
Aziz_PoV
*
Aku berjalan tergesa melewati lorong-lorong panjang rumah sakit. Di kanan kiri banyak sekali orang yang berlalu lalang ada yang sakit ada pula yang sehat mungkin itu sanak saudaranya yang sedang menemani saudaranya yanh sedang sakit.
Hingga dari kejauhan aku bisa melihat Zayyan yang tengah duduk sendirian di bangku tunggu menundukkan kepalanya, dahinya terdapat luka yang tidak terlalu serius, lalu kemana yang lain? Aku tak hentinya terus berdoa sedari dalam perjalanan kemari, semoga semua anggota keluargaku baik-baik saja tidak ada yang parah, Aamiin.
" Assalamualikum. Zayyan Alhamdulillah kamu selamat Nak, lalu dimana yang lainnya? Siapa yang sedang kami tunggu di dalam sana?" Sapaku yang langsung melontarkan sederatan pertanyaan padanya.
" Wa'alaikumsalam, akhirnya Om datang. Mbah kakung yang ada di dalam Om, sedang di tangani oleh Dokter." Jawabnya dengan suara sendu seraya menyalamiku.
Aku tahu dia sedang mati-matian menahan tangisnya, sama sepertiku, ku rengkuh bahunya, ku dekap erat agar ia bisa sedikit tenang melewati cobaan ini. Sekuat-kuatnya laki-laki jika itu menyangkut keluarga yang kita sayang, terlebih orangtuanya pasti akan rapuh juga.
Setelah aku merasa keponakanku sudah tenang, ku jarakkan tubuh kami." Lalu dimana Umi, Abi sama Adik-Adikmu dan juga sama Budhe Atin?" Ku tengok sekitarnya ke kanan dan ke kiri namun tidak kutemukan salah satu dari mereka.
Tubuh Zayyan kembali bergetar, bertanda ia kembali menangis, kembali ku rengkuh bahunya. " Tidak apa-apa lepaskan dulu, setelah itu antar Om ke tempat mereka ya."
Sejujurnya aku juga mati-matian agar tidak bersedih di hadaoan keponakanku ini. Terlebih orang yang ada di dalam sana adalah Abahku, Orantuaku yang pasti hatiku ikut hancur dengan bencana yang terjadi kepada keluargaku.
Tak lama Zayyan mengajakku ke sebuah kamar yang di atasnya di dekat pintu ruangan tersebut tertulis jelas jika itu adalah kamar mayat. Bersamaan itu ada seorang perawat laki-laki yang baru keluar dari sana, Zayyan langsung meminta ijin untuk masuk ke dalam. Jantungku terasa cepat berdetak saat melihat Zayyan mulai melangkah masuk, aku masih berpikir positif mungkin saja di dalam sana adalah salah satu korban yang Cak Arga tabrak.
Dengan langkah pelan aku mengikuti langkah Zayyan dari belakang, kulihat punggungnya kembali bergetar bahkan terdengar pula tangisannya. Perasaanku semakin tidak tenang dan terus menduga-duga, tubuh siapa kira-kira yang terbujur kaku di atas bangsal dengan di tutupi kain putih di sekujur tubuhnya itu?
" Siapa yang meninggal Zayyan? Apakah ada seseorang yang Abimu tabrak lalu meninggal disini?" Tanyaku terus berdoa menepis pikiran-pikiran buruk yang hampir singgah.
" Bukan Om. i-ini Abi Zayyan." Ucap Zayyan terbata-bata di sela tangisnya.
__ADS_1
Allahu Akbar...
Jantungku seakan di remas-remas setelah mendengar ucapan dati keponakanku. Apakah ini nyata ataukah hanya mimpi?
Tak terasa air mataku berlinang, karena aku penasaran kuberanikan diri untuk menarik kain putih tersebut di bagian atas kepalanya. Masih berharap ini mimpi atau orang lain yang ada di hadapanku.
Degh!!
Mataku terbelalak saat menatap wajah pucat itu, wajah seseorang yang aku sangat sayangi. Orang yang selama ini menjadi panutanku setelah Abah. Ingin sekali menjerit tapi aku sadar itu bukan lah perbuatan yang baik, terlebih menangisi mayit, kenapa Allah cepat sekali mengambil orang-orang yang aku sayangi?
Cacak selalu melindungiku dalam keadaan takut, Cacak selalu menguatkanku dalam situasi sulit, Cacak selalu menasehati setiap kali aku berbuat kesalahan. Cacak adalah kakak laki-laki terhebat yang pernah ada, terimakasih Cak, surga untukmu.
Ku dengar Zayyan kembali terisak bahkan sudah sesenggukan, wajar saja di sangat kehilangan, dan dia juga masih kecil, biarlah dia melepaskan bebannya yang berat, terlebih yang telah berpulang adalah Ayah kandungnya. Sekarang dia sudah menjadi anak yatim, begitupun dengan Adik-adiknya yang masih kecil.
" Yang sabar Zayyan, Om yakin kamu anak yang kuat, ikhlaskan Abi ya. Biar Abi tenang disana. Semoga Abi khusnul khotimah, Aamiin.." Ujarku berusaha memberinya semangat setelah kepergian Abinya.
" Tidak perlu khawatir, ada Om yang akan menjaga kalian. Lebih baik kita temui Ami, Adik-adik dan Budhe dulu ya, apa mereka semua baik-baik saja." Tukasku yang ingin mengajaknya bertemu dengan Aminya.
Nanti jika sudah selesai aku akanenguris jenasah Cak Arga, setelah meminta ijin kepada Neng Delisha selaku istrinya. Kami berjalan ke sebuah kamar rawat semoga semuanya ada di dalam sana.
" Assalamualaikum..." Sapaku bersamaan Zayyan.
" Wa'alaikumsalam,, Ziz kamu datang. " Neng Atin langsung bangkit berdiri saat melihatku, dan segera memelukku yang langsung ku balas, aku tahu apa yang tengah ia rasakan, terlebih dia seorang perempuan.
" Arga Ziz, Cacakmu." Tangis Neng Atin pecah, begitupun dengan Zayyan yang sedang menggendong Salsa Adiknya yang keadaannya sama dengan Kakaknya hanya luka kecil.
Sepertinya Neng Delisha belum sadarkan diri, melihat ia masih berbaring di atas bangsal dengan kepalanya yang di perban. Juga di bangsal sampingnya ada si kecil Zac yang juga kondisinya hampir sama sepertinya Uminya.
__ADS_1
Ya Allah kasihan si kecil ikut menjadi korban. " Neng Atin yang ikhlas ya, kita semua berdoa untuk anggota keluarga kita. Ayo duduk dulu. "
Setelah Neng Atin duduk di kursi yang ia duduki tadi, kusodorkan sebotol air yang sudah aku buka tutupnya. Aku bahkan belum minum sejak tadi, setelah di minum beberapa teguk, lalu pun ikut membasahi kerongkonganku sebelum siap mendengarkan cerita dari Zayyan tentang kronologi kejadiannya.
" Zayyan tolong ceritakan pada Om bagaimana kejadian yang sebenarnya sebrlum kecelakaan itu terjadi." Aku mengambil alih Salsa dari gendongannya, sebelum ia memulai cerita.
" Saat mobil kami hampir sampai ke pembatas rel kereta tiba-tiba kata Abi remnya blong, untung saja di depan tidak ada kendaraan lain, dan secara bersamaan pagar pembatasnya sudah di turunkan secara spontan Abi membanting setirnya ke kiri sehingga mobil menabrak bangunan pos penjaga, untung saja Zayyan memakai sabuk pengaman sembari memeluk Salsa, begitu pun dengan Umi yang juga memeluk Zac, setelah itu Zayyan tidak ingat lagi." Terangnya panjang lebar, aku kembali merengkuh pundaknya.
Setelah mendengar dari cerita Zayyan, pasti kondisi mobil bagian depan rusak parah membentur tembok, itu yang membuat Cak Arga begitupun Abah mengalami keadaan yang sangat parah, hingga merenggut nyawa Cacak, semoga keadaan Abah baik-baik saja, Aamiin..
" Apa sedari tadi Neng Delisha belum siuman? Lalu bagaimana dengan keadaan Zac?" Tanyaku menatap mereka yang masih terpejam bergantian.
" Tadi Delisha sudah sempat siuman, tapi dia tidak sengaja mendengar perkataan Dokter yang sedang berbicara padaku, jika suaminya tidak bisa di selamatkan karena hampir anggota vitalnya tidak berfungsi lagi, itu yang membuatnya histeris, sehingga Dokter terpaksa menyutikkan obat tenang, sedangkan Zac bekum sadarkan diri sedari tadi." Paparnya.
Aku pun menggangguk paham. " Semoga mereka cepat sadar Neng. Kalau begitu Aziz keluar dulu melihat kondisi Abah, besok pagi-pagi biar Aziz dan Zayyan yang akan mengurus pemakaman Cacak. Neng Atin tenang saja disini seraya menemani Neng Delisha dan anak-anak." Tukasku, setelah itu aku pun keluar ruangan menuju dimana Abah masih di tangani oleh para Dokter di ruangan tertutup sana, doa dan dzikir terus aku panjatkan dalam hati.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1