
“Bu .... Rara takut, Bu...”
Satu kalimat yang meluncur dari bibir Mutiara, berhasil membuat Anna panik. Bagaimana tidak, gadis kecil itu berbicara sembari menangis sesenggukan.
Apa yang terjadi dengan Mutiara? Kenapa gadis kecil itu begitu ketakutan?
“Apa Bu Anna bisa ke sini? Rara takut, Bu. Rara takut,” ucap gadis kecil itu sembari menangis sesenggukan.
Berulangkali Anna menanyakan apa yang menyebabkan gadis kecil itu begitu ketakutan. Namun, Mutiara tak menjawabnya. Anak tirinya itu hanya terus meminta agar Anna segera datang.
“Iya sayang. Ibu dan papa Wirra segera ke sana. Kamu tenang ya, sayang,” ucap Anna.
Wanita itu pun segera mengguncang tubuh sang suami agar pria itu segera bangun dari tidurnya.
“Kenapa An? Ini masih siang. Kita berangkat sore saja agar tiba di villa saat makan malam,” ujar Wirra yang masih enggan membuka matanya. Rasa lelah dan kantuk karena bersenang-senang dengan Anna semalam suntuk, membuat Wirra masih ingin beristirahat beberapa jam lagi.
“Rara menelpon, Mas. Dia menangis dan ketakutan,” ujar Anna.
Wirra seketika terbelalak. Pria itu lantas menegakkan tubuhnya.
“Kenapa?!”
Anna menggelengkan kepalanya, “tidak tau, Mas. Rara tidak mengatakan kenapa dia bisa ketakutan. Dia cuma bilang kalau dia takut,” lirih Anna.
Dahi Wirra berkerut mendengarnya. Kenapa anak tirinya itu tidak memberitahu alasan ketakutannya? Apa gadis kecil itu diminta oleh Meyta untuk berbohong agar dirinya segera tiba di sana?
“Mas ... Ayo bersiap!” pekik Anna.
“Memangnya semua perlengkapan untuk kita menginap di villa, sudah kamu siapkan semua?”
“Menginap?!” tanya Anna heran. Wirra mengangguk dengan santai.
“Kok kamu bisa-bisanya masih memikirkan liburan sedangkan anak kamu ketakutan? Kamu tidak memikirkan kondisi Rara?”
Wirra menghela napas panjang.
“Paling itu hanya akal-akalan Meyta agar aku cepat pulang. Rara tidak mengatakan alasan dia merasa takut kan? Bisa saja Rara takut dimarahi mamanya kalau aku tidak segera pulang.”
Mata Anna melotot. Wanita itu begitu marah pada Wirra. Dia meninggalkan pria itu dan bersiap-siap seorang diri. Wirra pun kembali merebahkan diri saat Anna masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
“Kamu benar-benar mau ke sana, sekarang?” tanya Wirra. Namun Anna tak menanggapi ucapan pria itu. Untuk pertama kalinya Anna abai terhadap Wirra.
Dia begitu marah kepada suaminya itu.
“An, kamu marah?”
Kembali Anna mengabaikan sang suami. Yang wanita itu pikirkan hanyalah Mutiara. Dia ingin segera bertemu dan memeluk gadis kecilnya itu.
“Itu pasti ulah Mey, An. Kamu tau sifat Mey, kan?”
“Aku tidak terlalu mengenal karakter Mey, Mas. Tapi aku tau betul sifat Rara. Dia bukan anak yang mudah dihasut bahkan itu oleh ibu kandungnya. Dia anak yang kritis, cerdas dan jujur. Rara menghubungiku sambil menangis, Mas. Dia bilang kalau dia takut. Berulangkali dia mengatakan kalau dia takut. Dan aku tidak bisa mengabaikan rasa takut anak itu. Walau dia bukan anak kandungku, bahkan dia anak dari maduku, tapi aku sangat menyayangi Rara.
Kalau Mas tidak mau ke sana untuk melihat kondisi Rara. Biar aku yang ke sana. Dia bahkan tidak meminta kamu untuk datang. Dia memintaku untuk datang ke sana. Jadi, aku akan datang!”
Wirra mengembuskan napas panjang. Pria itu meraih ponsel Anna saat sang istri hendak memesan taksi.
“Biar Mas antar. Tapi, tunggu sebentar, mas mau mandi sebentar, oke?”
“Jangan lama-lama!” ketus Anna.
Wirra tersenyum sumringah. Kebaikan hati Anna membuat pria itu begitu bahagia. Dia bahagia karena memiliki Anna sebagai istrinya.
Anna berlari masuk ke dalam rumah begitu tiba di sana. Mutiara adalah tujuannya. Dia mencari gadis kecil kesayangannya itu.
“Rara di mana, Bu?” tanya Anna.
“Di kamarnya. Dari tadi dia mengurung diri di kamar dan menangis.”
Anna segera mengetuk pintu kamar gadis kecil itu. Dan Mutiara seketika mendekap Anna yang berdiri di ambang pintu.
“Rara kenapa?” tanya Anna. Gadis kecil itu tidak menjawab. Hanya isak tangisnya yang terdengar. Anna pun mengajak Mutiara berbincang di kamar gadis yang beranjak remaja itu.
Sementara itu, Wirra menanyakan perihal Mutiara yang merasa ketakutan itu pada sang mertua. Sang mertua pun menyeritakan yang terjadi saat itu.
“Setelah Rara dari kamar sambil menggendong Arka, dia terus nangis. Dia tidak mau mengatakan apapun. Dia hanya minta ponsel untuk menghubungi kalian.”
Wirra mengembuskan napas berat. “Kalau begitu, Wirra mau melihat Mey dulu, Bu. Apa Mey sudah mandi?”
“Belum. Dia bahkan tidak menyentuh sarapannya,” jawab sang mertua.
__ADS_1
Wirra pun menemui Meyta dan membantu wanita itu membersihkan tubuhnya. Berulangkali Wirra mengembuskan napas berat karena terus menyaksikan Meyta diam membisu. Bahkan, mata wanita itu selalu terlihat kosong.
Apa tatapan kosong Meyta yang membuat Rara merasa takut? Bukankah sudah belasan hari wajahnya selalu datar seperti ini?
Wirra benar-benar tak mengerti. Jika sang anak tiri menangis dan merasa ketakutan setelah keluar dari kamar Meyta, bukankah itu artinya Meyta lah yang membuat gadis kecil itu ketakutan?
Dan Wirra baru mendapatkan jawabannya, setelah Anna berhasil menenangkan Mutiara. Gadis kecil itu pun menyeritakan apa yang dia lihat.
“Mama sama sekali tidak bereaksi, Pa. Arka jatuh ke lantai tap mama tidak bereaksi apapun,” ucap gadis kecil itu. Mutiara kembali menangis sesenggukan dalam dekapan Anna.
Wirra dan sang mertua tak mempercayainya. Bagaimana mungkin Meyta bisa abai dengan bayinya? Walau Meyta selalu memasang wajah datar beberapa minggu kebelakang, tapi wanita itu tak pernah mengabaikan bayinya. Meyta selalu menenangkan sang bayi jika anaknya itu menangis.
“Mama benar-benar sudah seperti mayat, Pa. Mama bahkan tidak mau sarapan. Apa mama sudah tidak punya keinginan untuk hidup, Pa?” lirih gadis kecil itu.
Semua orang hanya bisa menghela napas berat saat mendengar cerita Mutiara tentang ibunya.
“Mas ... Sepertinya Mey harus dibawa ke psikiater. Dia butuh penanganan medis. Mungkin kehilangan kaki membuat mental Meyta semakin terguncang dari hari ke hari,” ucap Anna.
Wirra tak berkomentar. Pria itu sebenarnya sudah mulai lelah mengurusi Meyta.
Melihat tak ada tanggapan dari sang ayah tiri, Mutiara melepaskan diri dari dekapan Anna. Gadis kecil itu berlutut di depan Wirra yang tengah duduk bersama di ruang tamu kediamannya.
“Tolong mama, Pa,” lirih gadis kecil itu. Anna sampai meneteskan air mata melihat adegan itu.
Wirra ikut berlutut bersama anak tirinya itu. “Sayang, kamu tidak perlu memohon seperti itu. Tanpa kamu minta, papa juga pasti akan membantu mama. Mama kan istrinya papa,” ucap Wirra. Pria itu pu membujuk gadis kecil itu agar kembali duduk di sofa.
Dan setelah berdiskusi bersama, akhirnya Wirra memutuskan untuk membawa Meyta ke psikiater. Namun tampaknya Meyta merasa kesal karena dianggap gila. Wanita itu mengamuk dan mengatakan jika dirinya tidak gila.
Wanita itu bahkan terus menerus menyalahkan Anna dan Wirra atas nasib buruk yang menimpa dirinya.
Meyta berteriak-teriak hingga membuat seisi rumah menjadi panik. Wanita itu bahkan melempar seluruh barang yang berada dalam jangkauannya.
Mutiara pun berusaha membujuk sang ibu agar mau dibawa ke rumah sakit. Namun, Meyta malah mencekik leher anak perempuan kesayangannya itu. Hingga membuat seluruh anggota keluarga bertambah panik.
Wirra bahkan harus membekap Meyta agar wanita itu melepaskan cengkeramannya dari leher Mutiara.
Dan dengan bantuan beberapa tetangga, akhirnya Meyta berhasil ditenangkan secara paksa.
Dengan tubuh terlilit kain panjang, Meyta di bawa ke rumah sakit kejiwaan.
__ADS_1