
"Kok tiba tiba kepikiran sama Rara ya?" Jacky tiba tiba kepikiran tentang wanita yang ia cintai. Segera meraih ponsel lalu menghubungi Aira. Wanita dambaan hati selama bertahun tahun lamanya. "Ayo Ra angkat dong...." Di sebuah kamar bernuansa klasik, dinding motof kayu dengan desaian klasik tersuguh indah. Terlihat seorang lelaki tampan tengah mondar mandir sembari menghubungi seseoramh. Nampak kecemasan menghias di wajah tampan itu.
Drtt.....
Berulang kali suara dering telepon masuk. Tatapan mereka mengarah pada sebuah ponsel warna hitam di atas meja. Ketika Aira baru saja menjulurkan tangan, tiba tiba David lebih dulu meraih ponsel sang kekasih. Melihat nama Jacky tertera pada layar ponsel, membuat lelaki berjas abu abu tersebut mengerutkan dahi. Mata seolah hendak membidik umpan di depan mata.
"Jacky? siapa dia?"
Dengan santai Aira menjawab "Oh dia itu teman lamaku. Dialah orang yang kamu cemburuin waktu itu. Aku dan dia udah lama berteman, bahkan seperti saudara sendiri" Ucap Aira mencoba menjelaskan. Bukan salah Aira jika ia hanya menganggap Jacky sebagai sahabat, karena sejak dulu perasaannya tidak pernah berubah.
"Kenapa dia menghubungi kamu terus menerus? memang ada ya hubungan persahabatan antara lelaku dan perempuan? menurut saya sih itu bukan murni persahabatan, pasti dia ada apa apa sama kamu" Jelas sekali bahwa David terbakar api cemburu.
Aira pun segera meraih tangan David, kemudian di letakkan di atas perutnya"Kamu sudah janji tidak akan berprasangka buruk pada ku lagi. Sebentar lagi kamu akan jadi ayah dari anak kita. Sebagai calon ayah tidak boleh cemburuan, demi anak kita. Kamu tadi sudah dengar sendiri dari bu Dokter, aku nggok boleh banyak pikiran" Tatapan dengan expresi sedikit manja nan menggemaskan.
Siapa tidak luluh melihat wanita cantik dengan senyum tipis tengah bermanja di hadapan lelakinya. David menarik kembali tangan di atas perut Aira "Tapi jangan lama lama"
"Aku janji cuma bicara sebentar" Menyentuh lengan sang kekasih sembari berharap tidak ada lagi kecemburuan antara mereka.
"Baiklah, terserah kamu saja" Memberikan ponsel kemudian duduk. Melipat kedua tangan sembari menatap wajah sang kekasih. David sangat tidak suka jika ada seorang lelaki dekat dengan wanitanya, meski hanya sebatas teman biasa.
"Dih mukanya kaya begitu, senyum dong" Menjentikkan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf (V). Senyum tipis mengembang di ujung sudut bibir Aira "Ayo dong cinta ku, calon ayah dari bayiku, senyum dulu biar tambah ganteng"
"Hemm....." memaksakan senyum sembari membuang pandangan.
Aira pun langsung menelepin balik Jacky "Halo, ada apa Jack?"
Jacky senang akhirnya Aira telepon balik "Kamu kenama saja sih, dari tadi di telepon nggak di jawab? aku tu khawatir sama kamu"
"Maaf, tadi aku lagi ada prablem sedikit"
Mengerutkan dahi "Problem?"
"Aku masuk runah sakit. Tiba tiba kepala pusing terus aku di bawa ke rumah sakit Grida Husada" Belum sempat bicara panjang lebar, telepon sudah terputus.
"Lah, kok malah mati sih" Meletakkan ponsel di atas selimut yang menutupi bagian bawah badannya. Aira melihat ke arah sang kekasih "Kamu sedang apa?" Melihat David tengah mengotak atik ponsel "Masih marah?"
__ADS_1
"Tidak. Saya cuma kesel aja lihat kamu teleponan sama lelaki lain di depan saya" Hendak bangkit namun Aira meraih tangan David.
"Untuk apa cemburu, aku saja tidak pernah cemburu saat kamu tidak sedang bersama ku. Kita itu saling mencintai harus saling memahami dan percaya. Sekarang ini kita akan menjadi ibu dan ayah bagi janin dalam kandungan ku ini. Sekarang aku mau minta kepastian hubungan kita...." Tatapan penuh harapan menggambarkan betapa ingin memiliki apa yang di damba selama ini. "Aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah. Aku mau keluarga kita utuh seperti kebanyakan keluarga di luar sana. Aku, kamu, dan anak anak kita" Mengeratkan genggaman tangan.
Melihat ke arah perut Aira (Apakah benar anak di dalam kandungannya adalah anak ku? kenapa saya sedikit tidak yakin) Gumam David.
"Sayang, sayang....." Ucapan Aira membuatnya tersadar lalu meletakkan tangan ke atas kepala Aira "Kamu tenang saja, masalah itu biar saya yang atur. Sekarang kamu istirahat dulu, saya mau ke luar sebentar" Melebarkan senyum sembari mengusap ujung kepala sang kekasih perlahan.
"Tapi jangan lama lama, ya"
David mengangguk kemudian berjalan menjauh. Sesampainya depan pintu, ia meraih gagang pinti sembari menoleh (Maafkan saya jika ada keraguan di hati ini) Perlahan pintu terbuka.
"Dah....sayang" Aira melambaikan tangan ke arah David.
"Saya harus bertemu dengan seseorang" Ujar David sembari melangkah ke suatu tempat.
Tak berapa lama kemudian sampailah Jacky di runah sakit. Segara ia mencaei di mana kebaradaan Aira sekarang. Dengan bantuan suster ia menemukan ruang rawat Aira.
"Rara....." Berlari kecil kala pintu terbuka. Sosok Aira tergrlrtak di atas rajanng runah sakit dengan jarum infus menancap di tangan kanan. "Kamu kenapa? apa yang terjadi sampai bisa seperti ini?" Melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada luka sedikit pun, tapi kenapa wanita cantik itu bisa di rawat di rumah sakit.
"Kabar gembira?"
"Gue.....gue hamil"
Bagai tersambar petir di siang bolong. Tatapan membulat tanpa kata, serta mulut seolah terkunci rapat.
"Gitu amat mukanya...." Mencubit pelan langan Jacky.
"Hamil? nggak udah bercanda deh. Lo lagi prank gue, kan? nggak lucu tau"
"Gue nggak prank, ini real. Gue benar benar hamil...." Kebahagiaan di wajah Aira membuat Jacky tidak bisa berkata kata.
(Mungkinkah anak itu milik gue?) Dalam hati Jacky bertanya tanya, benih siapa yang Aira kandung saat ini.
"Sudah berapa bulan?"
__ADS_1
"Satu bulan" Jawab Aura gembira.
(Satu bulan? kita berhubungan hampir sebulan lebih beberapa hari, iru artinya anak ini adalah anak...)
"Gue bersyukur banget atas kehamilan ini. Dengan begitu David akan menikahi gue dan kami hidup bahagia selamanya" Harapan terbesar seorang simpanan adalam menjadi penguasa satu satunya. Meski Aira tidak tau sebelum itu ada benih lelaki lain tertanam di rahimnya.
"Menikah? dengan David?"
"Iya. Kalau bukan sama ayah dari bayi ini dengan siapa lagi. Dia harus bertsnggung jawab karena membuat ku msngandung benihnya" Mengusap pelan perut "Terima kasih sayang, kamu telah hadir di saat yang tepat"
Jacky berbalik badan "Kamu yakin anak itu milik David?"
Deketika sentum di bibir Aira sirna "Maksudnya apa ini? lo nuduh gue berhubungan sama lelaki lain gitu?"
Menarik nafas dalam lalu hembaskan perlahan "Bercanda. Gue cuka bercanda kok" Berbalik badan seraya tersenyum "Gue cuka kangen nggak liat lo ngambek" Mencoel dagu Aira.
"Ih dasar lo ya suka benget bikin gue emosi"
"Hehehe....habisnya elo itu kalau marah makin cantik" Menyeringai sembari duduk di samping Aira. Untuk beberapa saat mereka ngobrol bersama.
Hingga satu jam kemudian, Aira merebahkan diri "Ya udah lo istirahat saja. Kalau begiyu Gue mau balik lah, nanti malam gue kesini lagi"
"Lo nggak mau nyentuh calon keponakan elo..." memberi kode untuk menyentuh perutnya.
"Gue?" Menunjuk diri sendiri
"Ya, iyalah, siapa lagi"
Perlahan tangan kanan Jacky menyentuh perut Aira. Ketika tangan berada tepat di atas perut, ada sebuah rasa yang sukar di gambarkan "Sehat selalu debay..." Mengusap pelan Perut Aira. Jantung Jacky terasa berdetak kencang.
Aira meletakan tangan di atas tangan Jacky "Makasig Uncle, jagain aku ya sampai lahir ke dunia"
Pandangan keduanya bertemu dan saling tersenyum.
(Ya Tuhan, andai saja kami berjodoh, betapa bahagian hidup ini)
__ADS_1