
Aziz_PoV
Malam semakin larut, setelah kepulangan Nikmah dan juga Rojak, kami semua masuk ke dalam rumah. Ku ajak kedua putraku untuk tidur di kamar denganku, sementara kedua putriku akan tidur di kamar lain bersama Neng Atin.
Sebenarnya aku masih bingung bagaimana bisa Nikmah bersikap seperti itu dengan Rojak di depan semua orang, terlihat seperti sepasang suami istri, atau hanya karena Nikmah menganggap Rojak adalah sepupunya jadi dia bersikap demikian. Di saat makan pun, Nikmah melayani Rojak seperti melayaniku dulu, ada apa ini? Apa mereka sudah menikah?
Sepanjang kami berkumpul Neng Atin selalu berusaha menghindari Nikmah, entah apa alasannya aku juga tidak tahu. Sebab dahulu mereka sahabatan layaknya seperti lem dan prangko, susah di pisahkan jika sedang bersama, lalu kenapa sekarang berubah menjadi kedua ujung magnet yang saling bertolak belakang.
Tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak aku pun menata letak bantal untuk di gunakan tidur kedua putraku. Lalu merebahkan diri di tepi samping mereka, Zikri yang berada di tengah-tengah antara aku dan putraku Aidan.
Di karenakan dua hari lagi akhir tahun, sehingga anak-anak meminta menginap disini, dan ijin tidak masuk sekolah dalam beberapa hari. Itu tidak masalah buatku, toch sekalian aku menikmati kebersamaan dengan mereka berempat.
" Kalia tidak apa-apa menginap disini dengan Abi? Kasihan Umi lho sendirian di rumah?" Tanyaku sembari membelai puncak kepala Zikri yang sudah mulai terlelap, semantara aku tahu putraku Aidan juga masih terjaga.
" 'Kan Umi sudah ada Papa Rojak Bi, jadi Umi pasti tidak sendirian di rumah." Jawab Zikri tanpa membuka kedua matanya yang terpejam.
" Papa?" Aku membeo kebingungan mentapa ke arah kedua putraku yang kedua matanya saling memejam.
" Iya, Papa Rojak, kata Umi kita semua harus memanggil Paman Rojak dengan sebutan Papa." Sahut Zikri kembali.
Deg..
Apa benar dugaanku tadi, jika mereka berdua telah menikah, lalu bagaimana dengan Juleha istrinya Rojak? Apa Nikmah menjadi istri keduanya? Pikiranku seketika berkecambuk, anatra percaya dan tidak percaya dengan apa yang sedang aku.pikirkan saat ini.
__ADS_1
Kemudian aku menatap Aidan yang pada saat itu membuka kedua matanya dan menatapku, pandangan kami bertemu, seolah mengerti Abinya ini sedang kebingungan, Aidan lansung mengatakan tentang hal apa yang aku pikirkan sedari tadi.
" Ya, Umi telah menikah dengan Paman Rojak tiga bulan yang lalu." Ujarnya masih dengan menatapku dengan pandangan yang kecewa.
Aku sedikit terhenyak tidak menyangka putraku Aidan akan menatapku dengan cara seperti itu, yang artinya dia sudah mengetahui tentang keadaan kedua orangtuanya yang sudah bercerai, dan tidak bisa bersama lagi. Ya Allah,, rasanya sungguh menyakitkan di perlakukan seperti ini oleh putra kita sendiri. Namun kenyataannya memang seperti ini, mau bagaimana lagi.
" Kenapa Umi dan Abi harus berpisah?" Tanya Aidan dengan kedua maniknya yang berkaca-kaca. Aku melirik sejenak ke arah putraku Zikir yang berada tepat di sampingku, yang ternyata sudah terlelap entah sejak kapan.
" Maafkan Abi Aidan. Pasti kalian semua kecewa berat dengan apa yang Abi lakukan pada Umi kalian selama ini, namun kami memang tidak bisa kembali bersama. Tapi Abi akan tetap bertanggung jawab pada kalian berempat. Semua ini sudah menjadi suratan takdir dari sang khaliq, Abi tahu kamu masih belum oaham apa yang akan Abi katakan yang sebanarnya, tapi Abi percaya suatu saat Aidan pasti mengerti, dan sekarang kamu fokus saja dengan sekolahmu, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. " Ujarku menerangkan padanya, bahwa tidak semua apa yang kita miliki dan kita perjuangkan di dunia ini akan terus berjalan sesuai apa yang kita inginkan.
" Iya, Aidan mengerti Abi." Sahut Aidan yang kemudian kembali memejam.
Aku hanya bisa menghela napas panjang dan berat saat ini, namun juga sedikit lega, Aidan yang masih berusia sepuluh tahunan bisa bersikap dewasa sama halnya dengan putri sulungku Musdalifah, berbeda dengan Hilda yang usianya di atas Aidan namun cenderung memiliki sifat pemarah dan lebih bersikap kekanakan.
Sudah tidak heran lagi jika wanita yang sedang menyusui pasti na*su makannya akan bertambah berkali lipat, namun itu tidak masalah bagiku, yang penting Ibu dan bayinya sehat, tak apa makan berapa kali pun dalam sehari.
Lalu kubuka pesan-pesannya yang lain, yang bertanya aku dimana? Kenapa tidak di balas pesannya? Dan banyak lagi, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku tersenyum geli. Jariku langsung bergerak akan mengetik sebuah pesan balasan untuknya. Begitu pesan terkirim, tak kunjung ada balasan darinya.
Hingga menunggu beberapa menit lagi tak kunjung di balas juga, aku pun memilih memejam. Namun baru akan telelap, aku baru ingat dan langsung mengecek waktu di ponsel saat ini. Ya Allah pantas saja tidak di balas olehnya, aku langsung terkekeh begitu menyadari kekonyolanku sendiri, sebab saat ini sudah pukul sebelas malam. Yang pasti Anni istri kecilku sudah tentu sudah terlelap.
***
Aku langsung terjaga begitu mendengar seruan adzan subuh berkumandang, aku segera membangunkan anak-anak untuk segera menunaikan kewajibannya. Beruntung anak-anakku sangat patuh dan nurut padaku, sehingga tidak sulit untuk membangunkan mereka semua.
__ADS_1
Begitu sudah siap kami semua segera melangkah ke arah Mushola yang berada tepat di depan rumah. Kedua putriku juga sudah ada di dalam bersama Neng Atin. Setelah selesai kami segera kembali ke dalam, Aidan, Hilda dan Zikri memilih tinggal sebentar di Mushola untuk mengaji. Sementara Mus kembali bersama Neng Atin yang katanya akan membantu memasak, tak heran dengan putri sulungku dia memang sering membantu Nikmah memasak di rumah, ia juga yang paling dekat dengan Neng Atin. Seperti anak dan Ibunya, lengket sekali mereka.
Hari pun sudah terang, setelah menyalakan mesin cuci, aku bergegas ke depan duduk bersama Abah, dan ikut membantu menjaga parkiran. Walau masih dalam suasana berkabung Abah masih tetap membuka tempat parkirnya, sebab hanya pekarangan rumah kami yang paling luas dan bisa di jadikan tempat parkir, apalagi letaknya pas tepat di belakang pasar, sehingga jika menutup parkir mereka semua akan kebingungan menitipkan kendaraan roda dua mereka. Kebanyakan yang parkir adalah para pedagang, namun ada juga orang pembelinya. Namun hanya beberapa saja.
" Ziz, kapan kamu pulang? Kasihan istrimu yang baru saja melahirkan sudah kamu tinggal lagi. Bagaimana pun kamu mempunyai tanggung jawab besar, anak-anak biar saja disini, Abah dan Neng-mu bisa menjaga dan merawat mereka selagi Abah tidak sibuk. Toch cucu-cucu abah semuanya adalah anak-anak yang penurut.
" Iya Bah, Aziz mengerti. Tapi mungkin tunggu setelah tujuh harinya Umma, baru Aziz akan menemani Anni di rumah. Toch_
" Assalamulaikum.." Belum selesai aku menjawab ucapan Abah, terdengar suara seseorang yang baru saja tiba di depan rumah. Setika membuat atensi kami teralihkan dan menoleh ke arah sumber suara.
Degh!!
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1