
Anniyah_PoV
*
Seminggu sudah kami sekeluarga menempati rumah ini, hampir setiap malam aku selalu saja mendengar suara-suara aneh dari samping, belakang, juga depan rumah.
Entah itu suara apa, kadang suaranya berbeda-beda, aku masih berpikir positif mungkin itu hewan peliharaan beberapa tetangga sekitar rumah. Sebab dari satu rumah ke rumah memang jaraknya cukup dekat, dan jika malam sudah larut sudah pasti suara-suara seperti itu lebih cenderung terdengar karena suasana yang sudah sepi dan sunyi.
Baru saja akan masuk ke dalam rumah, terdengar suara teriakan dari salah satu tetanggaku jika Zia putri sulungku mengalami kecelakaan tepat di depan sekolahnya baru saja. Padahal tadi kami berangkat bersama-sama, kenapa bisa putriku kecelakaan? Mendengar itu aku pun buru-buru pergi kesana masih dengan menggendong Zefa yang sedang tertidur, tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Ibu tetanggaku itu.
Rencananya tadi setelah mengantar Zaheera ke sekolah taman kanak-kanak, aku memang mau pulang hanya sebentar saja untuk mengambil susu Zefa yang ketinggalan di meja kamar, namun tanpa di sangka aku justru mendapatkan kabar yang tidak terduga sama sekali.
Sepanjang perjalanan tak hentinya aku terus berdoa semoga keadaan Zia tidak begitu parah. Beruntung jarak dari rumah ke sekolah anak-anak memang tidak terlalu jauh, hanya berjalan kaki sebentar saja sudah sampai, aku menghampiri supir angkot yang kebetulan sedang parkir di depan sekolah SD berniat bertanya kepadanya.
" Permisi Pak numpang tanya, katanya barusan ada anak SD yang mengalami kecelakaan, apa Bapak tahu kejadiannya?" Tanyaku dengan penuh harap, semoga Bapak ini mengetahui dan bisa memberitahuku.
" Oh iya benar itu Mbak, tapi bukan kecelakaan tepatnya hanya kesrempet saja, lukanya juga tidak begitu parah, masih kecil itu anakanya sepertinya masih kelas satu, Mbak ini Ibunya anak itu, atau saudaranya?" Tanyanya balik menatapku.
" Saya Ibunya Pak, lalu dibawa kemana anak saya Pak tolong beritahu saya Pak." Desakku berharap segera bertemu dengan putri sulungku.
Namun aku sedikit lega mendengar yang supir itu katakan barusan bahwa putriku dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terlalu parah kondisinya, aku jadi tidak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan Zia putriku.
" Oalah Mbaknya ini Ibunya toch, cepat di susul itu tadi anak Mbak di bawa ke puskesmas sama petugas sekolah, karena memang jaraknya yang paling dekat." Sahut Pak Supir tersebut.
" Oh gitu Pak, terima kasih banyak ya Pak atas infonya, kalau begitu saya kesana sekarang, permisi.." Pamitku yang segera melangkah masuk ke dalam gerbang pukesmas.
Seraya melangkah aku merutuk diri sendiri, Ya Allah bagaimana bisa aku tidak kepikiran sampai kesana tadi, sudah pasti putriku di bawa ke pelayanan kesehatan, apa mungkin karena saking paniknya ya sehingga pikiranku sedikit oleng, juga pikiranku yang memang sudah campur aduk.
__ADS_1
Ibu tetanggaku tadi itu tidak sempat melihat Zia di bawa kemana setelahnya sebab beliau buru-buru pulang untuk memberitahuku. Aku sangat paham juga memakluminya, mungkin jika aku yang berada di posisinya akan sama paniknya, sama halnya seperti sekarang ini.
Begitu sampai di dalam aku segera bertanya dam meminta bantuan kepada salah satu petugas yang sepertinya bekerja sebegai perawat di sini.
" Oh anak yang ada di dalam ruang perawatan itu anaknya Ibu, kalau begitu mari saya antar kesana." Ujar si perawat yang berkenan mengantarkanku.
Aku pun mengikutinya dari belakang, saat kami masih berada di depan ruangan saja sudah terdengar suara-suara berisik dari dalam, ada apa ya?
Kami pun akhirnya mulai memasuki ruangan yang kulihat ada dua perawat yang berjaga dan sepertinya sedang berusaha membujuk Zia, bisa kulihat putriku saat ini sedang berbaring di atas ranjang pasien yang posisinya cukup tinggi, walau aku hanya bisa melihat kedua kakinya saja, sebab wajahnya tidak nampak karena tertutup oleh dua perawat yang sedang berdiri membelakangi kami.
" Wah sudah pinter, cantik, manis lho!?" Ujar salah satu perawat yang ternyata baru saja memberikan suntikan kepada Zia.
" Sudah selesai ya?" Tanya perawat yang tadi mengantarkanku kesini kepada rekannya.
Si perawat yang tadi telah selesai pun mundur beberapa langkah ke belakang dan secara bersamaan Zia dan aku bisa saling menatap.
" Eh itu Ibunya sudah datang ya? Mari silahkan masuk Bu. Anaknya pinter lho tadi nggak nangis, eh setelah di suntik baru nangis, maaf ya sayang.." Ujar si perawat yang lain seraya mengusap sebelah kaki Zia sebentar, sehingga kini semuanya menatap ke arahku.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
" Wah putri Ami memang pinter, nggak sakit kok ya, terima kasih banyak sudah membantu putri saya hingga sampai saat ini." Ucapku lirih kepada ketiganya dengan menatap bergantian.
" Sama-sama Ibu, Adiknya nggak apa-apa kok, untungnya tadi cuma kesrempet samping mobil saja sehingga ia langsung terjatuh di jalan dan hanya kaki dan tangannya saja yang luka-luka sedikit, mungkin dia terlalu shock tadi, sampai lemas badannya, lalu di gendong penjaga sekolah." Jelas perawat yag tadi memberikan suntikan kepada Zia.
" Iya benar, setelah ini sudah bisa di ajak pulang kok Bu Adiknya, tadi juga ada temannya yang mengantar tas sekolahnya kemari," Timpal perawat yang lain.
__ADS_1
Seketika aku langsung bernapas lega, tak henti-hentinya aku mengucap syukur dalam hati. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Zia pun di ijinkan untuk pulang ke rumah. Aku pun kembali mengucapkan terima kasih kembali kepada ketiga perawat tadi sebelum pamit pulang.
Setelah menebus obat aku segera menggandeng tangan Zia di samping kiriku, kami berjalan bersama keluar dari gedung pukesmas, karena tidak mungkin aku akan menggendongnya, sebab sudah menggendong Adik kecilnya Zefa.
" Sayang kita jemput Adik Zaheer dulu ya, kayaknya sebentar lagi kelasnya sudah bubar ini. " Ujarku menatap sebentar ke arah Zia.
Karena sudah ada disini, tidak mungkin langsung mengajak putriku pulang. Karena memang sudah waktunya Zaheera juga pulang sekolah, hanya berjalan menyebrang saja kami sudah sampai, memang sekolah TK ini tempatnya tepat di seberang pukesmas.
" Iya Ami."
Aku tersenyum menatap Putriku seraya mengusap sayang puncak kepalanya, sangat bangga juga bersyukur memiliki anak yang sangat baik dan patuh seperti anak-anakku, Alhamdulillah Ya Allah. Saat ini kami memilih duduk di bangku panjang yang ada di samping Masjid sembari menunggu kelas selesai.
" Makasih sayang, maafkan Ami tadi ya tidak bisa menjaga Kakak, tapi tadi 'kan Kakak sudah masuk ke dalam sekolah, lalu kenapa bisa kesrempet mobil Nak?" Tanyaku yang sangat penasaran sekali.
Sedih sekali melihat kaki dan tangan kecilnya ada luka lecet karena tergores jalanan aspal. Namun dia putriku yang sangat kuat dan mandiri, Ami bangga padamu Nak..
" Tadi itu Kakak habis mengantar pensil milik Adik Zaheer yang semalam habis Kakak rautin karena patah Ami, Kakak lupa simpan di tempat pensil milik Kakak." Jawabnya dengan mantap, tanpa ada yang di sembunyikannya. Ya aku akui Zia memang anaknya sangat jujur sekali, mudah-mudahan sampai dewasa nanti akan selalu menjadi orang yang jujur, Aamiin..
Hingga tak lama kelas Zaheer pun telah selesai, anak-anak mulai terlihat bubar keluar dari kelas berhamburan setelah menyalimi gurunya.
" Zaheera..." Panggil si Kakaknya yang terlihat sangat antusias dan juga semangat.
~tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1