Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Kehamilan Aira


__ADS_3

"Siapa suami dari pasien?" Seorang dokter wanita keluar dari ruangan.


David segera bangkit "Iya, saya. Bagaimana kondisinya? apa dia baik baik saja, Dokter? tidak terjadi hal buruk kepadanya, kan Dok?" Kepanikan masih menyelimuti hati David. Tatapan mata terus mencuri pansang melihat dari celah pintu. Terlihat Aira terbaring lemas di atas ranjang dengan jarum infus menancap di tangan.


"Sejak kapan pak Bos jadi suami bu Aira? kenapa pake ngaku suaminya segala sih. Dia bisa bilang bosnya kek atau apa gitu kan bisa. Wah, jangan jangan emang benar apa kata orang kalau mereka ada sesuatu" Gumam salah satu karyawan yang ikut mengantar Aira ke rumah sakit.


Dokter tersenyum melihat kecemasan di wajah seorang suami. Begitu yang Dokter tersebut pikirkan, padahal kenyataan tidak seperti itu "Anda tidak perlu khawatirkan itu, pak. Istri anda baik baik saja" Senyum di bibir dokter cantik itu membuat David bingung.


"Tidak apa apa bagaimana? jelas jelas tadi dia jatuh pingsan, dan anda masih bilang dia baik baik saja? omong kosong apa ini Dokter?"


"Anda tenang saja, pak. Wajar bagi wanita hamil sering mual, pusing, dan terkadang sampai jatuh pingsan. Apa lagi masih di trimester awal. Mual, pusing, gampang lelah, udah jadi makanan sehari hari wanita berbadan dua. Jadi, mulai sekarang istri anda tidak boleh banyak pikiran atau kelelahan. Anda harus bisa membatasi aktivitas istri demi menjaga janin dalam rahim istri bapak" Ujar sang Dokter menasehati.


"Apa? dia hamil?" Betapa terkejutnya David saat mendengar Aira tengah mengandung.


"Benar, pak. Istri anda hamil sekitar satu bulan. Selamat ya pak (Mengelurkan tangan) sebentar lagi kalian menjadi ayah dan ibu" Senyum mengembang di sudut bibir Dokter cantik.


"Astaga, bu Aira hamil? kok bisa? dia itu belum menikah, kok bisa hamil? atau bayi di kandungan bu Aira itu anak pak bos" Menggeleng kepala saat mendengar kenyataan mengejutkan. Mana mungkin seorang wanita hamil begitu saja tanpa ada bibit benih bersemayam di rahim si wanita "Ini jelas mereka ada main"


Menjabat tangan bu Dokter "Terima kasih, Dok"


"Sama sama. Kalau begitu saya permisi dulu" Sang Dokter lalu meninggalakn David yang masih berdiri di depan pintu.


"Dia hamil? bagaimana bisa? setiap kali melakukannya saya selalu pakai kontrasepsi. Lalu kenapa dia bisa hamil?"Ada kecurigaan di hati David saat ini. Memang benar setiap kali mereka melakukan hubungan badan, David selalu memakai kontrasepsi. Mereka berkomitmen untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu, sebelum mereka menikah. Mereka berdua memutuskan menikmati hari hari mereka tanpa adanya suara tangis bayi, yang nanti akan merepotkan.


David kembali duduk di samping pintu "Kenapa bisa seperti itu?" Meraup kedua wajah seolah tidak senang mendengar kabar kehamilan Aira.

__ADS_1


"Pak, masih ada yang bisa saya bantu?"


David baru sadar bahwa ada saksi mata di sana "Saya minta sama kamu supaya menyimpan rapat kehamilan Aira. Kalau berita ini sampai bocor, lihat apa yang bisa saya lakukan sama kamu" Ancam David.


Tentu si karyawan tadi merasa ketakutan. Dengan tangan gemetaran dan wajah menunduk ia berkata "Saya janji akan menyimpan rahasia ini serapat mungkin, pak"


David meraih sesuatu dari saku celananya "Ini buat ongkos kamu balik ke kantor" Uang lima ratus ribu ia berikan sebagai uang tutup mulut "Selama kamu bungkam saya akan memberi kamu banyak hadiah" ucap David seraya bangkit


"Baik, pak. Saya mengerti. Kalau begitu saya pamit undur diri"


"Hem...."


Dia pun lantas meninggalkan rumah sakit "Lumayan dapat cuan dari pak bos. Hehehe....sering sering aja kaya gini biar gue cepat kaya" Mencium uang pemberian David.


Tak berapa lama pintu terbuka perlahan "Sayang...." Ucap Aira. Tatapan David sedikit redup di banding sewaktu Aira baru masuk rumah sakit. Ada sebuah kekecewaan di dalamnya.


"Kamu sudah sadarkan diri?" Langkah demi langkah ia berusaha mendekati sang kekasih.


"Hem, aku baik baik saja. Kenapa aku bisa sampai di sini? apa yang terjadi pada ku?" Aira hendak memposisikan badan duduk seperempat lingkaran. David segera membantunya.


"Tadi kamu jatuh pingsan" Tatapan David mengarah pada perut rata Aira. Memang masih rata sebab kehamilan masih memasuki usia satu bulan.


"Kamu kenapa sayang?"


David duduk di ssmping Aira sembari menyentuh menundukkan kepala "Saya mau tanya sesuatu sama kamu, tapi janji jangan tersinggung...."

__ADS_1


"Ada apa, kamu mau tanya apa?"Menyentuh tangan David seraya menatap penuh cinta. Atas perhatian serta kasih sayang darinya, Aira seolah menjadi wanita paling beruntung di dunia.


"Kamu hamil"


Sontak kedua mata Aira membulat sempurna "Apa? aku hamil?"


David mengangguk kepala "Ya. Usia kandungan kamu sudah satu bulan"


"Astaga, benarkah? kamu tidak sedang membohongi ku kan sayang?"


Sekali lagi David menggeleng.


Rona pipi Aira mulai terlihat dengan senyum mengembang "Yey....aku senang sekali, sayang. Akhirnya sebentar lagi kita punya anak. Dengan begini kedua orang tua kamu akan merestui hubungan kita. Mereka akan menjadi opa dan oma untuk anak kita" Kebahagiaan itu tidak turut di rasakan David. Karena ia merasa ada sebuah kejanggalan. Justru kekecewaan dan prasangka buruk berkecamuk dalam pikirannya. Setelah kejadian pada malam itu, membuat David takut jika terjadi sesuatu antara Aira dan Jacky.


Meraih tangan David seraya berkata "Kamu akan menjadi seorang Daddy, sayang"


David melepas tangan Aira dari lengannya "Satu hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana kamu bisa hamil sedangkan setiap kali kita melakukannya, saya selalu pakai kontrasepsi?"


Aira sangat terpukul kala mendengar ucapan David "Jadi kamu mau bilang anak ini bukan anak kamu, iya begitu?" Dengan nada tinggi "Selain dengan kamu aku tidak pernah melakukan hal gila dengan siapa pun. Oke, kalau kamu belum siap punya anak, tapi jangan bicara kaya gini dong. Itu sama aja kamu nuduh aku berhubungan dengan lelaki lain"


"Tidak, maksud saya tidak seperti itu. Maafkan saya, bukan maksud saya bicara seperti itu. Sudah jangan menangis. Saya juga senang sekali kalau kamu hamil anak kita" Melihat air mata luruh dari mata sang kekasih, membuat David enggan memperpanjang masalah.


"Lain kali kamu jangan bicara seperti itu, aku nggak suka" memeluk badan David erat.


(Entah kenapa setelah mendengar dia hamil, hati ini serasa gelisah. Seharusnya saya senang sebentar lagi punya anak. Tapi, hati ini sedikit berbeda. Apa saya hanya belum begitu siap punya anak atau memang bayi itu bukan milik saya)

__ADS_1


__ADS_2