Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
part 49 - Kesedihan Mutiara


__ADS_3

Sudah satu Minggu pasca kaki Meyta diamputasi. Namun tampaknya wanita itu belum sepenuhnya bisa menerima kondisi dirinya yang tak sempurna. Wanita itu masih sering menangis tengah malam dan Wirra selalu berusaha menenangkan sang istri. Pria itu bahkan sengaja bekerja dari rumah sakit agar bisa terus memantau kondisi kesehatan fisik dan mental sang istri.


Sesekali Mutiara menjenguk Meyta bersama sang nenek. Bahkan, setiap akhir pekan, Mutiara rela menemani Wirra menginap di rumah sakit.


Gadis kecil itu bahkan sengaja menyiapkan makanan yang dia masak sendiri untuk sang ibunda.


“Omelette ini Rara sendiri yang masak loh, Ma. Mama sangat suka omelette kan? Rara belajar memasak omelette karena tau, selain soto dan perkedel, mama paling suka omelette,” ucap Mutiara seraya berusaha menyuapi sang ibunda.


Meyta menatap sekilas putri pertamanya itu, lalu pandangannya beralih pada omelette buatan Mutiara. Meyta tersenyum kecil. Anaknya pertamanya sudah beranjak remaja. Gadis kecilnya itu bahkan sudah bisa membuat sebuah masakan. Meyta merasa bersyukur karena hal itu.


“Ayo makan, Ma. Aaaak...,” ucap Mutiara seraya menyodorkan sesendok penuh makanan pada sang ibunda. Meyta pun menerima suapan itu.


“Enak kan, Ma?”


Meyta pun menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya perlahan. Mutiara tersenyum sumringah saat melihat anggukan sang ibunda.


“Kalau begitu mama harus makan yang banyak ya. Mama harus cepat pulih. Mama harus cepat pulang ke rumah. Rara dan Arka merindukan mama di rumah. Apalagi Arka. Apa mama tidak merindukan Arka?”


Seketika air mata Meyta menetes. Bagaimana mungkin dia tak merindukan bayi kecilnya itu? Setiap detik yang dia lewati Meyta selalu merasa sakit karena merindukan kedua buah hatinya. Terlebih Arkana. Setiap dadanya terasa penuh dengan ASI (Air Susu Ibu), Meyta selalu menangis dan teringat akan Arkana.


Mutiara memeluk sang ibunda yang kedapatan tengah menangis. “Mama pasti juga sangat merindukan Arka, ya?” tanya gadis kecil itu. Dalam pelukan sang anak, Meyta menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, mama harus makan yang banyak, biar cepat pulih dan bertemu Arka di rumah.”


Meyta pun menuruti ucapan Mutiara. Sejak siang itu, Meyta selalu makan dengan lahap. Wanita itu berusaha untuk cepat pulih agar bisa kembali berkumpul dengan kedua anaknya di rumah.


Dan setelah dua Minggu melakukan perawatan di rumah sakit, Meyta pun diperbolehkan untuk kembali ke kediamannya.


Sesampainya di rumah, Anna langsung menyambutnya. Wajah Meyta yang begitu sumringah selama perjalanan karena tidak sabar ingin bertemu Arkana, mendadak menekuk wajahnya karena orang pertama yang dia lihat bukanlah Arkana, melainkan wanita yang sangat dibencinya.


“Aku senang kamu sudah bisa pulang ke rumah. Arka sangat merindukan kamu. Dia selalu menunjuk-nunjuk foto kamu setiap hari,” ucap Anna.

__ADS_1


Meyta tentu saja tak menanggapinya. Bukan hanya Anna, Meyta bahkan tak pernah bersuara sejak dua hari pasca operasi.


“Arka lagi tidur, ayo aku bantu ke kamar,” ucap Anna.


“Tidak perlu, An. Biar aku saja yang membawa Meyta. Kamu bisa bantu ibu dan Rara membawakan barang-barang kan?”


Anna mengangguk sembari tersenyum lembut. Wirra pun mendorong kursi roda dan membawa Meyta ke kamar mereka.


Air mata Meyta langsung tumpah saat dirinya sudah berada di depan box bayi di mana Arkana tidur.


“Ayo, aku bantu kamu ke kasur dan berganti pakaian. Setelah itu aku akan membawa Arka agar tidur di samping kamu,” jelas Wirra. Meyta mengangguk perlahan.


Wanita itu langsung menciumi sang buah hati begitu Arkana berada dalam jangkauannya.


...----------------...


Hari-hari berlalu, dan kaki palsu untuk Meyta akhirnya telah selesai. Wanita itu diminta dokter untuk melakukan penyesuaian dengan kaki palsunya.


Namun, malang tak dapat dielak. Kaki palsu yang Meyta terima, tak cocok untuknya. Meyta kerap merasakan sakit jika menggunakan kaki palsu itu.


“Kami akan menyesuaikannya lagi agar Bu Meyta merasa nyaman menggunakan kaki palsu ini.”


Meyta pun kembalian menunggu beberapa minggu, sebelum kaki palsu barunya, selesai.


Ketidaksesuaian kaki palsu itu, membuat Meyta semakin bertambah diam. Wanita itu tak berinteraksi kepada siapapun. Bahkan, memberi tanggapan dengan tersenyum, mengangguk ataupun menggeleng, tak dilakukan Meyta. Wanita itu benar-benar diam. Pandangan matanya sering sekali terlihat kosong.


Bahkan saat Arkana menangis, wanita itu tak berusaha menenangkannya.


Hari itu, Mutiara tengah libur sekolah setelah menghadapi ujian selama satu minggu. Wirra pun memutuskan untuk menginap satu malam di kediaman Anna.


Sementara itu Mutiara dan neneknya tengah berada di dapur untuk menyiapkan makan siang. Arkana menangis karena terjatuh dari atas ranjang. Untung saja ranjang itu tak terlalu tinggi hingga tak menimbulkan cedera pada Arkana.

__ADS_1


Mutiara dan neneknya pikir, tangisan Arkana segera reda karena ada Meyta di sana. Namun, setelah hampir sepuluh menit, tangisan bayi berusia lima bulan itu tak kunjung reda.


Atas perintah sang nenek, Mutiara gegas menuju kamar tidur sang ibunda. Betapa terkejutnya Mutiara saat melihat Arkana sudah tergeletak di lantai dengan sedikit benjolan di dahinya.


“Ma ... Kenapa Mama diam saja melihat Arka jatuh? Lihat Arka, Ma, kepalanya benjol,” lirih Mutiara sembari mengusap benjolan di dahi sang adik dengan perlahan.


Mutiara pun membawa adiknya itu ke dalam dekapannya hingga tangisan Arkana reda.


Namun, kali ini, malah tangis Mutiara yang pecah.


Gadis yang beranjak remaja itu tak kuasa melihat reaksi sang ibu yang hanya diam mematung dengan tatapan kosongnya.


Menyaksikan pandangan mata sang ibu yang semakin kosong dari hari ke hari, membuat hati Mutiara begitu sakit. Tak pernah dibayangkan olehnya, ibu yang selama ini terlihat begitu kuat menjadi sangat rapuh.


Mutiara pun menghampiri sang ibunda tercinta sembari menggendong Arkana.


“Ma ... Rara dan Arka rindu sekali dengan senyum mama. Rara bahkan rindu sekali dengan omelan mama,” lirih gadis kecil itu. Mutiara pun memeluk sang ibunda.


“Kami sangat menyayangi mama.”


Mutiara yang tak bisa menahan rasa haru, gegas melepaskan pelukan itu dan berlari meninggalkan kamar sang ibunda sembari menggendong Arkana. Mutiara menangis tersedu-sedu begitu tiba di dapur.


“Kenapa Ra?” tanya sang nenek.


Mutiara tak menjawabnya. Gadis kecil itu lalu memberikan Arkana pada neneknya dan meminjam ponsel milik neneknya dan menghubungi Wirra. Namun, ponsel pria itu sedang tidak aktif.


Tak kehilangan akal, Mutiara lantas menghubungi ibu tiri kesayangannya. Lama Mutiara menghubungi Anna, tapi wanita itu tak kunjung menjawabnya.


“Apa papa dan ibu Anna akan meninggalkan kami?”


Gadis kecil itu menangis histeris hingga membuat sang nenek merasa bingung. Bahkan, Meyta pun mendengar dengan sangat jelas jerit tangis sang anak sulung.

__ADS_1


“Ada apa Ra? Ada apa? Kenapa kamu seperti ini?” tanya sang nenek panik.


__ADS_2