Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Satu Macam Saja


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Aku menggerutu kesal sembari berjalan menyusul suamiku yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamar, maksudnya apa coba? Bukankah yang aku katakan tadi benar, jika ibadah versinya itu memang tidak jauh-jauh dari urusan ranjang, bahkan kurasa semua laki-laki pun sama.


Baru saja menutup pintu kamar, aku di kejutkan dengan kefua tangan kekar yang sudah memelukku dari belakang. Ya siapa lagi pelakunya jika bukan suamiku sendiri." Abiii! Ngagetin aja deh! Lepas Bi, aku mau bersih-bersih." Keluhku yang tak bisa bergerak, sebab pelukannya begitu erat.


" Ayo bersama aja, Abi akan membantu menggosokkan punggungmu sayang." Ujarnya yang langsung menarikku masuk ke dalam kamar mandi, tanpa aku sempat menjawabnya.


" Abi mau apa? Tadi aku sudah bilang jangan macam-macam ya! Keburu sore nanti, kita jadi nggak ke rumah Cacak-nya?" Seruku yang memperingatinya, bahwa sore ini kami memang berniat akan berkunjung kesana, sebab ada acara khitanan putra mereka.


" Nggak apa-apa sayang, acaranya juga masih lama. Abi janji deh hanya satu macam saja, nggak macam-macam." Rayunya yang masih mencoba bernegoisasi padaku.


Bagaimana ini? Aku tahu jika menolak ajakan dari suami itu berdosa, kelihatan sih suamiku saat ini tengah menahan sesuatu di bawah sana. Aku menghirup udara begitu dalam, sebelum menjawab ajakannya.


" Gimana sayang? Nggak lama kok, ya?" Tanyanya ulang dengan tatapan memohon, kasihan sekali. Detik berikutnya aku pun mengangguk pasrah, mau bagaimana pun tetap saja aku yang kalah.


Suamiku langsung mengadahkan kedua telapak tangannya kemudian mengusapkannya ke wajah, pertanda ia bersyukur. " Abi bantu melepasnya ya?" Ujarnya dengan raut wajah berbinar cerah. Lihatlah! Seakan baru mendapatkan mainan baru yang ia idam-idamkan.


Kini kami sudah berdiri di bawah pancuran air hangat dengan tubuh sudah sama-sama basah. Bang Aziz menuangkan sabun cair ke telapak tangannya dan mulai menyabuni seluruh tubuhku meratakannya, mulai dari pundak, dua bukit kembarku, perutku yang sedikit membuncit, lalu turun ke lembah favoritnya kemudian turun hingga kaki, aku hanya diam menikmatinya belaian tangan dari suamiku.


Lalu setelah selesai aku pun melakukan hal yang sebaliknya membantu menggosok seluruh tubuhnya, membuat suamiku memejam keenakan. Bukankah mandi bersama suami sendiri juga menambah pahala bagiku?


Saat kedua tangan selesai menggosok tubuh masing-masing, suamiku mulai mencumbuku, memberikan stimulasi di bagian tubuh atasku, membuatku gelisah dan tidak tahan lagi untuk mendesis keenakan. Apalagi tangan nakalnya sudah mulai membelai dan menggesek milikku.

__ADS_1


" Nanti di lanjut lagi menggosoknya sekarang Abi minta satu macam ya, lihatlah otong sudah menegang sempurna ini ingin segera menengok calon bayi kita sayang, milikmu juga sudah sangat siap." Bisiknya di dekat daun telingaku, yang seketika membuatku meremang.


" Jangan lama-lama tapi Bi, ingat nanti Zia terbangun nangis nyariin." Ujarku memperingatinya lagi, jangan sampai putri kami meraung, saat Abinya tidak membebaskan Aminya dari belenggunya.


" Siap sayang, sekarang ya." Lirihnya pelan sambil berjalan mencari duduk di dekat bathtup lalu menarikku agar duduk di atas pangkuannya. Karena kami sudah melakukan pemanasan sedari tadi, sehingga suamiku langsung memintaku untuk menyatukan tubuh kami, membuat kami melenguh nikmat ketika milik kami sudah menyatu.


" Bergerak pelan sayanghh." Pintanya yang segera kulakukan, tubuhku bergerak maju mundur sesuai ritme, membuatnya merem melek begitu pun denganku. Ia ikut membantuku dengan memegang pinggulku, getakan yang tadi pelan berubah semakin cepat, hingga tak lama kami sama-sama melenguh saat sudah sampai ke puncaknya.


" Terima kasih sayang, kamu selalu bisa menyenangkan Abi dengan baik. Ayo Abi bantu membersihkan tubuhmu lalu setelahnya beribadah yang susungguhnya." Bisiknya sembari menggendongku seperti yang dia katakan tadi akan membantu membersihkan tubuhku, sebab aku masih merasa lemas sekali, tenagaku terkuras habis akibat gelombang yang ku keluarkan, di tambah lagi aku yang mendominasi permainan tadi.


Setelah kami usai bersih-bersih dan juga beribadah bersama, aku langsung mengemas beberapa pakaian Zia ke dalam tas berukuran sedang. Aku juga membawa pakaianku juga pakaian suamiku, sebab rencananya malam ini kami mau menginap di rumah Abah.


Beruntung Zia anteng tidurnya tadi, tidak mendengar suara berisik kedua orangtuanya yang sedang mengadon. Seusai kami beribadah, Zia baru terbangun dan sekarang sedang di gendong oleh Abinya ke depan.


Setelah selesai aku juga keluar, sebelum tidur tadi Zia juga sudah aku mandikan, jadi tinggal mengganti pakaiannya saja sekarang, sedangkan aku sudah berganti sejak tadi.


" Baiklah sayang, setelah ini kita langsung berangkat ya, mobilnya juga sudah Abi panasin itu." Sahutnya sembari merangkul pinggangku lalu mengecup keningku dari samping, aku pun tersenyum dengan perlakuan manisnya ini.


Setelahnya kami sudah selesai bersiap, aku pun kembali menggendong Zia, " Mana saja yang mau di bawa sayang." Tanya suamiku yang juga sudah siap pergi dengan pakaian kemeja batiknya yang serasi dengan pakaianku dan juga Zia, jadinya pakaian kita bertiga seragaman.


" Cuma satu tas aja Bi yang itu, dan bingkisan itu buat Zac yang khitanan, nanti kita mampir buat Neng Delisha ya, Ami lupa beli bingkisan buat Neng kemarin." Tunjukku kepadanya dua benda yang sudah siap di atas sofa yang langsung di bawa keluar oleh suamiku.


" Baiklah Abi di depan ya, jangan lama-lama." Sebelum keluar suamiku mengecup pipi Zia lebih dulu." Putri Abi gemesin banget sih." Bisiknya, setelah itu Bang Aziz pun kekuar kamar.


Tak lama aku pun segera menyusulnya keluar kamar berjalan menuju ke depan dimana mobil kami sudah siap di depan gerbang, tidak lupa aku mengunci pintu rumah dan juga gerbang depan. Lalu setelahnya aku pun masuk ke dalam mobil bersama Zia yang sejak tadi diam menatap bingung ke arah kami berdua.

__ADS_1


" Kenapa sayang? Kita mau jalan-jalan ya? Yeeyy, kita mau ke rumah Kakak Salsa ya, lihat Kakak kecil Zac yang di sunat." Celotehku pada Zia, yang aku yakin dia belum mengerti dengan ucapanku, dia hanya bisa tersenyum, membuatku langsung mencium pipi gembulnya itu saking gemasnya.


" Nggak ada yang ketinggalan 'kan sayang?" Tanya suamiku begitu baru masuk ke dalam mobil setelah mengecek bagasi belakang tadi.


" Sudah semua Bi, kita berangkat yuk, Bismillah..." Ujarku. Tak lama mobil pun bergerak melaju menuju ke kota JG.


Setelah kurang lebih hampir tiga jam-an di perjalanan, mobil kami memasuki halaman terlihat beberapa kendaraan yang sudah terparkir di samping sana, kami pun sampai di kediaman Cak Arga, bertepatan dengan suara Adzan berkumandang.


" Alhamdulillah, turun yuk sayang." Ajak suamiku yang sudah lebih dulu turun setelah mematikan mesin mobilnya.


Aku pun segera turun dengan hati-hati sebab Zia tertidur pulas di dalam gendonganku." Pulas sekali peri kecil Abi ini." Ujar suamiku yang mengusap-usap pipi tembem putrinya.


" Yuk masuk, sepertinya sebagian tamu sudah datang." Bang Aziz segera menggandengku masuk ke dalam rumah Cacaknya.


" Assalamualikum.." Seru kami secara bersamaan..


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2