Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tekad Yang Bulat


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


" Wa'alaikum salam. Maaf dengan siapa ya?" Tanyaku bingung menatapnya, aku melihat Ibu-Ibu seumuran suamiku yang baru aku lihat selama tinggal di rumah ini, dan itu terasa asing.


" Maaf kalau membuat Mbak Niyah bingung. Saya adalah pemilik rumah ini Mbak. Kenalkan namaku Kartini, panggil saja Neng Kar. Aku tahu banyak tentangmu dari Aziz, senang berkenalan denganmu." Sahutnya yang membuatku mengut-mangut mengerti, setelah di jelaskan dan tahu jika wanita tersebut adalah pemilik kontarakn yang aku tempati saat ini, ternyata beliau sangat mengenal Bang Aziz suamiku.


" Oh iya senang juga berkenalan dengan Neng. Jadi Neng Kar adalah pemilik rumah ini, silahkan mampir ke dalam lebih nyaman lagi. mari." Ajakku untuk masuk ke dalam rumah. Beliau pun mengikutiku dari belakang.


Setelah duduk aku tinggal ke belakang untuk membuatkan minuman untuknya. Tak lama aku sudah kembaki ke depan sembari membawa nampan berisi teh hangat yang langsung aku letakkan di atas meja tepat di depannya, sementara Zia aku letakkan di karpet samping kursi sebelum aku berjalan ke belakang tadi.


" Silahkan di minum Neng, maaf hanya ada air saja." Ujarku apa adanya. Dengan uang yang pas-pasan aku harus banyak berhemat jika ingin terus menikmati hidup, brlum lagi beli susu untuk Zia karena air asiku sedikit berkurang sebab kehamilan kedua ini.


" Terima Mbak Niyah, ih iya sudah berapa bulan kandungannya, semoga sehat, lancar sampai hari-H. Aamiin.." Sahut Neng Kar yang ternyata memperhatikan perutku yang membuncit ini.


" Alhamdulillah sudah mau memasuki bulan ke lima ini Neng, terima kasih untuk doanya." Ujarku tersenyum hangat.


" Alhamdulillah, berarti si kecil sudah akan mempunyai Adik, itu mengingatkan saya dulu yang juga hamil anak kedua Mbak. Siapa ini namanya cantik?" Tanyanya yang sedang mengelus pipi tembem Zia.


" Zia budhe, iya Alhamdulillah."


Kami pun mengobrol banyak hal ngalur ngidul, hingga ia menceritakan keluarganya yang ternyata telah mempunyai tiga irang anak, semunya perempuan yang kini dua anaknya sudah bekerja di kota besar. Dan yang satu lagi, si bungsu masih mondok di dekat sini.


Ternyata Neng Kar ini orangnya sangat baik juga ramah sekali, dan kedatangannya kali ini karena ingin membersihkan kembali rumahnya yang ada di sebelah. tepatnya rumah dua ini menempel jadi satu, dan tengahnya di sekat oleh tembok, namun ada pintu penghubungnya yang sudah di tutup rapat.


Mendengar itu, aku ikut senang berarti aku tidak akan sendirian lagi setelah ini, aku pun menawarkan akan ikut membantu membersihkan rumah sebelah, namun Neng Kar justru menolaknya karena tidak ingin aku nanti kecapean, aku pun hanya bisa meringis dan berusaha sedikit memaksanya, walaupun sia-sia.


" Tidak apa-apa Mbak Niyah di rumah saja, setelah ini suamiku juga ajan datang, tadi mampir ke pasar dulu, kalau begitu saya ke samping ya, terima kasih banyak lho jamuannya." Ujarnya berpamitan dan melangkah pergi ke samping. Aku pun hanya tersenyum mengantarkannya hingga ke depan teras hingga ia masuk ke dalam rumahnya.


Setelahnya aku kembali masuk dan memasak sup untuk Zia sarapan dengan sayuran yang masih tersisa kemarin, sembari menunggu Ibu penjual sayur lewat di depan rumah. Setelah itu aku menyuapi Zia hingga setelahnya ia mandi dan tak lama Zia tertidur kembali.

__ADS_1


Tidak sampai malam hari Bang Aziz sudah kembali, ternyata ia mendapatkan pekerjaan di kota mulai minggu depan bersama sahabatnya Roni. Aku hanya bisa mendukung juga mendoakannya semoga suamiku di beri kesehatan selalu untuk mengais rezeki.


***


Beberapa bulan kemudian..


Hari-hari berlalu dengan cepat, dan kini usia kandunganku sudah memasuki usia sembilan bulan lebih dan seharusnya sudah waktunya lahiran, tapi entah mengapa harinya justru mundur.


Bang Aziz juga sering pulang untuk menemaniku walau hanya beberapa hari saja di rumah, namun itu sudah cukup membuatku senang, juga merasa di parhatikan oleh suamiku sendiri. Dan dua hari yang lalu suamiku sudah kembali ke kota. Namun katanya siang ini akan kembali, hanya saja ia ijin akan mampir ke rumah Abah terlebih dahulu, aku yakin nanti sore suamiku sudah pulang.


Dan siang ini aku baru saja menyuapi Zia, dan setelahnya mengajaknya bermain di karpet depan. " Ayo sayang lempar lagi bolanya." Ujarku yang menyemangati putriku.


Zia langsung melempar bola itu ke arah pintu depan, saking semangatnya aku pun langsung beranjak bangun akan mengambil bola karet tersebut. Namun tanpa di duga sebelah kakiku terjengkang sedikit ke arah depan yang untungnya aku sigap hingga aku langsung terduduk berjongkok.


Namun saat aku akan berdiri, tiba-tiba saja perutku terasa mulas juga nyeri. Jangan-jangan ini kontraksi


Dengan sedikit tertatih aku berjalan menuju kamar untuk mengambil ponselku berniat akan menghubungi Bang Aziz yang besar kemungkinan sudah ada di rumah Abah.


Namun hingga beberapa kali menghubungi nomornya tidak aktif. aku pun berjalan untuk mengambil tas kecil juga tas berukuran sedang yang berisi beberapa pakaian bayi juga baju milik Zia yang sudah aku kemas jauh-jauh hari.


" Tunggu sebantar ya Pak, aku panggil suamiku dulu di dalam." Ujarku kepada Bapak yang punya becak, beliau hanya mengangguk sembari mengatakan hati-hati padaku.


Aku berjalan dengan sedikit meringis menahan rasa mulasnya, begitu sampai di teras aku segera mengucapkan salam, dan akhirnya Neng Atin yang keluar menyambut kedatangankuu.


" Wa'alaikumsalam. Cari siapa?" Tanyanya sedikit ketus setelah membalas salamku.


" Maaf Neng, apa Bang Aziz ada didalam, sepertinya saya mau melahirkan, dan berharap Bang Aziz ada di samping saya." Ucapku sedikit memohon agar Kakak iparku ini bisa mengerti dengan keadaanku.


" Halah manja, sedikit-sedikit Aziz, apa-apa Aziz. Kamu tahu, gara-gara kamu rumah tangga Aziz jadi berantakan, hingga ia jatuh miskin. Dan karena kamu juga Ibuku meninggal, lalu sekarang apa?" Sarkasnya sembari menunjuk-nunjuk ke arahku, yang tentunya membuatku shock.


Ya Allah apalagi ini? Bukan hinaan yang ingin aku dengar. Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk aku datang kesini, aku juga tidak ingin Zia ikut mendengarkan ucapan buruk dari Budhenya sendiri. Dan sepertinya juga Bang Aziz tidak ada di dalam, jikapun ada pasti suamiku dengar suara keras Kakaknya ini, begitu pun juga dengan Abah.

__ADS_1


" Jadi Bang Aziz tidak ada di sini Neng? Kalau begitu saya pamit dulu, Assalamualikum." Ucapku yang lebih baik cepat pergi dari sini, sebelum Neng Atin terus melampiaskan kekesalannya itu padaku.


" Ya pergilah, Aziz juga tidak disini, dia sudah mendapatakan wanita yang terbaik tidak seperti dirimu! Jangan pernah datang lagi ke rumah ini!" Teriaknya yang pasti di dengar oleh para tetangga.


Aku sempat berhenti sejenak saat mendengar Neng Atin mengatakan jika Bang Aziz sudah mendapatkan wanita yang terbaik di bandingkan aku istrinya, apa maksudnya itu?


Aku kembali berjalan ke arah Pak becak yang sudah menungguku. " Lho suaminya mana Neng?" Tanyanya heran, karena aku datang sendirian.


" Belum pulang ternyata Pak, ya sudah tolong antarkan saya ke rumah Bidan Ningrum ya Pak, saya sudah tidak tahan lagi." Pintaku sembari memegangi perut buncitku.


" Baik Neng." Dengan cepat di Bapak mengayuh becaknya ke arah jalan besar, yang jaraknya juga tidak begitu jauh dari sini.


Sekitar lima belas menit, kami sudah sampai dan aku segera di bantu oleh Pak becak masuk ke dalam. Dan aku segera di tangani oleh Bidan yang biasa memeriksaku.


" Ini sudah pembukaan tujuh ya Bu, tinggal sedikit lagi." Ujar si Bidan setelah memeriksa kembali setelah melihatku terus merintih.


Sungguh aku merasa begitu sedih karena lahiran kali ini tidak ada Bang Aziz yang menemaniku. " La-lalu dimana putri saya Bu?" Tanyaku yang baru ingat Zia tidak bisa masuk ke dalam ruang bersalin. Bagaimana aku bisa melupakan putriku.


" Ibu tenang saja, putri Ibu aman kok bersama suster di ruang sebelah. Sekarang Ibu fokus dulu untuk melahirkan anak kedua Ibu ya." Jawab Bu Bidan yang seketika membuatku sedikit lega.


Hingga satu jam kemudian bayi keduaku sudah lahir, dan doa yang selalu aku panjatkan sungguh di kabulkan oleh Allah." Silahkan di beri Asinyn Bu, putrinya sangat cantik. secantik Ibunya. Ngomong-ngomong dimana suami Ibu?" Tanya sang Bidan sembari menyerahkan putriku yang mungil nan cantik.


" Oh, suami saya belum pulang Bu, masih bekerja di kota. Saya sangat ingin berterima kasih kepada Bu Bidan karena sudah membantu saya untuk melahirkan putri kedua saya." Ujarku sangat bersyukur di pertemukan dengan orang baik.


" Sama-sama Bu Annniyah, jika ada apa-apa Ibu bisa panggil saya atau suster di luar ya Bu." Ujar sang Bidan sebelum pergi.


Sungguh rasanya aku tidak kuat jika terus berada di kota ini sendirian, dimana Bang Aziz yang jarang pulang. Dan sebaiknya aku pulang ke kampung saja, ada Ibu yang bisa membantuku mengasuh Zia yang saat ini mulai aktif semakin bertambahnya usia. Ya aku harus bertekad setelah pulang dari sini, aku akan langsung mancari kendaraan untuk pulang ke kampung halaman.


...~TAMAT SEASON 1~...


.Tunggu season 2nya sebantar lagi launcing ya...

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2