Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Dejavu..


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Aku berjalan kesana-kemari dengan perasaannya yang tidak tenang, menunggu dengan sangat gelisah di depan ruangan igd yang pintunya masih tertutup rapat. Bahkan lampu di atas sana masih berwarna merah pertanda bahwa di dalam sana para Dokter dan stafnya masih terus berusaha keras menyelamatkan Abah. Dan ini sudah hampir dua jam lamanya, dan belum ada tanda-tanda salah satu dari mereka yang keluar.


Sementara itu Neng Atin duduk di bangku tunggu dengan wajah yang sama gelisahnya denganku. Kami sama-sama terpukul atas kejadian tadi pagi, terlebih buatku sendiri yang membuat Abah jadi seperti sekarang ini.


Aku hanya bisa pasrah jika sudah begini, ku pasrahkan semuanya kepadaMu Ya Allah.. Tolong selamatkan Abahku dari penyakitnya. Dan tolong berikan petunjukmu atas kejadian memalukan tadi pagi.


Aku menyempatkan diri untuk pergi ke kantin sebentar dan tak lama aku pun sudah kembali. Namun tak kudapati Neng Atin dan juga Ali yang tadi duduk di bangku panjang. Kemana mereka berdua? Sekilas aku melihat lampu di atas pintu ruangan itu sudah berganti warna hijau itu berarti para Dokter sudah selesai dengan pekerjaannya.


Aku menunggu tidak berapa lama pintu pun terbuka dari dalam, aku sungguh tidak sabar, lalu muncullah seorang perawat wanita yang sedang menarik sebuah brankar yang di dorong oleh salah seorang perawat pria. Namun yang membuatku gagal fokus dan juga terhenyak adalah seseorang yang berbaring di atas brangkar tersebut, seluruh tubuhnya telah di tutupi oleh kain berwarna putih, seluruhnya tanpa tersisa.


Ada apa ini? Ini tidak mungkin?


Ini pasti salah? Itu bukan Abah?!


Aku terus saja menduga-duga, tapi jika kulihat dari perawat pria yang mendorong brankarnya adalah perawat yang sama dengan yang tadi membantu mendorong brangkar Abah saat baru saja datang. Terlebih aku juga tidak melihat ada pasien lain yang masuk ke dalam ruang igd selain hanya Abah. Ya Allah ini tidak mungkin.


" A-apa yang terjadi? Ada apa dengan pasien ini Ners?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku ke arah pasien yang tengah terbaring kaku di atas brankar.


" Pasien baru saja meninggal dunia. Maaf apa anda keluarga atau walinya? Sebab kami tidak melihatnya sedari tadi." Jelas si perawat wanita tersebut.


" Apa?! Innalillahi wainnailaihi roji'un. Ya Allah..! Kenapa begitu cepatnya engkau pergi tinggalkan Aziz Bah, Aziz bahkan belum sempat meminta maaf terlebih dahulu kepada Abah." Ujarku lirih tak kuasa menahan pedihnya di tinggalkan oleh orangtuaku yang hanya tinggal Abah saja di dunia ini.


Aku mengikuti langkah perawat yang terus mendorong brankar tersebut, pandanganku nanar juga terlihat menyedihkan. Entahlah.. aku bahkan tidak memperdulikan penampilanku sendiri saat ini yang entah seperti apa saat berangkat tadi dari rumah.

__ADS_1


Saat air mata ini hampir menetes, dengan cepat aku segera mengusapnya dengan kasar. Tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang di sepanjang koridor rumah sakit ini.


Aku betul-betul sangat sedih juga merasa sangat kehilangan. Kehilangan sosok Ayah yang selama ini telah menjadi panutanku, seorang Ayah yang menjadi pemimpin keluarga yang sangat bijaksana, juga seorang Ayah yang menjadi pahlawan bagi kami anak-anaknya.


Sedari kecil aku selalu melihat apa yang Abah lakukan serta memperhatikan caranya memperlakukan Umma. Sehingga kelak kalau aku sudah dewasa, dan sudah berumah tangga, aku akan memperlakukan istriku dengan sangat baik seperti halnya yang Abah lakukan terhadap Umma.


Apapun yang beliau lakukan selalu aku contoh setelahnya. Dan kini semuanya sudah menjadi kenangan semata. Seseorang yang sangat aku hormati dan aku sayangi kini telah kembali, berpulang kerahmatullah. Meninggalkan ketiga anaknya di dunia ini.


Ya Allah seharusnya ini tidak boleh, aku tidak boleh terlalu meratapi kepergian Beliau. Namun aku sadar jika semua ini terjadi karena aku. Semua berawal dari kejadian tadi pagi yang aku sendiri benar-benar tidak ingat apa yang telah aku lakukan terhadap Nikmah mantan istriku sendiri tadi malam.


" Semoga Khusnul khotimah Bah.." Lirihku memejamkan kedua mataku. Kedua kakiku rasanya lemas tak kuasa berjalan. Namun aku harus segera mencari Neng Atin dan Ali untuk segera mengajaknya pulang ke rumah. Hingga tak lama terdengar suara seseorang yang sangat familiar di telingaku, dan benar saja itu adalah suara Neng Atin, yang entah dari mana baru kembali.


" Ziz apa yang kamu lakukan disini?!" Tanyanya yang terlihat heran menatapku. Kulihat matanya yang juga sembab pasti dia juga habis menangis.


Aku pun berjalan memeluknya. " Maafin Aziz Neng."


" Ya sudah ayo segera kita urus keberangkatan ke rumah serta pemakaman beliau Neng." Ajakku agar raga Abah tidak terlalu lama berada di rumah sakit.


" Keberangkatan ke rumah? Pemakaman beliau? Maksudmu apa? Siapa yang meninggal Ziz?" Tanyanya yang kembali bingung.


" Huh? Bukankah Abah sudah pergi, dan sekarang berada di dalam sini." Tunjukku ke arah kamar mayat yang tak jauh dari tempatku berdiri.


" Kamu mendoakan Abah Ziz! Ya Allah... Abah masih sehat walafiat malah kamu doakan cepat berpulang, anak macam apa kamu ini huh! Kamu itu di cari Abah, sedari tadi Neng mencarimu kesana kemari, malah ketemunya disini, bicara ngawur lagi!" Cecarnya dengan nada sedikit membentakku.


" Apa?! Abah masih sehat Neng? Alhamdulillah..Lalu dimana sekarang Abah? Kenapa tidak mengatakannya sedari tadi! Ya Allah aku kira Abah sudah... Ya Allah bodoh sekali aku." Gumamku terlihat bodoh juga konyol.


" Ya kamu memang bodoh!" Umpatnya dengan sengaja mengejek Adiknya sendiri. Bukannya prihatin atau merasa iba karena kesalahpamahanku sendiri, dia justru mencomoohku. Kakak macam apa pula dia!!

__ADS_1


" Ya Allah Neng.. Ayo antarkan aku bertemu Abah sekarang!" Aku segera berjalan menjauhi tempat menyeramkan itu.


Aku berjalan lebih cepat, bahkan meninggalkan Neng Atin di belakang sana. Ternyata jika seseorang sedang dalam keadaan kesal, bingung, gelisah, pokoknya bercampur aduk menjadi satu, bisa melakukan hal yang sangat konyol dan juga menggelikan ya, Ya Allah..


Hingga tak lama aku dan Neng Atin sudah sampai di salah satu ruang perawatan dan segera masuk ke dalam. Bisa kulihat Abah sudah sadar, dan tengah mengobrol dengan Ali. pemuda itu.


" Assalamualaikum.." Sapaku.


" Waalaikumsalam.. Kamu kemana saja Ziz. Sini Abah mau bicara serius denganmu." Sahut Abah dengan wajah yang terlihat begitu serius.


" Maafkan Aziz Bah, tapi Abah sebaiknya istirahat dulu, nanti saja kita membahas masalah itu. Aziz ingin Abah sembuh dulu ya Bah.." Pintaku lirih, semoga mau mendengarkan permintaanku.


" Tidak! Abah ingin kita bicara sekarang, jangan di tunda-tunda. Dan kamu harus menikahi Nikmah kembali. Ini aib Ziz, kamu pasti paham, apalagi kamu sudah jelas berada di dalam kamar hanya berdoa saja dengannya, apa kamu dengar ucapan Abah!


Degh..!!


Ya Allah kenapa ini seperti dejavu bagiku..


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2