Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Fakta Terkuak Dari Atin Zaenab


__ADS_3

Atin_PoV


*


Hai perkenalkan namaku Atin Zaenab Nugraha. Kok Nugraha nama belakangku? Bukankah seharusnya Abdullah ya nama belakang dari Abahku? Kenapa berbeda dengan Adik-adikku? Ya tentu saja, sebab aku adalah anak tiri Abahku. Sedangkan Ayah kandungku bernama Agung Nugraha sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sewaktu aku masih kecil.


Ayah dan Bundaku begitulah panggilanku dulu kepada Umma, sebelum menikah dengan Abah. Mereka sebenarnya adalah korban dari perjodohan antara kedua orangtua mereka, yang itu berarti mereka adalah Kakek dan Nenekku sendiri. Pernikahan kedua anak-anak mereka yang di anggap saling mencintai, menyayangi, saling melindungi ternyata tidak ada kata bahagia sama sekali dalam rumah tangga mereka.


Aku saksinya, gadis kecil yang masih berusia tiga tahun itu, hampir setiap hari melihat dan mendengar pertengkaran di antara kedua orantuanya. Ya semenjak Kakek dan Nenek meninggal, Ayah semakin menggil4, bermain dengan banyak wanita dan melampiaskan kekesalahannya pada kami berdua. Namun kendati demikian aku lebih memikirkan keadaan Bundaku yang telah di khianati oleh Ayah, sebab jika Bunda melakukan sedikit saja kesalahan, Ayahku tidak segan-segan untuk menghajarnya hingga tubuhnya lebab-lebab, bahkan kemungkinan besar tega menghabisi nyawa Bunda jika perlu.


Mulai sejak saat itu, aku tak berani dekat lagi dengan pria manapun, tak terkecuali Ayah kandungku sendiri yang tak mempunyai belas kasihan sedikit pun pada Bunda dan juga aku putrinya yang kerap mendapatkan pukulan. Lambat laun aku semakin menjaga jarak dengan Ayah bahkan lelaki lain, trauma di masa kecil sungguh membuatku terguncang hingga saat ini, Trauma terhadap sikap kebanyakan pria padaku, aku anggap semua pria hanya bisanya menyakiti semua perempuan.


Hingga usiaku berajak lima tahun Ayahku sakit-sakitan. Hingga saat di periksakan ke Dokter ternyata Ayah menderita penyakit kangker darah hingga perlahan-lahan penyakit itu pun menggrogoti tubuhnya, kami tak bisa berbuat banyak, tabungan yang selama ini di simpan oleh Bunda, habis di gunakan untuk Ayah berobat. Terlepas sikap Ayah yang kasar terhadap kami, Bunda tetap mau merawat Ayah dengan baik. Semakin hari kondisi Ayah semakin buruk, tabungan pun habus tak tersisa.


Kami pun kesulitan mencari biaya untuk pengobatan Ayah, bahkan semua keluarga Ayah dan Bunda semuanya angkat tangan, mereka tidak bisa di mintai tolong walau hanya sekedar meminjami kami uang, seolah mereka menganggap kami hanyalah orang lain. Walau Bundaku sudah banting tulang bekerja menjadi buruh cuci pakaian dari rumah ke rumah tetangga, tetap tidak bisa membantu pengobatan Ayah, hingga sampai Ayah menghembuskan napas terakhirnya.


Sepeninggalan Ayah, aku dan Bunda di ajak teman Bunda ke kota siapa tahu rejeki kami ada disana, tepatnya kotaku tinggal saat ini, tepatnya pada waktu itu usiaku sudah enam tahun. Aku di daftarkan sekolah yang sama dengan anak temannya Bundaku. setiap malamnya kami ikut membantu temannya Bunda berjualan nasi bebek di depan pasar besar. Hingga pada suatu waktu kami berdua bertemu dengan seorang pria yang telah menolong kami dari preman-preman pasar yang waktu itu ingin melecehkan kami sewaktu pulang dari warung.


Pria itu terus menemui Bunda, hingga tak berapa lama pria itu menikahi Bunda. Ya pria itu adalah Abahku yang sekarang, pria yang menerima aku dan Bundaku sepenuh hati, walau aku bukanlah putri kandungnya, tetapi Abah memperlakukanku seperti putri kandungnya sendiri.


Hingga di usiaku tujuh tahun aku mempunyai seorang Adik laki-laki yaitu Arga, dua tahun kemudian lahirlah Aziz Adik bungsuku. Aku sangat menyayangi keduanya, di waktu kecil mereka sangatlah patuh padaku, hingga beranjak remaja mereka asik dengan dunianya.


Begitupun denganku, saat usiaku lima belas tahun aku di kirim ke salah satu ponpes yang tidak jauh dari daerah kami masih satu kabupaten, sehingga Abah dan Umma tidak terlalu jauh jika ingin berkunjung. Selama kurang lebih lima tahunan aku berada di pondok dan bertemulah aku dengan seorang wanita bernama Nikmah, semakin hari kami semakin dekat, aku sangat menyukainya, berharap dia bisa menjadi saudaraku. Usianya satu tahun lebih tua dari Arga Adikku.


Ingin kukenalkan pada Arga, tetapi Adikku satu itu justru fokus meraih cita-citanya ke negeri Jiran sana. Abah dan Umma sangat mendukung apapun keputusan Adikku Arga, sebab di antara kami bertiga dialah yang paling menonjol ilmu agamanya.


Sementara Adikku Aziz dia juga ikut mondok di tempat yang sama denganku, namun karena ponpesnya ada dua gedung, kami jarang bertemu. Tak lama ia selesai lebih dulu, sementara aku masih setahun lagi di pondok. Keluarnya dari pondok ia menekuni hobinya balap motor, berkeliling dari kota ke kota lainnya bersama teman-temannya.

__ADS_1


Hingga beberapa tahun kemudian entah bagaimana ceritanya Aziz dan Nikmah temanku sudah saling kenal dan dekat. Aku sangat mendukung hubungan mereka berdua, walau usia mereka terpaut tiga tahun lebih tua Nikmah, namun Adikku Aziz tidak masalah, ia justru ingin cepat menikahi Nikmah padahal usinya saja masih dua puluh tahun.


Namun hubungan keduanya terhalang oleh restu dari Abah dan Umma, aku tahu Umma yang paling tidak merestui hubungan mereka berdua, namun aku selalu meyakinkan Umma dan Abah, membujuk dengan rayuanku, hingga pada akhirnya mereka bisa menikah, dan Aziz ikut Nikmah ke kota asalnya.


Sementara aku selesai mondok ikut membantu Abah jaga parkiran di halaman depan rumah. Ya rumah kami tepat di belakang pasar besar, karena halaman rumah sangat luas walau di sampingnya sudah ada bangunan Mushola, namun halamannya masih sangat luas sehingga sama Abah dipergunakan untuk area parkir sepada dan motor, hitung-hitung buat kerja sampingan begitu kata Abahku. Sebab semakin bertambahnya usia, Abah sudah tidak kuat bekerja di sawah.


Umma dan Abah sering menjodohkanku dengan beberapa pria, namun aku dengan tegas selalu menolak, jika mereka terus-terus menjodohkanku, aku akan pergi merantau ke seberang pulau, seperti itulah ancamanku pada Abah dan Umma, sehingga mereka tidak pernah lagi membahas perihal jodoh-jodohan, hingga usiaku bertambah tua aku sama sekali tidak ingin menikah. Bahkan Arga Adikku juga sudah menikah, kedua Adikku telah mempunyai putra-putri yang lucu, cantik dan tampan, aku menyayangi semua keponakanku layaknya anakku sendiri. Biarlah menjadi perawan tua hingga aku mati pun, aku tidak peduli. Kalian para pembaca pasti masih ingat apa yang terjadi padaku sebelumnya.


Hingga suatu hari aku mendengar Aziz menikah kembali dengan seirang gadis desa. Entah bagaimana ceritanya Abah mengetahui kabar ini. Ya walau bagi Abah mencari tahu kabar tentang anak-anaknya sangatlah mudah. Kecewa? Marah? Tentu saja, ingin sekali rasanya memukuli Aziz walaupun Adikku sendiri, sebab ia telah menyakiti Nikmah.


Entah mengapa aku tidak menyukai Anni sama sekali, istri keduanya Aziz, dia anak yang pendiam sebenarnya, tetapi tetap saja aku membencinya, dia adalah pelakor yang telah menghancurkan rumah tangga Adikku dan temanku. Terlepas ada kejadian apa sebelumnya, aku tidak peduli, dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari Adikku.


Dan hampir satu berlalu, kabar buruk kembali datang. Aziz menceraikan Nikmah sahabatku, entah ada masalah apa di kehidupan rumah tangga mereka, kenapa harus mencari jalan untuk berpisah, hingga aku tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Aziz dan Arga yang mengatakan Nikmah berhubungan dengan sepupu laki-lakinya.


Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti, ya aku mengetahui jika Nikmah dulu pernah menjalin kasih dengan sepupunya sendiri, tapi itu dulu sudah lama. Terus ingin berpikir positif tapi tidak bisa, hingga aku memutuskan untuk mencaritahu sendiri, apa penyebab hubungan mereka harus berakhir.


Lelah berteriak aku langsung nyelonong masuk ke dalam rumahnya, karena saat aku mengucap salam tidak ada sahutan dari dalam. Begitu masuk aku di buat tercengang lantaran Nikmah dan pria yang ku tafsir adalah Rojak sedang saling tindih-menindih di atas sofa ruang tengah.


Melihatku tiba-tiba muncul, keduanya kelabakan. " Jadi benar apa yang di katakan Aziz, seperti ini kelakuanmu! Pantas saja kau di ceraikan Adikku. Nikmati perzinahanmu!!" Hardikku sembari akan melangkah pergi dari rumahnya.


" Tunggu Neng, kamu salah paham, kami sudah menikah, walaupun siri." Sahut Nikmah sembari membetulkan pakaiannya yang sudah berantakan. Mmbuat langkahku terhenti dan berbalik kembali.


" Jadi kamu di nikahi siri? Jadi yang kedua? Ya pantas untukmu, selamat menerima karmamu." Sarkasku kembali berbalik pergi, walau aku mendengar ia berteriak memanggilku, namun aku tidak peduli. Sudah sejak kepan mereka menjalin hungan kembali? Kasihan Adikku Aziz yang sudah di sakiti olehnya. Aku benar-benar meninggalkan kota besar itu menuju ke kotaku sendiri.


Beberapa bulan kemudian, aku mendapat telepon dari Nikmah, sebenarnya aku sudah ingin memblokir nomornya, namun aku lupa terus. Dengan terpaksa aku angkat teleponnya,. Namun aku berlari ke belakang dekat kamar mandi, agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kami bedua.


" Halo ada apa? Kamu menghubungiku lagi!? Kita sudah tidak ada hubungan lagi, sudah menjadi mantan teman bahkan mantan Adik ipar, aku paling benci penghianat. Sebaiknya kamu pikirkan saja suami barumu itu, pria selingkuhanmu itu!!!" Hardikku yang langsung mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


Gedebuukkkk..


" Aaahhkkk..."


Saat bersamaan aku mendengar suara benda yang terjatuh dan setelahnya suara orang berteriak, sepertinya dari dalam kamar mandi. Dan suara itu, suara Umma. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi, yang pintunya ternyata tidak di kunci dari dalam.


" ASTAGFIRULLAH UMMA.!! Aku berteriak, terus memanggil Abah juga sepupuku yang tinggal di sebelah rumah, untuk membantuku.


Aku sangat terkejut tak menyangka jika Umma ada di dalam kamar mandi, kukira Umma ada di dalam kamarnya. Ya Allah, jika terjadi apa-apa dengan Umma, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Aku tahu Aziz sangat menutup rapat perihal masalah penceraiannya dengan Nikmah. Namun justru aku yang tidak sengaja membocorkannya pada Umma.


Hingga akhirnya kabar buruk itu pun terjadi menimpaku. Umma,, wanita yang telah melahirkanku telah meninggalkanku, pergi untuk selama-lamanya. Dan ini semua terjadi karena kesalahanku, kecerobohanku sendiri. Maafkan Atin Umma...


* Ini kira-kira Visualnya Atin Zaenab.




.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2