Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 47 - Do'a Anna


__ADS_3

...“Andai Meyta tak kembali, aku pasti sangat senang karena bisa mengurusi Rara dan Arka selamanya.”...


Anna terdiam sejenak. Wanita itu terkejut dengan isi pikirannya. Anna menggelengkan kepalanya dengan kencang.


“Maafkan aku Tuhan, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong sembuhkan Meyta. Anak-anak pasti merasa sedih kalau ibu mereka terus-menerus sakit,” lirihnya.


Namun, tampaknya semesta mendukung do'a yang tak sengaja Anna panjatkan.


Kadar gula yang semakin tinggi, membuat luka di kaki Meyta tak mengering. Bahkan, setelah dua Minggu pasca operasi, luka di kaki wanita itu mengeluarkan bau tak sedap. Operasi kedua pun dilakukan.


Bahkan setelah operasi kedua dilakukan, kaki wanita itu tak kunjung membaik. Dokter pun menyarankan untuk dilakukan amputasi terhadap kaki wanita itu.


“Apa tidak ada cara lain, Dok. Istri saya pasti tidak akan mau jika kakinya diamputasi,” ucap Wirra saat dokter meminta pria itu ke ruangannya.


“Luka di kaki Bu Meyta terus membusuk, Pak. Jika tidak diamputasi segera, kami takut kalau pembusukan itu akan terus merembet hingga kita harus memotong kaki sampai ke pangkal paha.”


Wirra menghela napas panjang. Pria itu bingung. Dirinya tak tau bagaimana cara menyampaikan berita itu pada Meyta. Wirra pun menceritakan keresahannya pada sang ibunda. Wirra berharap ibu kandungnya dapat memberikan saran dan membuat keresahan di hatinya berkurang.


Namun, tentu saja Wirra tak akan mendapatkan hal ibu. Bukannya memberikan saran, sang ibunda malah mengolok-olok Meyta.


“Hahaha ... Rasakan! Itu azab buatnya! Katakan pada dokter, jangan hanya memotong kakinya sampai lutut, kali bisa sampai ke atas pinggang agar dia tidak sembarangan tidur dengan suami orang!”


Setelah puas menertawakan Meyta, Yulia pun memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Wirra hanya bisa menghela napas panjang.


Akhirnya Wirra memutuskan untuk meminta pendapat dari Anna dan mertuanya. Saat Meyta baru saja tertidur, Wirra menitipkan Meyta pada seorang perawat di rumah sakit. Pria itu akan pulang ke kediamannya untuk membicarakan perihal amputasi itu kepada sang mertua.


Saat tiba di sana, Wirra meminta Mutiara untuk menjaga Arkana di kamarnya. Dia tak mau sang anak menjadi sedih saat mendengar pembicaraan itu. Saat Mutiara sudah berada di dalam kamar, Wirra mengajak istri dan mertuanya berdiskusi di ruang tamu.


“Meyta pasti tidak akan mau diamputasi. Ibu kenal betul tabiat Mey.”


“Tapi, jika tidak diamputasi, kondisi kaki Mey akan semakin memburuk, Bu. Dokter bilang, amputasi adalah cara satu-satunya karena kita terlambat membawa Mey ke rumah sakit. Kita ke rumah sakit setelah kakinya mengalami sedikit pembusukan,” jelas Wirra.


Sang mertua terlihat menganggukkan kepalanya. Dia tak mau nyawa sang anak dalam bahaya. Jika dokter mengatakan amputasi adalah jalan satu-satunya, maka mereka harus mengupayakan hal itu.

__ADS_1


“Kalau begitu, kamu tanda tangani saja surat persetujuan amputasi itu, Wir,” ucap wanita lanjut usia itu.


“Ibu yakin kalau Meyta mau diamputasi?”


“Dia tidak perlu tau. Kita akan memberi tahu Mey setelah masa pemulihan pasca operasi. Dokter bilang, bisa dipasang kaki palsu kan?”


Wirra mengangguk, “iya, Bu. Kita bisa memesan kaki palsu untuk Mey.”


“Kalau begitu, langsung pesan saja kaki palsunya. Jadi, setelah Mey pulih, kita sudah mempunyai solusi untuk dia.”


Wirra kembali menganggukkan kepalanya. Pria itu setuju dengan pendapat sang mertua. Begitu pun dengan Anna.


“Kamu masih mau membantu ibu mengurusi Rara dan Arka, kan, Nak?” tanya wanita lanjut usia itu pada Anna.


“Tentu saja, Bu. Anna malah senang bisa mengurusi Rara dan Arka," jawab Anna.


“Tapi, kali ini, sepertinya kamu harus mengurusi Rara dan Arka dalam waktu yang lama. Kamu tidak keberatan kan?”


“Aku juga ingin minta tolong An,” ucap Wirra. Anna pun menoleh dan menatap sang suami.


“Tolong kamu beritahu Rara ya, An. Aku tidak tega menyampaikan berita ini pada Rara. Dia pasti yang merasa paling bersedih.”


Anna menghela napas berat. Wanita itu sudah bisa membayangkan kesedihan yang akan dirasakan oleh Mutiara saat mengetahui kalau kaki ibunya akan dipotong.


“Aku akan berupaya keras agar Rara tidak terlalu bersedih,” lirih Anna. Wirra menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Pria itu pun berpamitan dan bergegas untuk kembali ke rumah sakit.


Saat Wirra baru saja masuk ke dalam mobilnya, dengan secepat kilat, Mutiara lari dan masuk ke dalam mobil itu.


“Rara?!”


Wirra begitu terkejut saat Mutiara tiba-tiba duduk di sebelahnya. “Kamu mau ikut ke rumah sakit?”


Mutiara menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Lalu?”


Mutiara tak dapat menahan tangisannya. “Apa kaki Mama benar-benar akan dipotong, Pa?” tanyanya sembari terisak-isak.


Wirra menghela napas berat. Padahal dia menghindari hal ini. Dia tak sanggup melihat kesedihan di mata anak perempuannya itu.


Wirra kembali mematikan mobil yang sudah dinyalakannya. Pria itu berpindah posisi dan duduk di bangku yang sama dengan Mutiara. Wirra mendekap erat sang anak tiri.


“Rara doakan saja ya. Doakan agar operasinya berhasil dan mama cepat pulih.”


Isak tangis Mutiara semakin terdengar. Gadis yang beranjak remaja itu menganggukkan kepalanya.


“Papa ...boleh Rara tanya satu hal?”


“Boleh sayang," jawab Wirra.


“Apa papa—” Mutiara tercekat. Gadis kecil itu terlihat tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.


Wirra semakin mengeratkan pelukannya, “katakan saja sayang. Kamu mau menanyakan apa?”


“Papa tidak akan meninggalkan mama, kan?” tanya Mutiara. Gadis kecil itu bahkan semakin terisak-isak. “Kalau kaki mama dipotong, papa masih mencintai mama, kan? Papa tidak akan meninggalkan mama, kan?”


Wirra menghela napas panjang. Dikecupnya puncak kepala sang anak.


“Tidak akan, sayang. Papa tidak akan pernah meninggalkan mama,” janji Wirra. Sembari mengucapkan terima kasih, Mutiara terus menangis di pelukan Wirra.


“Yasudah, papa mau kembali ke rumah sakit ya. Takutnya mama sudah bangun dan mencari papa. Papa takut mama marah. Kamu tau sendiri kan, mama kalau marah sangat menyeramkan,” ucap Wirra. Mutiara tertawa kecil dan menganggukkan kepala. Gadis yang beranjak remaja itu akhirnya membiarkan Wirra pergi ke rumah sakit.


Akhirnya tanggal amputasi pun telah ditentukan. Wirra meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan hal itu pada Meyta atas permintaan Wirra. Pria itu tak mau jika Meyta menolak dioperasi. Wirra tak mau kondisi kaki Meyta semakin memburuk.


Cukup lama Meyta berada di ruang operasi. Dengan penuh rasa cemas, Wirra, Mutiara dan neneknya menunggu tepat di depan ruang operasi. Mereka begitu khawatir. Bukan mengkhawatirkan proses operasi itu berjalan lancar atau tidak. Mereka semua lebih mengkhawatirkan reaksi Meyta saat mengetahui salah satu kakinya diamputasi.


Dan benar saja, kekhawatiran mereka terbukti. Saat efek dari obat bius menghilang dan Meyta menyadari kalau salah satu kakinya hanya ada sampai batas lutut, wanita itu histeris.

__ADS_1


__ADS_2