
Najwa_PoV
*
Setelah selesai memakaikan pakaian pada Nino putraku, Nenek pun berpamitan akan pulang. Namun Mas Anton suamiku justru menahan beliau dan sekarang keduanya sudah duduk berdua di ruang tamu, sedangkan aku masih duduk di dalam kamar. Entah kira-kira apa yang akan Mas Anton bicarakan dengan Nenek?
Apa ini tentang masalah yang tadi? Tapi bukankah tadi Mas Anton sudah meminta maaf kepada Nenek yang tiba-tiba marah dengan cucunya itu. Aku pun hanya bisa diam ingin mendengar juga pembicaraan mereka seraya menyusui Nino yang mulai mengantuk.
" Ayo katakan saja!" Seru Nenek yang sepertinya sama penasarannya denganku.
" Jadi begini Nek, aku tahu Nenek punya ladang yang sudah lama tidak terurus benar 'kan? Dan niatnya Anton ingin mengurusnya kalau boleh, daripada nggak di tanami 'kan sayang Nek." Sahut Mas Anton, yang ternyata ingin mengurus ladang milik Neneknya.
" Iya tapi sudah Nenek pasrahkan terlebih dulu kepada Anni, dia yang akan mengurusnya." Ujar Nenek yang secara tidak langsung menolak permintaan dari Mas Anton.
Nenek lebih percaya kepada Anniyah cucu perempuannya di bandingkan Mas Anton cucu laki-lakinya sendiri, kok aneh ya menurutku? Seharusnya laki-lakilah yang bekerja dan mengurus ladang, dan kami para istri di rumah saja mengurus rumah juga mengurus anak-anak, ya jika hanya sekedar membantu saja sih tidak masalah.
" Masak Nenek nggak kasihan sama Anniyah, coba bayangkan misalkan dia yang mengurusnya lalu bagaimana dengan kedua putri mereka, siapa yang akan menjaga Zia dan Zaheera di rumah, jika Anniyah di sibukan mengurus ladang, yang tentunya itu tidaklah mudah Nek. Dan niat Anton baik lho ini, jadi biarkan Anton saja yang mengurus ladang Nenek, aku 'kan seorang laki-laki sedangkan Anniyah itu perempuan mana sanggup dia mengurus ladang seluas itu sendirian Nek." Protes Mas Anton yang terlihat ingin sekali mengurus ladang tersebut.
" Kamu meremehkan seorang wanita seperti kami? Anniyah itu Adikmu sendiri Ton, lihat! Nenek saja sampai sekarang masih sehat bugar setiap hari berjalan kaki ke sekolah berjualan, lihat itu Ibumu juga dia bekerja dari subuh hingga siang hari belum lagi bersih-bersih rumah, mencuci pakaian, piring kotor, semuanya kami kerjakan sendiri lalu Adikmu lihat dia bisa mengurus dua putrinya seorang diri, dan kalian para pria, hanya bisa melakukan satu pekerjaan saja setiap hari." Dengus Nenek terdengar begitu kesal hingga mengeluarkan semua uneg-unegnya yag dia tahan.
Aku masih setia mendengar pembicaraan keduanya, aku tidak mendengar Mas Anton yabg langsung membalas perkataan Neneknya, mungkin ia terkejut setelah mendengar pengakuan Nenek yang di luar dugaannya itu.
__ADS_1
Namun kali ini aku berada di pihak Nenek, apa yang di katakannya tadi adalah kebenaran, namun kembali lagi sepertinya Nenek tetap keukeh menyuruh Anniyah-lah yang mengurus ladang miliknya tersebut.
" Bukan begitu Nek. Sungguh aku sama sekali tidak meremehkan Anniyah Adikku, juga Nenek apalagi meremehkan semua para wanita. Aku tidak bermaksud begitu tadi Nek. Dan tentu saja aku merasa bangga kepada Ibu, Nenek serta Anniyah yang sudah sejak dulu memang sudah mandiri. Namun aku hanya ingin sekedar membantu saja, agar Niyah juga tidak kerepotan, Nenek 'kan juga sudah tua, lebih baik mengerjakan yang ringan-ringan saja. Nanti jika sayur atau tanaman yang akan aku tanami berhasil, hasilnya tentu saja aku bagi kepada ke semua anggota keluarga." Terang Mas Anton panjang kali lebar, mungkin agar Nenek tidak salah paham dengannya.
Apa yang di katakan suamiku ada benarnya juga, toch Mas Anton juga cucunya, masa iya Nenek tidak percaya? Dan aku pun mendukung niatan Mas Anton yang ingin menjadi petani pemula disini. Sebab katanya Mas Anton sudah tidak ingin merantau lagi ke kota, aku sih hanya mengikutinya saja, toch semua yang akan di lakukan oleh suamiku nanti juga untukku juga untuk anak-anak kami.
" Benar juga apa yang kamu katakan Ton, kasihan Anniyah jika harus mengurusnya sendiri, lho tapi 'kan kamu sudah bekerja di kota Ton, terus bagaimana jadinya kamu ingin mengurus ladang Nenek?" Tanya Nenek yang sepertinya belum mengetahui perihal kepindahan kami kesini.
" Nenek belum dengar ya, kalau Anton dan Najwa sudah tidak kembali lagi ke kota. Hidup di kota semuanya serba mahal Nek, apa-apa mahal, belum lagi beli susu untuk Nino, bahkan kami juga berencana akan pindah penduduk kemari Nek sekalian mengurus akte kelahiran cicit Nenek." Jelas Mas Anton, aku tak bisa melihat wajah Nenek yang mungkun saja terkejut setelah mendengar berita ini dari cucunya.
" Oalah jadi begitu toch, kok Nenek tidak di kasih tahu. Ya sudah begini saja, nanti Nenek akan bicarakan dulu dengan Anni, jika kamu yang akan mengurus ladang Nebek, tapi kalau Anniyah mau mengurus juga, kalian berdua bekerja sama saja, itu jauh lebih mudah bukan?" Usul Nenek yang seolah menengahi antara Mas Anton dan Adiknya Anniyah agar tidak saling bertengkar.
Mudah-mudahan rencana Mas Anton berjalan lancar, aku selaku istrinya tentu saja akan selalu mendukungnya, jika niatan itu baik. Toch Mas Anton juga cucu kandungnya Nenek, jadi sama-sama memiliki hak untuk mengurus ladang itu bukan!?
" Ya sudah Nenek pulang dulu, mumpung kamu hari ini libur bantuin istrimu di rumah Ton." Titah Nenek yang tak lama masuk ke dalam kamar, membuatku menoleh menatap beliau.
" Nduk Nenek pulang dulu ya, besok Nenek kesini lagi, kamu jangan banyak tidur kalau siang hari, darah putihnya bisa naik ke mata, itu tidak baik, ya sudah kalian berdua baik-baik di rumah ya, Assalamualaikum.." Pamitnya setelah memberi wejangan panjang padaku, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Iya wa'alaikumsalam. Hati-hati Nek, Anton sebenarnya mau nganterin pulang, tapi motornya yang nggak ada Nek, maaf ya." Sesal suamiku yang hingga sekarang masih belum memiliki kendaraan roda dua sendiri.
" Sudah tidak perlu, Nenek jalan kaki saja itu menyehatkan." Tolak Nenek seraya melenggang pergi pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Semoga niatan Mas Anton kali ini berhasil dan kami bisa memiliki kendaraan sendiri, Aamiin. Tak henti-hentinya aku berdoa agar keinginan kami bisa terwujud. Tak lama Mas Anton kembali masuk ke dalam kamar.
" Nino sudah tidur sayang?" Tanyanya yang langsung duduk di sisiku.
" Sudah Mas lihat itu tidurnya pulas sekali! Jadi Mas mau mulai bertani? Mas 'kan cucu kandung Nenek, yang pasti juga punya hak dong terlebih kamu cucu laki-lakinya Mas, enakan Anniyah dong, sudah tinggal di rumah Nenek yang besar, di suruh mengurus ladangnya pula, enak banget. Kamu harus minta hakmu Mas yang sama-sama cucunya apalagi kamu cucu pertamanya!" Seruku agar suamiku ini sadar jangan mau kalah dari Adik-adiknya, biar adil.
" Aku 'kan memang bukan cucu pertamanya Nenek Dek." Ujar suamiku yang tentunya membuatku terhenyak.
" Apa?? Apa ini Maksudnya Mas? Apa Bapak punya anak selain kalian bertiga?" Tanyaku yang tentu saja sangat terkejut bukan main.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1