakdheku—Mas kandung dari Ibuku. Lalu istri keduanya tinggal di daerah pelosok namun masih satu kota dengan kami, dan mempunyai dua orang anak, yaitu bernama Mbak Susi, dan Mbak Susan. Yang katanya semua bekerja di kota besar, mereka berdua jarang datang ke rumah ini, namun sekalinya datang berhari-hari tinggal di rumah. Dan Ibu pun menyambut kedatangan mereka dengan sangat baik, sudah menganggap mereka seperti putra-putri kandungnya sendiri. Dan istri ketiganya aku nggak tahu, karena Ibu juga tidak pernah tahu keberadaannya, namun kata Ibu Bapak mempunyai satu anak laki-laki yang hingga sampai saat ini tidak tahu dan tidak pernah berkunjung kesini. Mungkin sudah lupa dengan Bapak, sebab kata Ibu kedua mertua Bapak tidak menyetujui hubungan mereka." Terang Anni panjang lebar.
" Mulia sekali hati Ibu. Semoga kebaikannya di terima oleh Allah SWT, Aamiin..." Pujiku.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1