Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Delapan anak..


__ADS_3

Aziz_PoV


Di koridor rumah sakit aku berjalan sedikit tergesa-gesa, setelah di beritahu Juleha bahwa Nikmah di larikan ke rumah sakit karena akan segera melahirkan, tentu saja aku segera berangkat setelahnya.


Khawatir? Tentu saja aku khawatir terlepas bagaimana perilaku Nikmah akhir-akhir ini. Namun anak kami tidak bersalah, ya walaupun kehadirannya saat itu memang dari kesalahan yang telah Ibunya perbuat, tetap saja bayi itu tidak berdosa, tidak tahu apa-apa bukan?!


Dari kejauhan aku bisa melihat Kedua orangtua Juleha, putriku Ida, Mus beserta suaminya dan jangan lupakan juga sepupu laki lakinya, siapa lagi kalau bukan Rojak, masih ada muka dia!!


"Assalamualaikum.." Aku langsung mencium kedua tangan Paman dan juga Bibi Nikmah.


" Walaikumusalam.. " Jawab semuanya..


" Abi.." Lalu kedua putriku beserta menantuku pun juga melakukan hal yang sama kepadaku bergantian.


" Akhirnya kamu datang juga Ziz." Seru Paman terdengar merasa lega atas kedatanganku.


" Iya Paman, tapi bukankah ini belum waktunya, apa ada sesuatu yang terjadi pada Nikmah?" Aku menatap semuanya bergantian berharap ada yang menjawab pertanyaanku ini.


Dan tidak sengaja tatapanku bersirobok dengan Rojak namun hanya seperkian detik saja setelah itu aku memalingkan wajahku kembali kepada Paman dan juga Bibi.


" Iya itu benar, tapi_ Belum selesai Bibi menjelaskan padaku pintu bersalin tiba tiba terbuka dari dalam dan muncullah seorang suster mengintrupsi pembicaraan kami.


" Maaf apakah suaminya sudah datang?" Suster bertanya sembari menatap kami satu persatu.


" Saya suaminya Sus, bagaimana keadaan istri saya?" Aku langsung memburu dengan perasaan khawatir tentu saja.


" Oh mari Pak ikut saya masuk, istrinya sedari tadi mencari Bapak." Jawabnya merasa lega.


" Kalau begitu Aziz masuk dulu Paman Bibi, kalian tunggu disini ya." Pamitku kepada mereka semua sembari mengikuti suster dari belakang.

__ADS_1


" Mari Pak silahkan." Suster tadi langsung menyuruhku untuk berdiri di samping ranjang dimana Nikmah tengah berbaring disana.


" Bang kamu datang.." Nikmah terlihat senang dengan kedatanganku walau aku tahu ia tengah menahan rasa sakit kontraksi yang luar biasa yang ia rasakan saat ini.


Ku genggam tangannya erat, dan sebelah tanganku langsung mengusap puncak kepalanya dari balik jilbab yang ia pakai saat ini.


" Kamu pasti kuat. Dok maaf, bukankah ini belum waktunya lahir?" Tentu saja aku harus bertanya, seingatku kandungn Nikmah masih tujuh bulan kalau tidak salah.


" Memang benar Pak, tapi di usia kehamilan tujuh bulan memang sedikit banyaknya ada sebagian Ibu hamil yang sudah melahirkan. Terlebih ketubannya sudah pecah ini tadi, itu berarti memang bayinya pun juga sudah siap untuk di lahirkan di usia kandungan saat ini, walau tetap saja di namakan kelahiran prematur dan harus di masukkan ke dalam inkubator setelah lahir. Baiklah mari fokus dulu untuk membantu dan menguatkan si Ibu, agar bayinya segera di keluarkan." Dokter menjelaskan secara singkatnya saja.


Lalu setelah itu kami semua fokus sembari menunggu pembukaan lengkap, sebab saat aku masuk tadi masih pembukaan tujuh.


Hingga tak lama setelah itu, genggaman tangan Nikmah terasa sangat kuat di tanganku dengan nafasnya yang memburu yang menandakan bayi kami mendesak untuk segera di keluarkan.


" Ayo tarik nafas panjang lagi ya Bu lalu keluarkan lewat mulut, ya terus lalu mengejan pelan pelan. " Si Dokter terus memberi intruksi kepada Nikmah. Sedangkan aku hanya bisa membantu menguatkannya dengan terus berdzikir dalam hati.


Oeekk.. Oeekk..


" Alhamdulilah.. bayinya perempuan cantik dan sangat sehat." Sang Dokter menunjukkan sebentar bayi kami lalu tak lama menyerahkannya kepada salah satu perawar untuk di bersihkan dan di lakukan pemeriksaan.


" Alhamdulillah.. " Ucapku bersamaan denfan Nikmah. Aku mengusap peluh yang membanjiri sebagian wajahnya.


Setelah bayi kami di bersihkan dan juga sudah aku adzani, mereka membawanya ke ruang bayi untuk segera di masukkan ke dalam inkubator guna untuk membantu perawatan agar kondisinya cepat stabil.


Nikmah sendiri juga baru saja di pindahkan ke dalam ruang perawatan. Kini kami semua sudah ada di dalamnya, minus Rojak. Entah pria itu ada dimana saat ini mungkin saja pulang karena sudah ada aku disini yang menjaga keluargaku.


" Mus, Zubair, Ida kalian juga pulang saja ya, kasihan Adik adik kalian pasti menunggu sendirian di rumah. Biar Abi yang disini jaga Ummi. " Kasihan Zikri dan Aidan jika semuanya berada disini. Dan pasti mereka semya sudah lelah sedari sore menunggu Umminya.


Sedangkan Paman dan Bibi barusan berpamitan karena memang sudah malam. Dan berjanji nanti akan datang kembali jika sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


" Tapi Abi_


" Baiklah Abi, kami pulang dulu. " Belum selesai Ida berbicara sudah lebih dulu di potong oleh Kakaknya Mus.


Aku tahu Mus pasti mengerti kondisi suaminya juga yang lelah sehabis pulang bekerja langsung kesini mengantar mertuanya. Aku pun memakluminya, apalagi mereka baru menikah.


" Assalamualaikum Abi.." Pamit mereka bersamaan sembari mencium tanganku bergantian.


" Iya Wa'alaikumusalam.. Hati hati kalian.. "


Setelah kepergian ketiganya aku langsung berjalan mendekati Nikmah, duduk di samping ranjang yang sudah di sediakan.


Saat ini Nikmah masih belum bangun, akibat kelelahan hingga menguras banyak energi saat melahirkan putri kelima kami, dia langsung tertidur saat selesai di bersihkan tadi.


Aku hanya bergeming sembari memandang wajah lelapnya, entah masih adakah rasa cinta dan sayangku padanya hingga saat ini. Ataukah rasa itu sudah menguap entah kemana?


Dulu bahkan aku sangat memujanya, mungkin waktu itu adalah teguran dari Allah untukku, sebab mencintai makhluknya secara berlebihan. Dan mungkin saja aku bertahan di pernikahan ini hanya demi anak anak kami.


Hingga tak terasa seminggu berlalu Nikmah juga sudah pulang dua hari setelah melahirkan, sebab kondisinya yang sudah sangat membaik. Hanya saja putri kami masih berada di dalam inkubator dan belum bisa pulang sebab berat badannya yang belum bisa di katakan normal.


Tapi Nikmah setiap hari selalu ke rumah sakit di temani Nikmah atau pun Ida untuk memberikan Asi eklusifnya untuk putri kami Kholif. Ya putri kelima kami aku beri nama Kholifahatun Ma'wa yang artinya kebaikan yang menetap. Semoga putri kami selalu di limpahkan kebaikan walau awal kehadirannya adalah suatu kesalahan yang di lakukan oleh Ibunya sendiri dengan cara yang kurang baik.


Sedangkan aku kembali bekerja di kota maupun ke luar kota, jika pekerjaannya berada di kota maka aku akan pulang setiap hari ke rumah. Jika tidak maka aku akan kembali berkelana demi mengais rezeki untuk keluarga kecilku. Jika sempat aku akan tetap membantu Neng Delisha untuk mengurus pondoknya hingga Zayyan siap untuk memimpin nantinya.


Tidak bisa di katakan keluarga kecil juga jika aku kini telah di karuniai delapan orang anak. Sungguh aku sangat bersyukur atas nikmah dan anugrah yang Allah berikan kepadaku. Juga kedua istri yang sabar dan menerima berapa pun nafkah yang aku berikan kepada keduanya.


Terlebih Anni istri kecilku yang tidak pernah mengeluh apapun, walau usianya jauh lebih muda dari Nikmah. Tapi pemikirannya cukup dewasa di usianya saat ini. Sungguh aku sangat amat bersyukur.


.tbc

__ADS_1


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2