
Anna_PoV
*
Sepulang dari menginap dari rumah Mbak Anniyah waktu itu, beberapa bulan kemudian aku langsung di nyatakan hamil oleh seorang Dokter. Sebab aku mengalami mual juga muntah setiap pagi, sehingga suamiku langsung membawaku ke Dokter pagi itu.
Dan akhirnya penantian panjang kami pun terbayar sudah saat kelahiran putri pertama kami yang lahir kemarin malam, dan kami beri nama Casandra Erika putri. Entah mengapa aku ingin memberikan nama putriku Erika.
" Selamat menjadi Ibu sejati Adikku, semoga keponakanku menjadi anak yang sholehah dan berbakti kepada kedua orangtuanya, Aamiin." Seru Mbak Anniyah memelukku sedikit erat saat aku baru saja berbaring di atas ranjang.
" Aamiin, terima kasih banyak Mbak. Doa terbaik juga untuk kedua keponakanku yang cantik terlebih Zaheera waktu lahirnya aku tidak bisa menjenguk Mbak." Sesalku sedikit merasa tidak enak hati padanya.
" Sstt, apa sih. Toch Zaheera memang lahirnya di kota Abinya sana. Itu sudah di gariskan, Oh iya siapa namanya si cantik ini, mirip Ayahnya banget ya.." Kami berdua sama-sama menoleh ke arah Ibu yang baru saja masuk ke dalam kamarku. Sementara suamiku katanya mau mencuci pakaian kotor kami dan punya bayi kami.
" Iya siapa nama cucu Ibu ini, memang duplikat Ayahnya banget ini mah. Lihat hidungnya mancung sekali persis si Kholil." Timpal Ibu seraya memberikan putri kecilku.
" Namanya juga Ayahnya Bu. Kalau mirip orang lain, itu baru di pertanyakan, Ibu ini ada-ada saja. Namanya dia ini Casandra Erika putri, panggilannya Erika gimana menurut Ibu dan Mbak, bagus tidak?" Tanyaku meminta pendapat dari mereka berdua.
" Bagus sih, tapi kenapa harus ada Casandra An, seperti orang beragama lain saja." Tegur Ibu mengomentari nama awalan dari putriku.
" Memangnya kenapa Bu, itu sudah bagus kok menurut Mbak." Timbal Mbak Anniyah yang membelaku.
" Iya lho Bu, Casandra itu artinya bagus seseorang yang penolong sesama manusia." Jawabku yang sudah sepakat bersama Kholil semalam saat Ibu sedang tidur di ranjang sebelahku.
" Ya sudah jika itu menurutmu bagus, Ibu hanya bertanya saja kok tidak ada maksud apa-apa. Ya sudah segera susui Erika, Ibu mau ke belakang dulu, Niyah tolong bantuin Adikmu ya." Pinta Ibu sebelum keluar meninggalkan kami berdua di kamarku.
" Sudah tidak perlu di pikirkan masalah tadi. Sini Mbak bantuin, mumpung Zaheera di gendong oleh Nenek." Serunya seraya meletakkan bantal-bantal di belakang punggung dan kepalaku, dan satu lagi di letakkan di atas pangkuanku.
" Tadi pagi sudah di coba di beri asi 'kan? Coba Mbak mau lihat?" Aku mengangguk, karena tadi pagi memang sudah di ajarkan Mbak perawat untuk menyusui sendiri walau air asinya sangat sulit keluarnya.
Hingga mencoba beberapa kali hingga siang tadi akhirnya aku bisa memberikan asiku kepada Erika, rasanya benar-benar mengharukan, bukan hanya aku yang menitikkan air mata saking bahagianya, bahkan suamiku Kholil pun ikut merasakannya juga.
" Gimana rasanya? Pastinya sangat bahagia bukan? Itulah Mbak rasakan saat pertama kalinya dulu mempunyai Zia." Aku kembali sendu menatap Mbak kandungku yang sudah lebih berpengalaman dariku.
__ADS_1
" Terima kasih banyak Mbak sudah selalu mendukung dan memberi semangat untukku selama ini, aku sangat bersyukur mempunyai Mbak seperti Mbak Anniyah." Ujarku tersenyum dengan air mata yang entah sejak kapan sudah berlinang di kedua pipiku.
" Sstt, kamu ngomong apa sih! Kita 'kan saudara. sudah sepanyasnya saling mendukung, menolong juga saling suport. Sudah jangan menangis, nanti Erika ikutan menangis." Tegurnya seraya mengusap wajahku yang sembab. Baru saja di bicarakan, putriku Erika benar-benar menangis kencang, membuatku dan Mbak Anniyah pun saling tersenyum.
***
Tidak terasa sudah beberapa bulan lebih aku tinggal di kampung halamanku, Bang Kholil juga harus rela bolak-balik dari kota kesini, demi menjengukku dan putri kami, aku jadi merasa kasihan dengannya.
Sehingga nanti sore saat ia datang aku berniat mengajaknya kembali ke kota saja agar tidak mengganggu pekerjaannya juga agar ia tidak sampai jatuh sakit karena terus bolak-balik di perjalanan yang cukup jauh.
Tepat pukul lima sore suamiku pun datang dan setelah ia masuk ke dalam kamar, kukatakan niatku yang ingin mengajak ke kota besok pagi-pagi. Tentunya ia sangat senang mendengar ajakanku itu.
" Alhamdulillah terima kasih sayang, akhirnya kamu pengertian juga dengan suamimu ini. Terlebih si otong yang sudah tidak tahan lagi bersabar buka puasa." Ujar suamiku yang semakin lama suaranya menjadi berbisik kepadaku.
Mendengar ucapan konyolnya membuatku langsung memukul bahunya agak keras, bisa-bisanya berbicara menjurus ke arah sana, emang dasar pria tidak bisa berpuasa lebih dari satu bulan!
" Kamu ini! Kenapa harus bicara ke arah sana sih Yah! Dasar mes*m!" Desisku sembari berjalan keluar kamar lalu akan berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuknya.
Tak lama aku pun kembali ke kamar seraya membawa segelas teh hangat untuknya. " Wiis istriku memang yang terbaik, mau berapa putaran nanti? " Tanyanya dengan kedua alis yang di naik turunkan dengan tatapan nakal.
" Astaga! Kamu ini kerasukan apa sih Yah! Untung saja Ibu dan Bapak tidak di rumah? Bisa malu kamu!" Tegurku yang mengingatkannya.
" Justru itu sayang ini kesempatan, nanti ya selepas sembahyang isya', nggak boleh nolak suami lho, ingat dosa." Suamiku malah semakin memojokkanku saat ini dengan ancamam andalannya itu.
" Kurang asem memang!" Lirihku seraya mendekati Erika yang terlelap.
" Iya nanti Abang kasih yang asem-asem."
" Apa sih nggak nyambung deh!" Nyolotku yang tidak tahu dengan pikirannya itu.
" Tapi Abang mau yang gurih-gurih sayang. Tuh alhamdulillah akhirnya Adzan juga, ya sudah Abang mau pergi beribadah dulu, kamu hati-hati di rumah, Assalamualaikum." Pamitnya yang langsung keluar rumah, karena memang penampilannya sudah memakai sarung juga baju koko andalannya saat baru datang tadi.
" Iya walaikumsalam."
__ADS_1
Sementara aku hanya seorang diri di rumah ini, sebenarnya aku merasa takut jika di tinggal sendiri begini, namun aku berusaha mengalihkan ketakutanku dengan cara mengajak mengobrol putriku yang tentunya belum bisa ku ajak bicara, tapi setidaknya rumah ini tidak sepi.
Namun suaraku terhenti saat mendengar pintu depan di ketuk dari luar, aku pun terdiam tidak berani menyahut dari dalam. Hingga suara ketukan itu pun hilang dengan sendirinya.
Tak lama aku mendengar suara handle pintu yang di buka dari luar membuat perasaanku bergerumuh hebat, kira-kira siapa itu yang masuk ke dalam rumah, hingga suara salam membuatku bernapas lega.
" Assalamualaikum, sayang di luar ada tamu kok nggak di suruh masuk? Katanya Beliau mencari Ibu, ada urusan sama Ibu." Seru suamiku yang sudah pulang dari mushola.
" Tamu siapa Yah?" Tanyaku heran, sebab aku tidak mendengar suara orang yang mengucap salam. Atau jangan-jangan yang mengetuk pintu tadi?
" Bilang saja Ibu sama Bapak sedang keluar, tidak tahu kapan pulangnya!" Titahku yang memintanya untuk memberitahu temu tersebut.
Akhinya tamu itu pun pergi setelah di beritabu oleh Bang Kholil, karena yang di carinya pun belum pulang. Tadi Ibu biangnya mau ke tempat kondangan temannya Bapak, tapi entah kok belum pulang juga sampai sekarang.
Malam semakin larut saat kami berdua selesai makan malam di ruang tamu plus ruang keluarga, sebab cuma ada satu ruangan yang luas ini. Setelah bersih-bersih mencuci muka juga menggosok gigi kami berdua pun pergi ke kamar untuk beristirahat.
" Sayang jadi nggak yang tadi?" Bisik suamiku di dekat telingaku, saat ini posisiku sedang membelakanginya.
" Apanya?" Tanyaku yang pura-pura sudah mengantuk, bagaimana bisa aku lupa dengan tingkah konyolnya itu.
" Ya sudah kalau lupa, besok saja kalau kita sudah di kota ya, jangan lupa baca doa sayang." Ujarnya tak lupa mengecupi belakang kepalaku.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1