
Anniyah_PoV
*
Terkadang kita sulit menerima takdir yang menimpa kita, apalagi jika takdir itu berupa kesulitan atau kegagalan dalam urusan berumah tangga… sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi pada diri kita… sesuatu yang menurut pemahaman kita tidak baik buat kita. Pada saat itu, seringnya kita lupa bahwa sang Pencipta pasti lebih tahu apa yang terbaik buat ciptaanNya. Kita lupa, Allah SWT telah berjanji …tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya…
Laa yukalifuLLahu nafsan illa wus’aha….
Ya sekarang aku tidak lagi memusingkan masalah yang menimpa rumah tangga kami, semua aku pasrahkan kepadaNya. Hanya Dia tempatku bersandar ketika manusia selalu membuat kita kecewa juga sakit hati.
Yakin bahwa setiap takdir Allah untuk kita selalu baik, apapun bentuk takdir itu. Takdir yang baik, tentu baik untuk kita. Takdir yang nampak tidak menguntungkan buat kita, ternyata ada kebaikan yang Allah ’paksakan’ untuk kita…yang tidak kita sadari saat itu.. Yakin bahwa Allah mengetahui yang terbaik untuk kita…
Sekarang ini aku bersikap seperti biasa, menganggap apa yang telah terjadi pada suamiku tidak ada. Sekarang terserah dia mau bersikap bagaimana pun juga aku tidak lagi mempermasalahkan, dan aku sudah ikhlas atas takdir dariNya yang kujalani saat ini.
Aku yakin akan ada kebahagiaan unyukku di suatu hari nanti, entah itu kapan. Sekarang tugasku hanya menjalani tugas seorang istri yang harus patuh dan juga menghormati suamiku.
Sudah hampir seminggu Bang Aziz kembali ke kota untuk kembali bekerja, tidak lupa aku selalu mendoakannya agar ia selalu di beri kesehatan juga keselamatan dunia dan akhirat, Aamiin..
Saat aku tengah makan siang di belakang rumah sembari menemani Zia dan Zaheera bermain, aku seperti mendengar ada suara deru mobil yang berhenti di halaman rumah. Setelah menunggu beberapa menit tak kunjung ada seseorang yang mengucapkan salam, itu berarti tamu orang lain.
Aku pun kembali fokus menyantap makananku, tak lama makananku habis aku segera membersihkan Zaheera yang kotor bermain pasir, begitu pun dengan Zia aku menyuruhnya mencuci tangan juga kakinya.
Setelah selesai aku mengajak kedua anakku masuk ke dalam kamar untuk tidur siang sementara Erika sudah sedari tadi berada di kamar Ibu untuk tidur siang, mungkin sudah tidue seban sudah tidak terdengar lagi suara celotehnya.
" Ayo sayang-sayangnya Ami kita tidur siang dulu." Ajakku menyelimuti keduanya.
Zia langsung menurut berbaring tenang di sebelah Adiknya menempel di tembok sementara posisiku di tepi ranjang, tapi tidak dengan Zaheera yang justru mengajak bermain. Sedari tadi tidak bisa diam, terus bergerak kesana kemari.
Kadang aku melihat ia tersenyum geli seperti sedang bergurau dengan seseorang. Namun tidak ada siapa-siapa di sekitar kami, bahkan aku membandingkan saat Zia kecil dulu. Saat seumuran Zaheera, Zia memang sering mengobrol dengan makhluk penghuni lain dan itu tidak seintens seperti Zaheera sekarang, namun semakin kesini Zia sudah tidak lagi terlihat seperti itu, justru sekarang gantian Zaheera yang terlihat sangat menikmati.
__ADS_1
Aku jadi teringat perkataan salah satu kiyai yang ada di kota M saat aku dan Bang Aziz berkunjung ke rumahnya. Waktu itu beliau bilang jika Zaheera harus di mandikan dari tujuh mata air sumur yang berbeda, entah alasan lainnya apa aku tidak begitu paham saat beliau menjelaskannya kepada Bang Aziz.
Yang katanya Zaheera ini anak yang berbeda dari anak-anak yang lain. Saat itu kami aku dan Bang Aziz hanya mengangguk paham, namun hingga sampai sekarang amanat itu belum kami laksanakan, sebab kesibukan suamiku yang belum ada waktu renggang.
Dan semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada putriku Zaheera, harapan seorang Ibu pasti sama saja, semoga anak-anaknya di jaga selalu oleh sang Pencipta.
" Zaheer ayo sayang tidur dulu, nanti keburu sore Nak." Titahku, hingga beberapa menit akhirnya aku berhasil membuatnya berbaring tenang dengan cara memberikannya sufor di botol susunya. Ya sejak kehamilanku ini semakin besar, Asiku juga semakin berkurang sehingga aku memberikan Zia dan Zaheera sufor, agar Zaheera yang berusia dua tahun tetap mendapatkan nutrisi tambahan.
" Ami apa Abi akan pulang nanti malam?" Tanya Zia dengan polosnya.
Aku menatapnya sayang, bagaimana aku menjawabnya, yang padahal juga tidak tahu kapan Abinya pulang, sebab pekerjaannya yang tidak menentu." Ya semoga nanti Abi pulang ya, sekarang Zia tidur dulu."
" Iya Ami." Jawabnya yang mulai memejam, setelah membaca doa.
Aku tersenyum bangga, Zia memang anak yang baik, sangat penurut terlebih kepada Abinya. Secara jika di lihat seksama wajah mereka sangat mirip, dan semoga sifatnya juga mirip sama baiknya seperti Abinya, namun tidak dengan nasibnya, aku berharap kehidupan anak-anakku kelak setelah dewasa jauh lebih baik dari kami berdua orangtuanya.
Aku terus mengusap kepala Zaheera, hingga tak lama bayi gembul itu pun terlelap. Samar-samar aku mendengar suara seseorang yang mengucaokan salam, dan suara itu sepertinya aku kenal. Setelah memastikan anak-anakku terlelap aku.pun berungsut turun dari dipan secara pelan-pelan agar tidak mengusik tidur mereka.
" Eh ada Nak Kholil, sendirian aja?" Seru Ibu berjalan menghampiri mantan menantunya itu di ikuti aku di belakangnya. " Cup, iya-iya dia Ayahmu, nah ikut Ayahmu dulu."
" Sendirian saja kok Bu. Hai Sayangnya Ayah, Ya Allah Ayah kangen sekali."
Setelah menyalami kami berdua Bang Kholil langsung menggendong putrinya, dan ajaibnya tidak berapa lama Erika langsung terdiam menatap wajah Ayahnya dengan serius.
Aku pamit ke belakang untuk membuatkan minuman untuknya, terlihat Erika memang merindukan Ayahnya, saat aku kembali ke depan Erika sudah tersenyum dan bermanja-manja kepada Ayahnya.
" Erika kangen Ayah ya, ayo di minum dulu Bang." Titahku. Aku duduk di seberangnya, sementara setelah memberikan Erika Ibu sudah kembali ke belakang lagi, entah sedang apa.
Karena usia Kholil yang berada di atasku, sudah pasti aku memanggilnya Bang, ya walau dia adalah mantan Adik iparku dulunya, tetap saja rasanya aneh jika aku memanggilnya hanya menyebut namanya saja.
__ADS_1
Kami berdua pun mengorbol panjang lebar, bahkan Ibu dan juga Bapak sudah bergabung kembali dengan kami. " Ngomong-ngomong apa kabarnya Ibu serta Ayahnya Nak Kholil sekarang, mudah-mudahan sehat semua ya, Aamiin." Celetuk Ibu sembari menatap cucunya.
" Aamiin.. Alhamdulillah kabar Ayah dan Ibu sangat baik Bu." Sahutnya yang kembali mengajak putrinya bermain sembari mengajak kami mengobrol banyak hal, yang tentunya juga menyangkut Anna yang memilih untuk mencari pekerjaan di luar sana.
Awalnya Kholil tidak terima Anna meninggalkan Erika sendiri di rumah bahkan menyuruh Ibunya mengasuhnya. Namun Bapak memberinya wejangan panjang lebar, hingga ia pun menggguk pasrah.
Hingga waktu sore tiba, Bang Kholil pun pamit untuk pulang kembali ke kota, awalnya ia meminta bahkan memohon agar bisa mengajak serta Erika bersamanya, sebab kedua orangtuanya yang juga sangat merindukan cucunya.
Kami berdua sangat paham, namun Ibu mengatakan agar menunggu Erika agak besar dulu, agar tidak merepotkan keluarga di kota nantinya. Toch Anna pasti juga tidak memberikan ijin, walau yang mengajaknya adalah Ayah kandungnya sendiri.
Hingga pada akhirnya Bang Kholil pulang dengan tangan kosong, namun harapannya tetap ingin mengajak putrinya untuk tinggal bersamanya suatu hari nanti, kami pun hanya bisa meng-Aamiin kan saja.
Sepeninggalan Bang Kholil aku dan Ibu kembali di sibukkan dengan pekerjaan rumah. Hingga malam menjelang kami sekeluarga berkumpul bersama di ruang tengah, adapula Mas Anton, Nenek dan istrinya juga datang, kami saling mengobrol, bersenda gurau sembari menikmati oleh-oleh yang di bawakan Bang Kholil dari kota.
Terlihat senyum yang indah dari mereka semua hingga membuatku melupakan sejenak masalah yang menimpa rumah tanggaku.
Kebersamaan keluarga menjadi sempurna, manakala senyuman tiap orang di dalamnya penuh dengan keikhlasan dan saling menyayangi.
Semoga keluargaku akan terus seperti ini, merasakan kebahagiaan yang sederhana.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.