
Wirra begitu antusias saat menemani Meyta menjalani program kehamilan. Pria itu bahkan kerap melanggar janji pada Anna. Karena Meyta selalu memintanya untuk menginap setiap mereka selesai menjalani pemeriksaan. Anna pun tidak mempermasalahkan hal itu. Kehamilan Meyta, tak hanya dinanti oleh Wirra. Anna pun begitu menanti seorang penerus dari Wirra Pramudya.
Dan tak butuh waktu yang lama. Setelah dua bulan Meyta melepaskan alat kontrasepsi, wanita itu dinyatakan telah berbadan dua.
Meyta yang merasa mual dan pusing, mengecek kalender yang terdapat pada ponselnya.
“Sudah telat hampir dua Minggu,” lirih wanita itu sembari tersenyum tipis.
Meyta pun membeli beberapa macam alat tes kehamilan. Dan mencobanya keesokan pagi. Senyum Meyta yang sedari pagi tak pernah luntur, semakin terkembang. Wanita itu tersenyum sumringah.
“Garis dua!” ucap Meyta dengan suara tertahan. Wanita itu memang tak mau ada orang yang mendengar ucapannya. Dia ingin Wirra yang pertama kali tau mengenai kabar kehamilan ini.
Meyta sengaja tak langsung menghubungi sang suami. Dia ingin memberitahukan kabar membahagiakan itu secara langsung pada Wirra.
Itu artinya Meyta harus menunggu selama dua hari lagi. Karena Wirra tengah berada di kediaman Anna dan akan datang ke pelukannya dalam waktu dua hari.
Namun, sisi keegoisan Meyta berkata lain. Wanita itu tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dirinya tengah hamil, kini. Mulai detik ini juga, Wirra harus selalu memprioritaskan dirinya. Meyta pun memotret hasil tes yang tertera pada alat tes kehamilan itu.
Meyta bahkan langsung mengirimkan potret itu pada Wirra. Dan Wirra yang tengah menyantap makan paginya bersama Anna, langsung menghubungi istri keduanya itu.
“Kamu benar-benar hamil, Sayang!” pekik Wirra begitu Meyta menjawab panggilan telepon itu. Anna yang tengah makan pun seketika mengangkat kepalanya dan menatap Wirra yang kini tengah berbicara dengan nyaring.
Hamil? Meyta sekarang sedang hamil?
Anna tak mau menyela pembicaraan antara Wirra dan Meyta. Jika adik madunya itu benar-benar tengah berbadan dua, sang suami pasti sangat berbahagia saat ini. Wirra pasti masih ingin memberikan Meyta banyak pertanyaan. Dan Meyta pun pasti ingin berbagi banyak cerita pada suami mereka.
“Iya, iya, aku akan segera ke sana.”
“Iya, Sayang. Aku ke sana sekarang juga. Aku juga tidak akan ke kantor. Hari ini aku akan menemani kamu ke rumah sakit.”
Melihat wajah Wirra begitu berbinar, Anna pun turut merasa bahagia. Walau dia tak bisa memberikan keturunan pada Wirra, setidaknya ada wanita lain yang bisa memberikan penerus untuk pria itu.
__ADS_1
Wirra bergegas. Pria itu bahkan tak menghabiskan makanan di piringnya. Wirra benar-benar ingin segera bertemu Meyta, memeluk wanita yang begitu dicintainya itu, lalu memeriksakan calon bayi mereka.
“Mas, mau ke mana?”
Langkah Wirra seketika terhenti saat mendengar Anna bertanya padanya.
Sebenarnya Anna tau tujuan pria itu. Tapi Anna berpura-pura tak mengetahuinya. Anna ingin Wirra sendiri yang menyampaikan berita itu padanya. Anna juga menginginkan agar Wirra meminta izin padanya lebih dulu.
“Aku harus ke rumah Meyta sekarang, An.”
Anna hanya memberikan tanggapan dengan melihat Wirra dengan tatapan datar. Bukan ucapan yang seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin Wirra menjelaskan padanya mengenai alasan dirinya harus pergi dengan terburu-buru. Terlebih itu adalah pergi ke kediaman adik madunya. Anna menginginkan jika Wirra dapat membagi sedikit kebahagiaan itu padanya.
“Mey hamil, An,” ucapnya Wirra kemudian.
Anna tersenyum lembut. Wanita itu lantas melangkahkan kakinya ke arah Wirra dan memberikan pelukan hangat pada sang suami.
“Selamat ya, Mas. Akhirnya, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah. Aku sangat senang mendengarnya,” ucap Anna dengan tulus.
“Meyta sudah memeriksa kehamilannya?”
“Maaf ya kalau aku tidak bisa menghabiskan sarapanku. Meyta menginginkan aku secepatnya ke sana. Katanya dia mual dan pusing,” lanjutnya.
Anna kembali tersenyum. Kali ini wanita itu menganggukkan kepala.
“Iya Mas. Kamu memang harus secepatnya melihat kondisi Meyta. Biasanya, kalau lagi hamil muda memang seperti itu. Kamu dampingi saja Mey sampai dia membaik Mas.”
Ucapan Anna benar-benar membuat Wirra merasa lega. Dia memang sangat ingin mendampingi Meyta di masa-masa kehamilan. Dia ingin menjadi calon ayah siaga yang selalu ada saat dibutuhkan.
Wirra pun berpamitan dengan Anna. Pria itu gegas menyalakan mobil dan tancap gas menuju kediaman Meyta.
Anna menatap kepergian sang suami dengan mata sendu. Walau dia ikut senang mendengar kabar kehamilan adik madunya, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Anna merasa cemburu pada Meyta.
__ADS_1
Anna cemburu karena dia tak bisa membuat Wirra tersenyum begitu bahagia seperti yang dia lihat tadi.
...----------------...
Sementara itu, di kediamannya, Meyta menanti sang suami di dalam kamar. Meyta menunggu Wirra dengan tak sabar. Berulangkali wanita itu menghubungi Wirra dan menanyakan keberadaan pria itu. Dia benar-benar ingin memastikan jika Wirra akan mendatangi dirinya saat ini juga.
Dan setelah satu jam menunggu, Wirra akhirnya tiba di sana.
“Rara sudah berangkat sekolah ya, Bu? Mey di mana, Bu?” tanya Wirra saat melihat sang mertua yang berada di teras rumah.
“Rara sudah pergi dari tadi. Kalau Mey ada di kamar. Kamu ke sini karena Mey sedang tidak sehat ya? Wajahnya memang sedikit pucat sih.”
“Wajahnya pucat, Bu?!” tanya Wirra khawatir.
“Iya.Tadi sih ibu lihat wajahnya sedikit pucat. Mungkin kurang tidur atau kecapean,” jawab sang mertua.
Alis Wirra berkerut mendengar penuturan sang mertua. “Bukannya Mey hamil, Bu?”
“Hamil?!”
Wirra menganggukkan kepalanya. Sang ibu mertua begitu terkejut mendengar penuturan Wirra. Wanita lanjut usia itu melangkahkan kaki secepatnya. Dia bahkan meninggalkan Wirra, lalu mengetuk pintu kamar Meyta hingga sang anak kandung membukanya.
“Kamu baru datang Wir?” tanya Meyta yang melihat sang suami berdiri tepat di belakang sang ibunda.
“Kamu hamil, Mey?!” tanya sang ibunda. Meyta menatap sang suami, lalu beralih ke ibunda dan memberikan jawaban dengan mengangguk.
“Benar kamu hamil?!” tanya sang ibunda sekali lagi. Meyta berbalik bada dan mengambil alat tes kehamilan yang tadi sudah di cobanya.
“Tadi pagi Mey tes, dan hasilnya garis dua, Bu,” jawab Meyta.
Sang ibunda seketika memeluk Meyta dan memberikan ucapan selamat. Tak hanya pada Meyta, wanita lanjut usia itu juga memberikan ucapan selamat pada Wirra.
__ADS_1
Pagi itu, Meyta dan Wirra langsung memeriksa kandungan. Wajah Wirra begitu berbinar saat melihat janin yang tumbuh dalam rahim Meyta. Impiannya benar-benar terwujud, saat ini. Menjadikan Meyta sebagai ibu dari anak-anaknya.
Wirra tak dapat menahan rasa harunya. Pria itu bahkan meneteskan air mata.