Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Apa Yang Di Sesali??


__ADS_3

Nukmah_PoV


*


Sekitar pukul sembilan malam aku telah sampai di rumahku, dengan di antar oleh sepupuku b******n itu. Aku tidak ada pilihan lain selain mengiyakannya dari pada rumah tanggaku hancur..


Namun sebenarnya hatiku ini yang sudah hancur lebur, rasanya sudah tak ingin hidup lagi di dunia ini. Terlebih aku seperti tidak mempunyai muka lagi bila nanti ketemu dengan suamiku Aziz. Harapanku semoga dia belum kembali dari kampung halaman wanita itu.


Aku membuka pintu mobil bersiap untuk turun tanpa ingin repot-repot berpamitan denganya. Tidak akan pernah! Aku masih sangat marah besar dengan apa yang ia lakukan padaku tadi.


Namun baru saja akan keluar lenganku sudah di cekal oleh Rojak. Jika tak ingat istrinya yang sedang mengandung bayi yang tak berdosa, sudah aku dorong ini bapaknya, biarlah masuk penjara asalkan rasa kesalku ini hilang.


Dengan kesal aku pun menoleh padanaya, lihat wajah mesumnya itu, ingin ku cakar saja hingga berdarah-darah, tanganku juga rasanya sudah gatal sedaru tadi." Kenapa?" Tanyaku dengan ketus, dia-nya justru tersenyum pongah, dasar pria tidak punya hati, bisa-bisanya aku dulu terperangkap oleh bujuk rayuannya.


" Kiss-nya mana?" Bisiknya yang sengaja menggodaku. Kalau dulu aku sangat suka sekali jika dia menggodaku seperti ini, namun lain hal dengan sekarang aku justru benci dan jijik padanya.


" Jangan nglunjak ya kamu! Sudah aku kasih apa yang kamu mau, masih kurang, hah!!" Bentakku yang mulai jengah dengan sikapnya itu.


" Sssttt,, jangan keras-keras sayang,, kecilkan suaramu, kamu tidak mau 'kan, kalau suamimu nanti dengar, lebih parahnya dia lihat kita berduaan di mobil malam-malam begini." Ujarnya memberitahuku.


Dan aku pun langsung terdiam, oh, ya ampun aku sampai lupa, benar juga apa yang dia katakan. Eh, tapi 'kan belum tentu juga suamiku itu sudah pulang. Dengan kesal aku menatap wajah Rojak.


" Ini semua gara-gara siapa?! Kamu!" Hardikku menjulurkan jari telujukku di depan mukanya.


Ku dengar dia menghela napas berat sembari meraih tanganku dan mengecup punggungnya dengan mesra. Dengan cepat aku pun menarik kembali tanganku, menatapnya tajam.


" Oke, baiklah aku yang salah. Tapi jujur aku tidak bisa jauh dari kamu lagi sayang. Aku cuma sayang dan cinta sama kamu, bukan yang lain." Sahutnya dengan wajah serius.


" Stop, Bang, kamu itu sudah menikah dengan Juleha, hormati dia sebagai istrimu. Ingat dia sedang mengandung anakmu, darah dagingmu sendiri. Sudahlah akan percuma saja jika kita terus berdebat tidak akan ada habisnya. Dan aku minta jangan temui aku lagi, jika tidak ingin aku jebloskan ke dalam penjara." Ancamku menatapnya nyalang, tanpa ingin mendengar jawaban darinya, aku turun dari mobil dengan cepat masuk ke dalam rumah.


Beruntung keadaan di sekitar rumahku telah sepi, aku pun membuka kunci pintu yang selalu aku bawa. Aku tadi sudah berpesan pada Mus putri sulungku jika sudah terlalu malam di kunci saja pintu depan, agar tidak ada orang lain yang masuk dan berniat jahat.

__ADS_1


Setelah mengunci pintunya kembali, aku berjalan dengan hati-hati menuju dapur untuk mengambil air minum, seluruh ruangan juga sebagian sudah di matikan lampunya. Setelah membasahi kerongan juga membawa segelas air putih di mug aku lanjut melangkah berjalan menuju ke kamarku.


Namun sebelum mencapai depan pintu kamarku, aku justru berbelok memasuki kamar anak-anak terlebih dahulu, mengecek keadaan mereka. Ada rasa amat bersalah sudah menyakiti hati putra-putriku, ku kecup kening mereka masing-masing sembari mengucap maaf dalam hati. Sungguh jika mereka semua tahu perbuatan Uminya, pasti mereka tidak akan mau menganggap aku Umi mereka lagi.


Setelahnya selesai aku berjalan keluar dan masuk ke dalam kamarku sendiri, keadaan di dalam kamar sudah gelap, namun karena gorden jendela berwarna putih dan juga transparan, cahaya lampu dari luar langsung menebus ke dalam kamar, sehingga keadaan kamar menjadi temaram.


Setelah membersihkan wajah juga berganti pakaian, aku berjalan ke arah ranjang duduk di tepi, aku baru ingat jika belum meminum sesuatu, dengan cepat aku menarik laci nakas dan segera ku minum sebutir pil, aku tidak mau kecolongan.


Aku mengela napas panjang sebelum membaringkan tubuh lelahku, rasanya tubuhku remuk redam akibat perbuatan si biad4p itu. Aku termenung menatap langit-langit kamar yang gelap, mengingat kembali kejadian tadi, ancaman Rojak yang sepertinya tidak main-main padaku.


~ Flashback On


Rojak mengajakku kembali ke penginapan, tempat dimana pertama kalinya kami melakukan hal begituan, awalnya aku terus menolak dan berusaha kabur darinya, namun ia mengancamku.


" Jika kamu pergi sekarang, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada putri sulungmu, atau bahkan Adik-adiknya!" Gertaknya yang mulai mengancamku. Langkahku pun terhenti, dan menatapnya nyalang.


" Jangan menyentuh mereka barang seujung kuku pun, tak akan ku biarkan! Sebenarnya apa sih maumu?" Oh, si4l! Kenapa aku bertanya begitu? Ini justru memberinya peluang kesempatan kalau begini. Lihatlah senyum kemenangannya, yang membuatku menyesal telah bertanya demikian.


" Ku harap, ini yang terakhir kalinya."


" Sure."


Walau ragu dengan jawabannya, akan tetapi aku mencoba berpikir positif, kuharap setelah ini kami tidak akan pernah bertemu kembali, yang paling penting tidak akan pernah melakukan dosa ini lagi. Ya Allah ampuni aku..


Rojak berlalan mendekatiku, mengukungku di dinding kamar penginapan yang dingin, tatapan kami saling mengunci, detik berikutnya bibir kami sudah saling bertaut, saling ******* dan menyesap rasa yang sama, ya aku akui ciuman Rojak masih tetap memabukkan bagiku.


Beberapa saat kemudian kami sudah bergelut di atas ranjang, aku mulai terbuai oleh semua sentuhannya, hingga sudah dua kali aku mencapai puncak, sementara Rojak masih terus menghujam inti tubuhku. Sungguh aku merindukan sentuhan darinya, semua permainannya yang membuatku menggil4. Yang selalu berhasil membuatku keluar berkali-kali. Walau ku akui permainan suamiku juga tak kalah hebat darinya.


" Oh, aku mau sampai.." Desisku yang akan mencapai puncak yang ketiga kalinya.


" Kita barengan sayang.."Rojak mempercepat pacuannya. Hingga..

__ADS_1


" Aaarrgghh,," Teriakan kami pun menggema di seluruh ruangan, dengan napas yang saling memburu. Oh, ya ampun. Aku tidak sadar tengah memeluknya erat. Rojak menghujami kecupan di seluruh wajahku, aku tak bisa menolak sebab masih meredakan rasa ledakan tadi.


" Terima kasih sayang." Lirihnya tersenyum senang.


~Flashback Off


*


" Aah,, menyesal pun rasanya tidak ada gunanya saat ini." Lirihku yang mulai memejamkan.


" Apa yang kamu sesali,,???"


Degh!!


Aku langsung terkesiap, jantungku rasanya berhenti berdetak saat ini juga, suara itu? Suara yang aku kenal. Aku pun memberanikan diri menoleh ke samping, dan seketika kedua matanya membulat sempurna tepat seperti dugaanku. Suamiku tengah berbaring miring menghadapku saat ini.


" A-abi? Ka-kapan pulang?" Tanyaku dengan gugupnya.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2