Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 37 - Makan buah simalakama


__ADS_3

Meyta yang tak memercayai ucapan sang suami, berusaha untuk membuktikan sendiri jika apa kecurigaannya itu benar.


Sepulang bekerja, Wirra pasti mengunjungi istri pertamanya. Padahal dirinya hanya meminta sang suami untuk tak mengunjungi istri pertamanya itu selama 40 hari.


Apakah itu suatu hal yang berat? Bukankah selama ini Wirra kerap tak mengunjungi Anna dalam waktu yang lama?


Di awal pernikahan, Wirra bahkan tak kembali ke rumah Anna selama satu bulan penuh. Dan, jika pria itu menginap di rumah istri pertamanya, mereka bahkan selalu melakukan panggilan video.


Lalu, kenapa hanya tak bertemu Anna selama 40 hari saja pria itu merasa begitu berat? Kenapa tiba-tiba Wirra selalu ingin bertemu istri pertamanya? Apa karena dirinya tengah dalam masa nifas hingga sang suami harus menuntaskan hasratnya pada istri pertamanya?


Bukankah setiap suami pasti merasakan masa-masa itu? Kenapa Wirra tak bisa menahan hasratnya padahal dia telah memberikan pria itu seorang anak?!


“Apa Wirra benar-benar sudah jatuh cinta pada Anna?”


Meyta menggelengkan kepalanya. Sejak semalam, Meyta berusaha menyingkirkan kemungkinan itu. Tapi, semakin dia berusaha menepis kemungkinan jika sang suami telah jatuh cinta pada Anna, hati Meyta justru semakin resah. Karena semalam, secara tersirat, Wirra telah mengungkapkan jika dia telah jatuh hati pada Anna.


Menurut Meyta, Anna pasti merayu Wirra habis-habisan. Bagaimana mungkin Wirra yang tak pernah mencintai Anna, mendadak jadi mencintai wanita itu?


Meyta yang tak mau terus menerus dirundung rasa penasaran memutuskan untuk membuktikan kecurigaannya pada sang suami. Jika kecurigaannya benar, Meyta berencana membuat ultimatum pada Wirra.


Dengan kebulatan tekad, setelah menyusui Arkana hingga sang anak pulas, sore itu, Meyta menghubungi tempat penyewaan mobil. Setelah menitipkan kedua buah hatinya pada sang ibunda, wanita itu berencana untuk memergoki Wirra, di kediaman Anna.


Namun, sampai matahari akan terbenam, Wirra tak juga tiba di sana.


“Apa Wirra benar-benar banyak pekerjaan hingga dia selalu pulang saat jam makan malam?” gumam Meyta, saat sang suami yang ingin dia pergoki tak kunjung tiba di kediaman Anna.


Meyta yang merasakan nyeri di sekitar dadanya, memutuskan untuk kembali ke rumah. Sudah hampir dua jam menunggu Wirra di sana. Sudah saatnya dia menyusui Arkana.


Gegas wanita itu meminta sopir yang telah disewanya untuk membawanya kembali pulang. Dan sesampainya Meyta di rumah, Wirra pun tiba.


“Kamu dari mana?” tanya Wirra heran. Pasalnya, sejak tak lagi bekerja, Meyta tak pernah keluar rumah tanpa Wirra.


“Jalan-jalan sebentar. Aku bosan di rumah.”


“Sendirian?” tanya Wirra masih dengan tatapan heran.


Meyta hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Namun, Wirra sedikit tak percaya dengan jawaban sang istri. Tentu saja Meyta tak memedulikan hal itu. Dia tak peduli jika Wirra tak memercayai ucapannya. Karena jawaban yang dia berikan memanglah sebuah kebohongan.


Dadanya yang sudah bengkak dan nyeri membuat Meyta meninggalkan Wirra yang penuh tanda tanya. Wanita itu harus bergegas untuk menyusui bayinya.


“Harusnya kamu tinggalkan asi perah sebelum pergi, Mey. Sedari tadi Arka menangis terus sampai lelah dan akhirnya tertidur.”

__ADS_1


Meyta hanya mengangguk dan meminta maaf pada sang ibunda yang sudah kerepotan mengurusi bayinya.


Wirra kembali menatap Meyta dengan heran. Meyta memang seorang wanita yang egois. Tapi, wanita itu tak pernah menelantarkan anaknya. Benarkah Meyta tega membuat bayinya kelaparan hanya demi menghilangkan kebosanan?


“Kalau kamu jenuh, kita bisa staycation di akhir pekan. Ajak anak-anak dan ibu. Jadi, kamu tidak sampai kelaparan seperti tadi,” ucap Wirra, begitu dirinya sudah berada di samping Meyta yang tengah menyusui anaknya.


“Aku butuhnya kamu terus ada di samping aku, Wir. Aku butuh kamu untuk pulang kerja lebih awal. Pijat punggungku, gendong Arkana, temani Rara belajar. Itu yang aku butuhkan,” ucap Meyta.


Wirra menghela napas panjang. Hampir satu bulan ini, dia memang sibuk dengan dirinya sendiri. Sejak dirinya jatuh cinta pada Anna, Wirra hanya sibuk melampiaskan hasratnya yang begitu menggebu pada istri pertamanya itu.


“Ayah siaga apanya? Rumah ini hanya kamu singgahi untuk beristirahat saja! Pagi-pagi sekali kamu pergi bekerja dan baru pulang pada malam hari. Aku sudah mengandung dan melahirkan anak kamu, Wir. Darah daging kamu! Jangankan aku, anakmu pun tidak kamu perhatikan!”


Wirra tersentak.


Apa yang diucapkan Meyta dibenarkan olehnya.


Bukan hanya Meyta yang egois. Ternyata dirinya tak kalah egois dari istri keduanya itu.


Dulu, saat dirinya kembali bertemu dengan Meyta, dia melupakan Anna dan sibuk bergumul dengan wanita yang sudah menjadi istri keduanya itu.


Kini, saat dirinya mulai jatuh cinta pada Anna, dia menomorduakan Meyta. Dirinya bahkan mengabaikan kedua anaknya— Mutiara dan Arkana.


Wirra pun berjanji pada dirinya sendiri, besok adalah hari terakhir dirinya berkunjung ke kediaman Anna.


Setelah itu, Wirra akan kembali menginap di kediaman Meyta dan Anna secara bergantian, sesuai jadwal yang telah mereka sepakati sebelumnya.


Keadilan pun akan didapatkan kedua istrinya.


Dengan tulus Wirra meminta maaf pada Meyta. Pria itu berjanji jika dirinya akan mengusahakan untuk pulang lebih awal jika memungkinkan. Wirra juga berjanji untuk lebih memperhatikan Meyta dan kedua anak mereka.


Namun Meyta tampaknya tak merasa puas dengan ucapan sang suami.


Wanita itu memutuskan untuk memantau janji sang suami. Benarkah pria itu menepati janji untuk pulang lebih awal?


Pagi itu, Meyta mengajak ibu dan bayinya yang berusia satu bulan untuk mengintai Wirra. Meyta kembali menyewa sebuah mobil lengkap dengan sang sopir. Wanita itu juga sengaja membawa Arkana karena akan pergi dengan waktu yang lama.


Meyta sudah membuntuti Wirra sejak sang suami berangkat bekerja. Wanita itu bahkan rela menunggu di dalam mobil sambil terus memantau kantor sang suami dari kejauhan.


Wanita itu pernah berkali-kali di khianati oleh mantan suaminya. Perasaannya tak pernah bohong. Dia merasa jika beberapa minggu terakhir, gelagat Wirra terlihat berbeda. Dan intuisi Meyta berbicara, perubahan gelagat itu disebabkan oleh Anna.


Dan, firasat Meyta benar adanya. Tepat pukul 09:30 WIB, Wirra terpantau berjalan keluar dari kantornya. Pria itu juga menaiki kendaraan miliknya.

__ADS_1


Jantung Meyta berdetak kencang saat melihat sang suami meninggalkan kantor. Dan jantung Meyta semakin berdetak kencang ketika mobil yang dikendarai sang suami berjalan menuju kediaman Anna.


“Jadi, kamu mengunjunginya saat pagi ya, Wir. Pantas saja kamu tak mengaku saat aku mengatakan kamu mengunjunginya sepulang bekerja.”


Meyta berusaha menahan amarahnya. Wanita itu keluar dari mobil dan menghampiri Wirra yang hendak menutup pintu pagar setelah mobil pria itu bertengger di garasi kediaman Anna.


“Hebat kamu, ya Wir!”


Mata Wirra membulat sempurna saat Meyta ada di hadapannya.


“Jadi, setiap pagi kamu ke sini? Sampai-sampai pekerjaan kamu menumpuk dan pulang ke rumah larut malam?”


Belum sempat Wirra menjawab pertanyaan Meyta, terdengar suara langkah kaki yang tengah berlari.


“Mas ... Kamu sudah datang?”


Anna bertanya dengan suara yang begitu nyaring sembari berlari-lari kecil. Namun, langkah kaki Anna terhenti saat melihat ada Meyta di hadapan sang suami.


“Ada kamu juga, Mey,” lirih Anna.


“Kenapa? Kamu tidak senang kalau aku juga ada di sini? Dasar wanita munafik!” ketus Meyta.


“Mey, jangan berucap kasar pada Anna!”


Meyta tersenyum sinis, “Siapa yang berkata kasar?! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dia memang wanita munafik!”


Wirra terlihat tengah memijat pelipisnya. Dia tak tau harus berbuat apa. Dia tak mungkin membela Anna dan membuat Meyta semakin mengamuk. Dia juga tak mungkin terus menerus membela Meyta dan membuat Anna bersedih. Dia mencintai kedua wanita itu


“Kamu yang menginginkan aku memberikan anak untuk Wirra. Tapi, kamu tidak rela kalau Wirra menghabiskan waktu bersama anaknya. Kamu goda Wirra agar terus mengunjungimu dan mengabaikan kami. Dasar munafik!” lanjut Meyta.


“Aku tidak pernah menggoda Mas Wirra, Mey. Aku bahkan tidak pernah meminta Mas Wirra datang ke sini. Iya kan, Mas?”


Belum sempat Wirra membenarkan ucapan Anna, Meyta kembali mengoceh.


“Dasar tidak tau malu. Harusnya kamu malu, An. Kamu bersaing dengan anak bayi tak berdosa. Bisa-bisanya kamu menggoda Wirra agar bisa menang dari seorang bayi!” ketus Meyta.


“Mey, ucapan kamu sudah keterlaluan!” ucap Wirra. “Ayo, sekarang kita pulang,” ajak pria itu.


“Keterlaluan apa? Ucapanku benar. Dia memang tidak tau malu karena mau bersaing dengan anak bayi!”


Wirra gegas mencengkeram lengan Meyta dan hendak membawa istri keduanya itu beranjak dari kediaman Meyta. Namun, langkah Wirra terhenti kala mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Anna.

__ADS_1


“Mana yang lebih tidak tau malu, aku yang menggoda Mas Wirra yang notabenenya adalah suami sahku, atau kamu yang tidur dengan suami orang! Bahkan kamu menggoda Mas Wirra di rumahku! Siapa yang lebih tidak tau malu, aku atau kamu?”


__ADS_2