Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Sudah Berbeda.


__ADS_3

Author_PoV


*


" Bagaimana para saksi, sah?" Tanya pak penghulu kepada dua orang saksi yang langsung di angguki keduanya dan juga oleh semua orang yang berada di ruangan tersebut.


" SAH..SAH..SAH.."


" Alhamdulillah,, sekarang kalian berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri. " Seru Pak penghulu lagi lalu di lanjutkan dengan membacakan doa untuk kedua mempelai.


Pengantin wanita menyalami tangan pria yang telah sah menjadi suaminya kembali dengan hikmat dan dengan senyum yang terus terpantri di wajah cantiknya itu, walau usia keduanya sudah tidak lagi muda, namun jika orang lain yang melihat pasti mengira mereka pasangan sejati yang baru di persatukan kembali.


Lain halnya dengan mempelai wanita yang mampu menampilkan senyuman manisnya. Sang mempelai pria justru terlihat berwajah datar tanpa senyum sama sekali. Jangankan untuk tersenyum, untuk menatap ke depan saja rasanya sungguh berat untuknya.


Ya siapa lagi jika bukan Aziz dan Nikmah yang menikah kembali pada hari ini. Jika dulu pernikahan mereka di dasari atas dasar suka, cinta dan berjalan bahagia. Lain halnya dengan sekarang yang sangat terlihat jika salah satunya karena keterpaksaan. Dan tentunya Aziz-lah yang terpaksa menikahi Nikmah atas permintaan dari Abahnya.


Akibat kejadian memalukan juga membingung kemarin pagi membuat Aziz terpaksa menuruti permintaan dati Abahnya. Yang entah akan bagaimana nasib pernikahannya dengan Nikmah kedepannya nanti, ia hanya bisa pasrah untuk saat ini.


" Kenapa suaminya terlihat tegang sekali? Oh iya, kalau ada waktu luang suaminya bisa langsung mengurus buku nikahnya ya. Sepertinya semuanya sudah cukup jelas ya, sekali lagi kami mengucapkan selamat untuk kedua mempelai semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohrmah, Aamiin. Kalau begitu saya dan rombongan pamit permisi dulu, sebab sudah di tunggu untuk menikahkan pasangan yang lain." Pamit sang Penghulu kepada kedua mempelai juga kepada anggota keluarga yang hadir.


Aziz yang merasa di sindir hanya diam saja tidak ingin membalas perkataan dari sang penghulu, bahkan untuk sekedar meng-aminkan doa dari pak penghulu saja rasanya suara tercekat di tenggorokan, jadi yang bisa ia lalukan adalah diam itu lebih baik, sebab perasaannya sendiri sedang tidak menentu saat ini. Bila dulu ia menikahi Anniyah juga karena terpaksa, tapi berakhir bahagia. Berbeda dengan yang sekarang, sama-sama terpaksa akan tetapi maknanya jauh berbeda.


Kalian bisa bayangkan jika berada di posisi Aziz yang harus di paksa menikahi wanita yang tidak lain adalah mantan istrinya sendiri. Bagaimana perasaan kalian? Terlebih ia tidak sanggup untuk meminta ijin terhadap Anni istri kecilnya sebelumnya.


Tidak sanggup dalam artian, tidak sanggup melihat istrinya itu terluka akibat dari perbuatannya. Tidak sanggup melihat wajah cantik itu bersedih. Tidak sanggup jika harus melihat hati istri kecilnya tersakiti olehmya.

__ADS_1


Sepeninggalan rombongan Pak penghulu, para tetangga, RT, RW yang sengaja di undang ke rumah sebagai saksi pun juga ikut pamit undur diri sekaligus tidak lupa mengucapkan kata selamat untuk keduanya. Walau pada awalnya mereka semua terkejut dengan kabar berita ini, akan tetapi sebagai tetangga yang baik, mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik saja untuk keduanya.


Dan yang datang juga hanya para suami-suami tetangga mereka saja, sementara para istri-istri mereka yang biasanya julid, dan bergosib ria kini hanya bisa tinggal diam di dalam rumah. Memang Nikmah sengaja tidak mengundang mereka, sebab sudah sangat tahu apa yang akan terjadi setelahnya.


Menu makanan juga kudapan semuanya sudah di persiapkan oleh Neng Atin. Jadi tidak ada yang meminta bantuan kepada para Ibu tetangga maupun orang lain. Semuanya di kerjakan Atin sendiri adn di bantu oleh dua keponakan cantiknya yaitu Mus dan juga Hilda.


Kini tinggal keluarga inti saja yang berada di dalam rumah kedua mempelai, keempat anak-anak mereka, Abah, Neng Atin, dan tidak ketinggalan Cak Arga beserta anak dan istrinya Delisha yang baru datang pagi ini. Mereka berdua pun tak kalah terkejutnya setelah mendapatkan kabar yang sangat mendadak ini.


Nikmah juga sengaja tidak mengundang keluarga Pamannya, terlebih Rojak, sebab ia memang sudah tidak lagi berhubungan dengan pria itu pasca pertengkaran hebat di antara mereka lalu berakhir dengan perpisahan malam itu.


" Alhamdulillah, sekarang kalian sudah kembali menjadi pasangan suami istri. Pesan Abah kalian berdua yang akur, jangan sering bertengkar, bicarakan terlebih dahulu semua masalah yang menimpa kalian sebelum mengambil keputusan yang tepat. Anak-anak semua juga sekarang sudah semakin dewasa sehingga sudah pasti sangat paham sekali apa yang terjadi. Dan mungkin ini adalah takdir yang harus kalian jalani." Terang Abahnya panjang lebar.


Baik Aziz, Arga dan Delisha saling terdiam, raga mereka memang tengah berada disana. Namun tidak dengan pikiran mereka yang kini justru memikirkan keadaan Anniyah. Entah sedang apa wanita itu, di saat suaminya menikah kembali dengan wanita lain, tepatnya adalah mantan istrinya sendiri.


Bagaimana perasaan Anniyah ketika mendengar kabar gak terduga ini, begitulah yang ketiganya pikirakan saat ini. Terlebih Aziz perasaannya yang sangat gamang saat ini, dia sangat bingung juga resah bagaimana nanti akan menjelaskan kepada Anniyah.


" Cacak pamit dulu ya, serahkan saja semuanya kepada Allah. Semua ini terjadi juga atas kehendakNya. Tapi jika nanti kamu sudah pulang ke rumah Anni jangan sampai tidak menceritakan semuanya kepada dirinya, sebab dia juga istri sahmu, dan dia berhak tahu." Bisik Arga pelan sembari memeluk Adik laki-lakinya yang kembali menglami kejadian yang sama.


Sepeninggalan semua anggota keluarganya, kini rumah kembali sepi, anak-anak juga sudah pada istirahat di kamar masing-masing atas perintah Uminya, sebab acara akad nikah tadi memanng sengaja di gelar seusai shalat Isya'. Sehingga kini hanya tinggal beres-beres saja dan bisa di kerjakan keesokan harinya.


" Jadi Abi setiap hari akan berada di rumah Bang?" Tanya Zikri penasaran, ia terlihat bahagia saat melihat kedua orangtuanya kembali menikah, itu berarti Abi dan Uminya akan terus bersama seperti dulu lagi, sederhana itulah keinginannya sebagai seorang anak.


" Ya mungkin saja, sudah cepatlah tidur, besok harus bangun pagi." Sahut Aidan yang tak ingin membahas perihal hubungan kedua orangtuanya.


Di usianya yang telah beranjak remaja, ia sudah cukup paham apa yang terjadi di rumah ini. Ia sangat tahu Abinya terpaksa menikah kembali dengan Uminya, dan ia juga sgat tahu Abinya mempunyai istri yang lain, yang dulu mereka sering bertemu.

__ADS_1


* Malam pun semakin larut.


Di dalam kamar pengantin, tidak seperti pengantin baru pada umumnya, sebab pernikahan ini adalah pernikahan kedua bagi mereka jadi sudah pasti tidak ada yang spesial yang mereka lakukan.


" Lho Abi mau kemana kok bawa bantal dan selimut?" Tanya Nikmah menatap heran ke arah laki-laki yang kembali menikahinya malam ini.


" Tidurlah." Jawab Aziz singkat dan sedikit ketus.


" Tidur. Tidur dimana? Tempat tidurnya 'kan ada disini Bi, kita ini sudah menjadi suami istri kembali lho, masa..."


" Kamu tidur saja, aku ingin tidur disini!" Sela Aziz dengan cepat merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang lalu berusaha memejamkan kedua matanya agar cepat terlelap, itu juga sekalian ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan Nikmah ajukan padanya.


Mendengar perkataan dari suaminya tentu saja Nikmah merasa kecewa juga sakit hati, namun ia hanya bisa diam tidak ingin menanggapinya, takut dampaknya akan semakin


panjang jika di tanggapi. Perlahan ia pun ikut merebahkan diri, berharap juga cepat terlelap, tidak terasa bulir bening mengalir dari sudut kedua matanya.


Kamu sungguh berbeda,, Segitu hinakah aku sekarang di matamu Bi..


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2