
Atin_PoV
*
Sepulang dari Majelis ta'lim aku bersiap akan tidur malam itu, namun aku di kejutkan oleh suara dering ponselku, mau tidak mau aku pun mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari pihak kepolisian mengabarkan bahwa keluargaku mengalami kecelakaan hebat di perbatasan jalur kereta api, tak jauh dari rumah.
Tentu saja aku terkejut mendengarnya, dan tak lama setelah panggilan itu berakhir aku segera bersiap untuk ke rumah sakit umum, dimana semuanya sudah di bawa kesana. Aku meminta tolong kepada Gofur untuk mengantarkanku ke rumah sakit, untungnya dia mau.
Gofur ini putranya Bibi masih kerabat Abah, Adik sepupu dari si Mbah Kakung dan Mbah putri, orang tua Abah dan Adiknya. Setelah sampai disana, ternyata si Gofur mau menemaniku beberapa saat sebelum ia pulang.
Mendengar kondisi Arga yang sangat parah, ia segera di tangani oleh Dokter setelah aku mengisi data pasien. Juga kondisi Abah yang tidak kalah parah dari Arga, sebab kata polisi posisi mereka yang berada di bangku depan-lah yang mengalami luka cukup parah, karena memang menabrak bangunan pos penjagaan.
Setelah keduanya mendapatkan penanganan di ruang operasi, aku bergegas mencari Delisha dan anak-anaknya yang juga mengalami luka-luka, tapi Alhamdulillahnya tidak separah Abah dan Arga.
Untungnya keduanya mempunyai asuransi yang segera aku urus. Arga-lah dulu yang mengurus surat tersebut, tidak hanya mereka, kami sekeluarga mempunyai masing-masing.
Aku sampai di sebuah kamar perawatan atas petunjuk salah satu suster yang bekerja. Begitu masuk sudah ada Zayyan yang duduk di kursi dekat Umminya. Anak itu mendapatkan luka di beberapa sisi wajah tampannya.
Namun aku sedikit bersyukur anak-anak selamat semuanya. Tak berapa lama Aziz datang, aku lega larema tidak sendiri lagi mebgurus hal ini, jadi semuanya aku serahkan saja padanya. Dua minggu pasca Arga di kebumikan, ternyata kabar duka kembali datang. Pgai itu Abah telah berpulang, aku awalnya mengira Abah pulang karena kondisinya yang mingkin sudah lebih baik. tidak tahunya justru jenazahnya yang di pulangkan.
Hati siapa yang tidak hancur, setelah Umma yag lebih dulu berpulang, lalu Arga Adikku, tak berselang lama Abah pula menyusul mereka. Ya Allah aku sangat kehilangan, terlebih Abah adalah sosok yang menjadi pengganti Ayah kandungku.
Di suasana berkabung aku mendenagr dari Nikmah bahwa si wanita nakal itu datang bersama keluarganya. Darahku tiba-tiba mendidih mendengarnya ada di rumah kami. Entah rasa benciku sudah di ubun-ubun kepada wanita itu.
__ADS_1
Sebab semua perististiwa yang menimpa keluargaku berawal dari dia. Dia yang telah merusak rumah tangga Aziz dan Nikmah, tak lama itu Umma meninggalkan kami semua. Lalu ruko bengkel Aziz yang tiba-tiba kebakaran membuat Aziz harus mencari pekerjaan tidak menentu di luar kota.
Dan sekarang Arga dan Abah juga sudah pergi untuk selamanya meninggalkan kami. Dan semua itu karena wanita gat4l itu, sungguh si4l bertemu dengannya. Entah selanjutnya giliran siapa yang akan pergi di antara aku atau Aziz.
Sepertinya wanita itu kutukan yang amat besar bagi keluarga kami. Untungnya waktu Zikri sakit aku sudah menyatukan Aziz dan Nikmah kembali. Ya akulah yang telah merencankan semua itu. Rasa sakit hati juga benci sudah tidak terbendung lagi oleh wanita bernama Anniyah itu.
Awalnya aku dan Nikmah saling bertentangan karena dia sudah bermain gil4 dengan saudara sepupunya sendiri yang bernama Rojak. Namun tak lama aku pula yang membuat keduanya salah paham dan bertengkar hebat, dan berakhir bercerai.
Setelah itu aku terus memikirkan cara agar Nikmah dan Aziz kembali bersatu, jujur aku sangat menyayangi Nikmah yang sudah aku anggap seperti Adikku sendiri, mungkin itulah yang membuatku nekat, juga aku sangat kasihan anak-anak harus terpisah dengan Ayah kandungnya.
Dan malam itulah aku merencanakan sesuatu, memasukkan obat tidur ke dalam kopi yang Aziz minum. Tak hanya itu di teh Nikmah juga aku beri obat tidur, pokoknya malam itu rencanaku harus berjalan dengan lancar dan tanpa adanya orang lain yang mengetahuinya, termasuk Nikmah dan Abah.
Dan persis pagi semuanya tegang, Abah langsung menyuruh Aziz untuk segera menikahi Nikmah kembali. Sungguh dalam hati aku sengat senang sekali rencanaku berjalan mulus, namun tidak aku perlihatkan bisa ketahuan semuanya.
Awalnya Aziz ingin menolak, namun karena itu perintah dari Abah, ia pun akhirnya terpaksa menyetujuinya. Aku tahu tidak ada yang bisa membantah ucapan dari Abah. Hingga ijab kabul telah selesai di hadapan Abah yang sedang sakit, aku mengucap syukur, aku tahu Aziz mengira Nikmah-lah yang sudah merencanakan perbuatan ini. Namun aku hanya diam saja, tidak berkomentar atau membela Nikmah.
Mendengar dia mengandung kembali aku tentu saja bahagia, sebab malam itu juga saran dariku, untuk memasukkan obat penambah ga***h ke dalam minuman Aziz. Ternyata rencana kami pun berhasil, dan sudah nyata buktinya. Sungguh aku sangat kasihan kepada Nikmah sudah beberapa bulan menikah namun Aziz sama sekali tidak mau menyentuhnya.
Aku tahu apa yang aku lalukan ini salah, namun semua ini aku lakukan demi Nikmah dan anak-anak juga. Biarlah semuanya aku yang menanggungnya, asalkan mereka semua bahagia, aku pun ikut senang.
Setelah tujuh harinya Abah, tepat seperti dugaanku malam harinya Aziz langsung pulang ke kampung halaman wanita gat4l itu. Heran juga dengan Adikku satu itu, apa dia sudah di pelet ileh wanita itu?
Aku jadi semakin tidak tega kepada Nikmah, dalam keadaan hamil seperti sekarang saja, Aziz sama sekali tidak menyentuh bahkan memperhatikannya istrinya, sepertinya sia-sia saja apa yang sudah aku lakukan dan perjuangkan untuk keduanya.
__ADS_1
" Sudah kamu yang sabar ya, tenangkan dirimu ingat kamu tengah hamil sekarang. Aku yakin suatu saat nanti Aziz pasti akan kembali padamu, percaya padaku." Ujarku kepada Nikmah yang sedang menangis.
Memang wanita mana yang tidak sakit hati melihat suaminya sendiri terus menerus mengabaikannya. Itulah kenapa hingga sekarang aku enggan untuk menikah, karena aku sudah pernah merasakan sakitnya di khianati oleh salah satu kaum Adam.
" Neng kurasa aku mulai menyerah." Lirih Nikmah padaku, saat ini hanya ada aku dan dia saja di kamarku. Dia sudah siap akan kembali ke kota pagi ini, sebab Mus harus kembali bekerja dan anak-anak juga harus kembali bersekolah.
" Jangan pesimis dulu Mah, Neng yakin ini hanya sebentar saja, lebih baik sekarang ini kamu tenangkan dirimu, dan selalu berpikir posistif terus, dan jangan putus berdoa, Neng yakin suamimu pasti akan kembali padamu." Jelasku mencoba menguatkannya.
" Ya sudah kami balik dulu ya Neng, Neng hati-hati di sini." Pamitnya.
" Iya, sebenarnya Neng ingin Mus saja yang disini menemani Neng di rumah, tapi dia sudah harus kembali bekerja. Jika nanti dia sudah menikah biarkan dia tinggal disini ya bersama Neng." Pintaku penuh harap. Sekarang aku hanya seorang diri di rumah, tidak ada siapa pun yang mau menemani.
" Itulah Neng, menikahlah agar rumah ini kembali ramai." Usulnya.
" Itu lagi di bahas, sudah-sudah ayo aku antar ke depan." Potongku, selalu saja ia meminta aku untuk segera menikah, tentu saja aku menolak, karena memang tidak ingin merasakan sakit hati kembali, toch buat apa menikah aku sudah banyak keponakan yang sudah aku anggap seperti anakku sendiri.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.