Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tidak Terima!


__ADS_3

Antoni_PoV


*


Seminggu yang lalu aku kembali ke kampung halamanku sebab istriku Najwa telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Memang keinginanku juga yang ingin anak pertamaku nanti seorang putra, dan Alhamdulillah keinginanku di kabulkan Tuhan walau kami harus melewati ujian dalam menunggu beberapa tahun setelah kami menikah baru di karuniai seorang buah hati.


Dan tentunya putraku adalah cucu pertama laki-laki di keluarga kami, Bapak dan Ibu sangat bahagia sekali. Namun ujian kembali datang, di saat asi istriku ternyata tidak bisa keluar bahkan sudah berulang kali mencoba namun tetap tidak bisa keluar walau setetes pun.


Akhirnya aku harus memutar otak agar bisa membelikan putraku susu formula yang harganya luamayan mahal, sebab sudah di coba di beri susu harga yang relatif murah dia terus saja diare. Dan aku mulai ikut ke pasar setiap pagj bersama temanku Iwan yang saat itu menawariku pekerjaan.


Dan itulah kenapa aku memilih pulang ke kampung sebab kebutuhan di kota semakin banyak, juga semakin mahal. Lebih baik aku pulang mencari pekerjaan di kampung saja, atau nanti pelan-pelan aku akan merintis usaha dengan modal tabungan yang kami berdua miliki selama bekerja di kota kemarin.


Malam hari sekitar pukul setengah sembilan aku ijin kepada istriku untuk mengantar krupuk itu ke rumah Nenek sebab sore tadi aku lupa memberikan titipannya saat pagi hari menyuruhku membelikan satu karung krupuk untuk di jual kembali olehnya.


Ya Nenekku memang sedari dulu berjualan aneka makanan ringan di depan rumah, juga pagi harinya beliau juga bejualan di sekolahan TK. Padahal sudah aku dan yang lain peringati supaya berjualan di rumah saja tidak perlu pergi ke sekolah sebab jaraknya juga lumayan dari rumah, itupun Nenekku berjalan kaki pulang pergi, katanya sekalian berolah raga.


Ampun deh Nenek-nenek satu ini, susah memang di ingatkan oleh semua anggota keluarga. Jadi kita semua pun tidak ada yang bisa melarangnya.


Tak lama aku parkiran motor Bapakku di halaman rumah Nenek yang luas itu, lampu ruang tamu masih menyala itu artinya Nenek dan Anniyah belum tidur, aku berjalan pelan ke arah teras dan berniat mengetuk pintu yang sudah tertutup itu, namun tangganku seketika menggantung di udara saat mendengar ada suara dari dalam rumah, itu suara Nenek dan Anniyah Adikku yang sepertinya tengah membahas sesuatu hal yang besar sebab suara Nenek sedikit berbisik, namun dikarenakan malam hari, aku yang berada di balik pintu tentu saja maosh bisa mendengarnya.


" Jika untuk mengurus ladang Nenek insya Allah Anni akan usahakan, namun tidak jika harus memiliki rumah ini Nek, tidak perlu sampai begitu, cucu Nenek 'kan bukan hanya Anni seorang, masih ada lima orang lagi. Anni tidak ingin ada pertengkaran nantinya di antara kami semua." Terdengar suara Anni yang ternyata mereka berdua sedang membahas ladang Nenek dan juga rumah ini.

__ADS_1


Enak sekali Anniyah sudah di pasarahin untuk mengurus ladang, namun tak hanya ladang ia juga di suruh menempati rumah ini. Ini tidak adil, aku tidak terima! Bukankah aku ini juga cucunya, cucu laki-lakinya yang seharusnya lebih berhak mengurus ladang di bandingkan Anniyah cucu perempuan yang lebih baik di rumah saja mengurus kedua putrinya yang masih kecil itu.


" Iya Nenek paham itu Nduk, masalah yang lain itu tidak perlu di pikirkan biar menjadi urusan Nenek. Untuk Susi dan Susan pasti mereka mengerti, apalagi keduanya sudah bekerja di kota, terlebih Armand yang sudah sukses, Nenek dengar dia mau menikah dengan orang luar apakah itu benar?" Terdengar Nenek menjawab perkataan Anniyah.


Ya dua Kakak perempuanku itu memang terbilang begitu mandiri hingga sekarang masih betah bekerja di kota dan aku dengar mereka berdualah yang telah membantu membangun rumah Ibunya, walau sudah memiliki Ayah tiri sekalipun, aku sedikit malu sebagai seorang pria, belum pernah aku sekalipun membantu Bapak, mungkin hanya ikut mencari rumput itu pun hanya sekali-kali.


Aku juga mendengar Putra pertama Bapak yang bernama Mas Armand akan menikah, yang saat ini tengah merantau ke pulau sumatra, ikut Pakdheku yang memang ikut transmigrasi besar-besaran waktu itu bersama keluarganya ke sebuah daerah baru di sana.


Mas Armand jauh lebih bijak lagi, dia yang paling menonjol dari kami semua, dia selalau jadi penutanku. Dia seperti wujud Bapak waktu masih muda, karena aku sempat melihat foto Bapak jaman masih muda dulu, mereka berdua itu sebelas dua belas-lah.


" Anni dengar juga begitu Nek, kita doakan saja supaya cucu-cucu Nenek bahagia selalu dimanapun berada, Aamiin." Anniyah kembali berujar ternyata dia juga mendoakan kami semua saudaranya, aku pun mengaminkan doanya.


" Aamiin, ya sudah tidurlah temani putri-putrimu tidur. Besok saja kita bahas lagi tentang yang tadi." Ujar Nenekku.


Aku segera mengetuk pintu itu, dan Nenek langsung membukanya." Assalamualaikum.." Sapaku.


" Wa'alaikumsalam, lho kamu Ton, kenapa malam-malam begini kesininya? Nenek tidak dengar suara motormu tadi, ayo masuk." Titahnya.


" Mau nganterin krupuk titipan Nenek tadi pagi." Aku pun berbalik ke arah motor dan mengambil karung tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah.


" O, iya Nenek lupa Ton, cukup tidak uangnya tadi?" Tanyanya setelah menerima karung dariku.

__ADS_1


" Ini masih ada sisa dua puluh lima ribu, ya sudah Anton pamit dulu Nek, takutnya nanti Najwa meminta sesuatu tapi tidak ada yang membantunya." Ujarku seraya menyodorkan dua lembar kertas itu pada Beliau.


" Sudah kamu simpan saja, ya sudah pulang hati-hati, terima kasih ya. Di rumah 'kan ada Ibu dan Bapakmu, mereka pasti juga membantu istrimu. Lagian kok istrimu itu manja begitu baru sekali melahirkan sudah membuat semua orang pada heboh dan kelimpungan, tidak seperti Anniyah dia sudah dua anaknya namun tidak manja." Sahut Nenek yang membandingkan Najwa dan Anniyah Adikku.


Alu pun hanya diam tidak ingin menanggapi, Nenek selalu saja begitu padaku dan juga istriku, seolah aku ini bukanlah cucu kandungnya, ya aku sadar watakku ini memang keras dan juga mulut tajamku ini yang kadang membuatnya merasa sakit hati, namun aku juga tidak bermaksud durhaka kepada Beliau.


" Ya sudah Nek istirahatlah, terima kasih, Anton pulang dulu. Assalamualaikum." Aku segera keluar dan bergegas pergi menunggangi kuda besi milik Bapak dengan melaju dengan cepat.


Tak di pungkiri aku sedikit sakit hati dan mulai tidak terima, aku selalu di beda-bedakan oleh Nenekku sendiri, apa karena mentang-mentang aku ini seorang pria, Nenek jadi bersikap keras padaku? Namun Najwa juga ikut kena imbasnya.


Sesampainya di rumah aku bersih-bersih lebih dulu, lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang dengan sedikit keras, sehingga membuat Najwa istriku pun terkejut.


" Ada apa Mas? Kok terlihat kesal begitu?" Tanyanya seraya bangun dari rebahannya.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2