
Anniyah_PoV
*
" Mbak!!" Teriak Anna tiba-tiba yang membuatku dan juga Bang Aziz terlonjaak kaget dan spontan menjauhkan diri masing-masing.
Bang Aziz terlihat salah tingkah dan langsung berjalan keluar kamar entah mau kemana dia, mungkin mau ke kamar mandi. Sedangkan aku segera mengedarkan pandangan dan melihat ke atas ranjang yang ternyata hanya ada Zaheera putriku seorang diri yang masih terlelap disana. Untung saja dia tidak terbangun saat Tantenya memanggil tadi.
Lalu dimana Anna dan Erika? Bukankah mereka tadi masih ada di atas ranjang kamar ini? " Lho An, kamu dimana?" Tanyaku sembari keluar kamar menuju ke kamarnya.
" Aku di kamarlah, dimana lagi. Masa iya aku masih di kamar sebelah dan mau mengganggu aktifitas pasangan suami istri yang akan kangen-kangenan sih." Celetuknya yang terdengar mulai nyebelin.
" Apa sih!"
Lihatlah ucapannya itu sepertinya sudah ketularan sama Bang Aziz. Tidak tahu saja, padahal barusan dia juga telah menganggu acara kami, acara menyenangkan bagi Kakak iparnya itu. Kenapa mereka berdua pikirannya jadi messum begitu sih!
" Lha 'kan benar apa yang aku bilang Mbak. Sudah sana mumpung masih pagi, aku mau ke belakang ah pindah ke kamar Ibu, jangan keras-keras ya nanti anak-anak pada bangun, haha." Selorohnya yang kembali mengolokku, dasar Adiknya Mas Anton ini.
Kami berdua sama-sama keluar dari kamar, Anna berjalan menuju ke kamar orangtua kami, sementara aku akan masuk ke kamarku sendiri sebab terdengar suara tangisan Zaheera yang baru terjaga.
"huaa,, hikss,,.."
" Yah, sepertinya gagal dech kangen-kangenannya, hihi.." Seloroh Anna kembali sebelum ia masuk ke kamar Ibu. Mendengar hal itu aku hanya bisa menghela napas panjang, senang sekali dia mengolokku.
" Cup-cup sayang, Ami disini Nak. Ayo kita keluar bangunin Kak Zia ya, lalu sama ketemu Abi di belakang." Ujarku seraya mengangkat tubuh gembulnya.
Baru saja akan beranjak bangun, ternyata suamiku sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar, aku pun kembali duduk di tepi ranjang seraya mendudukkan Zaheera di atas pangkuanku dan bersiap akan menyusuinya.
__ADS_1
" Eh si gembul Abi sudah bangun ya cantik. Hmm,, bau acem, hehe. Abi itu sangat merindukan kalian, terutama Ami kamu ini." Celetuknya mengecupi pipi putrinya seraya tangannya yang mulai jahil yang dengan sengaja mengusap pelan salah satu barang kembar milikku yang terbuka.
" Bi tangannya itu di kondisikan ya!" Tegurku yang sama sekali tidak di hiraukan olehnya, justru kini bukan lagi mengelus namun lebih dari itu. Mau tidak mau aku pun menatapnya dengan sedikit tajam sebagai peringatan keras. Akan tetapi suamiku justru tersenyum menyeringai menatapku, membuatku seketika bergedik, bagaimana bisa dia tersenyum begitu.
" Apa sih kok kayak gitu lihatnya." Protesku yang menjadi salah tingkah saat suamiku sendiri terus saja menatap agak aneh ke arahku.
" Hem!? Nggak ada apa-apa kok sayang, Abi lihat semakin hari kamu terlihat semakin cantik saja." Sahutnya yang terdengar sedang menggodaku.
" Apa sih Bi, kok jadi pintar gombal gitu sekarang, mana garing lagi. Temanmu mana yang ngajarin kayak gitu?" Tanyaku sembari menatap Zaheera yang ternyata juga sedang menatapku tanpa berkedip.
" Kok gombal sih! Abi mengatakan yang sebenarnya lho ini. Ahh! Gagal deh, jadinya harus menunggu nanti malam lagi." Sahutnya menggerutu.
Aku sangat paham apa yang dia maksud, namun aku lebih memilih untuk tidak menanggapinya, bisa panjang nanti urusannya. Aku segera membenahi kembali kancing dress rumahanku setelah Zaheera menyudahi aksi hisapnya dan aku berniat akan keluar kamar untuk memandikan anak-anak, dan sepertinya Zia juga sudah bangun terdengar dari suara celotehnya Erika sampai kesini, itu pasti karena sedang bermain dengan Kakaknya.
" Mau kemana sayang,,?" Tanya suamiku menatap heran.
" Nggak usah sayang, biar nanti Abi yang ambil sendiri makannya, yuk kita ke belakang, biar Zia Abi yang mandiin." Ajaknya.
Kami pun memandikan anak-anak secara bersama dengan Erika yang juga di mandikan oleh Bundanya. Selesai mandi dan berpakaian lalu aku dan Anna menyuapi anak-anak di teras depan sekalian menemami mereka bermain.
Tak terasa hari sudah gelap, selesai mencuci piring kotor aku segera masuk ke dalam kamar, dan terlihat anak-anak sudah pada terlelap di atas ranjang kecil mereka. Malam ini Zia ikut tidur di kamar kami, mungkin dia sangat merindukan Abinya sehingga setelah keduanya puas bersenda gurau Zia langsung kelelahan dan tak lama tertidur di samping Adiknya.
" Tumbenan sudah tertidur?" Gumamku pelan bertanya seraya menatap Zia putriku, namun ternyata Bang Aziz mendengarnya.
" Terlalu bersemangat bermain, jadinya cepat tidurnya. Kamu sudah mau tidur ya sayang?" Tanyanya yang duduk berselonjor dan menyandarkan tubuhnya di dinding kamar.
Aku menoleh seketika menatapnya, entah mengapa aku merasa ada sedang suamiku sembunyikan dariku, terlihat raut wajahnya yang berbeda malam ini, tidak seperti tadi pagi hingga siang ini yang banyak cerianya, juga terlihat bahagia. Namun malam ini terlihat suram dan juga sedih, ada aoa sebenarnya?
__ADS_1
" Bi kamu kenapa? Sakit?" Tanyaku yang spontan menempelkan punggung tanganku ke dahinya untuk mengecek suhu tubuhnya.
" Tidak apa sayang, aku tidak apa-apa kok. Tidurlah kalau capek, atau mau Abi pijitin dulu sini." Kilahnya seraya menyingkirkan tanganku di dahinya lalu membawanya ke depan mulutnya untuk ia kecup. Dan yang membuatku bingung adalah tiba-tiba dia bersimpuh dan mendaratkan kepalanya di atas pangkuanku.
Dan tentu saja tingkahnya ini sedikit aneh dan juga mencurigakan, membuatku semakin penasaran saja. " Bi, kamu ada masalah? Cerita dong! Atau kamu nggak mau cerita sama aku, atau jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi kemarin di kota, tapi kata kamu Zikri sudah baik-baik saja bukan?"
Tentu saja aku jadi ikut kepikiran kalau memang terjadi sesuatu kepada Zikri, dia adalah putra dari suamiku yang itu berarti juga adalah anakku. Tapi mudah-mudahan saja tidak ada yang terjadi dan semuanya baik-baik saja, itulah harapanku.
" Eum.. Mi, maafin Abi ya kalau Abi punya salah sama kamu. Ini semua terjadi begitu cepat dan di luar kendaliku juga kesadaranku. Sungguh ini bukan kemauanku, aku tidak berdaya, aku tidak mampu menolak permintaan dari Abahku sayang." Ungkapnya dengan nada lirih dan juga sedikit sengau.
Bisa aku tebak jika saat ini suamiku ini tengah menangis, namun karena alasan apa dia jadi begini aku tidak tahu dan membuatku semakin bingung saja, sehingga aku tidak tahan dan melayangkan pertanyaan padanya.
" Kemauan apa? Abah meminta apa Bi sama kamu, tolong katakan dengan jelas supaya aku bisa mengerti." Desakku seraya mengangkat wajahnya yang terlihat sudah sembab karena menangis, dan itu semakin membuatku bingung setengah mati.
" Aku dan Nikmah, kami kembali menikah..." Terangnya yang entah menahan dengan nada kesal atau menyesal, aku tidak tahu. Namun yang pasti itu terdengar sangat menusuk ke telinga hingga ke relung hatiku.
Degh!!...
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.