
Nikmah_PoV
*
Tubuhku langsung menegang saat baru ingat sesuatu." Kenapa kamu keluarin di dalam!" Bentakku begitu sudah sadar dari rasa yang membuatku hilang akal." Bagaimana kalau aku hamil Rojakk?!!"
" Maaf, kamu tenang dulu sayang, nanti aku akan beri obat pencegah kehamilan yang aku beli tadi di apotik." Ujarnya dengan begitu tenang tanpa ada rasa beban sama sekali, membuatku kesal saja. " Aku berjanji akan menikahimu sebentar lagi, aku sangat mencintaimu kamu tau itu bukan!" Janjinya padaku, mau tidak mau aku pun pasrah, yang penting dia mau bertanggung jawab padaku. Aku pun juga sangat mencintainya.
Sejak saat itu, kami jadi sering melakukan hubungan terlarang itu, di beberapa penginapan, di tempat sunyi bahkan tak jarang kami melakukannya di rumahku saat kedua orangtuaku sedang pergi, ya segil4 itu kami melakukannya tanpa rasa malu. Hanya karena sebuah hasrat setan sesaat.
Aku dan Rojak semakin hari semakin tidak bisa lepas dari jerat setan tersebut, dan beruntungnya kami tidak ada keluarga satu pun yang tau. Namun beberapa bulan setelahnya, karena kecerobohanku, Ibuku menemukan tablet obat yang sering aku konsumsi, aku buang di tong sampah, yang biasanya aku masukan ke dalam kantong kresek terlebih dahulu, ya mungkin seperti itulah cara sang pencipta membongkar perbuatan menjijikan kami berdua.
Ayah dan Ibuku marah besar, namun mereka tidak tau hubunganku dengan Rojak, hingga ia mengirimku ke ponpes yang berada di luar kota dan bertemulah aku dengan Neng Atin. Kami menjadi sahabat terdekat walau usiaku dua tahun lebih muda darinya.
Berbulan-bulan aku fokus mengemban ilmu, bertaubat, lalu berniat berhijrah atas nama Allah. Aku sudah tidak lagi berhubungan dengan Rojak, kami putus begitu saja tanpa kejelasan apapun. Entah tau darimana satu tahun setelahnya, ia nekat datang ke kota tempatku mondok, akan tetapi aku tidak berniat menemuinya sama sekali. Hingga lambat laun rasa yang kumiliki pada Rojak pun sirna. Dua tahun mengenyam ilmu di ponpes, aku merasa sudah menjadi jauh lebih baik.
Hingga suatu hari, aku tidak sengaja bertemu dengan seorang pria tampan menunggu di dekat pintu gerbang ponpes, membuatku diam-diam terus mengamatinya setiap dia datang untuk bertemu dengan seseorang yang juga tengah mondok yang sama denganku, dan itu berlangsung beberapa bulan hingga aku tau namanya adalah Aziz, pria yang jauh lebih sempurna dari Rojak, aku pun jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sepertinya kami memang di takdirkan berjodoh saat aku tau dia ternyata adik kandung dari temanku Neng Atin. Lewat neng Atin-lah akhirnya kami berkenalan, lambat laun ternyata kami sama-sama saling jatuh cinta. Akan tetapi kedua orangtuanya sepertinya tidak menyukaiku, dan tak merestui hubungan kami. Beberapa minggu setelah aku keluar dari pondok, Aziz langsung mengkhitbahku walau tanpa restu dari kedua orangtuanya, tak lama kami pun menikah dengan restu terpaksa dari kedua mertuaku. Aku tidak peduli, yang penting putranya mencintaiku itu saja sudah cukup. Ayah dan Ibuku sangat senang aku bisa menikah dengan anak kiyai.
Belum ada setahun usia pernikahan, kami di karuniai seorang putri kecil yang sangat cantik, rasa bahagia menyelimuti kehidupan rumah tangga kecil kami. Namun saat itu pula kabar duka menghampiriku, kedua orangtuaku mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol saat akan menuju ke kota MD. Duniaku hancur, aku sudah tidak memiliki kedua orangtua kandung lagi.
Di saat berkabung itulah aku bertemu kembali dengan Rojak sepupuku, sekaligus mantanku untuk kesekian lama, yang aku tinggalkan beberapa tahun lalu, di saat tepurukku Rojak sering datang ke rumah, walau aku tanggapi biasa saja dia tetap datang dan memilih mengobrol dengan suamiku. Berharap dia tidak bercerita yang macam-macam padaku, terlebih masa kelam kami dulu. Hingga aku mempunyai empat orang anak hidupku semakin bahagia.
__ADS_1
Selang beberapa bulan, aku mendapat kabar, Rojak akhirnya melepas masa lajangnya dengan Juleha yang notabene nya adalah adiknya sendiri, anak kandung dari kedua orangtua angkatnya, itu membuatku lega luar biasa, sekaligus miris, kemapa harus dengan Adiknya dia menikah. Aku tau Rojak tidak memiliki perasaan apapun pada Juleha, hanya saja Juleha yang terang-terangan menyatakan perasaannya pada Kakak Angkatnya sendiri.
Entah bagaimana dia menerima pernikahan ini, aku takut Juleha hanya dia manfaatkan sebagai tempat pelampiasannya saja. Hingga puncaknya saat Rojak mabuk kemarin dan melakukan hal menjijikkan itu kembali padaku, mungkin ia tengah bertengkar hebat dengan istrinya hingga ia mabuk.
~ Flashback off.
***
Dan disinilah kami berdua, di tempat dimana kami pertama kalinya melakukan perbuatan dosa besar. Perbuatan yang membuatku menyesal seumur hidup, entah bagaimana bisa dia tidak merasa menyesal sama sekali melakukannya.
" Seharusnya kamu bersyukur, aku tidak menjebloskanmu ke dalam penjara. Jika bukan karena Juleha, aku yakin tidak akan segan melakukannya, b*******n!!" Desisku tajam dan juga serak menatapnya, bahkan wajahku sudah sembab sekali saat ini.
" Aku tidak memintamu membebaskanku! Dan seharusnya kamu melakukannya, agar aku tidak berbuat lebih jauh lagi dari itu, sekarang terima akibatnya." Sahutnya seraya mengulurkan sebungkus tissue yang ia ambil di atas dashboard mobil.
Aku menjadi tersulut mendengar ucapannya," Kenapa kamu membawaku kesini?!!" Tanyaku ketus tanpa menatapnya dengan derai air mata yang terus membasahi wajah cantikku.
Aku tau maksud dari perkataannya barusan, sungguh jika aku bisa aku ingin lenyap saja dari muka bumi ini, atau tenggelam ke dasar lautan. Atau lebih baik aku mengakhiri hidupku agar tidak lagi berurusan dengan pria spikopat ini. Entah dia mencintaiku dengan tulus, ataukah hanya obsesi belaka?
Karena aku tak kunjung keluar dari mobil, akhirnya Rojak menghampiriku, menarikku keluar bahkan menggendongku ke atas bahunya, layaknya sekarung beras, aku terus meronta dan berteriak, namun apalah daya, tidak ada satu pun orang di sekitar sini yang bisa menolongku.
Tuhan selamatkan aku. Aziz tolong aku... Aku tidak ingin melakukan dosa besar lagi, sungguh tolong aku siapapun. Jeritku dalam hati, aku terus berdoa, semoga ada orang yang membantuku terlepas dari Rojak. Sungguh aku sangat takut sekali.
Buuaakk..
__ADS_1
Aku di banting keras di atas ranjang, sungguh Rojak yang dulu kukenal lemah lembut, kini berubah layaknya singa jantan yang siap menerkam mangsanya. Aku semakin takut di buatnya.
" Rojak, aku mohon lepaskan aku! Kasihanilah aku, kasihanilah anak-anakku, kasihanilah Juleha yang tengah hamil buah hati kalian, darah dagingmu. Ikhlaskan semuanya. Ini sudah menjadi jalan takdir bagi kita pada pasangan kita masing-masing, aku mohon sadatlah." Pintaku bersungguh-sungguh, aku terus memohon agar dia setidaknya berubah pikiran.
" Apa yang ingin kamu pertahankan, dengan pernikakanmu? Suamimu saja sudah menikah dengan wanita lain bukan?" Tanyanya dengan begitu tenang, namun itu membuatku terkejut, dari mana dia tau?
Degh!!
" B-bagaimana kamu tau?" Jantungku seakan di remas-remas saat ini, bagaimana dia bisa tau, padahal hanya aku dan saumiku saja yang tau.
" Itu perkara gampang. Apa yang tidak aku ketahui selama ini tentangmu. Sekarang mari lupakan rasa sakit di antara kita, dengan kesenangan saja." Ujarnya yang hanya samar-samar saja aku dengar.
" Mmmppp."
.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.