
Aziz_PoV
*
" Tidak perlu sungkan begitu, sekarang panggil Gus aja berasa seperti ulama aku,, hehe. Ayo mampir dulu ke rumah Tok." Ajakku sekalian mau mengobrol dengannya dan yang lain juga yang saat ini sudah menungggu di dalam rumah.
" Ah baiklah Gus. Tapi ngomong-ngomong rumah ini sebenarnya—
" Iya aku sudah tahu kok. Maka dari itu aku ingin mendengar cerita lengkapnya seperti apa darimu, kamu 'kan asli warga sini sudah pasti tahu, apa kamu sedang sibuk saat ini?" Tanyaku yang mungkin dia ingin melakukan aktivitas yang lain, lantaran aku ajak mungkin dia merasa sungkan jika menolaknya.
" Oh tidak ada Gus, sehabis mengantar Nenek berobat saja tadi saya hanya bersih-bersih halaman belakang." Jawabnya mantap, itu berarti dia memang tidak sibuk.
" Memang Neneknya sakit apa Tok?" Tanyaku sedikit penasaran.
" Ini Gus, penglihatan Nenek semakin menurun mungkin faktor usia juga."
" Oh Ya Allah, semoga segera sembuh ya Neneknya, kita juga tidak bisa menentang takdir jika sudah waktunya, ayo sebaiknya masuk dulu kita lanjut ngobrol di dalam."
Kami berdua pun berjalan menuju rumah baru yang akan aku dan keluargaku tempati. Memang saat pertama sampai tadi aku sudah merasa lain hawanya di rumah ini, terlebih di kebun kopi samping rumah ini. Namun aku berharap mudah-mudahan mereka tidak menggangggu kami sekeluarga, Aamiin.
" Assalamulaikum.." Ucap kami bersamaan.
" Walaikumsalam."
" Oh ada tamu toch, mari masuk Nak." Pinta Ibu mertua kepada Totok mantan muridku di kota.
" Terima kasih Bu." Dia pun duduk di dekat Bapak mertua, kemudian di susul aku di sampingnya.
" Titip anak-anak ya Bi." Ujar istriku.
Anni beranjak berjalan ke belakang bersama Ibu dan Bu Sam tetangga rumah mungkin mau membuat minuman atau yang lainnya. Sehingga anak-anak di tinggalkan pada kami semua para laki-laki.
__ADS_1
Aku pun mengusulkan akan memagari rumah ini terlebih dahulu agar membuat istri dan anak-anakku nyaman nantinya. Dan ternyata usulanku di setujui oleh Bapak mertua juga semuanya, Totok langsung mengusulkan dia yang akan memberi kabar kepada semua tetangga jika nanti sore akan di adakan acara selamatan syukuran sekalian memagari rumah.
" Alhamdulillah terima kasih banyak ya Tok." Ucapku seraya menatap ke depan.
" Iya bagus itu, sekalian buat menjaga kalian semua. Kita tidak tahu di dalam sini itu seperti apa sebelumnya, terlebih rumah ini sudah lama tidak di tempati bukan!" Sahut Bapak yang sangat menyetujuinya.
Hari menjelang siang, Bapak, Pak Ran serta Totok pamit pulang terlebih dahulu, nanti sore baru kesini lagi menjelang acara kami. Sedangkan aku menjaga anak-anak sedangkan istriku, Ibu serta Bu Sam masih sibuk di belakang memasak di bantu oleh para Ibu-Ibu tetangga yang tadi sudah di kabari serta di mintai tolong oleh Totok selaku warga asli disini.
Sore pun menjelang sepulang ibadah dari Masjid aku dan Totok langsung menyiapkan tempat untuk acara nanti, karpet sebagian milik Totok yg tadi ia ambil di rumahnya. Awalnya Neneknya curiga ada apa di samping rumah terdengar ramai-ramai, akhirnya Totok pun menceritakan tentang kepindahan kami terutama Anni kepada Neneknya. Alhasil Neneknya sekarang tengah berada di dalam kamar ikut membantu menjaga anak-anak.
" Bi ini tolong." Seru Anni seraya menyodorkan setampah nasi yang sudah di susun rapi berbentuk kerucut tengahnya dan pinggirnya ada yang di bentuk bulat-bulat sekepal.
Ya seperti inilah adat kampung kami di bawa kesini, entah di daerah sini apakah sama ataukah tidak. Yang jelas semuanya ngikutin tukang masak, dan pasti Ibu mertualah yang menjadi ketua masaknya dan semua menurut apa kata beliau.
" Bisa di mulai ini acaranya Pak." Ujar seorang Pria patuh baya mungkin seusia Bapak mertua, dan kata Totok beliau adalah orang yang biasa memimpin doa jika ada acara-acara syukuran atau selamatan sejenisnya di kampung ini.
Sebenarnya aku maupun Totok pun bisa memang terbiasa juga, namun tidak enak juga kalau memimpin di rumah sendiri, apalagi warga baru disini juga ini demi menghormati beliau yang asli orang sini, juga beliau yang usianya lebih tua dari kami, maka kami meminta bantuannya. Nanti saja kalau acara pagar rumah baru aku yang akan mendoakan sendiri.
Acara pun berlangsung dengan hikmat dan juga lancarr, tepat adzan isya' berkumandang acara pun selesai. Kami segera membereskan sisa-sisa tempat baskom juga wadah yang tadi di pakai acara, lalu setelahnya kami para pria pamit pergi ke Masjid, sementara para wanita sibuk mencuci alat-alat yang kotor.
Beberapa saat kemudian setelah semuanya sudah selesai, giliran para pria yang akan melakukan a ara memagari rumah. Kami semua sudah menyiapakan ember berisi air yang sudah di campur dengan garam. Setelah ku bacakan beberapa ayat suci kami pun berjalan berlawanan arah untuk menuangkan sedikit demi sedikit air campuran tersebut ke tanah pinggiran rumah hingga melingkari rumah kami.
Alhmdulillah tidak begitu lama kegiatan kami pun selesai. Bapak, Ibu, Pak Ran juga Bu Sam pamit pulang karena malam memang sudah larut, kami semua mengantarkan hingga sampai ke halaman depan.
Kini tinggallah Totok dan Nenek yang masih tinggal di rumah. Kami semua masih berkumpul di ruang tamu, sedangkan istriku tengah menidurkan Zaheera dan Zefa di dalam kamar. Sementara Zia justru belum mengantuk dan duduk di pangkuan Totok saat ini mereka tengah bercanda.
" Nenek ayo kita pulang saja sudah malam ini, pasti Nenek sudah mengantuk. Besok kita kesini lagi." Ujar Totok mengajak Neneknya untuk pulang.
" Iya benar Nek, bukannya Aziz mau mengusir, tapi Nenek pasti lelah seharian ini sudah membantu menjaga anak-anak kami. Saya mewakili istri mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Nenek juga Totok, sudah mau di repotkan oleh kami." Timpalku sedikit merasa tidak enak hati.
" Jangan merasa sungkan begitu, ya sudah Nenek mau pulang lalu istirahat saja. Agar besok bisa main lagi sama anak-anakmu ini, semuanya menggemaskan sekali. Kalau boleh yang besar ini saja Nenek ajak tidur bersama ya." Pintanya menatap ke arah Zia. Aku tahu pasti beliau kesepian.
__ADS_1
" Aziz sih tidak masalah Nek, semua tergantung anaknya mau atau tidak." Sahutku tersenyum membalasnya.
" Nduk ayo ikut Nenek tidur di rumah Nenek ya." Ujarnya berusaha membujuk Zia.
Zia menggeleng dengan cepat, lalu menoleh ke arahku. Aku bisa mengerti pasti dia tidak ingin. Dan pada akhirnya Nenek pun mengalah pasrah dan setelahnya pulang bersama dengan cucunya Totok.
Setelah itu aku segera mengunci pintu depan sembari menggendong Zia yang belum mengantuk, tak lupa aku juga mengecek pintu belakang, ternyata sudah terkunci. Saat masuk ke dalam kamar kulihat istriku Anni ternyata belum tidur.
" Sayang kok belum tidur?" Tanyaku tanpa mentapnya seraya membaringkan Zia ke atas ranjang di samping Adiknya Zaheera. " Tidur ya sayang sudah malam, baca doa dulu." Lirihku sembari mengusap-usap kepala putriku.
" Aku nungguin Abi dari tadi, Nenek sama Totok sudah pulang ya?" Tanyanya balik seraya bangun duduk bersandar.
" Sudah baru saja. " Tak lama kulihat Zia sudah tidur, sepertinya dia tadi sudah mengantuk namun di tahan olehnya. Lalu aku pun berjalan ke raah ranjang satunya.
Di kamar ini memang sudah di sediakan dua ranjang yang bersebrangan. Kamarnya juga cukup luas untuk kita berlima tiduri. Aku berbaring di samping istriku, yang tengah memandang Zefa yang sudah terlelap.
" Ayo tidur ini sudah larut." Ajakku mulai memejamkan mata seraya mengusap-usap puncak kepala istriku.
Baru saja memejam terdengar suara aneh dari samping rumah, entah itu suara apa, aku diamkan saja lebih baik cepat tidur.
" Bi itu suara apa?" Bisik istriku yang ternyata belum tidur. Aku pikir dia sudah tidur tadi.
" Suara apa, nggak ada apa-apa kok, mungkin itu suara anjing orang yang sedang lapar, sudah lagi, sini Abi peluk." Aku mempererat pelukanku berharap istriku tidak kepikiran.
~tbc
Maaf baru up, Othornya lg mabuk berat minggu² kmrn..🙏🙏
Selanjutnya di usahakan up lagi ya.. terima kasih..
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.