
Anniyah_PoV
*
" Niyah coba lihat ini anakmu bermain air pembuangan, cepat sini dulu!" Teriak Ibuku dari arah belakang.
Air pembuangan?
Karena penasaran aku segera keluar dari kamar mandi, cucian yang tinggal satu kali bilas, aku tinggal begitu saja. Fokusku sekarang ke arah Zaheera, entah apa lagi yang tengah ia mainkan, ada saja kelakuan ajaib yang bocah itu lakukan.
" Astagfirullah.. Ya Allah Zaheer senang sekali main beginian, ayo Ami mandiin lagi. Kok Ibu biarin dia main beginian sih." Keluhku yang tanpa sadar sudah meyalahkan Ibu.
" Kok Ibu yang kamu salahin, anakmu itu yang nakal sudah di angkat menjauh balik lagi. Urus saja sendiri!" Gerutu Ibu seraya melenggang pergi sambil menggendong Erika.
Aku langsung menghela napas panjang, sedikit menyesal tidak seharusnya aku bicara seperti itu tadi kepada Ibu. Tapi entah mengapa aku merasa sikap Ibu semakin hari semakin berubah.
Sikap Ibu sangat berubah, spa ini semua karena efek lelah mengasuh Erika yang jauh lebih aktif anaknya di bandingkan Zaheera. Jika aku lihat dengan seksama, Erika dan Zaheera ini seperti aku dan Anna sewaktu kecil. Dari mulai tubuhnya, aktif tingkahnya, sikapnya, kami seperti terlahir kembali melalui anak-anak kami.
Ibu juga sekarang pilih kasih antara cucunya, walau nyatanya Zia adalah cucu kesayangannya, namun sekarang yang lebih di pentingkan dan di perhatikan adalah Erika. Ya aku sadar Erika memang membutuhkan kasih sayang dari kami di saat kedua orangtuanya harus berpisah.
Tapi kenapa Ibu yang harus berubah? Sekarang lebih sering marah-marah, apapun yang aku kerjakan selalu marah tidak sesuai harapnnya. Jika lama-lama seperti ini, tentu saja aku yang tidak betah berada satu rumah dengan Ibu.
Apa memang sebaiknya aku mencari kontrakan saja? Atau membeli rumah yang murah, tabungan aku aku miliki sepertinya cukup untuk menyewa rumah yang kecil, tak apalah yang penting bisa untuk di tinggali. Terlepas dari ini semua aku juga ingin mandiri, tidak terus bergantung pada Ibu.
__ADS_1
Tidak mungkin aku kembali tinggal di rumah Nenek, karena sudah ada Mas Anton dan istrinya. Ya sudahlah, mungkin ini yang terbaik, urusan Bang Aziz nanti bisa di bicarakan belakangan dan aku yakin dia juga setuju dengan keputusanku ini. Aku baru ingat jika ada rumah kosong di ujung kampung ini.
Setelah menjemur baju, diam-diam aku keluar rumah mengajak Zaheera serta Zefa dalam gendonganku, untung Zia masih berada di sekolah sehingga tidak ribet harus membawa tiga anak kecil sekaligus. Setelah berjalan kaki sekitar sepuluh menit akhirnya sampailah aku di depan rumah kosong tersebut, justru sekarang aku bingung harus bertanya kepada siapa kira-kira yang tahu rumah ini masih kosong atau sudah ada yang menempati.
Saat akan berbalik pulang, terdengar suara orang memanggil, aku pun menoleh sepertinya tetangga rumah kosong itu terlihat saat beliau muncul dari samping rumah yang cukup besar tersebut.
" Cari siapa Nak?" Tanya Ibu-ibu yang tadi memanggilku, perlahan aku pun mendekat.
" Maaf Bu numpang tanya, apa Ibu tahu pemilik rumah di sebelah itu, saya dengar rumah itu di kontrakkan, apakah masih kosong saat ini?" Tanyaku begitu penasaran.
" Oalah, kamu mau cari rumah kontrakan. Tapi sayang sekali, Ibu dengar-dengar rumah sebelah itu sudah ada orang yang mau ngontrak, kamu kalah cepat Nak. Kalau boleh tahu kamu ini orang mana?" Sahut si Ibu memberitahuku, ada sedikit rasa kecewa yang tidak bisa aku keluarkan.
" Oh begitu ya Bu. Berarti saya terlambat datang. Saya asli orang sini Bu, putrinya Bapak Zainal, rumah belakang Mushola." Sahutku masih dengan rasa kecewa, tapi yang tentunya tidak aku perlihatkan kepad orang lain
" Oalah kamu ini anaknya Zainal toch, ya jelas Ibu kenal, siapa yang tidak kenal Zainal si supir Bulldozer sekampung ini juga pasti mengenalnya, Ibumu namanya Titik 'kan? Ibu juga kenal. Tapi ngomong-ngomong kamu mau cari rumah kontrakan buat apa, 'kan masih tinggal di rumah Bapakmu, terus apakah kedua anak ini adalah anakmu? Sini duduk dulu." Ujarnya mengajakku duduk di teras rumah beliau. Yang ternyata katanya sangat akrab dulu sama Bapak teman sekahnya.
" Anak kamu sudah tiga? Ya itu bagus sekali anak yang sudah besar apalagi sudah berumah tangga harus belajar mandiri. Sebenarnya Ibu punya rumah di daerah dekat kecamatan sana, terpaksa Ibu kosongkan karena di minta tinggal di rumah ini oleh anak Ibu untuk menemaninya, sebab putri Ibu baru saja melahirkan terus suaminya ini tengah bekerja di kota juga jarang pulang, jadilah Ibu memilih menetap disini saja, ." Sahut si Ibu bercerita panjang lebar, juga sekaligus menasehatiku.
Beliau sangat terkejut mengetahui anakku sudah tiga, tapi memang kenyataannya seperti itu. " Jadi rumah Ibu di kontrakkan atau di jual?" Tanyaku yang penasaran.
" Kamu serius mau menempati rumah Ibu, tapi sudah cukup lama lho Ibu tinggal. Rencananya sih mau Ibu jual saja, toch tidak ada siapa yang mau menempati, sudah begini saja saya jual murah untuk kamu Nak." Tawar si Ibu yang justru ingin menjual rumahnya kepadaku.
Jujur aku sedikit keget, memang aku juga punya niatan membeli rumah sendiri, tapi apa ini tidak terlalu cepat? Tapi jika murah, tentu saja aku pasti mau apalagi rumah daerah sana airnya cukup lancar sebab sudah air Pam, tidak seperti di kampung ini airnya dati sumber mata air, jika tidak hujan maka lancar terus, tapi jika hujannya besar, air pipanya bisa terputus dan kami sekampung pun susah mendapatkan air bersih.
__ADS_1
" Maaf Bu, kalau boleh saya tahu kira-kira rumah Ibu mau di jual berapa ya, tapi ini saya tanya dulu ya." Tanyaku dengan hati-hati.
" Ibu jual murah saja untuk kamu, toch Ibu juga kenal baik dengan Bapak dan Ibumu. Ibu kasih tujuh juta saja, sebab gubuk Ibu ini masih sangat sederhana dindingnya juga masih bambu, jadi gimana apa kamu berminat?" Sahut si Ibu yang sudah menyebutkan nominalnya.
Yang tentunya membuatku sedikit shock, tidak menyangka dengan harga rumah yang beliau tawarkan padaku. Kalau ini sih masih di bilang sangat murah, aku jadi penasaran seperti apa rumah yang beliau bilang sederhana. Buatku tidak masalah mau masih berdinding bambu atau dinding triplek yang penting masih bisa di tinggali dan atapnya tidak bocor.
" Maaf lagi Bu, kira-kira ada berapa kamar ya di rumah Ibu.?"
" Ada dua kamar Nak, ruang tamu, dapur dan kamar mandinya terpisah ada di belakang rumah, juga di samping rumah masih ada lahan yang kosong mau di buat kebun atau kandang ayam pun juga bisa. " Jelasnya kembali.
Entah mengapa belum melihat kondisi rumahnya saja aku sudah sangat bersemangat sekali, apalagi sudah melihatnya langsung. Apa ini efek ikarena ingin segera pindah rumah dan bisa tinggal di rumah sendiri sehingga membuatku seperti ini?
Ya Allah sudah jam berapa ini, sepertinya Zia akan segera pulang. Aku harus segera pulang ini takunya Zia nanti menangis karena tidak menemukanku di rumah.
" Jadi gimana Nak?" Tanya si Ibu lagi membuatku sedikit terkejut, karena aku tak kunjung menjawabnya.
" Ya Allah Bu maaf-maaf. Sepertinya saya tertarik untuk membeli rumah Ibu. Nanti saya datang ke rumah Ibu lagi ya untuk lebih jelasnya gimana, maaf ini soalnya putri sulung saya sudah waktunya pulang sekolah, takutnya dia mencari saya, karena tidak di rumah." Sahutku merasa sedikit tidak enak hati.
" Oh ya sudah tidak apa-apa Nak, tapi ini Deal ya, kalau iya Ibu tunggu kabar selanjutnya dan Ibu tidak menawarlan kepada orang lain lagi." Ujar si Ibu yang ingin memastikan apakah aku serius atau tidak.
" Iya Bu Deal, insya Allah saya serius membeli rumah Ibu, dan secepatnya bisa langsung menempatinya, sekali lagi saya minta maaf harus pamit lebih dulu. Besok atau lusa saya datang lagi ke rumah Ibu. Kalau begitu saya permisi dulu ,,Assaalamualaikum.. ayo sayang." Pamitku seraua menggandeng Zaheera yang tadi main pasir di depan rumah.
~tbc
__ADS_1
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.