Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Berasa Di Pengadilan!


__ADS_3

Kholil_PoV


*


Keesokan harinya,


Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun dan segera membersihkan diri menjelang subuh. Semalam setelah meminum obat dan langsung beristirahat rasanya sudah cukup membuat tubuhku lebih ringan, kepala juga sudah tidak sesakit tadi malam, walau masih sedikit pening.


Setelah selesai beribadah, aku segera menyiapkan barang keperluanku yang akan aku bawa ke kampung halaman istriku. Rasa ketidaksabaranku lebih dominan di bandingkan rasa bersalah yang harusnya aku sesali.


Aku juga sempatkan mengirim pesan kepada atasan, bahwa hari ini dan besok aku ijin tidak bekerja, untungnya atasanku mengerti, sehingga membuatku sedikit lega.


Nyatanya itu semua tertutupi oleh satu kata yaitu RINDU, ya rindu yang sangat menggebu. Walau baru sehari tidak bertemu dengan anak istriku, nyatanya aku merasa sudah setahun lamanya. Terserah kalian mengatakan aku pria yang menggombal nyatanya itulah yang aku rasakan saat ini.


Aku berjalan ke arah dapur berniat membuat minuman hangat, tak lama terdengar suara Ibu dari belakang membuatku menoleh menatap beliau.


" Lho Lil kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu sekarang, masih pusing? Lemas? Ataukah mual? Dan apa ini kamu sudah serapi ini?" Tanya Ibu heran, dengan sederet pertanyaannya itu.


" Alhamdulillah, sudah mendingan Bu, terima kasih sudah merawat Kholil semalam. Ayo sebaiknya kita berangkat pagi agar tidak terkena macet di jalan, atau kalau tidak, biar Kholil sendiri saja yang kesana, Ibu dan Ayah di rumah saja, pasti kalian juga lelah habis dari rumah Bibi kemarin." Sahutku seraya menyeduh kopi hitam yang akan kunikmati.


" Kamu jangan aneh-aneh! Baru juga sembuh sudah akan menyetir sendirian. Kita berangkat bersama atau tidak sama sekali! Kenapa sih tidak sabaran, Ibu juga tahu sangat paham apa yang kamu rasakan saat ini, tapi juga lihat kondisimu yang masih lemah. Ya sudah setelah ini Ibu akan bersiap-siap, Ayahmu juga sedang mandi itu." Ujarnya sembari meminum air putih yang baru saja di tuangnya ke dalam gelas kaca.


Beberapa saat kemudian kami bertiga sudah siap hanya tinggal berangkat saja. Entah apa yang Ibu bawa dan dimasukkannya ke dalam bagasi belakang itu, lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Sementara aku sudah duduk di belakang kemudi seraya memanasi mobil, kami memakai mobil milik Ayah, sebab tidak mungkin aku membawa mobilku yang tengah kehabisan bahan bakar, di tambah itu akan memakan waktu yang lama dan kami bisa-bisa kesiangan nanti, belum lagi macet di jalan.


" Kamu duduk di sebelah saja Lil, biar Ayah saja yang nyetir." Tegur Ayah, yang sama sekali tidak aku indahkan. Jika Ayah yang menyetir bisa-bisa menjelang Ashar baru sampai rumah Anna nanti.

__ADS_1


" Lil, kamu tidak dengar kata Ayah barusan! Ayo pindah!" Tegurnya kembali. " Ibumu juga kemana ini, kenapa lama sekali di dalam rumah?!" Gerutunya yang kini di peruntukkan kepada istri tercintanya.


" Bu ayo keburu siang ini!" Kini Ayah meneriaki Ibu, ternyata beliau juga tidak sabaran. Atau memang kami para kaum Adam itu di ciptakan untuk memiliki sifat tidak sabaran, entahlah.


Hingga tak lama Ibu pun keluar seraya mengunci pintu, bersamaan dengan Mbak Sum yang sepertinya di suruh libur hari ini sebab kami yang akan pergi ke luar kota. Ya lebih baik begitu, Mbak Sum juga bisa istirahat di rumah arau sekedar jalan-jalan. Tempat tinggalnya memang masih berada di satu kota ini, akan tetapi tepatnya berada di pinggiran, perbatasan antar kota sehingga harus menempuh dengan menggunakan bus.


" Lho kenapa kamu duduk disana?! Pindah ke samping, biar Ayah kamu saja yang menyetir! Kamu itu masih lemah, dengarin kata Ibu!" Cerca Ibu yang baru saja masuk ke mobil dan duduk di bangku belakang.


" Ayah sudan bilang tadi, tapi ya putramu ini 'kan memang keras kepala!" Timpal Ayah memanasi.


" Kholil Ibu bilang pindah!"


Huh! Suami istri ini memang kompak sekali jika mengitimidasi putranya sendiri.


" Tidak apa Bu, biar Kholil saja yang nyetir. Aku ini anak laki-laki lho, kenapa sih Ibu selalu melihatku seperti anak perempuan yang lemah!!" Sungutku yang tidak sadar sudah membentak Ibuku sendiri, dan tak lama membuatku menyesal." Maaf bukan Kholil bermaksud membentak Bu."


Huh! Kalau sudah begini lebih baik mengalah sajalah, daripada urusannya akan panjang nanti. Memang kalau berdebat dengan makhluk yang namanya wanita tidak akan ada habisnya, dan ujung-ujungnya selalu saja laki-laki yang salah, walaupun sebenarnya benar. Dan jika laki-laki ketahuan salah, beuh! Bertambah kali marahnya wanita, dunia perumah tanggaan mungkin bisa-bisa akan hancur seketika jika terus di tanggapi, bagaikan terkena badai tsunami dari mulut para kaum hawa.


Astafirullah..


Aku terpaksa menuruti apa kata Ibu, lalu tidak sengaja aku melirik Ayah yang menahan senyumnya seraya masuk dan duduk di balik kemudi. Ya aku tahu beliau sedang menertawakanku yang barusan fi marahin Ibu.


Beliau tidak sadar saja jika padahal Ayah itu lebih takut kepada Ibu jika Ibu sudah marah kepadanya, terlebih jika keinginannya tidak terpenuhi. Istilahnya suami-suami takut istri. Mungkin takut tidak di beri jatah malam atau yang lainnya, entahlah..


Baru satu jam perjalanan dan akan memasuki kota M, aku meminta Ayah menepikan mobilnya agar bisa bertukar posisi, sehingga aku yang menyetir beliau yang beristirahat. Sementara Ibu sudah berada di alam mimpi entah sejak kapan sudah menggelar kasur kecil khusus untuk di mobil.


" Baiklah, kamu hati-hati nyetirnya pelan-pelan saja, tidak usah ngebut!" Ujarnya mengingatkan.

__ADS_1


Kulajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedikit cepat dari yang Ayah lakukan. Awalnya beliau protes, akan tatapi mengingat jalanan agak senggang beliau pun akhirnya terdiam seraya mulai menyandarkan tubuhnya di bangku.


Beberapa jam kemudian akhirnya kami telah sampai dan memasuki perkampungan tempat tinggal Anna. dan tidak lama mobilpun berhenti tepat di halaman rumah mertuaku.


" Biar Ibu dan Ayah yang masuk duluan, tolong kamu turunkan barang-barang yang ada di bagasi. " Titahnya seraya menutup pintu mobil.


Sementara aku setelah mematikan mesin mobil aku pun segera turun dan mengambil barang-barang yang tadi Ibu maksud. Kulihat Ibu dan Ayah yang sudah masuk ke dakam rumah, tak lama aku pun menyusul seraya mengucapkan salam.


Ternyata Mbak Anniyah yang menyambut kedatangan kami. Kami pun di persilahkan duduk, sementara dirinya mengucapkan permisi akan kembali ke belakang untuk memanggil Bapak dan Ibu.


Perasaanku sungguh tidak karuan, dimana perasaan rinduku yang menggebu-gebu tadi? Kenapa kini berganti dengan perasaan gugup juga perasaan bersalah. Entah mengapa aku merasa berada di gedung pengadilan saat ini, Ibarat pelaku yang ketahuan membunuh dan tengah di adili di hadapan para hakim dan juga para saksi.


Walaupun saat itu tidak ada seorang pun saksi sekalipun yang mengetahui pertingkaian kami, tetapi aku harus siap bagaimana pun aku yang bersalah disini.


" Oh, yang datang Nak Kholil toch!"


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2