
Musdalifah_PoV
*
Aku keluar dari kamar di iringi oleh Ummi dan juga Hilda Adikku di kanan dan kiriku menuju ke ruang tamu, dimana disana telah di langsungkan sebuah acara sakral yang tentunya membuat jantungku terus berdebar. Para tamu undangan dari pihak pria dan juga tetangga rumah memenuhi rumah ini.
Memang pernikahan yang seperti inilah yang aku inginkan. Cukup sederhana di dalam rumah saja, tidak perlu menyewa gedung atau tempat lain. Nanti rencananya akan di adakan acara pengajian saja di halaman depan rumah sore hari, dan malamnya barulah acara resepsi.
Kulihat Abi sangat tampan dengan memakai kemeja batik yang aku belikan dari hasil kerjaku yang pertama yang skini udah siap duduk di samping Bapak penghulu yang akan menikahkan aku dan calonku pagi ini juga beberapa orang yang akan menjadi saksi acara ini.
Ya Alhamdulillah, atas izin Allah pagi ini aku akan menikah dengan laki-laki yang selama satu ahun terakhir ini cukup dekat denganku. Awalnya aku mengira hanya menganggapnya sebagai seorang Adik saja, secara usianya lebih muda dariku tiga tahun.
Tepatnya ia masih berusia dua puluh tahun, sedangkan aku sudah dua puluh tiga tahun. Walau terbilang masih muda, namun ia sangat bertanggung jawab. Terbukti dia langsung meminangku hari ini. Dan yang lebih penting lagi dia sudah mempunyai usaha sendiri untuk menafkahiku.
Jadi toko swalayan tempatku bekerja selama hampir dua tahun terakhir ini ternyata adalah miliknya. Ya selama ini ia ikut andil dalam mengelola usaha yang ia rintis sendiri itu. Dan bodohnya aku yang sejak awal mengenalnya bisa-bisanya percaya bahwa dia adalah pegawai disana.
" Mari semuanya membaca Hamdalah, Istighfar dan juga Syahadat sebelum memulai acara ijab ini." Seru Pak penghulu memberi intruksi sebelum memulai acara tersebut, dan segeralah semua orang mengikuti beliau.
Aku duduk di belakang Abi yang bersiap akan mengucapkan ijab kabul. Jantungku semakin berdebar-debar, saat mendengar Pak penghulu meminta Abi untuk menjabat tangan kanan calonku, aku sedari tadi terus menunduk tidak berani menatap ke depan.
" Bismilah.. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Malik Zubair Ahmad bin Ahmad sholikin dengan anak saya yang bernama Musdalifah Jannatul Ma'wa dengan mas kawinnya berupa uang satu juta dan seperangkat alat sholat tunai." Ujar Abi dengan lantangnya.
Hatiku langsung bergetar setelah mendengar ucapan ijab yang Abi lontarkan barusan. Kini aku harap-harap cemas untuk mendengarkan lafal kabul yang akan di ucapkan oleh laki-laki yang belum aku lihat sedari tadi, yang mungkin sudah sejak tadi memperhatikanku dari tempatnya.
" Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah." Balasnya dengan satu tarikan nafas saja.
Alhamdulillah... Tak terasa bulir bening meluncur di kedua sisi wajahku, aku segera mengusapnya dengan menggunakan tissue yang sedari awal sudah dalam genggaman.
" Bagaimana para saksi, SAH?" Tanya Pak penghulu menatap ke kanan dan ke kiri dimana para saksi duduk melingkari meja panjang.
__ADS_1
" SAH.. SAH.. SAH.."
Tak hanya para saksi yang menjawab tapi semua orang yang ada di dalam ruangan ini. Kristal beningku kembali meluncur bebas, masih tidak menduga aku sudah sah menjadi seorang istri dari pria yang aku suka.
" Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Rabbana hablana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a'yuniw waj'alna lil muttaqiena imaamaa." Ujar Pak Penghulu yang langsung membacakan doa untuk kami berdua.
" Silahkan mempelai wanitanya bisa langsung kesini, dan duduk di samping suaminya ya." Ujarnya kembali.
Tanpa di minta dua kali aku segera bangkit lalu berjalan menuju ke samping dimana laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku tengah memandangku tanpa berkedip. Aku tahu sebab sekilas menatapnya saat baru akan berjalan, lalu kembali menunduk.
" Alhamdulillah sekarang kalian sudah Sah menjadi pasangan suami istri. Barakallahu lakum wa baraka alaikum. Semoga Allah memberikan keberkahan bagi kalian berdua dan di limpahkan keberkahan atas kalian. Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoirin. Semoga Allah memberkahimu dalam segala hal yang baik dan mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan. " Seru Pak penghulu lagi saat aku sudah duduk di samping suamiku.
Ya Allah suamiku.. Dengan ragu-ragu aku menjabat tangannya yang ia sodorkan, lalu menciumnya yang di balas dengan kecupan di keningku dengan sedikit lama. Juga tangan kirinya ia letakkan di atas ubun-ubunku seraya membacakan doa.
Subhanallah rasanya seperti mimpi saja. Jika ini mimpi pasti aku ingin malam yang panjang agar bisa merasakan kebahagiaan ini sangat lama. Dan Alhamdulillahnya ini memang nyata, aku tak henti-hentinya mengucap syukur.
" Alhamdulillah.." Ucap suamiku seraya membantu mengusap air mataku, yang masih mengalir akan rasa bahagia.
Dua minggu yang lalu dia-lah laki-laki yang datang bersama keluarga besarnya untuk meng-Khitbahku. Awalnya aku mengira ia akan datang hanya karena ingin berkunjung saja setelah aku katakan Abi sedang berada di rumah malam itu. Namun ternyata ia justru memberikan kejutan yang tidak pernah aku duga sebelumnya.
Setelah menandatangani buku pernikahan juga beberapa berkas lainnya. Kami pun akan bersimpuh untuk meminta doa dan restu kepada kedua orangtua kami secara bergantian.
" Abi, Mus meminta maaf jika selama ini sudah menyusahkan Abi, dan juga Mus mengucapkan terima kasih banyak, karena Abi sudah memberikan restunya untuk kami." Lirihku, tangisku pun kembali pecah saat bersimpuh di pangkuan Abi. Beliau-lah laki-laki pertama, cinta pertamaku, yang sudah menikahkanku dengan pria yang aku pilih.
Aku sangat bersyukur akhirnya Abi memberikan restunya malam itu saat kedatangan Zubair beserta rombongan keluarganya dan mengucapkan niatnya yang akan meng-Khitbahku.
" Iya sama-sama sayang. Abi tidak percaya kamu sudah besar, dan sudah menikah pula. Kemarin di mata Abi kamu itu masih putri kecil Abi, yang selalu merengek meminta sesuatu. Jadilah istri yang taat dan patuh terhadap suaminya. Kebahagiaan terbesar bagi Abi adalah kebahagiaanmu sayang, putri Abi tercinta." Balasnya dengan suara sedikit sengau, aku mendongak ternyata Abi juga tengah menangis, walau ia tahan.
Lalu aku juga di beri banyak wejangan dari Ummi, saat bersimpuh. Kini giliran suamiku yang bersimpuh kepada Abi. Entah mengapa aku sangat penasaran apa yang akan Abi katakan kepada suamiku.
__ADS_1
" Yang pertama memeluk putriku adalah aku, yang pertama mencium putriku adalah aku. Tapi, aku berharap kamu menantuku akan jadi orang yang menemani putriku seumur hidup. Jangan kamu sakiti dia, apalagi perasaannya. Dan bila suatu hari nanti kamu tidak lagi mencintainya, jangan beritahu dia, tapi beritahulah kepadaku. Aku sendiri yang akan membawanya pulang." Lirih Abi, yang tentunya membuat tangisku kembali pecah.
" Insya Allah Abi—
" Oh Abi." Aku kembali memeluknya sebelum suamiku menyelesaikan ucapannya, kali ini lebih erat di bandingkan dengan yang tadi.
Beberapa saat setelah aku sudah kembali tenang juga dengan kedua orangtuaku yang ikut menangis tadi. Saat ini kami mengantar keluarga besar dari suamiku yang akan berpamitan pulang, sebelum nanti malam kembali menghadiri acara resepsi kami.
" Alhamduillah akhirnya.." Ujarku lirih, namun ternyata Zubair mendengarnya.
" Kenapa? Kamu lelah ya? Ayo sebaiknya kita istirhat dulu saja, sebelum acara pengajian dan resepsi dimulai." Ajaknya sembari menuntunku menunu ke kamar samping ruang makan.
Karena aku sudah menikah jadi kamarku terpisah dengan Hilda sekarang. Aku pun menurut saja, karena memang sudah sangat lelah sekali ingin rebah di kasur. Hari juga hampir siang sebentar lagi pasti adzan dzuhur.
Aku melepas pakaian kebaya yang melekat di tubuhku yang sudah berkeringat ini. Dengan sedikit kepayahan aku membukanya dimana banyak sekali kancing yang berukuran kecil disana.
" Butuh bantuan..?" Celetuk suamiku yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
Entah sejak kapan dia keluar dari kamar mandinya, cepat sekali dia mandi. Mandi bebek pasti, aroma sabun langsung menguar menusuk ke indraku.
" Iya, tolong ya... " Di saat aku menoleh dan tidak sengaja hidungnya yang mencung langsung menempel di pipiku. Tentu saja aku terkejut, darahku bahkan berdesir hebat. Aku yang ingin menjauh, namun ia justru menarik pinggangku dan memelukku, membuat tubuh kami semakin merapat.
" Boleh, tapi nggak ada yang gratis ya." Bisiknya seraya berhasil mengecup pipiku. Tubuhku pun menegang sempurna. Pasti wajahku juga sudah memerah seperti tomat saat ini.
~tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1