Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Memulai Dari Awal


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Sudah dua hari Bang Aziz berada di kota mengurus uang ganti rugi kepada empat pemilik ruko yang ikut di lahap si merah, termasuk punya Budheku Indhun, dan untungnya api tidak sampai menyebar kemana-kemana, sehingga hanya lima ruko saja yang kena imbas amukan si jago merah.


Tadi aku juga sudah mengirim pesan katanya suamiku sudah akan pulang kemari, entah setelah ini kami akan tinggal dimana? Sepertinya kalau balik ke kota sudah tidak mungkin, sebab bengkel Bang Aziz saja sudah rusak parah, ingin di benahi pun pasti akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terlebih setelah membayar kerugian yang pasti dalam jumlah yang banyak.


Entahlah, jika memang sulit mungkin aku akan mengajaknya ke kampung halamanku saja, ya walau aku tidak tahu nanti apakah ada pekerjaan yang cocok untuknya, mengingat ia adalah orang kota yang pasti tidak akan sulit untuk bertani.


Di daerah tinggalku memang kabanyakan orang bekerja sebagai petani dan juga peternak. Mau laki-laki ataupun wanita sama saja pekerjaannya tidak ada yang ringan. Sama halnya sepertiku dulu yang suka mengambil sisa-sisa panenan kebun milik warga.


Jadi dua hari ini aku tinggal di rumah Cak Arga dan istrinya Neng Delisha, keduanya memperlakukanku dengan sangat baik selama disini, bahkan tak jarang Neng Delisha ikut membantu menjaga Zia jika aku sedang kerepotan entah melakukan apa, yang tentu saja aku merasa tidak enak hati. Namun mereka tetap bersikap hangat padaku.


" Neng biar Anniyah saja yang masak, Neng Lisha mau makan apa malam ini?" Tanyaku yang ingin pergi ke dapur untuk memasak menu makan malam.


" Tidak perlu Anniyah, kamu disini saja di dapur sudah ada yang membantu kok, kamu tidak perlu sungkan begitu, anggap saja rumah sendiri ya. Kita ke kamar Salsa saja yuk, bermain sama anak-anak." Ajak Neng Delisha padaku, akhirnya aku pun mengangguk.


Setelah selesai menunaikan ibadah kami samua menuju ke ruang makan, Zia, Salsa dan Zac tengah bersama sustnya Zac di ruang bermain. Sehingga hanya kami berdua saja yang makan, seusai menikmati makan malam terdengar suara Bang Aziz pulang aku pun langsung beranjak bangun untuk menyambutnya.


" Alhamdulillah tuh suamimu sudah tiba." Ujar Cak Arga padaku yang kebetulan baru saja kembali dari mengajar.


" Assalamuaikum sayang." Ujar suamiku menatapku dengan pandangan sayu. Kasihan sekali pasti ia sangat kelelahan mengurus yang kemarin itu, terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat.


" Walaikumsalam, Abi Alhamdulillah kamu sudah kembali, kami sangat merindukanmu." Sambutku mengecup tangannya dan kami berdua pun berjalan menuju ke kamar.

__ADS_1


" Abi sudah makan malam?" Tanyaku begitu kami sudah berada di dalam kamar tamu.


" Sudah di jalan tadi sayang, maaf ya sudah membuatmu menunggu dan jadi seperti ini. Abi akan berusaha mencari pekerjaan alin setelah ini." Sesalnya menatapku sendu.


" Sstt, Abi ngomong apa sih, anggap saja ini adalah ujian untuk rumah tangga kita Bi, kita akan hadapi bersama-sama. Insya Allah pasti Allah akan menggantinya berlipat ganda, Aamiin.." Sahutku yang tak ingin membuatnya semakin kepikiran.


" Terima kasih sayang sudah menemani Abi hingga sampai saat ini, ya sudah nanti kita bahas lagi, sekarang Abi mau bersih-bersih dulu." Pamitnya yang melangkah ke arah kamar mandi.


Aku pun ikut beranjak untuk mengambilkan pakaian ganti untuknya. Kemarin saat Cak Arga pulang ia membawa serta barang-barang kami seperti pakaian juga yang lainnya.


Beberapa saat kemudian kami berdua sudah ada di dalam kamar bermain Salsa untuk melihat anak-anak ternyata, Cak Arga dan Neng Delisha sudah ada di dalam. Aku segera menggendong Zia membawanya ke kamar sebab ia sudah waktunya untuk tidur.


Setelah putriku terlelap aku pun kembali keluar mengambil air minum di dapur. Kulihat Cak Arga juga suamiku sedang berada di ruang tengah, pasti mereka tengah membicarakan tentang masalah yang kemarin, tak lama aku pun kembali ke dalam kamar menemani si kecil.


Entah sudah pukul berapa sekarang ini saat kurasakan ada pergerakan di atas ranjang juga usapan lembut di pucak kepalaku. Pasti itu suamiku, aku pun perlahan membuka mataku menatapnya yang tengah tersenyum.


" Nggak kok sayang, gimana sama urusan di kota Bi?" Tanyaku sembari memiringkan tubuhku menjadi berhadapan dengannya.


" Alhmdulillah semunya sudah selesai sayang, hanya saja kita sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kendaraan tinggal motor saja, maafkan Abi ya, secepatnya Abi akan mencari kontrakan untuk kita tinggal, besok kamu disini dulu ya Abi akan mencoba tanya pada teman-teman, Abi juga sekalian mau mencari pekerjaan disini, semoga saja secepatnya dapat ya sayang, minta doanya terus..." Ujarnya yang terus berusaha untuk keluarga kami.


Dan sudah sepantasnya aku juga harus memberikan semangat untuk suamiku agar ia terus semangat. " Pasti sayang, Ami akan selalu mendoakan Abi, semoga secepatnya mendapat pekerjaan juga tempat tinggal untuk kita bersama, Aamiin.." Sahutku yang langsung memeluknya erat.


" Terima kasih banyak sayang. Abi sangat bersyukur mempunyai kamu. " Ia menghujami banyak kecupan di atas puncak kepalaku. " Ya sudah tidur yuk. Eh tunggu! Sayangnya Abi yang disini apa kabarnya sayang? Abi sangat rindu ingin menengok tapi sepertinya Ami kamu sangat kelelahan Abi jadi tidak tega." Bisiknya sembari mengusap-usap perutku yang mulai membuncit.


Aku langsung tersenyum melihat interaksi suamiku dengan calon bush hati kami. Melihat itu hati ini terasa menghangat, terlebih merasa sangat di cintai oleh suamiku sendiri. " Bukan Ami yang kelelahan tapi Abi lho. Ami mah nggak ngapain-ngapain disini Bi Neng Delisha melarang Ami melakukan apapun sebab sudah ada yang membantu, Ami jadi merasa tidak enak Bi pada Cacak dan istrinya." Sahutku yang biacra apa adanya. Ya aku memang orang yang merasa tidak enak hati pada semua orang, temasuk kepada keluarga sendiri.

__ADS_1


" Jadi Ami tidak lelah? Abi juga tidak lelah, kalau begitu boleh dong nengokin si kecil, Abi sangat merindukannya.." Mohon suamiku dengan tampangnya yang sudah, ya seperti itulah jika pria sedang menginginkannya.


Aku langsung tersenyum mengerti kemana arah dan tujuannya itu." Kangen si kecil apa Aminya?" Tanyanya menggodanya.


" Dua-duanya dong, yuk sayang sekalian kita ibadah." Ajaknya yang sudah bertekad. Kalau sudah begini aku hanya bisa pasrah.


Suamiku pun segera memulai serangan mautnya kepadaku, memadu kasih yang sudah dua hari tidak tersalurkan. Sentuhan dan kecupannya selalu membuat diri ini seakan melayang ke luar angkasa. Kedua tubuh telah berpeluh, meliuk seirama mengantarkan kenikmatan yang tiada tara.


" Ouh, , kamu selalu nikmat sayang, Abi tidak tahan lagi, akan segera sampaiii.." Bisiknya yang terus memacu di atasku.


" Emm,, aku juga Bi, lebih cepat." Titahku yang segera di sambut olehnya. Hingga lenguhan nikmat kami keluar bersama.


" Abi sangat mencintaimu sayang.."


" Ami juga sangat mencintaimu suamiku." Balasku, kami masih berpelukan begitu eratnya.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2