
Malam hari David meminta anggota keluarga Diandra beserta kedua orang tuanya untuk makan malam di sebuah cafe. Mereka senang akhirnya David berinisiatif mangundang semua anggota keluarga makam malam bersama. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Terlihat Nyonya Nickolas masih duduk terpaku di depan meja rias. Menatap diri sendiri sambil memikirkan sesuatu. Ada beberapa hal mengganggu pikiran, sejak David mengajak mereka makan malam. Tuan Nickolas telah selesai bersiap, ia menghampiri sang istri "Kenapa belum bersiap juga, ma? ini sudah jam delapan lho, kasihan nanti besan nunggu lama" Menyentuh bahu sang istri.
Nyonya Nickolas menoleh "Entah kenapa malam ini hati mama tidak tenang, pa. Seperti akan ada hal besar terjadi pada keluarga kita" Beliau sudah mencium aroma buruk atas sikap sang putra yang tiba tiba saja minta semua keluarga berkumpul. Pasti ada sesuatu hal yang akan David sampaikan. Di tambah lagi beliau sudah tau bahwa sang putra memiliki hubungan gelap dengan wanita lain. Sampai saat ini beliau masih merahasiakannya dari sang suami. Beliau belum berani membuka mulut bahwa anak kesayangannya telah menghianati istri pilihan mereka.
"Papa juga sebenarnya agak heran juga sih sama sikap David. Tidak biasanya dia mengajak kita makan barsama. Tau sendiri kan dia tidak akan mau datang setiap kali kita mengajaknya makan bersama dengan keluarga besan. Apa mungkin anak itu sudah mulai menerima semuanya? Kelau memang benar seperti itu, papa senang sekali. Akhirnya dia sadar bahwa jodoh pilihan kita adalah yang terbaik"
Melihat wajah bahagia sang suami, membuat Nyonya Nickolas sedih. Kenyataan tidak sesuai dengan harapan (Maafkan mama, pa. Mama tidak bisa berkata jujur sama mama, tentang kelakuan anak kita di luar sana. Mama tidak mau papa kecewa)
"Lho mama kenapa? kok mama menangis?" Melihat air mata sang istri berjatuhan.
"Tidak, pa. Mama hanya...." Tak mampu berkata lebih Beliau langsung memeluk sang suami "Mama hanya terharu saja" Dusta Nyonya Nickolas.
"Papa juga terharu, akhirnya anak kita kembali seperti dulu lagi. Sudah lama kita tidak meluangakan waktu bersama. Ya sudah jangan sedoh lagi (Menyeka air mata sang istri) sekarang mama siap siap, papa tunggu di luar"
"Mas apa kita sekalian mampir dulu rumah mama...." Tanya Diandra.
"Tidak perlu" Jawab David datar. Saat ini mereka berada dalam satu mobil yang sama.
Diandra tersenyum melihat wajah David dari dekat. Di tambah malam ini David sedikit berbeda, penampilannya sedikit istimewa. Ia mengira bahwa malam ini suaminya akan membuatnya bahagia.
"Kamu tau tidak, mas? saya senang sekali bisa makan malam bersama keluarga besar kita. Pokoknya malam ini saya happy..." Reflek Diandra menyentuh lengan David. Membuat kedua bola mata David membulat. Seujung kuku pun tak akan David ijinkan wanita lain menyentuhnya. Tatapan jijik David membiat Diandra serikit terkejut "Maaf, mas. Saya tidak sengaja"
"Tidak usah berlebihan...." Menepis tangan Diandra lalu kembali fokus pada stir kemudi.
(Biar pun mas David sedikit dingin dan kasar, akan tetapi saya sangat mencintai dia. Kalau ada hal paling berharga di dunia ini, maka dialah orangnya. Terima kasih, Tuhan. Telah engkau luluhkan hati mas David. Saya yakin kejadian malam itu perlahan mengubah perasaan mas David) Diandra tersenyum simpul sambil melihat ke arah suaminya.
"Kenapa senyum begitu? ada yang lucu?" Ketus David.
Diandra menggeleng kepala "Tidak, mas. Saya hanya senang saja bisa keluar berdua sama mas" Sambil menunduk malu. Senyum terus mengambang di bibir manis Diandra.
Membuang muka sambil tersenyum sinis(Kamu tidak akan menyangka apa hal besar apa di balik semua ini. Dan setelah mendengar apa yang akan saya katakan, jelas kamu akan hancur. Sekarang sudah waktunya semua berakhir. Sudah cukup semua kepura puraan ini. Saya tidak akan lagi menyakiti hati wanita ini, begitu pula dengan hati yang saat ini saya jaga. Meski saya tau wanita ini memiliki perasan tulus, dan baik. Tapi, tetap saja saya tidak menaruh perasaan sedikit pun padanya. Dari pada hidup bersama tapi saling menyakiti, lebih baik mengakhirinya)
Tidak lama kemudian sampailah mereka depan cafe. Parkiran nampak padat, sebab malam ini bertepatan malamnya anak remaja. Malam minggu. Banyak kaum muda mudi menghabiskan waktu bersama pasangan, teman, atau pun keluarga.
"Kamu masuk saja dulu. Saya ada urusan sebentar" Sambil melihat layar ponsel.
Diandra melihat sekeliling cafe "Kita duduk di mana, mas?"
"Terserah kamu mau duduk di mana" David berjalan sedikit menjauh dari Diandra.
"Kalau begitu saya masuk dulu, mas. Oh iya mas mau di pesankan minum dulu, tidak?"
Melempar tatapan sinis "Kamu bisa diam tidak? dari tadi berisik sekali"
__ADS_1
Seketika Diandra menunduk ketakutan "Maaf, mas"
David mengacuhkan sang istri. Ia terlihat menelepon seseorang. Dari kejauhan Diandra melihat suaminya nampak bicara serius kepada seseorang "Mungkin mas David sedang telepon mama atau papa, mungkin" Mengkerdikan bahu seraya berjalan masuk ke dalam cafe.
"Diandra, sini nak" Panggil seseorang. Ternyata sang ibu sudah datang lebih dulu bersama seorang lelaki, tidak lain adalah sang ayah. Mereka nampak tersenyum ke arah Diandra. Diandra segera menghampiri kedua orang tuanya "Mama, papa, sudah lama di sini?" Mereka cipa cipiki selayaknya anak kepada orang tua.
"Belum lama, baru sekitar lima menitan" Jawab sang ibu.
"Mana suami kamu? kenapa datang sendirian?" Melihat ke arah pintu cafe tapi tidak ada tanda tanda kebaradaan David.
Diandra duduk sambil tersenyum "Mas David masih di parkiran, pa. Katanya ada urusan sebentar" Ujar Diandra.
"Oh begitu, ya saduh kamu mau pesan minum apa?" Menyodorkan daftar menu.
"Diandra nanti saja, ma. Nunggu mas David."
Tidak berala lama datanglah kedua orang tua David "Halo jeng sudah lama nunggu ya? maaf tadi jalan macet banget" Ucap Nyonya Nickolas sambil cipika cipiki.
"Tidak masalah, jeng. Ayo duduk" Kedua keluarga sudah berkumpul bersama.
Tuan Nickolas mencari cari keberadaan sang putra "David di mana? kenapa tidak ada di sini?"
"Tqdi mas David masih di luar, pa. Diandra kira tadi mas David telepon papa. Soalnya tadi Diandra lihat mas David menerita telepon" Jawab Diandra.
Nyonya Nickolas melempar pandang ke arah suaminya "Tidak, ya pa. Kita tidak ada menghubungi dia dari tadi"
"Nah, itu dia mas David" Ucap Diandra sambil melambaikan tangan ke arah suaminya "Sini mas"
"Pa, sepertinya hubungan antara anak kita dengan suminya semakin dekat saja. Papa lihat deh senyum di bibir Diandra, nampak bahagia sekali, bukan?" Nyonya Adinata bahagia melihat rumah tangga putri kesayangannya berangsung membaik. Mungkin semenjak kejadian itu mengubah pola pikir David, sampai membuat dia sadar. Begitu pemikiran keluarga Diandra.
"Maaf, sudah menunggu lama" David duduk di samping Diandra. Tatapan mata beralih dari satu orang ke orang lainnya.
"Ehem....sebenarnya tujuan saya mengumpulkan kalian semua di sini, karena ada hal penting yang akan saya sampaikan" Suasana menjadi serius.
"Hal penting apa? jauh lebih baik kita pesan makan malam dulu, sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini" Ucap Tuan Adinata. Meski dia sempat kesal atas perlakuan David yang telah menyakiti hati putrinya. Tapi, melihat ada niat baik dari sang menantu membuatnya yakin jika David telah berubah.
"Benar kata papa, mas. Kita pesan makan dulu. Pasti mas David sendiri lapar, dari tadi belum makan apa apa"
"Terserah kalian saja" David menunda pembicaraan penting itu sampai makan malam selesai.
Setelah beberapa saat kemudian. Mereka selesai makan malam "Makanannya enak" Ucap Tuan Nickolas.
Nyonya Nickolas terlihat hanya mengaduk minumannya sambil melihat wajah sang putra. Beliau melihat ada gelagat kurang baik dalam tatapan mata David (Dia mau bicara hal penting apa, sampai mengundang semua keluarga? jangan sampai dia bicara melantur, atau dampaknya akan buruk untuk semua keluarga)
__ADS_1
"Ehem.... sebenarnya ada yang ingin saya katakan kepada Diandra beserta kalian semua. Saya rasa semua sudah cukup tau bahwa saya tidak pernah ada perasaan apa pun terhadap Diandra. Maka dari itu saya berniat mengakhiri pernikahan kami" Ujar David sembari menatap wajah Diandra. Kebahagian yang baru saja menyelimuti hati wanita cantik tersebut, seketika di penuhi awan hitam.
Sontak saja Diandra terperanjat mendengar kalimat menyakitkan keluar dari mulut suaminya "Apa kamu bilang, mas? jangan main prank deh, nggak lucu tau" Berusaha menampik semua kenyataan. Namun, semua nyata.
David memperlihatkan sisi keseriusan "Saya serius. Sekarang juga di depan kedua orang tua kamu dan mereka (Orang tua David) saya menjatihkan TALAK kepadamu"
Seketika Tuan Adinata bangkit lalu meraih krah baju menantunya "Berani sekali kamu berkata seperti itu...."
Dengan santai David melepas cengkraman tangan mertuanya "Untuk apa mempertahankan pernikahan tanpa adanya cinta. Semua hanya menyakiti kami. Dari pada saling menyakiti, lebih baik mengakhiri. Perceraian ini tidak hanya membebaskan saya dari ikatan terkutuk ini, tapi saya juga membebaskan anak anda dari kesepian. Percuma saja dia terus bersama saya, karena saya tidak akan tertarik padanya sedikit pun. Dan lagi saya sudah memiliki wanita lain jauh sebelum dia ada" Jelas David sembari bangkit.
Tuan Nickolas terpukul atas ucapan sang putra "Bicara omong kosong apa lagi kamu ini, Vid? jangan sembarangan kalau bicara" Mendekati sang putra.
Tatapan David mengatakan bahwa semua ini benar adanya "Saya tidak pernah mau main main dalam masalah ini. Saya serius. Saya ingin mengakhiri pernikahan terkutuk ini. Sudah cukup anda menyiksa saya selama ini. Sekarang saatnya saya hidup atas pilihan saya sendiri"
Plak.....
Nyonya Nickolas selaku ibu kandung David ikut turun tangan. Seorang wanita merasa tersakiti atas sikap David saaat ini "Jangan bicara sembarangan kamu. Cabut semua ucapan kamu itu"
David tersenyum sambil menatap kedua mata sang ibu "Hahaha....Tidak akan pernah. Keputusan saya sudah bulat. Terima atau tidak saya tetap akan menceraikan dia. Sebab, sebentar lagi saya akan menjadi seorang ayah"
Bagai gemuruh guntur di siang malam hari. Ucapan David membuat banyak hati sakit, terutama Diandra.
"Maksud kamu apa, mas? Kamu pasti bercanda, kan? kamu nggak serius kan, mas?" Diandra meraih lengan suaminya sembari menghuyung pelan. Sigap David menepis tangan Diandra "Saya tidak pernah bicara omong kosong. Sebentar lagi saya akan menjadi ayah dari kekasih saya. Dan kamu harus pergi dari hidup saya, mengerti?!" jari telunjuk David mengacung tepat di depan wajah Aira.
"Cukup! sudah cukup, semua ini. Sebagai seorang ibu saya tidak terima anak saya di sakiti oleh suami macam dia. Oke, kalau itu keputusan kamu ingin berbisah dari anak saya, maka saya akan mengabulkannya. Saya tidak rela melihat anak saya di sakiti terus menerus. Ayo sayang kita pergi dari sini" Nyonya Adinata memaksa Diandea pergi dari hadapan keluarga Nickolas.
"Tidak, ma. Diandra ingin bicara sama mas David" Menolak pergi demi mempertahankan suami.
Sang Ayah ikut turun tangan "Sudahlah, nak. Relakan saja suami pengecut seperti ini. Kamu itu terlalu berharga untuk sampah seperti dia" Ujar Tuan Adinata sembari mengusap lengan Diandra.
"Ma, bawa Diandra keluar dulu" Tirah Tuan Adinata kepada sang istri.
"Ayo, sayang kita keluar, nak. Harga diri kita sudah di injak injak oleh mereka. Kita pulang nak, ayo" Setengah menyeret tangan Diandra agar mau ikut keluar dari cafe.
Kemarah Tuan Adinat tergambar jelas. Beliau mengacungkan jari telunjuk tepat di wajah David "Ingat! Karma masih berlaku. Suatu saat nanti kamu akan menyadari kesalahan kamu karena telah mencampakkan anak saya" Tuan Adinata langsung pergi.
"Jeng, tunggu dulu kita bicarakan semua baik baik. Tolong jeng jangan pergi" nyonya Nickolas berusaha menghentikan keluarga besan beserta menantu untuk tidak pergi dari sana.
"Untuk apa jeng, bersusah payah menghentikan kami, sedangkan dia(Menunjuk ke arah David) tidak ada etikat baik menghentikan kami. Jujur saya menyesal telah menjodohkan anak kami dengan putra anda"
Nyonya Nickolas terus mebujuk mereka, tetap saja mereka tidak mau mendengarkan. Diandra di bawa pergi pihak kelaurga. Sedangkan David masih berdiri di dalam cafe.
"David, kamu......." Geram atas sikap sang putra.
__ADS_1
Bruk.....
Pukulan keras mengenai wajah David "Dasar anak tidak tau diri, suami macam apa kamu tega menceraikan wanita sebaik Diandra, demi wanita murahan. Papa kecewa sama kamu." Giliran Tuan Nickolas meninggalkan David sendirian.